You Now Here »

Autokritik Terhadap Dikotomi Cebong Dan Kampret  (Read 49 times - 48 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 15,300
  • Poin: 15.376
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Autokritik Terhadap Dikotomi Cebong Dan Kampret
« on: November 30, 2018, 06:42:24 AM »




TMP2:
Gap terjadi dan terus dipelihara sampai hampir 1 periode, karena ada yg kalah tapi tdk siap/mau menerima kenyataan. Sementara yg menang malah sibuk kerja kerja kerja. he he...Jadi dianggap kurang perhatian dan kurang menghargai, spt mis. mbah amien ya. Mungkin menyangkut modal, harga diri, senioritas, ambisi, peluang2 kenikmatan yg sdh didepan mata tapi tetap tak tejangkau jg dll.

Sebenarnya tergantung masing2 jg, banyak kok yg menjadikannya lucu2an dan hiburan. Meskipun tdk sedikit jg yg gampang bapernya. Sebenarnya yg paling serem adalah sebutan/ledekan dr turunan istilah Cebong dan Kampret. Ini yg lebih  sering menghujam karena sdh penuh dg riset, inovasi dan kepuasan saling membalas.

Dimedsos istilah Cebong dan Kampret dipakai. Utk perjuangan mengumpulkan suara real diakar rumput ga ada itu...kan hrs dg tatap muka yg simpatik dan gembira...gitu sih pesannya.

Retha Putri:
??? ?????

Tony Gede:
Gimana kalau kita kelompokkan berdasarkan yg waras ama yg sinting aja?

Retha Putri:
Hahaha.. boleh mas ??? ?????

Odank Sagala:
partai tuhan dan partai setan, saya masuk partai setan aja spy g usah repot pakai gamis dan piara jenggot cukup pakai sarung

Harry:
"Seharusnya hal seperti ini tidak menjadi masalah besar apabila hanya terjadi di kalangan elit, entah elit politik maupun elit bisnis, karena merekalah yang benar-benar berkompetisi. Ini menjadi amat menggenaskan ketika terjadi pada akar rumput yang notabene tidak menjadi aktor penting, tapi menerima luka paling banyak."

Memang benar! Very well observed. Tapi ya itu lah demokrasi...dimanapun begitu juga. Termasuk di negara maju seperti amerika sekalipun. Kalau di negara yg rakyatnya udah lebih educated aja bisa begitu...bayangkan dengan indonesia yg rakyatnya masih "kurang pintar" udah gitu agamais pula...recipe for disaster. ????

Oey Yung:
Sejak 2014 perbedaan itu semakin tajam dan sy tdk yakin akan berhenti ketika nanti thn 2024 pak jkw sdh tdk jd presiden lg..krn apa yg sdh rusak bila diperbaiki pst msh keliatan bekasnya..sbnrnya sih kgk keberatan sy dikatain cebong..pertama krn sy bkn cebong...kedua krn kecebong udh jd nama salah satu galaksi...ketiga suara kecebong itu keluar stlh hujan itu ada lho filsafahnya..lagian enak bgt kan denger suara kecebong stlh hjn.

Dave:
Sebetulnya sebutan cebong asalnya dari "Jokodok" sebutan untuk pak Dhe Jokowi yang dipopulerkan oleh salah satu tokoh ormas radikal, sehingga otomatis para pendukungnya divisualisasi sebagai anak Kodok yaitu kecebong, apalagi sejak ada seorang panelis tetap ILC yang menyebut IQnya cebong  200 sekolam wkwkwk

Sebagai aksi perlawanan maka para cebonger juga memberi nama sebutan buat rivalnya sebagai kampret wkwkwwk kenapa? karena jalan pikirannya anti mainstream, serba terbalik, yang bagus dibilang jelek dan yang jelek dibilang bagus yang divisualisasikan sebagai seekor kampret yang sedang bergantung  kepala di bawah dan kaki di atas.....

Harry:
"Sekarang di media sosial seperti facebook dan twitter misalnya, jamak ditemui kolom pertemanan kita hanya diisi oleh teman-teman dengan keberpihakan politik yang sama. Satu kubu. Senada. Apapun yang kita tuliskan pasti disepakati dan didukung bersama oleh teman-teman virtual kita itu. Karena kalau ada yang berbeda pendapat biasanya langsung diblokir dan dicoret dari daftar pertemanan.

Seperti analogi tertawa terbahak-bahak di ruangan penuh cermin. Anda pernah masuk ke rumah cermin? Mimik wajah seperti apapun yang anda buat akan kembali memantul ratusan kali lagi ke kita sendiri. Diproyeksikan balik dari ratusan cermin dengan beragam ukuran, lensa cembung, cekung maupun lengkung. Begitulah."

Fenomena sangat sering terjadi. Seiring dengan perkembangan teknologi medsos. Kata kuncinya adalah hyper reality. Di mana seseorang terjebak di dunia virtual yg serba over/lebay akibat bedanya berinteraksi di dunia maya vs real world.

Harry:
Sudah terlanjur basah saya dicap kampret, begitu kritik jokowi tempo hari. Auto-kampret begitulah kira2... ???? jadi saya tinggal melakoni peran baru saya lah...fulfilling my destiny as kampret here... ???? it turns out quite entertaining. As i don't necessarily endorse prabowo and his gangs. But like you said...people tend to insulate themselves with like-minded peoples. And get caught-up in group think mentality. Well i seriously think people here need someone to play "devil's advocate"! ???? Just to point out the inconsistencies in the narration here, factual error and the not-so-subtle attempt to brainwash readers here into jokowi's cult of personality.

Odank Sagala:
apa arti sebuah nama, atau klo menurut ma'ruf amin mah budeg dan tuli sesui dengan surat al Baqarah

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Autokritik Terhadap Dikotomi Cebong Dan Kampret yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/autokritik-terhadap-dikotomi-cebong-dan-kampret-n6UUn1xlM

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: