You Now Here »

Telak! Menkes Terawan Bongkar Modus Pembengkakan Tagihan BPJS Oleh Dokter RS  (Read 77 times - 32 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 21,556
  • Poin: 21.633
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




welly kamal:
Pasien ketika mulai berobat - di Puskesmas obat yg diberikan dokter misal 3 macam/resep - keluar dari bagian farmasi KADANG benar itu 3 resep diterima petugas di meja - petugas di  meja memberikan ke pasien cuma 2 resep karena satu resep sudah diberikan kepada petugas lain yang datang/sedang menunggu - waktu kita komplain kok obatnya kurang - petugas di meja bilang obatnya habis - silahkan beli di luar dengan uang pasien sendiri. Kadang misal dokter memberi obat cacar 50 tablet tapi keluar dari bagian farmasi cuma 30 tablet banyak modus lainnya yg dilakukan para petugas/perawat/bidan di Puskesmas. Ini juga yg menjadi penyebab pasien gak sembuh dan harus minta rujukan ke spesialis atau rumah sakit. Jadi korupsi/kebobrokan itu sudah dimulai dari tingkat bawah/Puskesmas dst. Mohon dilakukan pengawasan dari bawah dan berikan sanksi pemecatan terhadap oknum-oknum demikian kasihan pasien-pasien dan kerugian negara.

nihayatur rohmah:
Terima kasih untuk infonya... semoga pemerintah turut membaca komentar anda ??? ?????

Didi MJ:
Jumlah obat yang dikurangi dari jumlah yang ditulis oleh dokter belum tentu habis, tapi bisa karena pihak RS melakukan itu terbentur peraturan jumlah atau kuota maksimal yang dibatasi oleh BPJS. Jangan berharap berobat menggunakan BPJS akan mendapatkan obat paten atau jumlah maksimal karena BPJS sudah membatasi nya. Mungkin ini seperti istilah ada harga ada barang, mau mendapatkan lebih baik ya mau ga mau harus nambah beli obat sendiri diluar BPJS. Begitulah kura kira.

B-Over:
Apalagi jika bicara dicover asuransi swasta, wuiiiihh maksimal banget.
Yang sering saya alami, hanya pilek diiringi demam biasa, antibiotik yang dituliskan di resep bisa sampai 300-400 ribu. Pernah juga harus mengalami penanganan operasi untuk kasus urologi, sampai pendarahan segala dan menghabiskan waktu berbulan-bulan. Begitu pindah RS, ternyata tidak perlu dilakukan operasi dan penanganan 2 hari di RS sampai recoverynya rawat jalan hanya butuh waktu 1 minggu saja. Anti biotik cair yang di botol setiap hari dimasukkan lewat infus senilai 500 ribu/botol.

Sampai kapok saya dengan RS swasta besar tersebut

Odank Sagala:
saya juga mengalami batuk pilek, harga obat yang dituliskan di resep sampai 300-400 ribu, dan harus dibeli di apotek disitu, padahal polikliniknya milik badan keagamaan, nama balai pengobatannya juga "syari'ah"

B-Over:
Biaya 300an ribu untuk batuk pilek, mending ke dokter senior deket rumah. Sudah all in berikut obat. Kalo ke RS banyak oknum yg antibiotiknya aja udah segitu, belum obat lainnya dan lain2

Odank Sagala:
kebetulan dokter langganan lagi g praktek, yang heran poliklinik itu milik yayasan keagamaan dengan nama yang syar'i

Cinta:
Korupsinya org2 berpendidikan tinggi. Ternyata pendidikan tinggi tak menjamin akhlaknya tinggi pula. Waspadalah....waspadalah...

#dari korban penanganan pasien BPJS yang minta nota tindakan dari RS tapi diabaikan. Pdlh nota adalah hak konsumen tp pasien BPJS yg mrpk konsumen tdk pernah diberikan nota dr RS

Roedy Siswanto:
Tidak hanya itu tetapi juga pasien rawat inap yang disuruh keluar dulu terus besoknya masuk lagi ...maka RS mendapat penghasilan tambahan dari paket berikutnya yang sebenarnya tidak perlu apabila RS merawat dengan benar . Intinya adalah perlunya pengawasan dari BPJS kepada seluruh mitranya .

Zero:
Masih berlanjutkah penelitian BPJSnya sob ???

ivan:
mahalnya biaya menjadi tenaga perawat apalagi untuk menjadi dokter sangatlah mahal untuk saat ini, jadi ya wajar bila prinsip ekonomi yg jalan, bukan pengabdian, mungkin beda hasilnya klo para calon dokter mendapat beasiswa murni dari pemerintah

Zero:
Jangan2 di BPJS ada wadah karyawan dan ketuanya juga tuhhh...?!?!

Odank Sagala:
"Di situlah yang saya namakan sebuah penyadaran ke teman-teman semua" Rupanya banyak dokter yang tidak sadar sampai pingsan atau sekedar mabok lem wan aibon.

C Jon:
Kekacauan ini dimulai dari faskes tingkat pertama, dokter Puskesmas yg memeriksa pasien dan membuat diagnosis seenaknya sendiri tanpa melakukan tes atau uji klinis. Ditambah layanan farmasi yg korup, lengkap sudah layanan BPJS yg ngawur.
Hal yg sama berulang lagi di tingkat RS, antrian yg panjang dan menyebalkan, layanan dokter sesukanya, dan layanan farmasi yg korup lagi.
Tidak ada pengawasan sama sekali terhadap layanan BPJS dari tingkat pertama sampai tingkat RS. Kalo dibilang dana BPJS dipakai terbesar utk 5 penyakit katastropik, perlu dipertanyakan kesahihan data BPJS, apa nyata atau fiktif? Banyak kisah ttg layanan bedah yg harus antri menunggu berbulan-bulan, pemeriksaan jantung seperti kateterisasi sering ditunda-tunda, kemoterapi juga sering ditunda-tunda dengan 1001 alasan.
Kemana menguapnya dana BPJS utk 5 penyakit katastropik tersebut? RS kah? Dokter kah? Bisa jadi ini mata rantai dari mafia BPJS. Pak Menteri harus bertindak keras dan tegas terhadap tikus2 pencoleng baik di BPJS maupun di RS dan Faskes.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Telak! Menkes Terawan Bongkar Modus Pembengkakan Tagihan BPJS Oleh Dokter RS yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/telak-menkes-terawan-bongkar-modus-pembengkakan-cMIAXU2EyP

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: