You Now Here »

Golput Pantas Dicaci Atau Dipuji  (Read 59 times - 118 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 17,056
  • Poin: 17.132
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Golput Pantas Dicaci Atau Dipuji
« on: March 22, 2019, 12:01:14 AM »




I Putu Tirta Agung S:
Hahahahaha, saya suka komentar Haris Azhar dan Franz Magniz dalam acara tersebut. Tapi walau demikian buat saya, sempurna itu tidak pernah ada, kompromi pasti selalu terjadi. Terbaik itu kan gak harus dari yang terbaik, alias terbaik dari yang terbaik. Wong kalau memang pada kenyataannya semua buruk, ya kita tinggal pilih mana yang terbaik diantara semua yg buruk itu.

Jokowi pun harus kompromistis, itulah politik, bahkan mungkin itulah kehidupan yang katanya Darwin, survival of the "fittest" alias adaptif bukan survival of the "stronggest" alias kuat.

Jika di jaman orde baru golput adalah sebuah gerakan moral, kini golput menurut saya sudah tidak masuk akal lagi. Di masa orba, apapun yang terjadi golkar pasti menang, pemilu hanya formalitas untuk menandakan ke dunia internasional kalau orba demokratis. Sebab memilih atau tidak, jawaban ya tetap golkar. Kini setiap suara sangat menentukan siapa saja yang akan mewakili kita di legislatif (anggota dewan) maupun eksekutif (presiden dan wakilnya). Dan seperti yang saya tulis di awal, tidak ada yang sempurna,
terbaik tidak harus selalu dari yang terbaik.

Ini juga mengapa argumen Haris Azhar di acara tersebut seharusnya gugur. Haris mengacaukan definisi shareholder dan stakeholder dalam sebuah negara. Jika dia melihat bahwa kedua kubu belum mencerminkan apa yang menjadi standar seorang Haris Azhar, dan memutuskan untuk tidak memilih salah satu diatara keduanya, maka adalah dungu dan malah sangat tidak bertanggung jawab jika ia masih mengkritik pemerintahan yg akan datang (siapapun yang akan memimpin). Jika ia nanti mengatakan dirinya oposisi dari pemerintahan terpilih mendatang, itupun tidak masuk akal. Oposisi yang mana? Wong memilih saja tidak.

Kolik kulik:
Kalo menurut saya, minimal milih caleg

TMP2:
Berandai2nya kok dg payung...tanpa payung masih banyak alternatif lain spt jas hujan ato berteduh saja ato cari toko lain ato hujan2an sj....pilpres ada ga ??

Kaum golput yg tdk setuju dg sistem yg berlaku, tapi terus berharap/memelas kpd yg berada didlm sistem tsb utk mengakomodir kepentingan politiknya atas nama demokrasi. Sementara yg membuat dan menjalankan sistem tsb para pelaku politik yg tdk golput bahkan anti golput.

Kapan selesai tuh perjuangannya ??

Kolik kulik:
Betoel

Senopati:
Bagi saya Pilpres 2019 adalah hal yang sangat jelas hitam dan putihnya. Dimana dalam banyak survey Jokowi diperdiksi menang. Mungkin ini sebabnya, kenapa kemudian timbul Golput. Padahal selain memenangkan Jokowi, hal penting adalah pesan dari masyarakat yang bisa diukur secara kuantitatif melalui pemilu.
.
Pesan yang dimaksud adalah 2 point:
1. Tegas menolak politik nyinyir yang sudah mengedepankan ambisi dan disaat bersamaan menghilangkan etika dan adab. Dimana prestasi tidak dihargai, bahkan diplintir menjadi kegagalan. Dengan cara yang juga buruk hoax, fitnah, caci-maki. Bahkan di forum resmi kenegaraan, pembacaan doa dijadikan ajang olok2.
2. Tegas menolak radikalisme, dimana salahsatu paslon didukung secara nyata unsur2 radikal. Lebih buruk lagi, dukungan dari kaum radikal ini tidak disertai ketegasan sikap menghormati penegakkan hukum. Hal ini bisa mengoyak persatuan, sekaligus ketidak-adilan bagi kaum moderat. Padahal unsur moderat, justru yang menjadi pedoman yang harus dikedepankan bukan hanya domestik dalam negeri, melainkan juga rujukan bagi dunia.
.
Karena itulah, kemenangan Jokowi tidak cukup dengan hanya menang tipis, semakin besar selisihnya, semakin tegas pula pesan disampaikan. Hal ini penting, karena kedua hal tersebut sudah terlanjur membesar akibat PilGub DKI 2017. Bukankah sering terdengar PilGub DKI menjadi rujukan dalam Pilpres, khususnya argumen dari kubu BO-SAN. Pesan tegas harus disampaikan bahwa Indonesia tidak semata DKI, apa yang berhasil dilakukan ditingkat DKI, setidaknya tidak berlaku ditingkat Nasional.

Kolik kulik:
Semoga selisihnya 2 digit

Yadi Tang:
cuma taktik politik.

Kolik kulik:
Saya nggag tau

Nawadi Zheng:
Untuk Pandji dalam konteks Pilkada Jakarta : Payung yang Anda pilih dan pungut untuk dipakai adalah payung rusak dan sudah dibuang pula !!

Kolik kulik:
Kira2 begitu deh

Opa patompo:
Bisa gitu yak?

Nawadi Zheng:
Dipaksain dikit ????
Karena komen Pandji terakhir-terakhir ini di Medsos terdengar seperti masuk akal kedengaran pintar tapi  sebenarnya mengajak orang-orang golput untuk mengurangi pertambahan suara untuk Jokowi.

Opa patompo:
Jgn2 msh terikat kontrak tuh orang

Nawadi Zheng:
Dari bbrp pernyataannya, saya menilai Dia masih di kubu onoh.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Golput Pantas Dicaci Atau Dipuji yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/golput-pantas-dicaci-atau-dipuji-Qr8k7x1_C

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: