You Now Here »

Sejahterakan Guru, Baru Bicara Perubahan  (Read 68 times - 38 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 21,000
  • Poin: 21.076
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Sejahterakan Guru, Baru Bicara Perubahan
« on: November 26, 2019, 09:07:58 PM »




Sniper of Siantar:
Jujur saya sedikit berpikir ulang jika judul tulisan ini benar-benar terjadi.

Dari sekian banyak yang berprofesi jadi guru rata-rata karena panggilan jiwa untuk menciptakan generasi yang berilmu dan berakhlak sehingga pada saatnya generasi ini membawa kemajuan buat bangsa dan negara.
Ki Hajar Dewantara (KHD) pun berjuang mendirikan Taman Siswa adalah memenuhi panggilan jiwa yang sama.
Apakah kesejahteraan tidak penting? Penting tapi bukan yang pertama dan terutama.
Jadi tetaplah bicara kemajuan karena itu ujung dari panggilan jiwa sebagai guru dan seiring dengan itu peningkatan kesejahteraan juga dilakukan. Apalagi defenisi sejahtera itu sendiri relatif.

ferland:
kepastian ekonomi tidak menjamin guru akan melakukan perubahan, dasar konsepnya adalah panggilan sebagai guru harus diamini. Panggilan itu membuat guru akan memberikan pembelajaran yang berbeda dan bermanfaat. Ada guru yang sudah mendapatkan insentif dari program pemerintah bahkan bisa sampai 3 kali lipat gajinya, ternyata tidak memperlihatkan perubahan dalam mengajar. Bukan mengatakan bahwa kepastian ekonomi tidak perlu, tetap harus bisa diwujudkan, namun Panggilan Moral sebagai guru harus benar-benar tertanam

Martabak Sweet:
"kepastian ekonomi tidak menjamin guru akan melakukan perubahan"

Benar. Ini situasi yang komplek tidak cuma masalah "gaji" gaji gaji dan gaji yang harus naik. Apa bedanya dengan buruh yang menuntuk uang bioskop dan parfum dimasukkan?

Sakti:
Saya sependapat dengan penulis bahwa guru harus disejahterakan. Memang tidak mudah menjadi guru dalam arti yang sesungguhnya. Tetapi, ada hal lain yang membuat seseorang mau membaktikan dirinya menjadi seorang guru meskipun kesejahteraan yg dimaksud belum terpenuhi. Ketulusan mengasihi sesama dan keinginan untuk memberi makna dalam kehidupan seorang siswa adalah hal yg tidak bisa diukur dari nominal rupiah saja. Menurut saya, menjadi guru adalah panggilan jiwa bukan panggilan nominal. Kebahagiaan seorang guru yg terpanggil jiwanya terletak pada keberhasilan menanamkan nilai-nilai kebaikan pada siswanya. Sebagai perumpamaan, mungkin pak Ahok bisa menjadi contoh. Seandainya pak Ahok boleh memilih untuk menjadi gubernur daripada komisaris utama pertamina, maka pak Ahok akan memilih menjadi gubernur, meskipun gaji seorang gubernur jauh dibawah gaji seorang komisaris utama pertamina. Alasannya adalah karena beliau bisa berbuat dan membantu untuk banyak orang. Itu alasan pak Ahok ketika ditanya kenapa mau jadi pejabat. Demikian pula seorang guru. Jika ukuran nominal sebagai persyaratan untuk menjadi guru yang baik, maka kemungkinan itu kecil terjadi. Maaf,bukan saya tidak setuju adanya peningkatan kesejahteraan profesi guru, tetapi menurut saya itu bukan satu-satunya. Rahayu

Sniper of Siantar:
Benar..tetap panggilan jiwa sebagai guru itu yang terutama.

Martabak Sweet:
Dah harus bisa dipisahkan dan mampu memisahkan antara situasi atau keadaan "utopia" yang berbau "guru itu seharusnya, seyogyanya, sebaiknya, harusnya berjiwa titik titk" dengan "realita" yang sering kali tidak seperti "utopia".

Odank Sagala:
pns cukup sejahtera, yang menyedihkan adalah honorer (tkk g tau) setau saya gaji  honorer tergantung pemda setempat dan sudah menjadi rahasia umum bahwa pemda penuh dengan tikus berseragam, jadi uang untuk membayar guru honorer, sudah keduluan diterkam sama tikus berseragam

Yuda:
siapa suruh jadi honorer, gada yang nyuruh. jualan thai tea lebih sejahtera daripada jadi honorer.

Martabak Sweet:
Lalu apakah urusan pemda dan tikus adalah juridiksi Kemen Pendidikan?

Dui Rose:
banyak lo tkk itu pemaksaan, sebenarnya dikerjakan asn aja kurang kerjaannya. no guru swasta tdk teriak2, krn apa bagi mrk guru itu pengapdian bukan pekerjaan.

Ndemik:
Menurut saya, guru itu sudah sangat sejahtera lho ya..motor punya ga cuma satu,rumah,mobil.minimal mobil mereka punya lho. Gaji bulanan ada, gaji 13 ada, THR ada, sertifikasi juga ga sedikit.
Sementara kerja mereka banyak yg cuma ngasih catatan,ditinggal ngobrol di kantor, ada yg keluar jam kerja..ada yg punya hajat siswa dipulangkan..

Yeska Haganta:
maaf ini sob, mungkin arah tulisannya untuk guru2 yang di daerah belum terjangkau

Ndemik:
Apakah klo guru PNS di daerah blm terjangkau,aturan gaji beda? Mungkin tunjangan mereka lebih tinggi drpd yg didaerah terjangkau. Untuk daerah blm terjangkau yg dimksd sekolah yg tertinggal,malah biasanya relawan,org" yg peduli thd pendidikan,bukan berarti guru sbg profesinya.

Yuda:
yakin guru harus disejahterakan, gurunya suruh ngaca dulu udah benar belum memberikan pengajaran. gwa ngeliat fakta dilapangan guru sekarang jauh dari kata berkualitas. boro2 mencerdaskan guru masuk kelas nyuruh anak2 catat habis itu gurunya ke kantor facebook an, instagram an, tiktok an. kalo yang tua ga kalah sadis nyebar hoax via whatapss. belum lagi guru yang radikal banyak.

Martabak Sweet:
"karena untuk menjadi seorang guru itu dibutuhkan niat yang mulia"

WKWK SITU YAKIN? Jargon, asumsi, dan "selayaknya" memang begitu. Tapi dalam praktek "guru 'honorer'" itu profesi dadakan kalau gagal berkarir dibidang lain, untuk banyak orang (mirip seperti profesi ustad dan ulama gitu deh).

Bagaimana kalau semua guru honorer dipecat saja. Jadi tidak ada lagi yang namanya honorer, hanya ada guru yang FULL satu guru, bukan separuh guru? Harusnya adil kan? Jadi yang memang "punya niat mulia" menjadi guru dan "mampu secara teknis menjadi guru" adalah yang menjadi guru.

Nadiem sudah tepat. Perbaikan nasih "guru" honorer bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau yang memberdayakan guru honorer tapi juga dari masing masing "guru" honorer tersebut.

Ayolah, take control atas nasib sendiri, jangan selalu menyalahkan pemerintah atau orang lain.

Yuda:
iya sob sekarang faktanya guru honorer rebutan jam mengajar sama guru PNS itu nyata gwa ngeliat fakta nya di puluhan sekolah. akibat banyaknya guru honorer.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Sejahterakan Guru, Baru Bicara Perubahan yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/pendidikan/sejahterakan-guru-baru-bicara-perubahan-QrXS2fC9RK

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: