You Now Here »

Kalah Pilkades Meski Modal 5 Milyar, Membeli Suara Seharga Rp 1 Juta  (Read 89 times - 47 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 21,006
  • Poin: 21.082
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Wenas:
gimana solusi nya pak presiden SEWORD...

Bersih bersih:
Solusinya: bikin sistim di mana tidak ada calon dadakan. Semua calon yg maju harus punya track record yg dikenal masyarakat, sejak 5 tahun sebelum maju. Anggota DPR mewakili propinsi ya harus punya riwayat di propinsi tsb. Biar ga ada lagi yg ongkang2 kaki di Jakarta eh pas pileg katanya caleg parpol Z mewakili dapil Papua (kan buahaha lucu yg konyol - lbh konyol lagi: banyak yg spt ini!!). Kandidat yg politikus ya punya hasil kerja program apa di daerah tsb. Kandidat pengusaha ya punya usaha apa yg mengangkat produk setempat. Kandidat cerdik cendekia atau profesional, wartawan, dokter, pengacara, sama saja pernah mengerjakan sesuatu utk daerah tsb. Jangan salah sangka - ini tidak ada urusannya dg 'putra daerah' yg justru sering disalahgunakan oleh preman lokal!
Kandidat boleh saja berasal dari mana pun, tetapi dalam masa 5 tahun sebelum maju sbg kandidat harus punya riwayat baik - pernah melakukan hal2 yg bermanfaat utk pengembangan daerah tsb.
Kegiatan bermanfaat tersebut harus terdata jelas 5 tahun sebelum ybs berani maju pileg atau pilkada. Dg demikian mau itu putra daerah maupun luar daerah yg maju yg jelas berkualitas dan punya bukti kuat keinginan utk membangun daerah tsb.
Kalau saja tim nya Pak Tito bisa memasukkan ini dalam salah satu kriteria kandidat, dijamin biaya pileg ataupun pilkada sudah bisa ditekan minimal 30%.
Ini baru 1 poin dari 1 komentator saja - penulis dan komentator silakan urun rembug.....

NoBiTa のび太 ™️ ✅:
IMHO, yang harus diperbaiki bukan sistemnya, tapi pemilihnya..
Sistem sebaik apapun percuma selama pemilih masih mau menjual suaranya

Rachmat Zoets:
Adakan sayembara

Martabak Sweet:
Berikan kail, jangan ikan. Jokowi harus pintar dan menyalurkan bantuan desa dalam bentuk program kerja yang riil dan yang terukur hasilnya serta teraudit.

BUKAN CASH!

Prisca:
Waduh.... Udah sampai 1jt / suara.... Kok mengerikan sekali.

Keiko Palsu Kitagawa:
sudahla, bagi rakyat 62 pd umumnya yg ngasi duit itu adalah sob, ga peduli org itu kenal ato ga, baik ato ga, penjaht ato bkn, dsbg.

Sita W:
Salut mas Alif? ??? ????...pak pakar mantan kita ini cukup jeli dalam menganalisis hal tsb. Bila lengah, dana desa yg besar itu malah bisa memancing bibit-bibit korupsi sejak dini, ibaratnya dulu korupsi besar dimulai pada tingkat SMA dan universitas...sekarang bisa terbina sejak PAUD. Keliatannya perlu ada waskat sejak pengucuran awal, tapi saya optimis bila desa fiktif mulai tercium, harusnya pemerintah juga menyadari potensi bahaya dana desa dikorup di desa yg real ada. Kalo pemerintah gak sadar? Ya tugas warga seword untuk mengingatkan? ??? ????

Abdi Nuswantoro:
Dana desa itu gurih sob. . .. pengadaan proyek terus di lakukan,  dengan mark up tanpa pengawasan.

piter:
Pencairan dana desa seharusnya dilapisi proposal pembangunan/Penggunaan dana desa, dilakukan seusuai dengan tahapan pencapaian atau penggunaan dana tersebut. Yang melakukan pengawasan atau yang menyetujui pencairan: Bupati/walikota setempat dibantu dengan inspektorat dari pemerintah daerah. Dana desa rawan diselewengkan dan di korupsi bila tidak ada pengawasan. hukuman para koruptor di Indonesia masih rendah, tidak ada efek jera. Bila hukumannya adalah pemiskinan dan dihukum mati( kalau di perbolehkan) atau hukuman badan yang minimal 40-50 tahun tanpa remisi.

masagung jaya:
Urusan Pilkades, motif menjadi seorang kepala desa, (walaupun jor-joran modal sampe milyaran rupiah) , menurutku bukan hanya dilatari dari motif uang/peluang akan mendapatkan pundi2 xxx saja,
Tetapi motifnya beragam, bisa sampe karna faktor dendam kesumat turun temurun antar pihak keluarga besar yg saling punya pengaruh di desa tersebut.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Kalah Pilkades Meski Modal 5 Milyar, Membeli Suara Seharga Rp 1 Juta yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/kalah-pilkades-meski-modal-5-milyar-membeli-suara-2d5liivTHE

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: