You Now Here »

Membahas Hinanya Cak Nun  (Read 58 times - 101 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 17,600
  • Poin: 17.676
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Membahas Hinanya Cak Nun
« on: May 12, 2019, 10:01:04 PM »




TWH:
Sy hanya berandai-2 saja, kenapa seorang Ahok gak beruntung dpt hadiah opini se-rumit diatas.

xenakis2:
cak nun sewaktu diundang p'harto, langsung gesturenya seperti budak ktemu boss besar....
=============
karena penulis sudah mendalami filosofi "keberpihakan halu"
jadi mungkin harapan masbro, bakalan sangat jauh menjadi kenyataan....

udaaaah........udaaaah.....

Hinamata:
huum. tuull

Nawadi Zheng:
Cak pernah komen salah satunya tidak mau tampil di media. Sekarang tampil di media karena membela KPK. dimana pembelaan Beliau waktu kejadian sebelumnya? Kenapa harus sekarang Beliau membela KPK? Apa urusannya KPK dengan seorang Budayawan? Ketidaksinkronan ucapan sebelumnya dengan ucapan sesudahnya? Ada begitu banyak pertanyaan mengenai pengakuan kenetralan, kerendahan hati Beliau. Cobalah dilihat video-video ceramah Beliau di Youtube.

Ndemik:
Ini sudah membantah kekontuinitasnya beliau yang A sampai 60 ya ttp A,sama spt apa yg ditulis penulis. Kontuinitasnya udah terbantah

Budi Aaa:
Untuk yg artikel ke 2 ini yg dimaksud cak nun merasa hina bila dipanggil /datang ke presiden  adalah

 " krn cak nun merasa dirinya hina bila dipanggil oleh orang yg jauh lebih tinggi...??"

Sedang di artikel yg pertama jelas tidak begitu maksud/narasi ug ditulis,

Di artikel yg pertama yang dimaksud "hina" adalah  cak nun merasa terhina bila sampai datang ke presiden.
Jd seolah presiden  ini orang hina,, sehingga klu sampai datang ke istana, maka cak nun merasa terhina juga.

Kenapa dibolak balik begini narasinya.

Tulisan pertama  presiden adlh hina.
Tulisan ke 2. Cak nun merasa hina dan tak pantas dipanggil ke istana.

Nah klu logika di bolak balik begini apa namanya......?

lodewijk virgiawan:
logika kampret

gencnzn:
Betul tuh logika kampret.

""""""Saya melakukan segala sesuatu tidak pernah sehari. Kalau saya melakukan A, saya lakukan sampai sekarang umur 60.Sampai sekarang kalau saya bilang 'hei, saya tidak bisa dipanggil presiden, saya yang berhak memanggil presiden, karena aku rakyat'. Itu saya lakukan, dan saya tidak pernah mau dipanggil ke Istana, dan saya tidak bangsa sama sekali. Hina kalau saya ke Istana,""""",

Terasa sok, songong & sombong.

Rohmat Tri Santoso:
Mohon dipahami kembali artikel saya yang 1, mas. Saya tidak pernah menulis presiden hina.

muhamad tok:
Sehebat apapun manusia tetaplah manusia bukan malaikat..

Sita W:
Buat saya Cak Nun sudah tamat! Sayangnya bukan happy ending story, rentetan ucapan dan peristiwa dari waktu ke waktu sudah menggambarkan dengan jelas bagaimana tipikal orang ini!

TMP2:
"Lalu soal konsistensi, apakah benar jika Cak Nun berkata A maka seterusnya akan melakukan A terus? Sebuah kontinyuitas, pasti memiliki permulaan. Sebuah skala dalam deretan angka pasti memiliki angka awal yang menuntun pada deret selanjutnya. Begitu pula dengan kontinyuitas Cak Nun."
>>>  Ini sdh terkunci dg perkataan Cak Nur selanjutnya, yg ada kata "tidak pernah", jd tdk bisa diasumsikan berbeda lg.

"Sejak kapan Cak Nun berprinsip beliau tidak mau dipanggil presiden? Jika kita bisa menemukan awal pernyataan itu berlaku maka kita bisa menilai apakah benar kontinyu atau tidak. Dan saya berasumsi bahwa prinsip ini muncul antara periode awal reformasi - lengsernya gus dur. Mengapa?"
>>>  Adakah bukti Cak Nun berkata yg sama di masa itu, yg bisa menjadi pembenaran konsitensinya sd sekarang ??

Menurut sy...tdk perlu jg hrs mencari sejarah Cak Nun, kalo hanya utk memahami perkataannya dlm acara tsb, karena itu bukan bahasa yg rumit, bahwa itu menjadi pertentangan dipublik, itulah resiko tdk bijak seorang tokoh memilih kata/kalimat, bukan publik yg bermasalah kok.

Kalopun Cak Nun mau keistana dijaman Suharto dan Gus Dur, kemudian selanjutnya tidak, pdhal ada jaman Habibie (antara Suharto - Gus Dur), Bukankah itu karena alasan subyektif terhdp siapa presidennya ??

bpd jambuluwuk:
Yah sesukamulah...bukti videonya sudah banyak beredar. Setelah bilang cara bicara Jokowi hanya sekelas Moerdiono sang setneg, setelah bilang bahwa motto kabinet Jokowi dengan "kerja - kerja - kerja" gak pantas karena yang pantas kerja adalah mereka yang dibayar dan bukan rakyat. Sampai akhirnya bilang presiden sebagai tenaga "outsourching". Gak usah bicara secara filsafat, karena audiencenya bukan para filsuf. gak usah berlindung sbg budayawan, kalau hanya akan menimbulkan kesalahpahaman belaka.

Syafei Gunawan:
S7 sekelas filsuf roki garong

GustiMbotenSare:
Cuk Nun,...manusia paling hina yang pernah ada

Senopati:
Ada lho tokoh yang setiap muncul, lalu sesudahnya orang lain sibuk klarifikasi, memberi tafsir, dan seringkali jauh dari fakta sebenarnya. Untuk tokoh2 seprti itu, saran saya berhentilah bicara, diam itu emas, tong kosong nyaring bunyinya. Buat apa toh bicara, kalau lebih banyak yang tidak paham ? salah2 disalah-pahami, lalu ada yang ngambek
BTW, mengutip Adian Napitupulu: "Indonesia butuh orang yang KERJA BESAR, KARYA BESAR, bukan orang yang OMONG BESAR"

Nyoman Mawa:
Kenapa sih penulis bersusah payah menginterpretasikan pernyataan Cak Nun. Saya malas membaca sampai selesai, apapun interpretasikan yang diberikan itu pernyataan kontroversial. Kurang pantas disampaikan.

Rohmat Tri Santoso:
Saya hanya berharap agar teman-teman bisa memandang sebuah fenomena lebih luas dengan menghadirkan alternatif intepretasi yang lain. Sungguh saya tidak bermaksut apa-apa selain mengajak belajar.

xenakis2:
wutulwutulwutul........mengajak belajar memahami secara halu....

binsar naibaho:
bingung..... $#@!*&¿¡₩?

Alexander David  ツ:
Sama aku juga... Sini pegangan bareng... ????

Ndemik:
Mungkin beliau menganggap ketika beliau datang ketika dipanggil (tidak diundang) oleh presiden, artinya beliau tunduk pada personal presiden itu sendiri. Tunduk pada manusia, tunduk pada entitas yang seharusnya entitas itu yang tunduk padanya. Karena itu, jika Cak Nun datang, maka beliau akan merasa hina.
*Kenapa Cak Nun merasa terhina ketika dipanggil entitas yg mana ini adalah Jkw? Apakah seorang Jkw tak layak untuk memanggil Cak Nun? Apakah Jkw seorang pendosa sehingga Cak Nun merasa terhina? Apakah derajat seorang Jkw lebih rendah daripada Cak Nun? Trs jika begitu apa bedanya deg pemegang kunci surga kubu sebelah, yg selalu merendahkan,menghina,mencaci maki seorang Jkw??
Penulis masih belum nemu hinanya Jkw??

Justru yang saya tau bahwa pda jaman Gus Dur istana sangat terbuka. Kyai-kyai dari desa bebas menemui Gus Dur seakan mau menemui temannya sendiri bahkan ketika tengah malam.
* Bukankah istana ketika dipegang Jkw sangat terbuka buat siapa saja,tidak hanya kyai" rakyat jelata pun beliau terima dengan baik. Bahkan dulu ulama" & kyai" tanpa dipanggil ataudiundang menghadap presiden Jkw. Apakah penulis mau memframing Jkw anti ulama? Knp Cak Nun harus membedakan dipanggil dg diundang?? Apakah klo ada panggilan dari kepolisian Cak Nun juga ga mau datang,krn Cak Nun Majikan dan Polisi pelayan masyarakat ,maka Polisi harus tunduk pada Cak Nun demikian dg Jkw yg harus tunduk pada Cak Nun?? Setidaknya itu yg diartikan oleh penulis. Presiden dipilih rakyat(Cak Nun) bukan berarti Presiden adalah pekerja/buruh Cak Nun seorang.

Coba liat diyutub,bagaimana CakNun dg lantang menjelekkan Jkw, mempunyai berbendel" bukti kesalahan" Jkw yg dikumpulkan oleh Tim intelijen Cak Nun sendiri(kaya sebelah ya)..Bukan baru sekarang Cak Nun sinis dg Jkw. Dari politik CN ini mirip" Amin Rais klo sya bilang..Dia yg seharusnya duduk disana, dan itu pernah terlontar dari mulut CN sendiri..meski dg gaya merendah

Diedit dulu lah sebelum tayang,apa yg ditulis saling kontra dg opini pribadi penulis kok.
Dan pada akhirnya artikel ini adalah clicbait. Sorry my sob..

Agus Winarto:
Sy hanya berharap kpd cak Nun sbg tokoh ( ga tau tokoh apa ) atau yg ditokohkan, agar berucap yg andap asor....jgn kebanyakan guyon, ntar kebablasan.

Amin widodo:
Setuju/ sependapat kulo mas dengan tulisan panjenengan..sempet kaget baca tulisan "cuk nun" yang kemaren.

Indriawan Sutanto:
Ucapan seperti buruh outsourcing itu yang tak pantasan diucapkan dan merendahkan seorang presiden

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Membahas Hinanya Cak Nun yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/membahas-hinanya-cak-nun-ssN3MQJnR

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: