You Now Here »

Surat Terbuka Untuk Dokter Yang Menulis Indonesia Terserah  (Read 229 times - 126 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 22,913
  • Poin: 22.990
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Sholikin Mursalim:
Asli, baca tulisan ini sesuai banget isi hati Saya.

Makasih Mas Alif.

Nugroho:
Sama

Barkah Adi:
Sama. Bukan nggak hormat sama tim medik. Kita yang ngurus warga juga sama, capek, mesti sosialisasi macem² supaya nggak tertular, mesti mikirin dan bantuin warga supaya tetep bisa makan paling nggak sehari sekali. Jadi kalau ada oknum doktet yang kaya gitu sama juga bikin kita² yang dibawah ngerjain ini itu sia².

Sita W:
Kata 'terserah' itu lebih seperti menyerah pada keadaan, gue capek, egepe. Aneh!! Ini bukan soal sok menjunjung idealisme, tapi mempertahankan api perjuangan tetap menyala itu yang jadi tantangan terbesar pada masa sulit ini. Bagaimana kita mau sampe di tujuan bila melempem di tengah jalan dengan alasan apapun. Memang kesal sih melihat orang-orang yg membandel, yg berisiko membuat orang sakit lebih banyak, tapi justru saat seperti inilah tantangannya untuk terus mengingatkan masyarakat dan aparat terkait mengenai pentingnya physical distancing dkk itu. Ngedumel cukup disimpan dalam hati, berkoarlah yang memberi solusi dan tidak memercikkan api....sebuah tantangan!

Soekojono Goen:
IDI sebaiknya berkonsultasi dan minta nasehat / saran dari Menteri Kesehatan, agar dengan demikian bisa dihindari hal-hal memalukan yang dilakukan oleh anggota IDI.

Donny Rahardian:
Menkes nya aja dipecat IDI yg sampe saat ini pun Menkes tidak diterima menjadi anggota IDI, gimana bisa IDI minta nasehat ke Menkes coba ?

Overthink:
Hidup Jerinx !!

Gabener:
dokter terserah malu maluin sumpah dokternya. ibarat perang udah angkat bendera putih. Memble sememble membelinya kowe!

Irzan Bangun Wiratama:
kalo byk nakes yg mati tinggal impor kan?

firman proindo:
Emang tenaga medis kita bodoh sampai mati semudah itu?

Montreano Mt:
bijak sekali, mantap jiwa

Teha Sugiyo:
pilihan adalah tanggung jawab.

eko hartono:
Oknum dokter cengeng....Segera ganti profesimu mulai detik ini...tidak pantas oknum dokter semacam ini dipelihara. Hidup itu semua penuh dengan resiko..... tidak mau menanggung profesimu.... KELUAR KAU.

BlusBet:
Beginilah akibatnya kalau jadi dokter suka mutungan, diomelin Kakak Pembina. Semestinya bisa menahan diri, tapi rupanya justru tidak sadar & tidak sabar. Kasihan, jadi malu sendiri.

Budi Aksana:
Emang udh pasti ya, yg nulis Indonesia Terserah itu orang yang berprofesi dokter? Bukan perawat?
Krn kalau yg gw liat di media, hanya foto seseorang mengenakan hazmat, membawa kertas bertuliskan Indonesia terserah & berlatar belakang ruangan yg menyerupai rumah sakit.

Barbarian King:
Smga itu hanya pernyataan yg sifatnya pribadi. Kalian ibarat tentara yg wajib berperang di saat musuh sdg menyerang. Pilihannya cuma ada 2, menang atau kalah.. Jgn pernah surutkan semangat kawan2 yg lain. Terus berjuaang..!!!

Givern Miricle:
selama wabah ini berlangsung saya kira hanya para petugas medis yang sudah bekerja secara maksimal, profesi lainnya bisa dilihat di lapangan hasil kerjanya seperti apa
seperti ada profesi tertentu harus dibayar dulu baru mau all out
persentase tenaga medis yang gugur terbilang tinggi walau katanya hanya 6,5 %
tentunya layak was was akan nyawa mereka yang hanya satu dan sangat rapuh
saya bayangkan andai tingkat persentase kematian para penulis opini sebesar itu saat bertugas pastinya sudah bubar walau tidak dipaksa
bukan kejahatan jika mereka berteriak minta diperhatikan ketika banyak orang abai akan keadaan
dengarkan dan pahami lalu renungkan setelah itu masih mau marah ... silahkan
lucunya ada orang yang merasa tak mau ke dokter tetapi pelaksanaan terapi plasma konvalesen diserahkan ke dokter bukan ke tabib atau dukun ....

bustamin hamid:
dah serasa kaum borjuis

Deedee:
Put your hands up in the air dogs..

Donny Rahardian:
Ferguso oh Ferguso, tidak se telenovela itu juga kali,



Yang  mungkin dimaksud atau diprotes Tenaga Medis dengan Indonesia Terserah bukan Orang Mencari Makan, tetapi  Kemana Social Distancingnya  ? , Kemana Masker nya ? , Kemana Tertib nya ?  Kemana Pemilihan Kepentingan Keluar Rumahnya ?

Montreano Mt:
iya sama aja dengan rakjat yg ga pakek Helm.. polisi dilarang bosan !
Dokter kok cengeng sih.. setau gw ada sumpah dan kode etik dokter yg harus menyelamatkan nyawa apapun kondisinya.

Irzan Bangun Wiratama:
apa kecelakaan krn gak pake helm bs menular?

Montreano Mt:
tidak menular. Tp masak polisi boleh bosan, dan pengendara boleh ga pakek helm gegara ga menular ??

firman proindo:
Jgn salah Helm dgn kaca pelindung bisa melindungi area wajah dari droplet virus Corona

Overthink:
IDI harusnya mengobarkan semangat juang dokter2 ibarat jendral di medan perang.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Surat Terbuka Untuk Dokter Yang Menulis Indonesia Terserah yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/surat-terbuka-untuk-dokter-yang-menulis-indonesia-MJJR9bFgpm

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: