You Now Here »

Aku Bukan Penyembah Jokowi  (Read 87 times - 89 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 17,617
  • Poin: 17.693
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Aku Bukan Penyembah Jokowi
« on: May 12, 2019, 08:00:11 AM »




Leo Nardo:
Ya, mbok coba dijelaskan maksud Cak Nun itu soal kata "hina" dari ucapannya. Yang hina itu sebelah mana? Istananyakah atau Jokowi-nya?

Jika istananya yang hina, lantas mengapa Cak Nun tidak memandang hina ketika beliau mau datang saat presiden yang lain mengundangnya? Wahai pak penulis, tolong dijawab dengan pikiran jernih dan tidak merasa benar sendiri seperti klaim anda.

Bagi akal saya yg dangkal ini-ya, memang saya bodoh kok-, ucapan Cak Nun itu sebenarnya mengarah kepada Jokowi. Ingat ya, Cak Nun pernah datang ke istana dan pada waktu itu istana mungkin beliau anggap surga karena belum ada Jokowi. Istana itu berubah menjadi hina karena sekarang ada Jokowi di dalamnya. Itu sama saja Cak Nun menganggap Jokowi adalah seorang makhluk najis yg mengotori istana. Sungguh terlalu anda ini.

Sam Dear:
sikap terlalu membela terhadap minoritas (umum) membuat Cak Nun tidak bisa bersikap sebagai manusia seutuhnya.

sebagai contoh terhadap kristen, salawat dalam bentuk malam kudus, sepintas hal itu baik tetapi membuat orang secara tidak sadar menganggap bahwa semua agama sama.

toleransi bukan dengan membenturkan perbedaan dengan sikap permisif tetapi dengan menerima perbedaan apa adanya.

hal itu terlihat jelas bahwa Cak Nun selalu melawan arus pemikiran normal agar dianggap sangat bijaksana.

contoh lain yang luar biasa untuk membangkitkan semangat cinta tanah air, Cak Nun berpendapat bahwa Adam dibentuk dari tanah yang berasal dari Jawa. hal ini secara tidak sadar membentuk pemikiran bahwa Jawa adalah awal peradaban dunia dan banyak lagi contoh.

akibat dari pemikiran Cak Nun yang selalu melawan arus pemikiran normal, pengikutnya tidak sadar bahwa Cak Nun telah menghina Pemimpin yang harus dihormati dianggap wajar (lucu2an) karena Cak Nun secara perlahan telah merusak alur pemikiran normal pengikutnya.

dan apabila kita menganalisa pemikiran Cak Nun selanjutnya maka akan terlihat bahwa Cak Nun selalu membela ulama-ulama sebelah karena menganggap ulama-ulama sebelah adalah minoritas yang wajib dibela tanpa melihat bahwa isi ceramah mereka merusak keutuhan NKRI.

hidup adalah pilihan karena itulah hakekat manusia yang berakal budi.

Salam Seword

kangcute:
mas Rohmat, menurut anda, apakah perlu ketika diundang dan tdk mau datang dikoar2kan di depan orang banyak? apakah berkoar2 tdk mau datang itu level makrifat? mohon sy diberi pencerahan...level sy msh rendah mas, chicken dinner juga masih jarang, tlng sy dibimbing...

#salampecanduPUBG

TMP2:
Kenapa justru penulis mepertanyakan kemampuan pemahaman orang lain terhdp perkataan Cak Nun ??. Bukankah lebih baik penulis mengutarakan pemahamannya sendiri ttg perkataan tsb, sbg sudut pandang berbeda yg bisa menjadi pembanding diforum seword ini ??. Adakah ??

Kalo sampai seorang tokoh senior Muhammdiyah saja perlu mengunyah berkali2 perkataan seorang Cak Nun, bagaimana dg rakyat biasa ??. Kalo memang setinggi itu level Cak Nun, bukankah lebih bijak utk Cak Nun menggunakan kata/kalimat yg lebih memungkinkan bisa dipahami maksudnya oleh publik yg level kemampuannya sangat beragam.

Bukankah seorang yg berilmu tinggi akan selalu berusaha memilih kata/kalimat yg disesuaikan dg lawan bicaranya agar tdk terjadi salah persepsi ato tdk dimengerti ?? Bukankah keberhasilan suatu komunikasi adalah tergantung dr yg mengutarakan dan yg mendengarkan, tdk bisa salah satu saja ??

Jadi bagaimana kita mengartikan perkataan Cak Nun tsb dikaitkan foto2nya dg Suharto ??

Parlindungan Panggabean:
Saya juga bukan pihak yang mudah terperangkap kedalam pemujaan terhadap seseorang, betapapun buah pikirannya membawa pencerahan dan mengandung nilai positif baru yang menggerakkan.
Namun dalam konteks Cak Nun yang melontarkan pernyataan "hina" datang keistana bila diundang oleh seorang presiden (Jokowi) dengan dibumbui argumen2 personalnya, saya yang sungguh sebelumnya mengaguminya, menjadi kecewa, karena pernah menempatkannya pada posisi yang patut didengar pendapatnya. Memang setiap manusia siapapun dia, tetaplah manusia yang hidup beriringan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tetapi perihal pernyataan Cak Nun mengenai topik besar (peka) yang bernuansa merendahkan, itulah yang menjadi soal besar. Ini bukan lagi soal keberpihakan, lebih dari itu, ini adalah soal adab dan keintelektualan dari seseorang yang "ditokohkan" sebagai pembawa pencerahan.

Btw, menurut hemat penulis, bagaimana pendapat dan sikap Cak Nun ketika begitu banyak fitnah keji berterbangan mengarah ke Jokowi.?
Bukankah fitnah itu adalah suatu perbuatan tercela dan biadab.?
Mengenai Cak Nun bersahabat dekat dengan Gus Dur dan Gus Mus, saya belum pernah dengar apakah kedua beliau2 itu bisa berkompromi dengan ujaran2 fitnah. Setahu saya tidak sih..

#Salam dari yang juga pecandu kopi.

Manuel Mawengkang:
The dead of the author, itu dilakukan orang-orang kubu sebelah terhadap Jokowi. Bayangkan. Pengagas tol laut, tol langit dan tol trans Jawa, bisa difitnah dan dibunuh karakternya oleh kelompok yang ada di kubu Cak Nun.

Rakyat puas, tapi fitnah bikin suaranya hanya 56 persen. Coba kalau dia gak difitnah, tenggelam di angka 20 persen mungkin itu si junjungannya Cak Nun.

Siapa dia? Coba cek Gus Nur, dll.. hhehehhe.

Alexander David  ツ:
Aku mau koment... rasanya gimana gitu, baca koment2 yg lain... sudah banyak PR ^.^

Tetap SEMANGAT sob Rohmat Tri Santoso, semoga bisa beri pencerahan ke teman2 yg menunggu di koment... barangkali sob bisa meluruskan kesalahpahaman ini.

Njoto:
Justru mengatakan: "bahwa berbincang dengan Cak Nun maka maqamnya adalah makrifat", merupakan penyembahan kepada cak nun

Edwin Hendra Kusuma:

(click to show)


FAUZi:
Akupun sempat kagum kepada Cak Nun, pemikirannya dan ceramahnya banyak kuikuti (sebelum 2014) .............

Orang Jawa bilang "people change" , kini semua kekagumanku luntur, bukan karena aku penyembah Jokowi (sempat kukomen kalau saja prabowo tidak membawa gerombol;an onta sakit, onta gila dan pencoleng berdaster mungkin aku akan memilih dia, dengan Pak jokowi business berat, ga mudah maju)

Mau penulis bilang apapun tetap Cak Nun sudah menjadi bagian dari gerombolan onta...

Roedy Siswanto:
Mas Rohmat , Saya Kira penjenengan harus obyektif jugs .Mengapa Ada teman yg mengkritisi Cak Nun ( mungkin malah sarkas ) adalah karena omongan yg tidak sesuai dng fakta . Khususnya soal dipanggilnya ke Istana ....Dan teman teman menemukan jejak digital saat Cak Nun dipanggil oleh mendiang kakek Saya Soeharto di Istana .

Senopati:
Bisa jadi penulis sendiri yang tidak kenal Cak Nun, mari dicermati bagaimana pola pikir Cak Nun menyikapi situasi terakhir:
twitter*com/i/status/1125024548619821067
- ada juga video saat mengolok2 bahasa Inggris Jokowi
- jauh menjelang pilpres 2014, cari ceramah Cak Nun di Philadelphia (AS) tentang Jokowi
.
Mohon maaf, kesimpulan saya Cak Nun memang KAMFRETT.

Senopati:
Mungkin foto dibawah bisa lebih menjelaskan dan bandingkan dengan dokumentasi saat Ma'ruf Amien bersilaturahmi ke Cak Nun. Dar gestur dan ucapan, sudah tersirat tanggapan Cak Nun pada paslon 01, meskipun MA adalah Rois Aam PBNU.
.
(click to show)

.
Perhatikan sisi kanan, ada keakraban dengan Sugi Nur dan BPN

Nogomuliono:
Ada seorang GURU mengatakan : Jika kita mempercayai sesuatu secara berlebihan,maka kita akan menutup kebenaran dari hal-hal yang lain.
Penghormatan (respect) terhadap seseorang nilainya lebih tinggi dari pada mempercayai apa yang diucapkan oleh orang itu.

Luky Thea:
Ya begitulah manusia. Selalu menciptakan Tuhan baru bagi dirinya sendiri. Spt atheis yg tidak percaya tuhan namun akhirnya menjadikan sains sbg Tuhan yg tidak pernah salah dan tidak boleh dikritik.

si memble:
Jadi ingat kata2 bijak yg pernah sy baca dulu, intinya:
hati seseorang tdk bisa dinilai, yg bisa dinilai adalah perkataan dan perbuatannya.
Dengan berusaha untuk netral, sy melihat penulis berusaha menilai hati seseorang, dan sebaliknya penulis seword yg lain menilai perkataan dan perbuatannya.
Mana yg benar simpulkan sendiri, karena bagi sy hanya beberapa orang saja yg signifikan untuk dinilai yaitu sosok2 yg bisa membawa perubahan bagi banyak orang.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Aku Bukan Penyembah Jokowi yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/aku-bukan-penyembah-jokowi-tgh03MZxC

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: