You Now Here »

Pemilu Itu Mekanisme Demokrasi  (Read 78 times - 102 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 16,625
  • Poin: 16.701
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Pemilu Itu Mekanisme Demokrasi
« on: February 11, 2019, 08:00:29 PM »




doodleramen:
Terlepas dari tujuan baik masing-masing agama2, sejak ribuan tahun lalu agama memang sudah digunakan oleh penguasa sebagai alat untuk mencapai kekuatan, kontrol sosial dan perebutan wilayah. Seiring dengan kemajuan peradaban dan pemahaman manusia di jaman modern ini, semakin banyak orang yg ngerti sebenarnya humanity dan agama itu tidak mesti terikat satu sama lain. Karena itu banyak sekarang kita temui atheis yg walaupun atheis tetap mempunyai moral dan rasa kemanusiaan yg tinggi. Buat saya pribadi, humanity lebih penting dari agama. Jangkauannya lebih luas dan melintasi sekat2 agama. Buat yg religius, pahamilah seharusnya agama itu untuk membantu dan mengembangkan diri kita agar memiliki rasa kemanusiaan, bukan sebagai tali yg digunakan oleh para perebut kekuasaan untuk mengontrol kita.

Segalanya Baik:
Sdh ribuan tahun Agama membelenggu pikiran manusia. Agama mendominasi semua pikiran ttg Tuhan. Padahal tidak selalu orang beragama "mengenal" Tuhan yg sesungguhnya, pun tidak selalu orang yg tidak beragama "tidak mengenal" Tuhan

yuviandi purbodewanto:
Ya, terasa ada yg 'nggak pas' .. yg seharusnya membebaskan malah membelenggu. Ijin share perumpamaan berikut:
"Dlm kegelapan malam, berjalan seseorang dg membawa obor. Sendiri dlm sunyi, ia berjalan pelan menembus kegelapan malam bermaksud mencari cahaya."
Agama mestinya memberitahu ke org tsb bahwa ia telah memiliki cahaya, sdh ada di genggamannya, obor yg nyata bersinar langsung bisa ia lihat dan rasakan, alih2 memberitahu ada cahaya di suatu tempat antah berantah yg bahkan arah jalannya pun membingungkan org itu.

Segalanya Baik:
Jika mencermati tulisan di Alkitab, sangatlah nyata. Tuhan menciptakan Dunia untuk dinikmati dan dikuasai oleh manusia. Tuhan hanya minta kita "enjoy" dgn segala ciptaan Nya di dunia ini. Apapun itu.
Kalau  merasa "enjoy" melakukan korupsi, atau mampir ke "Alexis" dan sejenisnya; just be happy. Enjoy it.
Yg pasti setiap apapun langkah tindakan kita akan bertemu dg orang lain yg ingin "enjoy" di dunia. Disitulah akan tercipta sebuah "balance".
"Kemanusiaan" yg hakiki sejatinya bebas merdeka, sama halnya setiap manusia mengangankan sebuah kebebasan. Ttp Agama dan ajarannya telah membelenggu "kemanusiaan" ke dalam terminologi masing2 agama.
Ttp ini semua masih berevolusi. Akan tiba saatnya orang tidak akan lagi mencari Tuhan di luar sana. Akan ada masanya manusia menyadari bhw Tuhan ada di dalam dirinya. Dengan demikian akan ada juga Tuhan di dalam  setiap orang.

yuviandi purbodewanto:
sob Asuko lg 'in' di area spiritual nee, penerapannya di konstelasi pemilu kita .. menarik komentar pemikiran temen2 itu, tapi akan sulit diterima bagi yg belum 'sefrekuensi'.
Masy kita masih tebal ego-keagamaannya, akan sulit buat individu utk bisa 'mengambil jarak' thd pemikirannya sendiri dan melihat kebenaran yg ada dlm pemikiran temen2 itu.
Ini nggak mudah, butuh proses lama hingga kedewasaan itu dtg. Tebalnya ego jadi titik lemah yg terus disasar, ditarget kubu sebelah, yg mau nggak mau hrs diantisipasi Pakde walau sejak awal Pakde sendiri sdh teriak agar memisahkan agama dan pemerintahan. Kek nya sekarang serangan2 memakai agama menurun drastis dan justru berbalik. Mulai ada kesadaran yg lebih tinggi di masy.
Banyak pembelajaran dari situasi ini .. moga2 bisa membuka cakrawala baru, sedikit pencerahan .. salah satunya diskusi seperti ini di forum SEWORD.
Bravo sob Asuko.

.:M:.:
Ngomongin frekuensi..setuju!!

Tapi ini mah keyakinan saya ya, alam lagi paksa bangsa ini mengakselarasi supaya bisa selaras di atau mendekati 'cakra mahkota' (kl berdasar aura, spektrum warna, minimal di fase warna hijau). Modul belajar; bencana yang makin bertubi-tubi, situasi politik yang semakin panas, situasi berbangsa yang kian fluktuatif, kalau berdasarkan serat kuno, mungkin di fase goro-goro. Melelahkan yaaa...tapi gpp, menurut saya fase ini semakin mendekati fase perbaikan, detoksifikasi, rekonsiliasi, apa pun lah namanya..kalau kata teman psikolog, pernikahan kalau ga ada cekcok tapi macam api dalam sekam malah bahaya, mending yang diekspresikan lewat cek-cok, upaya selarasin ego, upaya perbaikan.
Bersyukurnya, kita bangsa yang religius, spiritualis, jadi dalam kesunyian mereka, pari Alim berilmu tinggi, maqom tinggi, doa dan ikhtiar mereka menjaga Nusantara ini, ibaratnya macam pasak bumi.

Semoga bangsa ini mampu melewati ujian-Nya.

yuviandi purbodewanto:
Waww getar anda berasa Sis ..
Yup, alam itu hidup dan sudah memasuki fase baru yg lebih tinggi, lebih baik lagi. Suatu bangsa ya berkumpulnya individu2 di dalamnya, bila makin banyak individu dapat "menyesuaikan diri dg alam" maka bakal baik, selamat, bangsa itu ke depan. Penyesuaian 'di dalam' individu itu bakal mewujud di lahiriahnya. Misal, tokoh2 kubu sebelah yg terus memaksakan pikiran, ucapan n tindakannya utk melawan harmoni kebaikan, kebenaran, kebersamaan yg teduh menyenangkan; ya berakhir di penjara.
Jangan khawatir, spt Pakde bilang; kita bangsa besar, bersama, kita optimis bisa mengatasi apapun itu rintangannya!

Indri Giber:
IMHO, memasukkan agama di ketatanegaraan sangat berbahaya. Karena pada dasarnya agama (selain adalah private domain) subjected to interpretation and contextual. Artinya bisa mengundang ambiquitas dan konflik dalam perundang-undangan dan pelaksanaan pemerintahan.

yuviandi purbodewanto:
Yup, itu senada dg pemikiran teman2 di forum diskusi artikel ini

.:M:.:
Mestinya kita mau belajar mengelola ego, dan mau terbuka untuk belajar dari sekitar, misalnya, dari tanaman dan binatang. Bagaimana suatu ekosistem yang sehat dan kondusif bisa terbentuk untuk kepentingan keberlangsungan hidup semua mahluk yang ada disitu; berjalannya sistem rantai makanan, lalu ada bakteri pengurai yang merubah bangkai menjadi unsur-unsur hara, makanan sehat untuk tanaman, yang salah satu tugasnya memproduksi O2 untuk mahluk hidup lainnya, dst.
Kita bisa belajar lewat orkestra, dimana semua instrumen alat musik menyuarakan lantunan nada yang saling menyeimbangi agar terjadi harmonisasi yang enak didengar telinga.
Yang diperlukan, sadar bahwa diri kita tidak sempurna, dan perlu saling beriteraksi dengan orang lain untuk mencapai kenyamanan hidup (mendekati kesempurnaan) untuk bersama.

eddy eddy man:
tunggu aja klo pemilu dah lewat ..apa msh ada yg bicara soal agama ? ...politik indentitas di gunakan pas pemilu aja ...

Indri Giber:
Politik identitas bisa dipakai di mana saja: pemerintahan, bisnis, dunia kerja, atau bahkan dalam pertemanan, dll untuk meraih dukungan.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Pemilu Itu Mekanisme Demokrasi yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/pemilu-itu-mekanisme-demokrasi-MajuzlKws

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: