You Now Here »

Jokowi Yes, Gibran No  (Read 88 times - 54 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 20,951
  • Poin: 21.027
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Jokowi Yes, Gibran No
« on: November 17, 2019, 03:15:01 AM »




Dedi Setiadi:
Gibran memang perlu diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam pemerintahan. Tetapi dia sudah memulai dengan cara yang salah.

Leo Nardo:
Sependapat Om. Kendati ada suara" dari sebagian warga Solo yang disampaikan pada Gibran memberi dukungan dan mendesaknya agar maju dalam pencalonan, mestinya ditunda dulu mendengarkan. Yang penting Gibran tau saja bahwa ia sudah memiliki modal dasar dukungan dan dengan itu sebagai langkah awal dia terjun ke dunia politik kepartaian sebagai kendaraan untuk membina dan mengembangkan dukungan yang lebih besar lagi ke masa pencalonan berikutnya. Dalam kiprahnya sebagai pengusaha, memang benar ia sudah dikenal, tetapi kiprahnya sebagai politisi kan belum. Jadi benar bahwa tahapan proses itu penting dilalui, bukan ujug-ujug lansung lompat jauh.

rudi sasongko:
ya.. terlalu dipaksakan... lagian jg msh muda... msh bnyk waktu... bisa belajar berguru lagi agar menjadi lebih baik... lebih baik lagi dari bapak-nya..

Senopati:
Tahap ini adalah tahap penjaringan BAKAL calon walikota Solo. jadi memang boleh ada lebih dari 1 kandidat. Juga tidak ada keharusan penjaringan hanya boleh lewat DPC Kota, masih ada tingkat Provinsi baru kemudian DPP.
Jadi dipahami dulu aturan mainnya, baru silakan berkomentar.
Mengenai Gibran Maju jadi kepala Daerah, sementara Jokowi masih Presiden. Memang apa masalahnya, selama masih mengikuti prosedur dan berjuang dari bawah. Disaat sekarang tidak jelas calon pemimpin masa depan, yang masih sesuai dengan visi-misi Jokowi, kenapa harus meniadakan peluang Gibran ?
Mana lebih baik ? AHY, Sandi, atau siapa ?
Bukan artinya Gibran pasti lebih baik, tetapi biarkan dulu berkiprah, baru kemudian dinilai kinerjanya. Ini kan aneh, kalau konon kriteria pemimpin harus punya pengalaman. Lha kapan punya pengalaman, lha belum apa2 sudah gak boleh ?

Martabak Sweet:
Kelemahan Jokowi adalah Gibran.

Sudah banyak lintah darat, benalu dan oportunis yang sudah mulai menempel dan menjilat Gibran atau jual nama bapaknya untuk mencari bisnis atau investasi. Salah satunya Sinar Mas.

Setuju dengan penulis, anak ingusan (yang belum terbukti) dan jualan nama bapaknya saja, lalu mau motong. Gibran masih harus belajar dari bawah dan lebih bijak.

Muhammad Ihsan:
Ok sekarang bagian pro-nya:
Sebagai pengusaha yang sudah malang melintang di dunianya dari "Nol" sampai bisa sukses & stabil paling tidak dapat  kita jadikan indikator dalam menilai kapasitas beliau menangani masalah real dalam skala kecil, Sdngkan walikota dengan berbagai macam kompleksitas & tantanganny Gibran akan dituntut me-manage perusahaan dengan skala jauh lebih besar, tapi dengan gaya yang selama ini bisa kita lihat dan saksikan bersama maka ada harapan jadi seperti berikut

Kalau politikus suka menggunakan kebohongan untuk menutupi kebenaran & artis menggunakan kebohongan untuk menguak kebenaran, maka Gibran adalah tipe orang yang anti-drama dan antikebohongan yang artinya beliau dapat mewarisi sifat AHOK yang bakal jujur & blakblakan dalam menangani setiap masalah, sehingga kecepatan untuk mengekesekusi kebijakan bisa jadi keunggulannya,

Walaupun begitu semangat dan integritas haruslah berbanding lurus, semoga beliau bisa segera membuktikan bahwa integritasnya dapat menyeimbangi semangatnya untuk mengabdi kepada Negara!

Soekojono Goen:
Bukan masalah suka atau tidak suka, tapi nggak pas saja waktunya.


Sebaiknya Gibran jangan maju sebagai cawalkot sepanjang bapaknya masih menjabat presiden RI.
Gibran lebih baik mendoakan agar bapaknya diberi kekuatan dalam membangun dan memimpin bangsa ini.

Sniper of Siantar:
Atau bukan soal kesempatan atau peluang yang ada..tapi masalah waktu yang tepat untuk mencoba kesempatan atau peluang itu.

Setuju untuk tidak memaksakan waktunya..tetaplah dulu menjadi penguat politik pak Jokowi untuk 5 tahun kedepan sebagai Presiden bukan malah jadi beban politik.

doodleramen:
Kalau dari kacamata Gibran memang sekarang ini saatnya. Kalau nunggu lima tahun lagi Jokowi sudah berhenti dan secara politis tidak akan berpengaruh banyak.


Saya sih positif dulu mikirnya, mungkin Gibran bener2 mau berbakti ke negara dan menjadikan Solo lebih maju dan bersih lagi. Untuk melakukan pembersihan itu tidak gampang, butuh backing orang kuat. Kalau nunggu lima tahun lagi, anggap dia menang, siapa yg akan jadi backing nya? Sekarang lah saatnya.


Kalau dibilang dia memanfaatkan nama Jokowi ya ndak apa2 saya bilang. Toh nama itu didapatkan bukan dengan mengorbankan sesuatu. Seperti terpaan sinar matahari yg selalu ada, terserah situ mau memanfaatkan atau tidak. Dia seorang wirausahawan, dia melihat peluang ini dan memanfaatkannya. Nothing wrong here.


Kalau soal memotongi calon lain, nah itu harus dicarikan win-win solution nya. Ini akan menjadi ujian politik pertama buat dia. Mungkin dia bisa belajar dari bapaknya yg pernah mengalami situasi yg mirip.

si memble:
Aji mumpung dalam politik biasanya nabrak fatsun.
Sbg anak presiden maju sbg calon bisa, untuk menang kemungkinan besar jg bisa, tapi jika performa tdk maksimal bisa juga pendek karirnya, karena akan dibandingkan dgn Jokowi bukan incumben yg sekarang.

rudi sasongko:
iya... kayak mobil datsun... nongol lagi... tapi tetep aja keok dibanding yg lain...

Opa patompo:
Gw cuma orang kolot... jd mungkin ada yg tidak senang dengan kekolotan gw...

Saya tidak melihat gibran siap maju k politik... lebih baik kaderisasi saja dulu... bila dalam pengkaderan, ada gebrakan dan hasil positif yg stabil, maka boleh-lah maju...

TMP2:
Hanya mengulang saja.....

Isunya bukan dinasti politik, tapi dinasti penguasa. Sepanjang sejarah republik ini, blom ada anak dr pres/wapres aktif menjadi pemimpin daerah. Bahkan mungkin akan menjadi rekor abadi jika mantunya ikut pula di kota Medan.

Saya teringat pidato berapi2nya Adian Napitupulu didepan audiens milenial/mahasiswa.
Temanya : Kenapa harus Jokowi ?.
Karena dr rakyat biasa, dr orang tua yg biasa saja, bukan elit, jendral dst. Jokowi memberikan harapan dan contoh kpd kita, bahwa rakyat biasa bisa menjadi pemimpin dinegri ini.

Sementara Gibran bisa/mampu menghadap Megawati dan Megawati khusus menyediakan waktunya utk menerima, hal ini ditempuh karena PDI-P Solo menolaknya dan sdh bulat mengusung calonnya. Apakah Gibran orang biasa2 saja ??...Tidak !!. Gibran mempunyai bargaining politik kuat...dr mana ??...Yg pasti bukan karena pengusaha muda yg sukses, karena ini ttg politik kekuasaan !!

Samiun:
Saya sangat sependapat, orde baru pun kehancuran nya di awali dari keserakahan anak dan para menantunya.....saat ini akan di awali oleh gibran dan bobby.....sungguh sayang nama baik bapaknya akan di pertaruhkan........apa boleh buat godaan harta dan kuasa terasa sangat nyata

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Jokowi Yes, Gibran No yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/jokowi-yes-gibran-no-FxoMS9f22m

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: