You Now Here »

Success Story Taiwan VS Covid 19. Tak Punya Quota Internet Menuduh Indonesia Lamban!  (Read 200 times - 72 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,079
  • Poin: 23.156
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Stevanes Ariffin:
Org cuma bisa nuntut Jokowi niru taiwan, vietnam dll, tapi yg nuntut sendiri tdk bisa ikut teladan rakyat taowan, vietnam dll.

FAUZi:
Indonesia tIDAK AKAN PERNAH BISA menyamai success story Taiwan

firman proindo:
Salah satu faktor Yg bikin sukses yaitu taiwan bukan negara Islam jadi gak direpotkan dengan umat muslim yg pongah yg merasa kebal Corona dan menganggap Corona itu konspirasi pemerintah dan antek alien ????

Erika:
Semua negara di dunia tak akan bisa!!

FAUZi:
terutama Indonesia dan negara yang selain tidak punya disiplin juga masih keracunan agama secara akut

masjid di dekat rumah masih saja ada shalat berjamaah, malah bikin rapat menyambut ramadhan segala, dan jangan heran, tak ada yang pakai masker, waktu kutanya : "hidup mati ditangan allah", yang kujawab ya "sudah mati aja loe... ", bebal memang kelompok koplak ini, akibat pembiaran terlalu lama menjadikan agama sebagai segala galanya

sumsumMerahPutih:
Patut ditiru bahkan perlu screening awal / sudah persiapan record medisnya minimal 14 hari sblm masuk negeri. Pake masker dan kacamata google sblm masuk bandara.
Pendatang dadakan ya tiru seperti itu tetap minimkan kontak orang dalam perjalanan untuk isolasi mandiri.
Pertanyaannya isolasi mandiri ini mau di mana, di rumah byk anggota keluarga. apa perlu pusat isolasi. sulit... kita bukan negara sekecil taiwan. rangkaian kebijakan baru yg lengkap diperlukan.


Dari sisi sdm nya hal seperti ini bisa dilakukan JIKA taat aturan dengan hati.
Sy jd inget kebanyakan pendataan di negeri ini didengkul/mengarang indah dan kkn. mau sensus, survei atau pun data penerima bantuan.
Mental korupsi menghalangi kemajuan yg seharusnya bisa dicapai aka menurunkan kinerja.

DC:
Bisa saja asalkan negara mampu menjaga hak privasi individu sebagai sebuah hal yang sakral.

ErikaErika:
negara lagi negara lagi. hak privacy itu urusan diri sendiri sama lingkungan.

DC:
Mungkin Erika harus membaca artikel 12 Universal Declaration of Human Rights dan membandingkannya dengan kondisi Indonesia saat ini. Termasuk bagaimana bully-an terhadap Pakde dan kubu nasionalis yang sudah semakin tidak masuk akal setiap harinya. Apalagi dengan kultur bertetangga Indonesia jika ditambah teknologi, hak privasi dan hak kedamaian individu yang dulu kita miliki itu tidak akan lagi terjamin. Bukankah privasi itu hal terpenting untuk demokrasi?

DC:
Juga mengenai privasi, bukankah hal ini yang menjadi permasalahan utama antara kubu nasionalis dengan kubu radikalis? Bahwa mereka berani merembet ke ranah yang seharusnya menjadi bagian privasi seorang individu? Bahwa identitas digunakan sebagai alat politik yang publik.

Robin:
Bisa lah.. cincai lah.. ok? Ok? Kalo bisa langsung bungkus neh..

Dimas Aryotejo:
Yaa iyalah Singapore dan Taiwan lihat saja luas negaranya seperti apa. Hehehhee

FAUZi:
bukan hanya luasnya, tetapi disana warganya memiliki kedisiplinan, patuh pada anjuran pemerintah dan tidak  sok agamis, seperti di Indonesia kadal gurun dikasih tahu pakai masker, bilang hidup mati terserah allah... goblog kuadrat kan dan di sana kebetulan kadal gurun, onta gurun, onta yaman, gerombolan berjubah, penjarah bertakbir tak punya habitat untuk hidup,

DC:
Tergantung parlemennya

FAUZi:
Tak ada kaitan dengan parlemen, tetapi mentalitas masyarakat Indonesia yang acuh tak acuh pada kedisiplinan, merasa bahwa agama adalah jawaban segala masalah dan sifat dengki yang tertanam mendalam.

DC:
Perubahan mentalitas dimulai dari hukum. Kan sudah ada contohnya, kalau benar ingin negara bersih tanpa sampah, berikan sanksi tinggi hingga tidak masuk akal kepada pembuang sampah sembarangan, pasang CCTV di mana2 seperti di London dan Singapura, haruskan pemprov membangun recycling center yang dobel sebagai pembangkit listrik di setiap kota dan membagi sampah menjadi 3 jenis. Begitu juga kalau ingin bebas dari sampah2 dalam bentuk lain, semua tergantung dari parlemen kita itu sendiri. Selama ini selalu mendemo presiden, namun tidak ada yang pernah mendemo parlemen yang jelas pekerjaannya tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sebetulnya.


Juga saya tidak bisa setuju karena tidak bisa juga mengatakan bahwa agama bukan jawaban dari segala masalah karena agama, hati dan logika semua berhubungan dan saling melengkapi, sebuah komplemen. Karena agama adalah kumpulan wisdom yang sudah ratusan tahun lamanya yang tahu bahwa tidak ada yang baru mengenai seorang manusia sebagai seorang individu. Karena tidak ada yang namanya atheisme karena pastilah seorang individu menyembah kepada sesuatu.

TUgiyo:
Setuju banget...

DC:
Di sana parlemennya membuat hukum yang berguna demi kesejahteraan rakyat, yang di sini hukum dibuat untuk mengatur moralitas dan ranah privasi masyarakat. Buang waktu dan pajak saja bukan? Padahal ada ratusan UU yang wajib dibahas sebelum 2030. Kalau menurut UUD saja sumber daya yang berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat harus menjadi urusan negara, mengapa dari dulu industri kesehatan tidak didata / dikontrol oleh pemerintah?

Indri Giber:
Setuju dengan hukum yg 'mengurusi' ranah privat!
Ditambah lagi dengan libel law yg membunuh memandulkan kebebasan berpendapat, dan free press yg belum bisa 100% dilindungi (termasuk perlindungan whistleblowers).

Dimas Aryotejo:
Taiwan 1112 sama Singapore patternnya karrna mereka sama2 pernah terkena Sars.

Parlindungan Panggabean:
Kata kuncinya adalah 'kepatuhan'.
Ketika pemilu selesai dan Jokowi terpilih sebagai presiden, coba tanya kepada Zonk, Abud, Dildo, Kepret, Rasis, dan makhluk beracun yang sejenisnya seperti FPI HTI 212 mungkin juga PKS, apakah mereka patuh, tunduk dan taat kepada konstitusi dan UU.?
Ganti presiden dan sistem, bukankah begitu teriakan parau mereka.?
Beruntunglah mereka hidup dibawah pemerintahan presiden Jokowi. Tidak terbayangkan kalau presidennya seperti Kim Jong Un. Dapat dipastikan semua keluarganya kanan kiri atas bawah sampai temannya akan digulung habis.

Felix lai:
Bukan pesimis , tapi tidak akan bisa selama setiap ganti pimpinan selalu ganti kebijakan serta tidak meneruskan apa yang sudah dikerjakan oleh pemimpin terdahulu.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Success Story Taiwan VS Covid 19. Tak Punya Quota Internet Menuduh Indonesia Lamban! yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/success-story-taiwan-vs-covid19-tak-punya-yei1Hf5EUn

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: