You Now Here »

Duka Di Tanah Papua  (Read 71 times - 121 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 15,333
  • Poin: 15.409
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Duka Di Tanah Papua
« on: December 05, 2018, 10:09:30 AM »




Alex Rustandjaja:
Gus Dur dan Jokowi dua presiden yang merangkul Papua dengan hati dan Jokowi sudah melakukan berbagai tindakan nyata memperbaiki keadaan disana. Namun sikap dan pendekatan represif aparat terhadap masyarakat disana selama puluhan tahun meninggalkan dendam yang tidak bisa hilang dalam sekejab mata. Menurut persepsi sebagian masyarakat disana Indonesia datang sebagai penjajah, menindas dan membunuh rakyat setempat, merampas tanah adat, merusak lingkungan, merampok kekayaan alam, merubah komposisi demografis dimana jumlah pendatang prosentasenya makin meningkat, melakukan Islamisasi ditambah lagi dengan kesenjangan ekonomi antara pendatang dan penduduk asli serta perbedaan etnis antara pendatang dan penduduk asli (melayu vs. melanesia).
Kekuatan KKB tidak ada artinya dibandingkan dengan TNI dan Polri tapi tantangan pemerintah adalah protes masyarakat internasional bila pemerintah melakukan penyelesaian dengan ofensif militer. Bisa dituduh melakukan genocide seperti perlakuan pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya. Instruksi Jokowi untuk menangkap (bukan membunuh mereka) barangkali pendekatan terbaik sementara terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat disana.

Bono Chandra:
Masalahnya tidak gampang Bung kalo cm disuruh balik ke NKRI...ini pasti ada udang dibalik gunung itu....pasti

Tony Gede:
Saya bisa mengerti kekecewaan penulis soal mengapa seolah-olah GPM di Papua tidak melihat upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi sekarang.

Saya kerja di Papua New Guinea.  Jadi saya mungkin bisa kasih beberapa informasi soal ini:
1.  Orang asli Papua dan Papua Barat itu berasal dari rumpun yang sama dengan orang Papua New Guinea daerah pegunungan (Highlanders). 

Hal ini bisa dilihat dari fitur wajah mereka yang cenderung tampak keras, warna kulit yang gelap, hidung dan mata besar, dan rambut keriting kecil.

Kesamaan Papua New Guinean Highlander dengan orang-orang Papua dan Papua Barat adalah mereka sama-sama punya fitur budaya dataran tinggi dan daerah hutan.  Dan sama-sama petarung tangguh untuk daerah hutan (jungle guerrilla warfare).

Selain daerah pegunungan Papua New Guinea, ada lagi mereka-mereka yang disebut suku-suku pantai dan sungai.  Secara fitur wajah, mereka lebih mirip dengan orang-orang dari negara-negara Pasifik (yang sama2 punya budaya laut dan pantai).

Di Indonesia, orang-orang dari Ambon ini yang fitur wajahnya mirip dengan orang Papua New Guinea suku pantai dan sungai dan orang-orang Pasifik.

Dan secara umum, mereka-mereka ini masih dimasukkan dalam rumpun bangsa Melanesia.

2.  Di Papua New Guinea, saya bisa melihat bahwa mereka-mereka ini masih punya rasa kesukuan yang cukup tinggi.  Rasa kebangsaan mereka masih nomor sekian.  Suku lebih penting daripada bangsa. 

Dan ini salah satu ciri umum yang saya lihat masih dimiliki juga oleh mereka-mereka yang berasal dari bangsa-bangsa Melanesia, terutama di Papua New Guinea.

Maka, jika dugaan saya benar, ada kemungkinan besar maka mereka yang di Papua dan Papua Barat masih menaruh rasa kesukuan di atas rasa kebangsaan, terutama karena Papua dan Papua Barat telah diabaikan selama 32 tahun lebih.

Jadi jangan heran kalau ada dari mereka-mereka di Papua atau Papua Barat yang masih belum merasa jadi bagian dari Indonesia.

3.  Rasa persaudaraan antar sesama rumpun Melanesia ini cukup tinggi.  Maka, tidak heran heran kalau gerakan OPM ini juga diam-diam atau secara terbuka didukung oleh bangsa-bangsa rumpun Melanesia lainnya, misalnya di Fiji, Solomon Island, Papua New Guinea, Vanuatu, Tonga, New Zealand, Australia, dll.

Intinya, baik secara kesukuan maupun rumpun, Papua dan Papua Barat ini memang lebih dekat ke bangsa-bangsa Pasifik.  Maka memang butuh waktu untuk meyakinkan mereka untuk menjadi bagian dari Indonesia.

Apa yang sudah dimulai Jokowi sudah bagus, tapi masih perlu waktu lagi untuk memberikan mereka bukti.

Andy Wijaya:
Mantap, sangat mencerahkan. Semoga tdk ada kejadian seperti ini lagi, mereka yg pergi ke papua, seharusnya dibekali informasi dan sedikit bahasa serta budaya lokal

Bono Chandra:
Saya percayakan di bawah komando Panglima tertinggi TNI - POLRI dpt segera menangkap itu para pemberontak....kasi ultimatum balik ke NKRI atau dikejar sampai ujung hayat tiba...

Andy Wijaya:
Pendekatan militer should be the last option sob, papua harus dipeluk, dijaga, dilindungi, dibimbing dan dididik, masa emas dan intan diambil, orangnya tidak disayangi. Kayak Dumai, minyak diambil, air PAM saja gk ada, pakenya air sumur yg airnya keruh dan kuning.

Bono Chandra:
Setuju jg Bung spt itu....makanya diberi ultimatum balik ke NKRI dgn pelukan, didikan, bahkan penuh dengan kasih atau dengan nyawa mati....

Julius DS:
Paling juga binaan gerombolan paslon 02.....siraja tega.....

Turut berduka cita utk pahlawan infrastruktur Papua....

T39uh T39uh:
Gw curiga msh ada keterkaitan dg aussie juga...

Tony Gede:
Jangan lupa, Rio Tinto (salah satu pemegang saham terbesar Freeport Indonesia sebelum diambil alih pemerintah) adalah perusahaan Inggris yang punya cabang besar di Australia.

Dan Rio Tinto ini di tahun 90-an kehilangan salah satu tambang terbesar mereka di Papua New Guinea, lebih tepatnya di pulau Bougainville (salah satu deposti terbesar di dunia, bersaing dengan Papua).

Kasusnya?  Mirip Freeport.  Bougainville Copper Limited, perusahaan tambang emas yang saham mayoritasnya dimiliki Rio Tinto, menambang di sana.

Tapi penduduk sana tidak dapat untung apa2.  Maka terjadi pemberontakan / perang sipil, sehingga tambang tersebut ditutup sampai sekarang.  Ada upaya2 pendekatan agar tambang ini bisa dibuka kembali, tapi masih belum terjadi, karena belum ada kesepakatan antara pemerintah PNG dengan pemerintah autoritas daerah Bougainville.

Kalau Papua lepas dari Indonesia, besar kemungkinan Australia akan mencoba mengincar tambang emas Freeport / saham Freeport lagi.

Tony Gede:
Pasti....  jangan salah, Ausie itu menganggap negara2 Pasifik sebagai pasar jualan mereka, atau lebih tepatnya, sapi perah mereka.

Dan yang namanya Aus-Aid atau bantuan Australia bagi negara2 kurang mampu di Pasifik, pada prakteknya disebut boomerang aid.

Artinya, duit digelontorkan untuk pembangunan di negara2 Pasifik tersebut, tapi ujung2nya yang ngerjain proyek2nya kontraktor Australia semua, mulai dari tim perencana, tim pengawas, sampai tim pelaksana.

Sudah begitu, material pun semuanya harus produk Australia (yang mahal-mahal itu, padahal sekarang buatnya pun di China).

Maka perusahaan2 lokal nggak dapat benefit apa2, dan negaranya sendiri cuma dapat fasilitasnya (yang kadang mahal pemeliharaannya, karena desainnya tidak disesuaikan dengan material lokal, tapi harus beli dari Australia).

Dan Papua & Papua Barat, kalau dilihat dari segi rumpunnya, adalah rumpun Melanesia, seperti halnya penduduk negara2 Pasifik.

Jadi jangan heran kalau diam2 mereka berminat agar Papua lepas dari Indonesia.

Bono Chandra:
Pastilah...SDA nya menggoda Bung...

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Duka Di Tanah Papua yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/duka-di-tanah-papua-rHDzwuARj

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: