You Now Here »

Jokowi Ruu Pesantren Bentuk Perhatian Pemerintah Kepada Pondok Pesantren  (Read 133 times - 41 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 16,594
  • Poin: 16.670
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Martabak Sweet:
Kalau sampai RUU ini disahkan, Jokowi akan menjadi Soeharto babak II.

Prestasi Soeharto: menjadikan "YAYASAN" sebagai medium korupsi dan kriminalitas terselubung.
Prestasi Jokowi: menjadikan "PESANTREN" sebagai medium korupsi dan kriminalitas agamis baru yang terselubung.

Kalau cinta Jokowi, jangan biarkan dia sampai jatuh ke lubang perangkap ini.
Antara pesantren saja, benchmark dan penyama-rataan tidak ada dan mungkin tidak/belum mungkin terjadi. RUU yang tidak masuk akal dari berbagai sisi.

Martabak Sweet:
Yang namanya pesantren, satu sama lain sudah tidak jelas dan tidak ada index atau acuan apa yang diajarkan. Bisa jadi radikalis setelah lulus, bisa jadi pengangguran, bisa jadi makelar agama, bisa jadi orang yang berguna.

Begitu tidak jelasnya dan tidak ada acuannya, tapi mau disetarakan dengan sekolah umum?

Kali ini terbukti kalau Jokowi disandera oleh islam dan diintimidasi oleh islam secara langsung atau tidak langsung terkait pemilu. Jadi jangan heran voters non agamis dalam survey terlihat turun elekrabilitasnya.

Yang pro RUU ini perlu otaknya diperiksa pula. Terlalu banyak kejanggalan dan resiko penyelewengan dan potensi korupsi agamis yang akan menjadi dampak dari RUU ini.

Martabak Sweet:
Islam perlu di bela karena adalah sesuatu yang kotor dikarenakan ulah umatnya dan ajarannya sendiri yang sering menunjukkan banyak hal berbau kriminalitas dan kejahatan kemanusian serta egoisme dan kemunafikan.

Islam perlu dibela karena sering baku hantam dan membunuh antara muslim sendiri entah karena beda aliran atau karena alasan agamis lainnya. Buntutnya merusak diri sendiri tapi koar koar menyalahkan orang lain.

Islam perlu dibela karena adalah medium yang sangat tidak sempurna jadi mudah ditunggangi separatisme negara, peperangan, penipuan (seperti contoh pelarian dana dengan kedok bantuan ke saudara muslim lainnya di LUAR NEGERI)

Islam perlu dibela karena lebih penting cari ribut galang dana membantu saudara di LUAR NEGERI yang sama sama muslim (meskipun pemberontak, maling, penjahat) . Kalau bukan muslim masa bodoh (jadi bukan karena alasan kemanusian) dan kalau sesama bangsa, biar orang lain/negara lain/umat Agama lain yang peduli dan menggalang dana (cuek terhadap sesama bangsa sendiri)

Islam perlu dibela karena egoisme dan rakusnya yang tinggi. Sudah "nilep" duit pajak terbesar dari alokasi APBN dan bantuan sosial lainnya entah ke pesantren ke lembaga islami ini dan itu (Agama lain bisa dibilang tidak dapat dan dianak tirikan). Lucunya islam selalu merasa diterlantarkan tidak dibela, tidak diperhatikan, dan merasa kurang (makanya isu pemimpin yang peduli dan menyuapi islam selalu dipakai menjadi isu). Seolah olah islam itu anak yang lahir cacat dan perlu dininabobokkan dan jadi special citizen.

Jelas sekali kalau islam perlu bantuan karena bermental PENGEMIS! yang egois dan tidak pernah puas yang saling bunuh dan menzolimi sesamanya (tapi selalu menyalahkan pihak lain)

PENGEMIS RAKUS YANG GAGAL INTROSPEKSI DIRI DAN BENALU

Jadilah agama (minimal ideologi preman) yang tidak mudah ditunggangi siapapun (amerika, rusia, bahkan diri sendiri) untuk melakukan kejahatan kemanusiaan!!

Roedy Siswanto:
sob/Sis , Saya non muslim tetapi maaf anda melempar satu statement yg istilah saya gebyah uyah ( menyama ratakan ) tanpa kajian yg memadai. Tapi maaf aku nggak mau diskusi disini karena ini adalah hal besar yg tdk dpt didiskusikan dlm ruang yg kecil ini , yg pasti akan repot kalau aku nulis panjang lebar dng hp jadulku.

Martabak Sweet:
Bukan begitu. Anda bersepsi kalau hanya ada cuma hitam atau cuma putih. Yang saya kemukakan adalah ada situasi dimana hitam DAN putih berada di suatu badan, institusi, agama atau ideologi.

Roedy Siswanto:
Bukan begitu bung/Sis, tetapi karena aku percaya kepada Pak Jokowi dan disaat yg sama aku juga menyadari bahwa Jokowi bukanlah Superman . Kalau yg anda maksudkan seperti dlm tulisan anda adalah masalah uang pajak yg dipakai untuk pesantren maka menurut aku anda berfikir sempit . Adalah hal yg wajar dng demografi Penduduk yg mayoritas adalah Muslim maka Anggaran pemerintah akan lebih besar untuk saudara saudara Muslim .

Martabak Sweet:
Anda salah persepsi. Program ini banyak bahayanya:
1. Dari sisi teknis dan operasionalnya.
2. Antar pesantrenpun (ditekankan lagi ANTAR PESANTREN pun) belum ada dan tidak ada dan sulit untuk melakukan standarisasi atau persamaan.
3. Antar pesantren ada banyak aliran. Jadi acuan apa yang mau dipakai?
4. Siapa yang ngawal. Anda sendiri berkata "AKU PERCAYA KEPADA PAK JOKOWI". Seandainya presiden kita bukan Pak Jokowi lagi? Programnya mau diapakan? Ini program yang sangat jelas akan menjelma menjadi program YAYASAN JAMAN ORDE BARUNYA SOEHARTO

5. Masalah uang pajak, persepsi anda jelas sudah mengkotak-kotakkan semua Agama yang berada di Indonesia. Jadi Agama dinilai dari besarnya KUANTITAS bukan KUALITAS. Bisa dibilang ini SARA dengan cara halus. To be fair, alokasi anggaran kepada Agama lain yang selama ini jadi anak tiri, mana? To be fair, yang dihitung (dengan memakai logika anda) adalah economic contribution dari pemeluk Agama. 100000000000000000000 orang yang kontribusinya 10 rupiah versus 1000 orang yang kontribusinya 1000000000000000000000 rupiah contohnya.

6. Saat saya pindah Agama dari islam (warisan) ke agama lain, saya dipersulit, KTP masih islam sampai sekarang. Ada saudara sepupu yang menganut aliran kepercayaan yang harusnya kolom agama dikosongkan tapi ditulis "islam". Dari kuantitas saja islam dan birokrasi sudah nakal. Agama mau dijadikan acuan pemerataan pembangunan?

7. Pak Jokowi dihormati karena banyak hal, salah satunya dalam hal fairnessnya. Tapi dalam hal ini, salah total. Ini jelas SARA dalam kadar halus dan buah intimidasi islam dalam pemilu/politik. Jangan heran kalau dari grup profesional atau grup cendekiawan yang cinta tanah air, akan menurun elektabilitasnya.

Roedy Siswanto:
Menarik pendapat anda sob/Sis, menurut Saya adalah sbb :
1. Dari sisi teknis Ada kesulitan ...PASTILAH ...tapi aku yakin pasti bisa dipecahkan .
2. Antar Pesantren tdk Ada standar . Betul ...Dan apakah menurut anda hal yg sdh nyata dibiarkan saja? Menurut Saya adalah kewajiban pemerintah untuk masuk dan mengatur hal hal yg sdh puluhan tahun berjalan dan dibiarkan saja, termasuk mencegah aliran aliran yg menyesatkan masuk kedalam pesantren.
3. Justru itulah pemerintah wajib menyusun standar dng melibatkan seluruh stake holder yg Ada.
4. Pemerintah kan punya mekanisme kontrol termasuk yg dimiliki dpr .Apakah anda berfikir bahwa kwalitas dpr Kita akan seperti yg sekarang terus ? Aku kok yakin dpr pun akan berubah menjadi lbh baik .
5.Maaf , anda Salah memahami . Yang saya maksudkan adalah pemanfaatan hasil pajak bukan pada kontribusinya. Pemanfaatannya sesuai dng sila ke 5 Pancasila.
6. Saya tahu persis mengenai hal itu termasuk bgmana adik Saya yg mualaf jadi membuat banyak urusan menjadi lebih mudah sementara hal sebaliknya terjadi pada adik iparku yg dari Islam menjadi non Islam.
7. Maaf, terlalu cepat anda mengambil kesimpulan seperti itu .
Sebagai tambahan yg harus Kita ingat bahwa bangsa ini dlm sekian puluh tahun dibangun diatas retorika tanpa kerja nyata sehingga pada saat ada pemimpin yg ingin membenahi Dan membangun seperti Pak Jokowi ini, masalah yg dihadapi sdh menumpuk . Dan sebagaimana Saya tuliskan pak Jokowi bukanlah Superman tetapi hanyalah manusia biasa yg ingin berbuat yg terbaik untuk negara Dan bangsa.

Martabak Sweet:
FPI punya pesantren, Habib bahar punya pesantren, NU punya pesantren, Muhamadiyah punya pesantren, Ahmadiah punya pesantren (meskipun sering diobrak abrik oleh islam aliran lainnya)...

Mau disama ratakan? Seandainya bisa, di Indonesia tidak ada paham islam radikalis dan gerakan 212 Bung! Resistensi justru akan ada di internal islam islaman tersebut.

Mau menciptakan MUI kedua? yang pertama saja gagal dan malah jadi penyebab banyak permasalahan negara dan kemanusian.

Martabak Sweet:
Mudah-mudahan Pak Roedy tidak lagi melawak.

Institusi ekonomi ya fungsionalitas dan expertisenya di ekonomi
Institusi agama ya di agama
Institusi pertahanan dan keamanan ya di pertahanan dan keamanan
Institusi pendidikan praktis atau akademis ya di praktis atau akademis tersebut
Insitusi keuangan ya di keuangan

Pesantren mengurus dirinya sendiri saja belum becus, mau dicampuradukan? Seperti gado gado, ekonomi, agama, ini dan itu? Dari tidak becus di satu hal mau jadi tidak becus di berbagai hal sambil jadi maling uang pajak dan menjadi contoh praktek SARA dan pengkotak-kotakan?

Baru saja ada OTT KPK terhadap bupati yang menggelapkan uang yang harusnya untuk edukasi.
Kementerian agama sering kecolongan pula. Dari korupsi alquran sampai haji. Yang kena menterinya pula.

Berangan-angan boleh tapi ya yang masuk akal dan wajar.

Martabak Sweet:
Lagi lagi penyelewengan pajak ke institusi yang mata pelajarannya tidak jelas, terbukti jadi wadah radikalis di beberapa tempatnya, dan lucunya mau disetarakan dengan institusi pendidikan umum kualitasnya.

Kalau ditanya kenapa elektabilitas dari kaum terpelajar turun seperti yang terkutip di salah satu artikel seword tentang sebuah survey. Ya ini dia alasannya.

1. penyelewengan pajak agamis
2. tidak ada kejelasan kurikulum di pesantren
3. kok pengemis satu ini lagi yang selalu mendapat kucuran uang pajak ya. Dalam jumlah besar tanpa ada transparansi dan penggunaan yang teraudit.

Roedy Siswanto:
Bung atau Sis , apakah anda tidak melihat bahwa justru setelah Ada UU tersebut maka pemerintah menjadi lebih mudah mengatur karena ada payung hukumnya. Pls deh, jangan melihat dengan kacamata minus  saja.

Martabak Sweet:
Bermimpi bukan berarti harus menjadi naif dan membodohi diri sendiri.
"Lebih mudah mengatur...", anda yakin Pak?
Sudah Bapak pikirkan hal teknisnya? Siapa? Apa? Bagaimana? Pengawasannya? Acuan apa yang dipakai? Kapan? Seberapa lama?

Ya tinggal dibuktikan oleh sejarah nanti seandainya benar RUU ini disahkan.

Roedy Siswanto:
Mengenai hal teknis menurut Saya tidak akan Ada masalah . Karena pesantren adalah dibawah kemenag maka tugas kemenag lah untuk mengatur termasuk standarisasi pendidikan yg ada, bekerja sama dng instansi terkait.Memang akhirnya sejarahlah yg akan membuktikan.

Ruslan Keren:
Alhamdulillah...... Terima kasih Pak Jokowi....
Maju terus Pak Jokowi... Rakyat siap memilih anda untuk Priode yg akan datang, ( #Jokowi sekali Lagi )

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Jokowi Ruu Pesantren Bentuk Perhatian Pemerintah Kepada Pondok Pesantren yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/jokowi-ruu-pesantren-bentuk-perhatian-pemerintah-kepada-pondok-pesantren-LAAY29oQa

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: