You Now Here »

Pemerintah Mentolerir Intoleransi? Atau Membiarkan?  (Read 84 times - 83 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 21,556
  • Poin: 21.633
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Pemerintah Mentolerir Intoleransi? Atau Membiarkan?
« on: November 23, 2019, 07:17:57 PM »




doodleramen:
Gw agak pesimis. Media2 mainstream kaya detik saja masih sering menayangkan artikel provokatif dan tak berimbang. Sengaja bikin judul provokatif mengeksploitasi SARA demi menaikkan jumlah viewer. Coba lihat berita di detik "Ada Sejarah, Kenapa WNI Nonpri Tak Boleh Punya Tanah di Yogya". Gile nara sumbernya ngalor ngidul bilang yg keturunan dulu jualan candu, eksploitasi, bela kolonial, dll.


Kan gila? Tindakan segelintir kriminal yg 75-100 tahun lebih lamanya dikaitkan dengan kepemilikan tanah saat ini dan dijadikan pembenaran? Lagian candu itu dulunya dibawa oleh pedagang2 Arab. Kalau sekarang ada yg jualan candu, etnis manapun, ya ciduk saja. Mau dihukum mati juga ane gak peduli. Semuanya tuduhan2 yg gak jelas.


Trus katanya ada yg berpihak ke kolonial Belanda. Lha emang yg pri dulu gak ada yg memihak ke Belanda? Siapa yg jadi tentara NICA dan KNIL dulu? Kaum priyayi Jawa juga banyak yg bekerjasama dengan Belanda. Kalau mau dibuka borok2 lama, sebenarnya gak ada satupun pihak yg benar2 bersih seperti malaikat. Masih banyak masyarakat yg terjebak generalisasi dan stereotip kolot.


Btw, tumben gak ada satupun penulis yg membahas masalah peraturan ini. Apakah pada takut, gak peduli, atau ada sebagian yg diam2 mendukung peraturan ini?

Opini Tadeus:
Mungkin akan ada, karena artikel tentang peraturan, bila salah menulis, bisa mis-informasi nantinya...

Sableng:
Udah, klo gw pasrah. Terserah mau ke mana indo.
Gw cuma nyiapin pintu belakang saja.

Opini Tadeus:
Optimis dong..chemungud..

Bocah Kantor:
Nih kesempatan buat para toko roti/cake yang lain. Saya ajarin caranya. Bikin tulisan kaya gini di toko roti/cake kalian:


PERATURAN PENULISAN UCAPAN CAKE


Store kami BOLEH menulis di atas cake ucapan atau sesuatu yang MENJADI KEINGINAN ANDA sebagai customer yang terhormat, seperti:


1. Ucapan Selamat hari besar agama, misal: Natal, Imlek, dll
2. Perayaan apapun seperti yang para pelanggan inginkan, misal: valentine, hallowen, hari putus dengan mantan, dsb


Store diperbolehkan menulis di atas cake ucapan seperti:
1. Ucapan selamat untuk hari jadi, misalkan pernikahan, jadian dengan gebetan, promosi jabatan, dst.
2. Perkataan yang SESUKA-SUKA pelanggan, asal cake/roti pesanan anda dibayar terlebih dahulu, misal: I Love U, you're the best


Silahkan datang ke tokjo roti/cake kami. Toko kami tidak SARA dan menerima pembayaran anda baik dengan kontan maupun kartu kredit, bahkan cicilan. Asal jangan dengan uang kadrun atau palsu. Apalagi dibayar pakai fisang hot atau kencing onta. Hukumnya najis.


Terima kasih.

DC:
Dimulai saja sertifikasi non-Rasis oleh para netizen melalui google review atau situs review lainnya. Bukan hanya pegawai TLJ saja yang bersikap rasis dan tidak mencabut ijin franchise dari bosnya itu, masih banyak franchise bigot lainnya. Ada banyak brand yang sengaja menolak pihak yang ingin membuka franchise karena a:beragama di KTP berbeda dan b: mata sipit. Jika memang penampilan luar itulah yang menyebabkan ekonomi Indonesia melambat, saatnya menolak dilayani oleh radikal. Kalau ingin menggunakan atribut keagamaan, cukup menggunakan peci dan sarung.

Odank Sagala:
sudah waktunya aparat terkait untuk bertindak, atau silahkan pakai rok sama bh!!!

Opini Tadeus:
Ini mantul..

Ivan Budiutama:
gmn kalo masalahnya bukan pemerintah? gimana kalo masalahnya emang orang2nya???
Jijiq sama UAS teriak2 di YouTube yg isinya hate speech dan intoleran. Kalo gak ada view, gak ada yg support gak bkl jadi apa2.gak ada harganya. Tapi setelah isi hate speech dan intoleran mereka jadi super populer. well mgkn waktunya mulai nanya ke masing2 orangnya. Ujung2nya popularitas = duit = power. Kalo kebanyakan orangnya emang toleran or what you called is moderat, UAS dan jijiq cuma bakal punya 2 pilihan: ikut trend dan jadi populer atau menentang arus dan bubar dengan sendirinya.

Gw agak geli sama kelompok yg katanya "toleran" yg bilang Indonesia negara toleran, menurut gw claim itu jauh dr kenyataan cuma mimpi basah siang bolong. Kenyataannya ulama yg toleran gak ada suaranya, kalopun ada suaranya kalah populer dan mgkn ujung2nya cuma dikasih pilihan yg sama: ikutin trend atau bubar. Sounds familiar?

Itu kenyataannya. U know I'm telling you the truth.

Just my 2 cents.

Opini Tadeus:
Benar mas...tapi bagaimanapun dimana bumi dipijak, disana aturan setempat dijunjung...platform YT, FB dll adalah global media, tdk bisa dibatasi...sama seperti aturan safety belt dan helm SNI..bila tanpa "ancaman" tegas berupa tilang...mungkin masih belum menjadi sesuatu "keharusan"...

Pemerintah harus tegas...menindak yang intoleran dan menjadikan efek jera...

Odank Sagala:
ulama toleran lagi masturbasi

Erick 73:
Saya bisa memaklumi sikap pemerintah yang pasif dalam menyikapi perbuatan "intoleransi" dari sudut pandang non muslim ataupun juga islam moderat, semisal kasus TLJ dan fatwa2 haram yang dikeluarkan MUI. Mengapa? Karena mereka menetapkan hal seperti itu berdasarkan apa yang tertulis di kitab suci mrk. Apa karena bersifat intoleran lantas kita meminta mereka menghapus atau merevisi kitab suci mrk? ???? Non muslim ada baiknya membaca/mencari tahu kitab suci mrk sehingga bisa memahami dan juga kitab suci lainnya biar makin paham agama orang.  Tidak ubahnya hal semacam ini juga bisa terjadi karena perbedaan bahasa, adat atau kebiasaan antar suku di Indonesia. Hanya saja dalam hal pelarangan beribadah, perlakuan diskriminasi warga mayoritas kepada minoritas harus ada tindakan tegas dari pemerintah termasuk juga dalam pemberian izin rumah ibadah non muslim harus lah menetapkan aturan2 yang toleran. Logika nya kan warga nonmuslim juga bertambah dan berpindah daerah untuk meningkatkan taraf ekonomi mrk dan mereka pasti membutuhkan rumah ibadah yang baru. Respon pemerintah atas pengajuan izin pembangunan rumah ibadah harus benar2 mengayomi minoritas. Jangan seperti ketentuan skrg yg harus minta persetujuan warga sekitar minimal berapa? Itu kan sama artinya tidak memberi izin. Pemerintah harus hadir bagi semua warga apapun suku dan agamanya.

Odank Sagala:
"berdasarkan apa yang tertulis di kitab suci mrk" kitab suci bisa ditafsirkan berbeda, sehingga bisa disesuaikan diselewengkan dengan kemauan sekelompok orang, dalam hal ini pemerintah dengan segala kelengkapannya bisa bertindak untuk kemaslahatan nkri. Kuncinya adalah tinggal keberanian saja!!! Atau silahkan pakai rok sama bh.

rashid netz:
Pemerintah ngga bisa memisahkan antara hukum agama sama hukum negara ya gini jadinya. Saran buat Pakde Jokowi, contohlah Mahathir, yg sekalipun muslim tapi bisa tegas menegakkan hukum thd korupsi (kasus najib) dan radikalisme (kasus zakir naik)

Opini Tadeus:
Ini ga ada hubungan antara hukum agama dan hukum negara...karena intoleransi memang kebanyakan berdasar agama....lebih menyorot peran negara dalam menjaga kerukunan dan toleransi di masyarakat...

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Pemerintah Mentolerir Intoleransi? Atau Membiarkan? yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/sosbud/pemerintah-mentolerir-intoleransi-atau-membiarkan-Iy8gCTZRtt

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: