You Now Here »

Zonasi Tak Salah Meski Bukan Solusi  (Read 50 times - 53 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 18,434
  • Poin: 18.510
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Zonasi Tak Salah Meski Bukan Solusi
« on: June 25, 2019, 03:03:59 PM »




.:M:.:
Unggul untuk berkecimpung dalam 'rat race'?

Ketika tadi mendaftar, ortu lain bingung ketika n-un anak saya cukup lumayan ko tidak mendaftar sekolah unggulan, tapi malah sekolah non-favorit tapi dekat rumah?

Dalam hati saya cuma miris..urusan sekolah favorit karena label unggulan aja pada panik...gimana mau bicara mengadministrasi keadilan sosial..bisa super panjang bahasannya kalau nyari korelasinya..

Saya dan ayahnya, tidak terorientasi untuk anak pintar hanya secara akademik, kami mau anak2 kami 'cerdas' menjalankan kehidupan mereka dikemudian hari; tumbuh menjadi insan yang baik dan mampu mengelola diri (ego, hati dan logika) untuk mempertanggungjawabkan segala tindak-tanduknya, berupaya membuat dirinya bermanfaat untuk sekitar (bukan pintar ngakal2in), pembentukan karakter berbudi jauh lebih penting bagi kami dan itu tidak terkait urusan sekolah unggulan atau tidak (pendidikan utamanya di rumah).

Share cerita, dulu di sekolah saya mengajar TK, ada seorang psikolog meneliti untuk thesis S3nya, lalu saya tanya, mana yang lebih utama..sekolah dengan kualitas pendidikan bagus tapi jauh dari rumah, atau sekolah dekat rumah tapi kualitas pendidikan biasa saja? Dan beliau cuma bilang...itu pertanyaan yang sulit dijawab, karena pertimbangan jarak sekolah juga penting, berhubungan dengan tingkat stress anak.

Tapi..balik lagi ke keputusan masing2, mohon maaf kalau dirasa kurang berkenan.

Revolusi sistem pendidikan nasional memang "darurat", berharap ini jadi prioritas utama periode Jokowi ke-2, dan pingin lihat Bu Susi atau Pak BTP menjadi mentri pendidikan.

Segalanya Baik:
Pada dasarnya kehidupan yg "terbaik" adalah berasal dr persaingan/kompetisi. Contoh pemain sepak bola yg hebat, keluar dr hasil kompetisi yg hebat jg. Tentu saja dilatar belakangi oleh kemampuan dan bakat yg hebat pula.
Tidak perlu jauh2, hakekat persaingan di dalam hidup manusia sdh terbentuk sejak Sperma membuahi Sel telur. Hanya 1 sperma yg berhasil membuahi, dr sekian banyak sperma yg ada. Dan itu jelas merupakan persaingan di antara sekian banyak sperma.
Jika tidak ada persaingan di dalam hidup, perlahan2 etos bersaing itu akan punah. Manusia akan menjadi "kosong" tidak memiliki "jiwa" lagi.
Seluruh sendi kehidupan akan selalu ada persaingan, jika zonasi sekolah meniadakan esensi persaingan, itu akan menghancurkan sendi kehidupan.
Jika idealisme nya pemerataan pendidikan, apakah kurang lebih menjadi sama dengan idealisme Komunis yg menyatakan pemerataan kepada semua orang. Dan ternyata yg membuat maju dunia bukanlah pemerataan, ttp persaingan. Contoh antara Apple dan Samsung. Dan seluruh persaingan bisnis, semua membawa kemajuan yg kita nikmati bersama

rohan 212:
Wah..... opini di atas, terlihat super sekali. Saya sungguh sangat setuju sekali. Apakah pejabat di stake holder terkait tidak paham tentang konsep dasar sederhana seperti ini ya? Ataukah Pak Menteri memiliki trauma masa lalu terhadap sekolah sekolah favorit sehingga punya pandangan skeptis terhadap sekolah favorit tersebut? Mungkinkah Pak Menteri dulu pernah dikecewakan oleh sekolah sekolah berlabel favorit? Kalau melihat latar belakang pendidikan Pak Menteri mulai dari SD sampai dengan Perguruan Tinggi, maka asumsi saya sangat boleh jadi benar. Hehehehe.........

Roedy Siswanto:
Sis Tika , menurutku dng Zonasi Ada Hal yg terpangkas Dan tentunya ini tdk disenangi oleh yg biasa mendapatkan yaitu pihak sekolah favorit. Sdh menjadi rahasia umum kalau untuk masuk ke sekolah favorit Ada Biaya bawah tangan yg diminta . Kemudian adalah untuk menguak fakta apakah 20% anggaran pendidikan yg sdh ditetapkan Undang Undang telah dilaksanakan dengan baik .Karena kalau sdh dilaksanakan dng baik mestinya fasilitas antar sekolah tidak Akan terlalu berbeda .

indrianto kelapagading:
kalo saya punya uang yang agak lebih, sepertinya saya memilih menyekolahkan anak di sekolah swasta umum, selain guru2nya lebih bertanggung jawab terhadap murid2nya, anak juga merasa lebih nyaman karena sekolah swasta umum guru2nya biasanya sangat toleran terhadap siswa-siswinya yang berbeda agama. ngga kebayang misalnya anak saya berhadap-hadapan dengan guru2 pendukung HTI, FPI, PKS, ISIS, dan pendukung Khilafah. bisa hancur hati saya melihat anak dihina, disindir-sindir, dipojokkan, dijauhi, serta dimusuhi. bisa rusak mentalnya

Oene 2016:
Sekolah favorit tak banyak pengaruhan untuk masa depan anak; yang hanya ada itu 'anak favorit', yang punya bakat dan motivasi tinggi
Sebenarnya sekolah di desa dan pedalaman punya nilai plus, mungkin bukan di bidang akademik, tapi kehidupan sehari-hari anaknya masih jauh lebih sehat daripada di kota. Jalan kaki satu jam di alam menuju sekolah sangat bagus.

Indri Giber:
Sampai hari ini masih terkenang indahnya pengalaman berjalan ke sekolah dgn udara yg jauh lebih bersih. Gak perlu sekolah favorit. Yg penting adalah character development dan emotional support dan stabilitas dari orang tua.  Anak2 masih terlalu dini untuk diperkenalkan dgn stress yg penting, it's too early. Malah dulu saya 'belajar' getting along dengan teman, meng-handle konflik, kolaborasi. Banyak kenangan masa kecil di sekolah yg sampai hari ini saya masih ingat. Bukan ranking atau kompetisi. And I'm doing okay today ;-)

Zeffanya N Zeevanka:
Prioritas saya sbg ortu
Back to basic yg mau sekolah anaknya / ortu?
Anaknya enjoy ga? Bknkah itu prioritas belajar?
Mampu / TDK mengikuti kurikulum Sekolah fav?
Saya & suami sama2 lulusan sklh fav melihat anak2 kami skrg yg ptg mrk enjoy belajar that what really matters.

Aan Widjaya:
Anggaran pendidikan besar, sekolah dalam satu kab/kota saja kualitasnya tdk merata (ada unggulan dan non unggulan), pr besar pak jokowi.

Ndemik:
Sebelum berangkat ke arah zonasi,sebaiknya pemerintah perbaiki dulu kualitas guru dan sekolahnya..disamaratakan kurikulum dan kedisiplinan belajar mengajar. Saya masih sering lihat,di jam pelajaran guru" banyak yg keluar dr sekolahan hanya untuk belanja. Kebetulan rumah saya deket dg sekolah favorit,dan sekolah itu bersebelahan dg pasar. Meski belum jam mengajar apakah bisa dibenarkan guru makan di warung pasar, tangan kanan kiri penuh belanjaan? Saya melihat ini hampir setiap hari, krn mmg hampir tiap hari saya makan dan menyuapi anak terkecil saya disamping gedung sekolah. Belum lagi klo mengajar hny ditinggali catatan,atau olahraga anak"nya di lapangan hny di kasih bola suruh main sendiri,sementara gurunya berteduh. Pungli di sekolahpun masih ada, uang gedung diganti uang parkir,klo dilihat gedungnya sudah ga punya lahan kok bisa minta pembangunan parkir?setiap ada kenaikan kelas ada "tinggalan/kenang"an untuk guru,gratifikasikah ini? Bahkan di SMP favorit tersebut sebelum kelulusan harus memberikan uang yg tidak sedikit..dan nyatanya komisi pendidikan di wilayah tsb diam saja dg keadaan spt ini. Revolusi mental itu masih hanya di permukaan saja. Klo mbak rahma bilang "Sekolah dengan jarak jauh dari rumah itu juga butuh pengorbanan dari anak,dst..
Ya memang kita harus prihatin untuk meraih impian kita,harus berjuang. Itu kan cara mendidik anak kita biar tidak manja,tidak malas. Alasan spt itu saya rasa masih wajar,itu tidak memberatkan anak hanya karena bangun pagi dan jarak jauh.
Hsrus disamaratakan kurikulum dan kedisiplinan dalam belajar mengajar,perbaiki kualitas,fasilitas sekolah,saring guru" yg mmg kompeten. Mungkin perlu dikurangi fakultas pendidikan guru,atau minimal di jeda biar bisa melahirkan guru yg benar" berkualitas. Baru kemudian diterapkan zonasi..klo mmg gurunya belum berkualitas knp harus di penjara dg zonasi? Adil kah buat anak" yg punya kemampuan diatas rata"?

DW_15:
Semoga anak" sekarang tetap bisa memproteksi dirinya dari pergaulan negatif, mengingat usia remaja adalah usia yang rawan dipengaruhi oleh pergaulan dan perasaan takut dikucilkan

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Zonasi Tak Salah Meski Bukan Solusi yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/pendidikan/zonasi-tak-salah-meski-bukan-solusi-iGyw71lwLt

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: