You Now Here »

Orang Asli Papua Bungkam Para Elit Bermulut Busuk  (Read 75 times - 30 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 19,508
  • Poin: 19.584
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Orang Asli Papua Bungkam Para Elit Bermulut Busuk
« on: September 03, 2019, 11:15:10 AM »




Andy Hartono:
Begitulah biasanya pemikiran dari sebagian orang yg udah piknik kesana kemari,pasti pikirannya akan terbuka karna udah mengenal dan melihat beragam budaya dan adat orang atau bangsa lain....berbeda dengan yg hanya terkuci di satu tempat dengan pola dan budaya yg sama,hanya sedikit yg mampu menghargai perbedaan....anyway apapun itu terima kasih Jhon Kogoya utk tetap bersama NKRI,semoga menyadarkan saudara2 OAP yg lain utk tetap bersama NKRI,Mari kita bersaudara dan berbangsa dengan BAIK.....

Harry:
Tulisannya bagus sekali memang. Sebagus tulisan editorial di surat kabar terkemuka. Bahkan mengingatkan saya tentang pidato "winter is coming" dan "thanos". Yg ntah siapa penulisnya... ???? atau jangan2 kogoya ini penulisnya?

Zero:
Wowww... ???? Jhon Kogoya mrupakan slh satu contoh orng Papua yg cerdas berwawasan luas, tdk bgitu mengherankan krn prnh ada teman sy dr Papua yg kursus dgn jmlh siswanya 12 murid dr brbagai provinsi, beliaunya ranking satu ????

Harry:
Saya barusan membaca berita di detik. Terkait dgn hoax yg disebutkan penulis di sini. Ada satu hal yg membuat saya terusik...berikut saya kutip pernyataan menkominfo.

""Hoax dalam artian berisi pesan adu domba, informasi palsu dan konten yang dikhawatirkan memperparah kondisi konflik di Papua dan Papua Barat," ujar Rudiantara."

Saya pribadi tak ada masalah dgn definisi hoax terkait informasi palsu. Segala sesuatu yg tak factual, layak dikoreksi. Walaupun belum tentu harus dikriminalisasi.  Tapi saya terusik dgn definisi hoax menkominfo terkait "pesan adu domba" dan "konten yang dikhawatirkan memperparah kondisi konflik di Papua dan Papua Barat". Menurut saya ini terhitung definisi karet. "Pesan adu domba" itu bukan definisi resmi hoax. Bagaimana menilai suatu pesan adu domba atau malah melaporkan suatu berita faktual tentang konflik yg melibatkan dua pihak yg berseteru? Pesan adu domba itu jelaskah pelanggaran hukumnya?
Selanjutnya "konten yang dikhawatirkan memperparah kondisi konflik di Papua dan Papua Barat"...ini bisa berarti semua berita faktual tapi tidak mendukung kepentingan pemerintah di papua. Ini bisa diperdebatkan sebagai bentuk fasisme. Karena tidak semua tindakan pemerintah itu benar. Makanya jurnalisme hadir sebagai check and balance. Dgn reportase yg bebas, sehingga bisa memberikan views yg berimbang dari beraneka ragam sumber. Jika terjadi penyensoran atas alasan subjective. Dikhawatirkan public akan kehilangan objectivitas dan perspective due to one-sided information.

Mungkinkah ini menjawab pertanyaan penulis tentang 52 rb konten hoax tadi? 52 ribu itu karena termasuk berita2 "yg kurang menyenangkan" bagi pemerintah as opposed to actual hoax or lies.

Andy Hartono:
Intinya utk mengurangi kerusuhan yg bisa berefek menyebar kemana2 bung,demi kebaikan bernegara....mau public kehilangan objectivitas atau perspektif mslh belakangan....terutama kedamaian dulu di tanah papua....paham???

Harry:
Itu kan menurut anda. ????bagaimana kalau kedamaian itu justru susah dicapai karena satu pihak memaksakan hanya kebenaran versi dia? Dgn menutup2i kejadian yg sebenarnya dan fakta sejarahnya? Kita ingin damai semu yg menyimpan ketidakpuasankah? Bom waktu yg bisa meledak sewaktu2. Atau kedamaian yg berkualitas, sustainable. Yg langgeng karena keadilan dirasakan kedua belah pihak. Lihat aja hubungan harmonis indonesia dan timor leste sekarang. Itu contoh kedamaian yg long lasting and sustainable. Don't you agree?

Kampret212:
Saya pikir dari segi tata bahasa, kata-kata Rudiantara itu bukan suatu definisi tetapi lebih tepatnya adalah keterangan belaka. Jika definisi spt kata Saudara, maka akan digunakan kata: "Hoax adalah bla bla bla bla..." Tetapi di kata-kata itu beliau cuma mau memberi keterangan "hoaks (yang) berisi pesan adu domba...". Artinya ada hoaks lain yang bukan adu domba dan tidak ada kaitannya dengan Papua. Dan hoaks yang menjadi perhatian beliau adalah yang berkaitan dengan adu domba dan konflik di Papua.

Saya pikir Saudara keliru memaknai kata-kata Rudiantara.

Ari:
mas sob yang namanya Harry ini sob mendefinisikan segala sesuatu semau pemikirannya saja sob. Ujung2nya ya memojokkan pemerintah pokoknya ga ada deh pemerintah yang sekarang itu baik

Ari:
Pemerintahan sekarang itu ga seperti jaman orba dengan pendekatan represif nya, tapi lebih ke pendekatan yang persuasif dan preventif. Pemerintahan sekarang di bawah kepemimpinan Jokowi malah sedang bekerja memperbaiki yang dulu rusak bertahun-tahun oleh jaman orba, saya menilai itu dari apa yang sudah dilakukan di 4 tahun perjalanan pemerintahan ini, bisa kan di telusuri gimana Papua sekarang dan sebelum pemerintahan Jokowi. Jadi kalau ada yang mendukung referendum itu namanya orang-orang yang bodoh yang hanya berargumen tapi kosong empati, empati kepada siapa ? kepada pemerintah yang telah berusaha bekerja memperbaiki dan merangkul orang-orang Papua khususnya apa yang sudah di lakukan presiden dengan datang kesana merangkul, mengajak, dan mengayomi. mereka yang mendukung referendum tidak ada rasa menghargai dan mengapreasi hanya melihat dari sisi kejadian ya di waktu kejadian itu saja..itulah mereka.

Hinamata:
Numero Uno

Sapta:
Dlm poin 7 jhon kagoya sangat jelas menjelaskan siapa itu opm & opmlah yg selalu menerikan kemerdekaan

Ruddy Kurniawan Gymkhana:
Orang kalau sudah terlalu benci otaknya biasanya beku, sama dengan orang kalau sudah terlalu cinta.
Supaya adil memang perlu dibuka opini dari semua pihak, jangan hanya dari satu pihak saja.. nanti masyarakat yang akan menilai mana yang lebih baik.

Ari:
kejadian yang terjadi itu tidak alamiah terjadi namun di skenariokan terjadi. untuk melihat opini rakyat papua lihat aja dari pemeilihan presiden kemarin apa mereka mencintai atau membenci presiden yang sekarang. Penilaian anda gimana ?

Ali Al-Mujtaba:
Terlalu benci itu ada dan terlalu atau tidak BENCI itu akan menghancurkan. Terlalu CINTA itu tidak ada menurut saya, yang ada CINTA yang disertai EGO (Ini yang menghancurkan). Karena CINTA itu tak terbatas. Sangat CINTA itu sangat dibolehkan. Itulah FIlosofi CINTA menurut gw.

Harry:
"Untuk artikel kali ini penulis tak ingin beropini, melainkan sekedar ingin bertanya.

Bila realitas Papua telah semencengangkan itu, lantas

: 52 RIBU KONTEN HOAX YANG TERUS DISEBARKAN ITU SEBENARNYA UNTUK APA?"

Bila kita ingin beretorika...sebaliknya saya ingin bertanya...dgn banyaknya informasi (disinformasi?). Yg menunjukkan begitu besarnya dukungan, keinginan dan kecintaan orang papua atas NKRI ini. KENAPA MUSTI TAKUT PEMBUKTIAN DGN REFERENDUM?

Mari kita rayakan sama2 kemenangan Indonesia atas pilihan orang papua MEMILIH DGN SUKARELA tetap dgn NKRI. Sangat terhormat bukan?

Klan Maulana:
Mengenai referendum telah dibahas tuntas, termasuk juga oleh Mahfud MD. Jadi hemat penulis hal itu tak perlu dibahas kembali kecuali bila memang sekedar ingin debat kusir.

Begitu pula dengan perayaan kemenangan serta kesan sangat terhormat, karena banyak cara yang jauh lebih elegan serta penuh manfaat yang dapat dilakukan, baik dari 'kita' maupun juga untuk kita... ^_

Harry:
Oh ya saya juga tahu segi legalitas dari referendum tadi. Illegal tentunya. Seperti juga perjuangan kemerdekaan indonesia dulu di mata belanda. ???? jadi saya memang tak tertarik membahas segi legalitasnya.

Sebaliknya saya hanya ingin membahas referendum dari sisi rasional semata. Karena penulis dan juga penulis2 lain cenderung menjustifikasi penolakan referendum dgn merasionalisasikan itu bukan kehendak mayoritas rakyat papua. Biasanya dgn menyertakan testimony dan tweet dari orang papua (supposedly) yg menyatakan cintanya pada indonesia. Utk memberikan bobot ekstra pada argument di atas.

Rasionalkah itu?
Mari kita lihat kalimat berikut...

1. Saya yakin menang. Maka saya gak takut bertanding.
2. Saya yakin menang. Tapi takut bertanding.

????...Manakah dari dua kalimat di atas yg lebih rasional? Tentunya yg pertama. Lantas kenapa justru logika versi kedua yg sering saya jumpai pada narasi akhir2 ini...sungguh mengusik akal sehat saya. ????

Bila penulis memang tak ingin membicarakan referendum dari sisi rasionalnya. Maka baiknya penulis tak usah2 cape2 membuat narasi dgn premise "mayoritas orang papua pro NKRI". Karena konsekuensi logisnya jika demikian kita tak perlu takut referendum karena pasti menang.

Sebaliknya kedepankanlah argument berdasarkan hukum saja sesuai yg dikutip mahfud md. Bahwa walaupun mayoritas rakyat papua menginginkan merdeka. Kita tak akan mengijinkan referendum titik
Itu lebih bisa diterima nalar saya tanpa perdebatan. ????

Klan Maulana:
"Karena penulis dan juga penulis2 lain cenderung menjustifikasi penolakan referendum dgn merasionalisasikan itu bukan kehendak mayoritas rakyat papua. Biasanya dgn menyertakan testimony dan tweet dari orang papua (supposedly) yg menyatakan cintanya pada indonesia. Utk memberikan bobot ekstra pada argument di atas."

Saya tidak paham dimana dari tulisan saya pribadi yang menunjukkan seperti simpulan tersebut.

Walau memang tak ada yang pernah benar-benar bebas nilai, tapi saya pribadi menilai tulisan-tulisan yang diproduksi terkait Papua tak seperti simpulan di atas, karena lebih cenderung membuka Papua apa-adanya  -termasuk versi 'Dongeng untuk Jokowi'- yang dalam beberapa bahasan justru menunjukkan bahwa Papua secara inti masih butuh jauh lebih banyak upaya dibanding provinsi lainnya dalam hal penyetaraan buah geografis dan tinjauan lainnya, yang bila dibaca tergesa justru berbanding terbalik dengan simpulan tersebut.

Sepanjang yang saya ingat, tulisan saya mengenai Papua lebih berkonsentrasi 'Papua sebagai Papua' dengan latar kondisi dan kendala yang ada.

Bila kemudian hal itu dapat menjadi pupuk bagi pemerintah Indonesia, itu yang terbaik. Bilapun tidak, tetap tak mengkorosi sedikitpun mengenai wacana 'Papua sebagai Papua' tersebut, baik sebagai semacam catatan perjalanan, maupun juga sebagai pembongkar mitos ekstrim bagi yang terlalu pro maupun terlalu kontra.

Adapun mengenai latar pembaca yang misalnya terlalu terobsesi referendum dan Papua merdeka, tentu saja bukan menjadi wilayah tanggung-jawab saya karena semasing pihak tentu saja memiliki ketidak netralan pribadi, dengan landasan kebenaran yang amat relatif berdasar kecenderungan setiap orang.

"Maka baiknya penulis tak usah2 cape2 membuat narasi dgn premise "mayoritas orang papua pro NKRI"

Narasi penulis sejak awal tetap mengacu bahwa Papua adalah NKRI, dengan penjabaran Papua sebagai Papua, yang memang masih butuh banyak diperhatikan untuk ke depannya.

Bersih bersih:
Soal referendum - tanggapan Mas Maulana sudah jelas atas dasar penjelasan Prof Mahfud.  Dg landasan Hukum Internasional atas kedaulatan suatu negara, harapan anda utk adanya referendum = nihil.
Sekarang - debat kusir. Apabila anda tidak bisa menangkap point 8 tulisan saudara John Kogoya, perkenankan saya memberikan gambaran yg lbh jelas bahwa Papua wilayah RI yg panjangnya setara Pulau Jawa - dlm setiap kabupaten (bahkan setingkat kecamatan) nya ada suku yg berbeda (dan tidak spt Tegal s/d Banyuwangi yg msh ada basis bhs/budaya Jawanya) krn geografis yg sangat menantang, masing2 suku bisa terisolir satu sama lainnya shg memiliki bahasa dan budaya yg berbeda. Karena perbedaan yg jelas beda ini dan protektif atas 'kepemilikan' (tanpa sertifikat) ruang berburu/berladang sering timbul masalah antar suku yg dibawa turun temurun. Yg selama ini melerai bila ada perselisihan antar suku ya TNI kalau di pedalaman, kalau di kota Polisi. Satu catatan lagi - mengapa rata2 Orang Asli Papua lancar berbahasa Indonesia, karena Bahasa Indonesia adalah lingua franca mereka. Mbok2 di Tegal yg tdk mampu berbahasa Indonesia bisa santai jalan2 sampai Yogya cukup dg bahasa Jawanya - di Papua tidak bisa. Kalau mau berkelana di Papua harus bisa berbahasa Indonesia. Belum lagi bahas masalah Freeport, konsesi lahan pertambangan, kehutanan dan perkebunan, mana ada kesiapan infrastruktur di sana utk menangani 'serah terima otomatis' yg ada di angan2 mrk yg rencananya mau referendum utk merdeka. Angan- angan.....
Mungkin yg perlu dilakukan adalah pre- referendum (mantap kan? Satu2nya di dunia!). Tanya seluruh penduduk Papua mau referendum atau tidak - pertama ini tidak melanggar hukum internasional krn dilakukan internal, kedua hasilnya akan mirip pemilu krn rata2 penduduk Papua (bukan cuma OAP) maunya jg hidup damai aman tenteram, ketiga kalau ada yg bikin rusuh - langsung hajar krn ini keamanan dalam negri. Coba lah kampanyekan yg ini saja.....

Klan Maulana:
Sepakat dengan poin pertama, mengenai latar geografis dan budaya Papua sendiri pernah saya ulas apa adanya versi Dongeng untuk Jokowi.

Namun untuk poin terakhir saya tak sepaham karena masih terkait dengan kosakata referendum.

Bila kosakatanya diganti dengan alternatif lain, bisa saja hal itu menjadi masukan berharga bagi pemerintah, dengan catatan beri waktu jeda untuk pelaksanaannya, dan bukannya segera setelah Papua baru membara...

O_i_n_FREE:
Pre-referendum, boleh juga.

Atau semacam angket/ study/ riset untuk mengetahui pemahaman mayoritas warga Papua akan arti sebagai bagian NKRI, konskuensi referendum dan bila akhirnya memisahkan diri dari NKRI.

Sy terusik dg pemikiran:

Jangan2 mereka TIDAK TAHU bahwa mereka TIDAK TAHU...

Harry:
Paham masbro. Saya paham tentang keberagaman suku di papua itu. Mengingatkan saya juga tentang nusantara ini. Toh keberagaman itu akhirnya bisa dijembatani. Lewat sumpah pemuda. Mungkin orang papua pun perlu "sumpah pemuda" mereka sendiri?

Intinya perjuangan utk berdaulat merdeka itu gak gampang. Mana ada bangsa dan negara yg baru merdeka lantas enak2an  seketika? Every country faces  "growing pain". There is no guarantee of prosperity either. But still it's human nature to seek freedom to chart their own course in the future. For better or worse. It's more about human dignity than prosperity in fact. While the latter is obviously the goal every nation aspire to. Saya hanya minta kita bercermin dari perjuangan bangsa ini sendiri..mencapai kemerdekaan dan memelihara kemerdekaan setelah itu. It's hardwork. Tak selalu mulus perjalanannya. Bahkan 20 tahun setelah indonesia merdeka tepatnya sampai thn 1965 indonesia tak lebih baik dari saat penjajahan belanda. Kalau menggunakan argumen yg anda2 semua kemukakan...indonesia tak usah merdeka jika dilihat dari susahnya hidup di awal kemerdekaan. Yet we make it. Walaupun tak sempurna. Argumen yg memberi contoh bagaimana negara2 baru merdeka tereksploitasi oleh negara lain pasca kemerdekaan seperti contohnya timor leste. Dieksploitasi minyak lepas pantainya oleh australia. Bukankah itu berlaku juga pada indonesia? Sekian puluh tahun freeport menguasai emas di papua. Banyak perusahan asing mengeksploitasi kekayaan alam lainnya. Seperti dulu inalum dikuasai jepang. Bagaimana dhg penjajahan dan eksploitasi oleh bangsa sendiri? Itu puluhan tahun terjadi terang benderang di era soeharto. Jadi itu hal yg biasa dalam dunia kapitalis ini. Kita sendiri mengalami dan bisa mengatasinya. Saatnya menghilangkan standard ganda dalam melihat permasalahan ini. Itu kalau benar2 tanpa kepentingan terselubung.

Btw...soal bahasa. Saya gak melihat ada masalah penggunaan bahasa indonesia sebagai bahasa resmi jika papua benar2 merdeka. Banyak kok negara berdaulat yg menggunakan bahasa dari luar. Singapura, malaysia contohnya tetap menggunakan bahasa inggris. Papua sebagai eks territory indonesia ya sah2 saja kalau mau pakai bahasa indonesia. Toh mereka tak anti dgn semua hal yg berbau indonesia. Kedaulatanlah yg ingin diraih bukan membuang semua hal2 yg berbau indonesia.. ????

Pre referendum? Menarik...karena dari sini sebenarnya anda bisa melihat bahwa gagasann referendum itu tak serta merta berarti papua pasti lepas. Bagaimana jika setelah disurvey (pre referendum yg anda maksudkan tadi) ternyata mayoritas orang papua ingin referendum? Tapi bukan utk pisah. Tapi karena lelah. Isu separatis ini gak selesai2 bertahun2. Gak pernah tutup buku karena cacat sejarah pelaksanaan PEPERA 1969 dulu. Mungkinkah mereka ingin referendum yg memenangkan indonesia sekaligus membungkam aspirasi separatis dari kelompok OPM utk selamanya? Kenyataannya referendum selalu divonis seakan pasti lepas. Padahal tidak demikian. Referendum itu harusnya bermakna netral. Tidak berarti pasti merdeka atau pasti tetap memilih NKRI.

Ari:
Referendum...hadeh panjang2 argumen anda tapi kesimpulan jangan dari arti harfiahnya saja dan ga ada tuh namanya pre-referendum itu juga model akal-akalan saja pemikiran Halu. Dimana pun yang namanya referendum dipercaya oleh mereka2 yang koar2 seperti benny wanda dan yang sepemikiran dengan orang itu ya jejak pendapat memilih untuk tetap dengan NKRI atau lepas dari NKRI ya nantinya dengan tujuan dibalik itu niat jahatnya mempengaruhi untuk merdeka, makanya dibuat gejolaklah, huru-haralah siapa yang memicunya? ya mereka-mereka juga yang punya niat. kalau anda bilang netral ya sana bilang tuh sama mereka2 yang memprovokasi rakyat papua paling juga cuma di ketawain. Kalau mau komentar itu lihat juga apa yang yang sudah dikerjakan pemerintah sekarang selama ini di Papua? apresiasilah usaha yang dilakukan untuk mengangkat martabat rakyat papua disana, mudah? ya tidak, butuh kesabaran dan proses yang panjang. ada hasil? ada, walau perlahan tapi berproses. Terus apa yang dilakukan oleh mereka2 pendukung referendum ya tidak senang dengan keadaan saat ini dimana perhatian pemerintah dalam perkembangan infrastruktur di papua, nanti rakyat papua akan lebih banyak lagi yang pintar2. Maunya mereka rakyat papua itu bodoh2 saja jadi bisa di pengaruhi dan di doktrin untuk mengikuti mereka. Saya tanya anda selama ini yang dilakukan pemerintah di papua hal yang positif atau negatif ?

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Orang Asli Papua Bungkam Para Elit Bermulut Busuk yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/orang-asli-papua-bungkam-para-elit-bermulut-busuk-KPios4P6EE

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: