You Now Here »

Wisata Halal Yang (Lagi Lagi) Disalahpahami  (Read 50 times - 28 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 20,567
  • Poin: 20.643
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Wisata Halal Yang (Lagi Lagi) Disalahpahami
« on: November 09, 2019, 04:12:33 PM »




Paian Marulitua:
Mas Hariadhi! Masalah wisata halal tidak sesederhana yg anda pikirkan. Saya sendiri ngak begitu ngaruh dengan itu. Tidak ada jaminan membuat manusia itu lebih baik sekalipun semua yg dia konsumsi halal.

Kebanyakan masyarakat kita sangat block-minded. Maaf, pengalaman menunjukkan masalah sosial dan hubungan antar warga dan hubungan warga dan penguasa tidak semudah ngomong dan mencari solusi terbaik buat semua lebih sering gagal. Bahwa perlu "signage" yg memadai dan update tentang rumah ibadah halal, asupan halal, dan jenis halal lainnya supaya "keluhan" yg anda alami tidak terjadi lagi TIDAK SULIT melakukannya. Yang sulit dilakukan adalah meyakinkan wisatawan di daerah danau Toba, misalnya, bahwa kuliner yg disajikan itu halal atau jasa yg ditawarkan itu halal apalagi kalau penyedia kuliner, jasa itu orang lokal yg tidak menggunakan atribut agama sesuai agama sang wisatawan. Ketika orang lokal khawatir dan menganggap wisata halal kurang lebih sama dengan adanya mobilisasi pendatang untuk memenuhi kebutuhan halal para wisatawan Muslim, apakah hal itu begitu saja diabaikan? Kalau kita abai, masalah makin kusut.

Martabak Sweet:
"Alas, sialnya banyak orang sudah ambil kesimpulan dulu kalau yang saya usulkan adalah dukungan terhadap transformasi Danau Toba menjadi tempat yang sama sekali tidak boleh menyajikan babi. Jadilah saya dimaki-maki tanpa memperhatikan substansi, pokoknya Hariadhi itu rasis dan mau merusak kesenangan kita makan kerbau kaki pendek, begitulah kura-kura."

Salah citranya. Wajar disamber. Ini adalah brand equitynya "islam" termasuk "wisata halal" dan "praktek halal":

1. TOA yang mengalahkan gelegarnya petir dan konser dangdut. Di banyak titik waktu.
2. TOA yang dihajar 24x2 jam saat idul adha
3. TOA yang isinya kothbah dan jumatan yang menyerang penduduk setempat dan melabelkan mereka "haram"
4. Ibadah di jalan, mengganggu kepentingan umum dan masyarakat. Kalau ditegur malah lebih galak dan jadi urusan agama dan jadi alasan untuk anarkis.
5. Nyampah minta sumbangan di jalan raya untuk masjid (entah beneran untuk masjid atau buat beli karcis dangdut).
6. Keliling ke pemilik restoran untuk minta sumbangan untuk masjid (yang punya toko, restoran, warung, pasti tahu kalau secara berkala ormas, anak kecil, dalam berbagai bentuk secara sporadis keliling minta "sumbangan" ini)
7. Sekali diijinkan, lalu diboncengi ormas radikalis atau kelompok radikalis. Paling ngakunya "oknum" atau  "tidak diboncengi".
8. Tentu saja imej "wisata halal" paling terkenal yaitu "wisata s3x arab di puncak". Tidak semua ingin tempatnya dikotori oleh anak haram jadah besutan wisatawan timur tengah dan arab. Siapa yang tidak tahu kalau arab-araban dari indosat, oman, qatar, saudi bikin pabrik anak haram jadah di puncak sih?

Perbaiki citranya dengan tindak nyata jangan seperti anies, nyalahin orang lain, barang lain, benda lain, waktu lain, sistem lainnya terus-menerus.

Paian Marulitua:
Ini semua dampak dari ajaran yg tidak mempromosikan kesetaraan sesama. Ada pihak yg menganggap kaumnya istimewa dan lebih beradab.

Martabak Sweet:
"Padahal kenyataannya, turis dari negara-negara muslim memang banyak memenuhi tempat wisata di Indonesia. Jika kita bisa memenuhi apa yang mereka butuhkan, tentu akan memacu mereka untuk semakin membelanjakan dollarnya dan malah menguntungkan bagi warga sekitar, entah itu Bali, Toraja, Toba, Papua, dan lainnya."

Ini korelasi ngawur. Yang membuat mereka mau belanja:
1. punya uang, bukan wisatawan gelandangan
2. ada produk atau atraksi yang bersih, terawat, dijalankan profesional, packagingnya bagus, berkualitas, bukan halal/haram
3. cross check dengan travel agent. Kriteria decision making wisatawan ke Indonesia itu bukan halal/haram tapi keindahan alam, keunikan lokal. Apalagi kalau bicara Toba dan Raja Ampat.

Bicara itu pakai data, jangan asal cuap berasumsi. Jangan jadi Anies.

Martabak Sweet:
"Seperti yang pernah ditanyakan seorang teman saya, “Kalau wisata halal dikembangkan, lalu bagaimana kalau kita yang non muslim minta supaya ada wisata haram juga di daerah mayoritas muslim?”

Buat saya sendiri tidak ada masalah dengan itu, jika maksud dari wisata haram ini adalah penyediaan alkohol atau makanan yang tidak halal. "

Itu kan kata penulis yang tidak keberatan. Praktek lapangannya?

Kemunafikan berbalut halal/haram dan kemunafikan agamis lainnya ini sampai sekarang belum selesai dan sepertinya tidak ada atau belum ada gerakan menuju penyelesaian masalah.

Martabak Sweet:
"Seperti yang pernah ditanyakan seorang teman saya, “Kalau wisata halal dikembangkan, lalu bagaimana kalau kita yang non muslim minta supaya ada wisata haram juga di daerah mayoritas muslim?”"

Tahu tidak kenapa teman penulis menanyakan hal itu?

Karena buat orang Indonesia yang tinggal di Indonesia dan tahu kejadian lapangan, hal seperti ini biasanya cuma satu arah. "Urusan haram halal boleh semau gue kalau perlu maksa dan cocokmologi, bahkan ngarang bebas tanpa data", tapi kalau buat orang lain non islamiah " EIIIIIIIIIIIIIIIIt tunggu dulu, demo dulu dan panggil orang luar daerah untuk mengacau".

Martabak Sweet:
"Sosialisasi atas konsep wisata halal tampaknya sangat dibutuhkan, karena banyak sekali salah pengertian dan rasa curiga berlebihan yang mengelilingi konsep ini. "

Konsep wisata halal yang paling sukses kan "wisata s3x halal puncak".
Siapa yang tidak alergi, kecuali pelacur islamiah dan pria hidung belang yang berjenggot?

Ada contoh kasus yang sukses meledak dan masih waras isinya?

Martabak Sweet:
Ok deh. Saatnya beri rating 1 bintang untuk Zulu dan aplikasi Net TV lainnya.

Kurara:
Peta makanan perlu sih. Saya jg mau tau tempat makanan mana di lokasi wisata yg tidak jual jeroan misalnya.

Adanya masakan khusus vegetarian juga, keluarga saya yang pantang daging suka susah nyari makan d tempat wisata.

hariadhi:
Ya itu sebenarnya konsepnya, memberikan akses terhadap fasilitas yang diperlukan. Kalau fasilitasnya kurang lengkap ya dilengkapi, Tapi bukan berarti penduduk lokal dilarang makan apapun yang mereka mau

Kurara:
Soalnya image wisata halal=usulan sandi-anies adanya musik gambus dll gitu sih. Seakan-akan arabisasi tempat wisata.

Martabak Sweet:
Citra wisata halal yang dimiliki umum itu ya seperti itu. Dan bisa seperti itu bukan tanpa alasan.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Wisata Halal Yang (Lagi Lagi) Disalahpahami yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/travel/wisata-halal-yang-lagilagi-disalahpahami-UKyXQIxKL9

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: