You Now Here »

Pidato Mendikbud Jangan Cuma Viral. Tanpa Aksi, Guru Honorer Akan Mati Pak Menteri!  (Read 68 times - 43 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 21,006
  • Poin: 21.082
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Martabak Sweet:
"Yang menjadi pertanyaan kemudian Pak Menteri. Bagaimana SDM negara ini bisa maju, jika tenaga pendidik kita dianiaya dengan upah ala kadarnya. Jangan pernah ada cerita "Guru Penggerak Indonesia Maju" kalau kesejahteraan guru honorer masih jadi cerita sendu."

Sekarang saya balik pertanyaannya. Saya akan memakai kacamata dan sudut pandang murid yang pernah mendapatkan guru honorer dan sudut pandang orang tua:

1. sebagian guru honorer yang saya dapat saat SD sampai SMU, ilmunya pas pasan dan nyangkut dari guru karena tidak ada profesi lainnya. Ada yang jadi "guru" karena tidak lulus ujian PNS jadi nyambi jadi "guru honorer"

2. sebagai murid dulu saya suka sekali dapat "guru honorer" karena, PR nya mudah, ulangannya mudah, kadang ulangannya cuma copasan dari PR yang sebelumnya pernah diberikan. Sebagai murid saya senang SEKALI BUKAN KEPALANG. Tapi setelah saya dewasa sekarang dan memikirkan saat itu, saya MERINDING. Kalau ponakan saya sekarang mendapatkan guru honorer yang dulu saya pernah dapat. Mending dia saya yang jadi guru ponakan saya dan dia stop masuk sekolah. AMPAS Bang.

3. Saya rasa, masalah guru honorer dan gaji mereka, tidak sesepele teriak teriak minta naik gaji deh. Penulis jangan cuma play victim seolah olah guru "honorer" ini tidak punya andil mengapa "ada guru honorer in the first place".

4. Dan masalah gaji selalu sama dalam semua profesi. Kompetensi menentukan besarnya gaji. Dan tentu ada faktor demand yang tidak konsisten, apa lagi kalau sudah berbicara daerah terpencil. Makanya untuk daerah seperti ini ada program volunteer dan NGO yang juga membantu.

5. Copas " bagi guru tua, yang kadang tidak begitu paham dalam pengoperasian Komputer harus dibuat pusing kepala atas tuntutan syarat yang dibebankan aturan."

Jelas disini problemnya adalah, kemauan belajar dan beradaptasi. Bapak, kakek, nenek saya masih pakai SMS sampai sekarang. Kakek sudah belajar pakai Whatsapp. Tidak mudah, tapi tidak impossible. Tergantung niat. Ingat, yang diharapkan beradaptasi DAN BELAJAR adalah seorang "guru" tidak peduli apakah dia "honorer" atau bukan honorer.

6. Demand guru dan pendidikan jauh melebihi supply.

Tanyakan yang jujur ke diri sendiri kenapa penulis dan yang lain terperangkap di situasi "honorer" ini. Masalah yang dihadapi sekarang tidak sesepele menaikkan gaji dari sisi 1 pihak saja.

7. "Sebab syarat untuk mendapatkan duit sertifikasi tersebut, guru honorer haruslah diangkat atau di SK-kan oleh Bupati, makanya sering barangkali Pak Menteri melihat ada guru honorer demo hanya untuk meminta SK Bupati atau Pejabat Pembina Kepegawaian."

Kalau yang diminta adalah perubahan birokrasi dan pemberian kesempatan, ini saya setuju. Tapi ingat, yang namanya kesempatan ya harus ada upaya untuk meraihnya, bukan instant atau minta instant gratifikasi. Belajar memakai komputer mungkin salah satu effortnya. Apakah guru honorer begitu pelitnya untuk mengajarkan cara pemakaian komputer kepada guru honorer yang tidak bisa???

8. "pengacara sekelas Prof. Yusril untuk menuntut keadilan sosial"
Mungkin penulis dan guru honorer yang dimaksud perlu minta Yusril (yang pernah menyebar hoax, pengacara "sekelas ini" wkwkwk. Cari pengacara yang lebih bermutu apa tidak bisa wkwkwk) untuk memindahkan dana pesantren supaya bisa dinikmati guru honorer.

9. "Pak Menteri yang saya hormati, mungkin yang Bapak maksud di atas adalah guru lebih sering diberi tugas sebagai syarat sertifikasi atau sejenisnya demi sesuatu yang tidak punya manfaat langsung kepada output dunia pendidikan. Mereka para guru disibukkan dengan hal yang bersifat administrasi, yang terkadang membuat mereka abai dengan peran mereka mendidik siswa."

Sepertinya penulis berasumsi sendiri. Mungkin saja yang Nadiem maksud dengan "administrasi", bukan "sertifikasi" itu sendiri. Tapi proses mendapatkan "sertifikasi". Hanya orang sinting yang menghapus sertifikasi. Lihat saja ulama dan ustad radikalis karbitan dan pesantren. SAMPAH. Outputnya tidak konsisten dan sering malah jadi perusak.

Birokrasi dan aturan tumpang tindih memang harus dibenahi. Administrasi juga harus dibenahi. Tapi penghapusan "sertifikasi" tidak bisa dan tidak boleh dilakukan. BAHAYA!

Yolis Syalala:
Di point 8 itu. Ada delik pidana loch. Anda menyebit Oak Yisril Nyebsr Hoax?

Kalau anda berani. Kapan kita kopdar. Saya akan temukan anda dengan guru honorer nasional.. bacot anda kiranya di jaga mas. Jangan mudah menghakimi orang. Ketika anda nyinyir ke Pak Yusril dia sudah jauh berbuat dari pada anda untuk negara ini....

Paijo:
martabak sweet, mantap sob/ sist

xenakis2:
poin 1 sampai 9 SMOOA mencakupi apa yang mau didebatkan, terjawab tuntas
mangstaap masbro........

.
.
smoga penulis bisa lebih berwawasan dalam mengutarakan keluhananya dengan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dilapangan...
(click to show)


Yolis Syalala:
Semoga anda juga lebih berwawasan. Tidak gamoang terjebak dalam sebuah kemesraan. Hehe

xenakis2:
smooga penulis juga jangan terlalu mesra dengan jebakan yang tidak mempunyai wawasan yang cukup, dengan men share opini'' seperti yang ditulis

Martabak Sweet:
Penulis sendan memainkan penggiringan opini yang culas. Sengaja play victim dan mendisclose SEBAGIAN informasi untuk membentuk opini.

Yolis Syalala:
Anda terlalu menjustice saudaraku. Sejauh mana anda pernah berjuang untuk guru honorer?
 Maukah anda saya pertemukan dengan barisan guru honorer ini?

Pernyataan anda itu melukai guru honorer. Tidak semua guru honorer 'Goblok' seperti yang anda ceritakan itu.

Yolis Syalala:
Yang mau hapus sertifikasi sopo mas?

Martabak Sweet:
Kalau tidak ada ya bagus. Maaf kalau salah di sertifikasi.

Rosita:
Terima kasih Martabak Sweet, gamblang, ngeri ngeri bacanya!

Amir H:
Aturan mengajar minimal 24 jam untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi HARUS DIHAPUS !!!

Yolis Syalala:
Tapi tukang martabak di atas bilang guru honorer titik2. Haha

SolaSido 5671:
.. kesian..kesian..kesian, guru honorer instansi pendidikan yg tdk dihargai.. oleh sejawatnya.. oleh siswanya sampai ortu siswanya.. walau setidaknya telah berlalu masa abdi mengajar santun pun akhlak terpuji dan telah menghantarkan peserta didiknya kejenjang lanjut.. telah pupus jasa mereka dengan pembayaran honor dengan harga tak bernilai.. dan tidak pula dinilai.. kini guru honorer akan dikemanakan? mereka juga warga republik ini..

Rosita:
Stafsus Presiden dan Stafsus WaPres bergaji puluhan juta per bulan...miris!!

Andy Wijaya:
Guru, pekerjaan mulia dan pekerjaan yg paling besar tanggung jawabnya, tapi kenapa miris hidupnya dinegeri ini?

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Pidato Mendikbud Jangan Cuma Viral. Tanpa Aksi, Guru Honorer Akan Mati Pak Menteri! yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/pendidikan/pidato-mendikbud-jangan-cuma-viral-tanpa-aksi-Ri1bHySmJr

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: