You Now Here »

Menolak Terowongan Istiqlal, Tanda Kita Tak Mau Berproses  (Read 59 times - 79 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 22,132
  • Poin: 22.209
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Menolak Terowongan Istiqlal, Tanda Kita Tak Mau Berproses
« on: February 12, 2020, 01:36:51 AM »




Rheza Rivana:
Manfaatnya ada loh buat terowongan.
Jadi tempat buat nampung air biar banjirnya berkurang :v

San Tuy Wele Wele:
betul juga.. ingat ini jkt yg dikuasai kadrun.. kadrun malah bilang banjir itu barokah halah masukin mereka ke RSJ. udah jelas2 gila tuh

Sita W:
Terima kasih mas Alif...ada tulisan yang mengajak kita untuk berpikir dalam dan positif. Sejauh ini kita kusut...karena kecewa dan gemes ngeliat Pakde yang terkesan lamban menangani kasus-kasus intoleransi yang di depan mata, akibatnya kita masuk dalam aura negatif, menyebarkan pikiran-pikiran negatif, tanpa disadari. Saking negatifnya, semua yang dilakukan Pakde salah!! Jadilah kita anggota salawi (semua salah Jokowi), seperti mereka-mereka yg dulu kita kecam. Ayolah bangun...kalo Jokowi merestui terowongan silaturahmi antara mesjid dan gereja bukankah itu pertanda kita punya harapan bahwa Jokowi 'mengerti' arti toleransi? Bahwa membuat terowongan antara mesjid dan gereja tidak haram? Jadi...tetaplah suarakan agar Jokowi melanjutkan menangani 'segera' kasus-kasus intoleransi yang meresahkan kita yang sedang mengaku sebagai kaum toleran...

Di:
??? ??? ??? ??? ????

Faktanya, yang terjadi belakangan ini adalah terlalu gegabahnya, terlalu gampangnya orang-orang menyudutkan dan menyalahkan seorang bernama Jokowi.
Segala langkah dalam pemerintahannya selalu salah.

Yang terjadi selanjutnya adalah mulainya krisis kepercayaan terhadap pemimpinnya sendiri.

FAUZi:
Karena si pemimpin yang kehilangan ketegasannya, masa terhadap kadal kadal gurun takluk dan terkapar ?, masa terhadap gabener kadal yaman diam saja di injak injak ?

Leo Nardo:
Setuju, Om.

Samiun:
yang menjadi persoalan adalah sikap bangsa ini yang sesungguhnya, mengapa kita semua lebih mementingkan symbol? berpura pura toleran padahal intoleran? mengaku toleran karena saling menjaga di hari raya masing2....solah olah kristen dan islam saling toleran? anda tau masalah sesungguhnya? saling menjaga keamanan dan area parkir pada hari natal dan idul fitri di kathedral dan mesjid istiqlal  itu sesungguhnya hanya masalah uang semata......UANG PARKIR....

Di:
Kalo begini kan, imbang ulasannya. Tidak seperti kemarin-kemarin. Isinya hanya memojokkan serta menghakimi orang yang bernama Jokowi saja.

FAUZi:
Sebelum berani tegas, menghabisi kadal gurun, pelaku intoleransi, gerombolan berjubah dan mengucilkan mereka selama itu wajib kita pojokkan

Opini Tadeus:
Aku engga loh padahal ????

Di:
Aku tuh nggak nuduh kamu kok, plis...kamu tuh kok sensi banget sih!! ????

Opini Tadeus:
Lah...hahaha.. prasaan situ yang sensi...pake emoticon sgala ??? ??? ??? ???

si memble:
Yup, ulasan kk pembina memang seimbang, bravo.
Tp sy berpendapat tindakan Jokowi dan jajarannya masih belum seimbang dalam hal intoleransi.

Di:
Presiden bukanlah Superhero, yang mampu menyelesaikan masalah demi masalah didalam negara, didalam pemerintahannya dalam waktu yang singkat.
Toh sekalipun ada para menteri2 yang membantunya, tidak serta merta para menteri tsb satu visi misi dgn Presiden. Disinilah letak permasalahan yang sesungguhnya.

Disaat seorang Presiden Jokowi berani beda dengan Presiden sebelumnya. Bersih dari rekam jejak korupsi. Pembangunan infrastruktur terus menerus diawasi. Disatu sisi yang lainnya, permasalahan yang lain masih terus bermunculan.
Disinilah peran para menteri2 nya bakal teruji.
Mampu dan bisa bersinergi serta berkoordinasi dengan Presiden tidak?!
Mampu dan bisa bekerja dengan baik dan cepat tidak?!

Kesimpulannya adalah seorang Jokowi pun bukanlah seorang sempurna, yang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan di negara ini seorang diri. Para menteri2 nya juga harus bisa satu visi misi dgn beliau.

Kemudian dilevel akar rumput, masyarakat juga harus bisa berkontribusi terhadap negaranya.
Jangan hanya pasrah saja.
Jangan hanya nyiyir semata.
Jangan hanya komplen tanpa ada solusi pemecahannya.

si memble:
'Harus kontribusi, jangan nyinyir, jangan komplen tanpa solusi tapi jg jangan pasrah.'

Pertanyaannya:
Jika dalam kasus2 intoleransi, pemda dan aparat penegak hukum terlibat atau mlempem, solusinya apa?
Jawabannya:
Nyinyir dan komplen ke Jokowi dan jajarannya dan pasrahkan ke Jokowi dan bawahannya  untuk melakukan kewajibannya memberi keadilan bagi semua.
Alasannya cuma satu karena Jokowi adalah yg menjabat RI 1, kalo tdk ngadu ke Jokowi trus ke siapa lagi? Apa harus ikutan bikin demo togel yg berjilid2 itu?
Minoritas dan pendukungnya memang berisik dan nyinyir, tapi sampe sekarang masih blom ada demo besar2an yg akan merugikan semua orang itu, krn masih berharap presiden bisa selesaikan dgn bijak.
Cuma memang harus berhitung dgn cermat
dalam bertindak krn masih ada kadrun2 yg suka ngomporin dan  bikin suasana keruh.

FAUZi:
KETEGASAN DAN KEBERANIAN

Itu yang kita minta

Tegas, habisi gerombolan berjubah, kalau perlu gunakan cara yang tersamar, tapi habiskan, HAM is the biggest bullsh*t, abaikan itu

Tak semua yang ada di orde baru itu buruk, "petrus", "sukabumikan", "laksus", "litsus" itu semua positif hasilnya

Petrus Wu:
Kalau maraknya kasus intoleransi karena pemerintah pusat dan Pak Jokowi tidak bisa berbuat banyak disebabkan yang lebih berkuasa adalah pemerintah daerah, maka sudah tepat kita putus asa.

Sebab lebih tidak mungkin lagi usul Mas Alif akan terwujudkan, ketika Presiden bisa menunjuk Bupati dan Walikota.

Malangnya Indonesia.

Kurniawan:
Malangnya Indonesia ya Malang? ??? ????

Leo Nardo:
Proses..ugh...lagi-lagi proses yang dijadikan alasan. Tapi, ya sudahlah. Memang prosesnya begitu, sekalanya dahulu dan sekarang ya bedalah. Dulu di jaman baru merdeka, intoleransi intensitasnya masih kecil. Sekarang mengalami ekskalasi dari hitungan jari menjadi ribu. Benar Cak Alif, itu semua tidak lain adalah proses karena ditengahnya selalu ada simbol toleransi bernama "dialog" umat beragama. Bolehlah, kan yang penting ada simbol disana. Soal peningkatan ekskalasi kekerasan atas nama agama terhadap kaum kepercayaan lain, itu soal lain, yaitu soal resiko yang harus rela ditanggung minoritas karena begitu berani mengambil posisi sebagai kaum minoritas. Yang itu tidak ada kaitannya dengan simbol toleransi ya kan Cak? hehehe.

Dan Cak Alif jangan juga lupa, seperti proses yang anda maksufkan itu, maka saya juga boleh dong mengatakan bahwa peningkatan intoleransi dan kekerasan atas nama agama terhadap minoritas juga merupakan proses pembelajaran yg dilakukan mayoritas sebab pemerintah seakan berpihak dengan tidak melakukan apa-apa. hehehe

Paian Marulitua:
Semoga mayoritas WNI mengerti simbol itu dan memahami maknanya.

Teha Sugiyo:
mantul. adem.

San Tuy Wele Wele:
iya betul juga krn kalau lewat gubernur terbodoh bahaya terowongannya bisa mangkrak haha aha aha

Kurniawan:
Menyelesaikan masalah Intoleransi di Indonesia tidak semudah membalikan tangan walau pak Jokowi punya team yg super jeniuspun.
Sudah perpuluh tahun terjadi pembiaran oleh pemerintahan sebelumnya dan semakin kesini banyak ustadz abal abal yang baru belajar lancar bicara mengenai kebencian langsung diserbu pengikut, semua itu sudah terpola dan terstruktur seolah ada jaringan para ulama yg intoleransi saling berkomunikasi.
Efektifnya perlu adanya Petrus Petrus yg lainnya untuk mengatasi para ulama penyebar kebencian, sekelas ustadz ba'asir dulu pernah kabur ke malaysia hingga takut kembali ke Indonesia, karena kaum intoleran lebih banyak terhasut oleh kesesatan ulama ulama karbitan.

Zeffanya N Zeevanka:
Walaupun minority ga setuju tetap dibgn toh????krn Ku selow...sungguh selow,sangat selow ... ???? santay2..intoleransi ga kmna.. ????

San Tuy Wele Wele:
terowongan rasa revolusi mental intoleransi jadi lebih toleransi krn ada faktor dorongan teladan dari presiden..
mungkin terowongannya model huruf "I" aja.. jangan tanda "+" haha aha aha

Opini Tadeus:
Setuju soal penunjukan langsung kepala daerah.. menghindari munculnya raja kecil di daerah dengan perisai otda

Harangan Toras:
gabenernya sekalian

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Menolak Terowongan Istiqlal, Tanda Kita Tak Mau Berproses yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/menolak-terowongan-istiqlal-tanda-kita-tak-mau-uTCBzp6UFM

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: