You Now Here »

Dari Somad Hingga Papua Kapan Mau Kita Selesaikan  (Read 36 times - 93 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 19,421
  • Poin: 19.497
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Dari Somad Hingga Papua Kapan Mau Kita Selesaikan
« on: August 20, 2019, 12:02:40 AM »




Martabak Sweet:
"Apa yang dilakukan Polri sudah benar. Pelacakan terhadap penyebar video dan penjelasan soal hoax itupun sudah benar. Tapi kenapa kalian tidak segera menangkap orang-orang yang sudah rasis dan menghina saudara-saudara kita itu?"

Itu dia, tabiat dan tingkah laku polisi yang selalu membiarkan dan tidak menegakkan hukum. Makanya ada tipe orang orang yang petenteng sana sini sambil berbuat kriminal, jualan agama, merusak dan terus melakukan itu tanpa rasa takut dan hormat kepada hukum dan aturan serta azas kemanusiaan.

PR buat Tito. Yang dulu norak pakai mengusulkan dia jadi capres 2024, mikir dulu dan melek dulu. Kapabilitas untuk mengatur, mendisiplinkan, dan mendidik anak buah NOL. Kapasitas untuk meng-enforce hukum dan Undang-Undang, masih NOL! Mau ngurus negara? ??? ???? Apresiasi untuk keberhasilannya saat Mei 22, tapi PR nya lebih dari itu.

B-Over:
Kalau di komentar saya yang lain ttg kerusuhan di manokwari, mental aparat polisi kita banyak yang seperti mental anak2 yang suka tawuran.

Berani bertindak apabila tau ada banyak pihak yang akan membantu.

Wele Wele:
Takut itu manusiawi.
Sang pahlawan yg terkenal gak takut sebenarnya takut juga cuma dia belajar mengenal berani dari rasa takutnya. Batman juga begitu awalnya takut sama kelelawar. Mungkin polisi nya belum seberani batman bertaruh nyawa

B-Over:
Pimpinan dan penulis2 seword juga tidak konsisten. Dalam artikel yang lain penulis memilih untuk mengabaikan suara2 dari kelompok PA212. Ada juga penulis seword yg lain menghimbau untuk menarik laporan terhadap somad.

Jadi sebetulnya kita ini negara hukum atau bukan sih??? Disaat ada pihak yang berpotensi melanggar hukum bahkan perpecahan diminta diabaikan atau menarik laporan. Disisi lain minta keadilan ditegakkan. Piye???

Wele Wele:
Yah itulah uniknya seword. Semua pikiran yg beda ada dalam satu wadah. Pro kontra terjadi bukan berarti gak ada konsistennya. Konsistennya itu adalah seword menghargai perbedaan pendapat. Termasuk komen2 pembaca, penulis pun gak semudah itu diboikot pimpinan

B-Over:
Bukan itu. Bukan perbedaan antar penulis tetapi perbedaan dari artikel2 penulis yang sama seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Disitulah letak inkonsistensinya

Wele Wele:
Kalau gue sih menyikapinya begini:
Yg satu bilang maafin, ya gue setuju maafin agar gak dendam.
Yg lainnya bilang, laporin, ya gue setuju laporin aja agar pemerintah didorong beresin kasusnya biar hukum lebih kuat.
Ambillah jalan tengah sebisa mungkin..
Nb. Nobody perfect. Tak satupun sempurna sob.. gue belajar menghargai ketidaksempurnaan / ketidakkonsistenan manusia

B-Over:
Mungkin komentar pertama saya kurang lengkap. Biarlah saya pertajam lagi..
Ambil contoh pimpinan seword, di artikel lain menulis umtuk mengabaikan seruan dari PA212. Di artikel lain atau khusus yang ini menulis sebaliknya.
Contoh yang lain, penulis seword yg lain katakanlah B, menulis agar proses hukum ditegakkan terhadap bahar smith. Seingat saya, penulis B ini yang paling keras menulis agar bahar mendapat konsekuensi hukum. Namun di artikel lainnya mengenai somad malah berharap laporan terhadap somad ditarik.

Saya pikir masih ada beberapa penulis lain yang juga menunjukkan inkonsitensi beropini dalam tulisannya. Kira2 begitu maksud saya, mas sob

Wele Wele:
Oh soal itu ya gue akui gak tahu juga kenapa gitu. Mungkin tergantung mood haha cuma prediksi. Bukankah mood juga adalah bagian dari manusia yg positif meberi ide tapi juga kadang negatif?
Sekali lagi: nobody perfect

Martabak Sweet:
Ya nangkep, penulis yang sama (bukan penulis yang berbeda) sering menulis hal yang bertolak belakang atau tidak konsisten.

Martabak Sweet:
Setuju dengan apa yang ditulis Bung Alif kali ini (dan kurang setuju dengan yang ditulis Bung Kajitow).

Esensinya ini:
1. Apa yang terjadi tidak ada urusannya dengan dendam atau Ahok versus Somad.
2. Apa yang terjadi adalah keinginan terpendam yang akhirnya keluar karena mual dengan keadaan yang terus berlanjut.
3. Yang "tujuannya seharusnya sama, Indonesia"
4. Yang ingin supaya negeri ini belajar UNTUK DEWASA DALAM BERSIKAP
5. "MENGHABISI BIBIT RADIKALISME DAN RASIS SEDINI MUNGKIN" dari akar-akar, BUKAN MENUTUPI SAMPAI NANTI JADI BOM WAKTU LAGI!
6. Cuma himbauan dan cuap apa artinya? Akan terjadi lagi dan semakin arogan karena merasa tidak akan ada hukuman atau akibat. Jadi memang "HARUS DIMULAI DENGAN MEMPROSES ORANG-ORANG" tersebut!

"Ini bukan soal dendam antara pendukung Ahok kepada Somad. Bukan pula soal mayoritas atau minoritas. Ini tentang tujuan kita yang seharusnya sama, Indonesia. Kita ingin negeri ini belajar untuk dewasa dalam bersikap. Menghabisi bibit radikalisme dan rasis sedini mungkin. Dan untuk menuju ke arah sana, harus dimulai dengan memproses orang-orang yang selama ini begitu arogan, petantang-petenteng seolah pemilik sah negeri ini dan orang lain hanya numpang."

Wele Wele:
Ibaratnya analogi eceng gondok. Sudah tahu eceng gondok susah dibasmi tapi kok malah dibiarin aja. Mending dicabut secepatnya dan sebanyak2nya dari air agar masih bisa dipertahankan kondisi danaunya lebih baik atau airnya biar gak kering kerontang semua

B-Over:
Hahahahaha... Very well said.
Maksud saya sebelumnya juga kurang lebih seperti ini. Jika menganggap negara kita ini negara hukum, hukum harus tetap berjalan jika suatu perbuatan sudah memiliki konsekuensi hukum.

Tidak terpancing, memaklumi, maaf dll itu urusan lain.

Wele Wele:
Yg rakyat lakukan bagiannya: gak terpancing dan memaafkan, aman terkendali gak rusuh.
yg pemerintah lakukan: tegakkan hukum.
Begitu kan maunya?

B-Over:
Yaap betul sekali.

Agus Anggoro:
Untuk menuju kesana, ada nilai/harga yg harus dibayar. Siapkah rakyat atau pemerintah kita?

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Dari Somad Hingga Papua Kapan Mau Kita Selesaikan yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/dari-somad-hingga-papua-kapan-mau-kita-selesaikan-ReinRTXnxL

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: