You Now Here »

Maaf, Demokrasi Bukan Untuk Orang Bodoh!  (Read 213 times - 107 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,429
  • Poin: 23.506
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Maaf, Demokrasi Bukan Untuk Orang Bodoh!
« on: January 19, 2020, 06:28:40 AM »




DC:
Tidak setuju dengan penulis, level edukasi tidak menjamin kualitas voter. Kualitas voter tergantung kepada sumber informasi yang baik, faktual, berintegritas dan terpercaya. One man one vote, vox populi vox dei itu ada benarnya selama media itu saja terpercaya. Lihat saja di zaman Yunani kuno, para birokrat itu harus berdebat secara publik untuk publik melihat sendiri kompetensi kemampuan ideologis, karakter dan pragmatikal seorang calon birokrat.
Namun, kita lihat saja bagaimana informasi tersebar sekarang ini. Yang pertama adalah para perusahaan media massa zaman now yang seharusnya menunjukan keadaan secara apa adanya, masih sangat tergantung kepada keputusan sob atau grup tertentu yang berafiliasi dengan partai tertentu. Kita juga lihat saja bagaimana dengan mudahnya informasi itu dimanipulasi melalui sosial media hingga pabrik hoax menjamur di provinsi tertentu untuk melancarkan agenda tertentu.
Begitu juga dengan yang kedua, mengenai kemunculan beberapa "tokoh - tokoh baru" yang membawa identias keagamaan mereka sebagai alat untuk menjamin kualitas integritas mereka yang seharusnya dipertanyakan. Bahkan dengan identitas tersebut, berani mempertentangkan integritas kelompok yang sudah memiliki reputasi sebagai senior keagamaan.
Saya tidak mempertentangkan mengenai ide untuk memajukan kualitas hidup rakyat karena itu adalah hak hidup semua warga NKRI. Namun mengenai demokrasi, percuma saja mengatakan demokrasi kita bisa dibeli tanpa mengidentifikasi persoalan utama yakni pertukaran kekuasaan yang masih bergantung kepada egoisme kolektif grup untuk memperakaya diri dan ataupun mendapatkan kekuasaan yang dipermudah melalui agenda kedaerahan/kesukuan/ras yang terlalu memecah belah, bukan melalui pertukaran ideologis, ide dan karya yang mampu memajukan kepentingan nasionalis. Bukankah begitu penulis?

Indri Giber:
Setuju!
Pers yang bebas dan independent adalah salah satu pilar demokrasi sebagai alat check and balances. Melenceng sedikit, btw, kita belum punya aturan yg jelas untuk whisleblowers. Saya amati dari satu sisi banyak pihak yg menaburkan benih2 ketidakpercayaan terhadap journalism. Dan di sisi lain masyarakat kita lebih memilih untuk mengkonsumsi informasi dari 'corong-corong' yg cenderung support their preconcieved idea (=echo chamber), thanks to social media, dan cenderung -maaf- malas mendengar dari yg berpendapat berbeda.


Saya amati banyak yg kurang bisa membedakan mana yg opini, dan mana yg fakta. Bahkan dalam satu artikelpun sering ini dicampuraduk, sehingga pemirsa/pembaca menjadi 'bingung'.

Erick 73:
Tepat sekali apa yang diuraikan diatas. Saya semakin tercerahkan. Thanks

Jack Jersey:
lucu,
perut lapar disuap iya mau aja, coba di suatu negeri kaya semua, apakah kekurangan mereka?

mereka justru sedih karena nggak ada orang susah kan,jadi serba susah , tidak ada saingan.
manusia memang begitu gila.

ustadz sayyid habib yahya

Opini Tadeus:
Banyak yang memilih tetap 'bodoh" demi kelancaran suplai lembaran merah proklamator, seiring dengan pelestarian modus pembodohan masal oleh yang beruang kutup...

Jollo:
“Vox Populi, Vox Dei” (Suara rakyat, Suara Tuhan).. mengandung arti pemimpin adalah cerminan dari rakyat yang dipimpinnya. Dan Tuhan turut bekerja menciptakan keamanan n ketertiban bersama dengan pemimpin.
..seburuk buruknya seorang pemimpin masih lebih baik dari pada tidak ada pemimpin

salam kenal ??? ?????

Indri Giber:
Saya setuju dengan 99% dari tulisan ini, bahwa memang demokrasi akan thrive jika masyarakat & penyelenggara negara berpendidikan, mapan, dan sejahtera.



Tetapi ada satu yg saya masih undecided: suara orang yg terpelajar vs yg kurang terpelajar. Dari sisi kemanusiaan saya mungkin agak naive dan purist. Kita harusnya punya hak yg sama sesama manusia, toh dalam banyak situasi seseorang memang tidak mempunyai akses untuk pendidikan tinggi, jadi tingkat intelektualnya mungkin 'terpaksa' menthok. Dalam situasi ini, tidak adil kalau haknya lebih rendah. Saya masih sangat percaya one person one vote dalam demokrasi.


Di sisi lain kita sedih juga dgn situasi ketika penguasa dipilih purely hanya karena dia adalah populer. Krn keberhasilan pemimpin diukur bukan hanya dari kepopuleran, tapi juga dari merits, pengalaman, dan karakter.


IMHO, masyarakat & penyelenggara negara yg mapan, berintelektual tinggi, dan sejahtera saja belum cukup. Sistemnya juga harus bagus. Demokrasi kita sangat mahal salah satunya karena parpol harus cari duit sendiri. Makanya sulit dalam kontrol operasional, akuntabilitas, dan 'transaksi politiknya'. Setiap pemilu kita amati parpol/koalisi pemenang pasti pertama2 selalu mencoba mengubah UU pemilu dan MD3 ;-)

Fsasosi:
Yup....Tapi yang disayangkan orang pandai/cerdas yg licik dan haus kekuasaan memperalat dan mempermainkannya..

hoetomo:
Setuju , masalahnya rakyat bodoh tidak dididik pintar malah dibodohi dan dibiarkan bodoh.
Jadi susah menuju demokrasi yang sehat.
Berani menentang kebodohan ???takutlah nanti diserang masa he he he he he

Nawadi Zheng:
Saya sangat setuju dengan Anda Bung !? ???

BritneyYang:
saya setuju suara rakyat ya suara rakyat
BUKAN SUARA TUHAN,
masak suara Tuhan bisa Di " beli "
Demokrasi menurut saya " Mahal "
Di Amrik Aja yg sdh 200 th juga penuh
" politik uang n hoax "
apalagi Indonesia, ga pemilu Aja tiap Hari kirim hoax, demo, do it, Nas bung.
malah Tuhan Di perdagangkan

Opa patompo:
Maka, mari kita cerdaskan warga...

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Maaf, Demokrasi Bukan Untuk Orang Bodoh! yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/maaf-demokrasi-bukan-untuk-orang-bodoh-nWe33i5Hiu

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: