You Now Here »

Bila Covid Seseram Yang Diberitakan, Ribuan Desa Bisa Lumpuh  (Read 220 times - 63 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,410
  • Poin: 23.487
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




doodleramen:
Salah satu kelebihan Indonesia dibanding negara lain adalah, tidak banyak warga yg mempertanyakan angka laporan kasus covid dan angka kematiannya. Jangankan warga, bahkan wakil rakyat juga tidak banyak. Literasi sebagian besar masyarakat yg rendah tidak memungkinkan mereka bersikap kritis. Jadi ya sebenarnya ini bagus untuk membangun narasi positif dan optimis. Tapi bagaimanapun sesuatu yg tidak beres itu pada akhirnya akan tercium juga...mungkin bukan oleh kita sendiri, tapi oleh negara2 tetangga dan sahabat.



Rakyat kita boleh rileks dan menganggap covid itu hanya isapan jempol belaka. Nanti ketika negara2 lain yg sudah beres duluan mulai membuka pintu penerbangan, kita akan kaget tiba2 WNI dimasukkan ke daftar negara2 yg di-banned tidak boleh masuk (atau setidaknya harus melalui proses berbelit) dan juga tidak boleh dikunjungi. Mungkin tidak masalah buat sebagian besar masyarakat kita yg memang tidak pernah/berniat berkunjung ke luar negri. Tapi kalau nanti Vietnam lagi2 berhasil merebut pangsa turis internasional kita pasti banyak yg ngomel2...hahaha



Saya juga tidak melihat solusi. Dua tiga bulan lalu saya berkoar2 soal jumlah tes kita yg rendah, tapi sekarang sudah percuma. Yg jelas pihak masyarakat dan pemerintah punya andil yg sama besar. Kalau ini disebut kegagalan maka ini adalah kegagalan bersama. Jadi ya daripada babak belur dan juga stres bersamaan, lebih baik milih babak belur saja tanpa disertai stress. Jadi untuk yg ini saya setuju dengan penulis dalam hal narasi positif dan optimis. :-)

Catharina Rinie:
>>> Saya juga tidak melihat solusi. Dua tiga bulan lalu saya berkoar2 soal jumlah tes kita yg rendah, tapi sekarang sudah percuma. Finally someone talked about this, ini jg yg sering sy pertanyakan 2 bln yg lalu tp tdk ada yg benar2 membahasnya. Akhirnya lagi ya sudah terserah :)

Rheza Rivana:
Karena media seword dibayar kali ama pejabat istana yg mayoritas anggap remeh Covid

Will Lim:
Terserah dan berharap pada keajaiban serta bahwa Corona ini hanya cerita yang terlalu dibesar-besarkan. :)

Andy Wijaya:
Memang dibesar besarkan dan sangat mencurigakan

Rheza Rivana:
Nah ini. Upvote this.

Tambahan: rasio tes belum sampai angka 1000/1 juta penduduk saja sudah 20 ribu lebih. Nah apalagi kalau rasio tesnya kayak amerika misalnya. Yakin masih 20ribuan yg positif?

Covid emang gak serem, banyak yg sembuh. Hanya saja banyak OTG (orang tanpa gejala) yg positif bisa menular ke orang lain. Kalau imunya kuat bisa OTG juga, tapi kalau lemah? Ya pilihan ada 2, survive or death.

Aku juga kesal dengan penulis disini. Waktu itu pak Anies sudah benar lockdown Jakarta, eh malah dihajar sma penulis disini hanya karena penulis disini benci dengan pak Anies jadi sampai akal sehatnya pun tertutup. Udah gitu emang semua penulis di Seword tinggal di Jakarta apa? Kalau saja Jabodetabek di lockdown, minimal pulau lain tuh gak ada yg kena. Makanya aku bilang dari awal justru karena negara kepulauan seharusnya mudah buat nanganin Covid kalau menteri dan presidenya gak ngeyel buat lockdown lokal atau karantina wilayah. Sok-sok an bela orang miskin di Jakarta ujung-ujungnya pengangguran bertambah di 34 provinsi.

Will Lim:
Ada yang tahu metode pemilihan orang-orang yang akan dites? apakah acak atau bagaimana?
ada yang tahu standar tenaga medis untuk pengetesan dan pemeriksaan hasil tes? aapakah langsung dipercayakan begitu saja atau ada kontrolnya?
yang terdengar sih cuma laporan jumlah penderita yang bertambah, kasus yang sembuh dan yang meninggal dan sebagainya.
Kurang panduan tentang info terbaru menghadapi Corona.
cuman disuruh WFH dan LFH

Rheza Rivana:
Yg dites itu cuman ODP dan PDP.

firman proindo:
Mari tunggu 14 hari kayak apa perkembangannya. Saya rasa grafiknya turun naik turun naik ????

Rheza Rivana:
Pasti. Orang banyak yg ngeyel disuruh diam di rumah malah PSBB (Pembelian Serentak Baju Baru)

Awam Wahono:
Yg takut korona karena duitnya sudah banyak diem dirumah silahkan , yg tidak takut korona karena terpaksa harus cari makan untuk keluarganya dan harus kerja diluar rumah ya silahkan , saling menghormati dan tepo seliro saja sebab kehidupan harus tetap berjalan dan mudah mudahan korona segera berlalu amin.

Patrick Jahja:
Oooo jadi maksudnya yang takut corona uda pasti duitnya banyak dan sebaliknya?

Will Lim:
Biasa sob, golongan hate&kill the rich. Dia pikir semua orang yang diam di rumah pasti kaya.

Sita W:
Saya suka upaya keras memahami realita di saat paling sulit...walau itu beraat, sakiit, bahkan mungkin mengesalkan sebagian orang. Buat saya itulah dinamika kehidupan, seperti cerita mas Alif, selalu ada cerita di balik cerita, ada yang hanya bisa kita pahami hanya bila kita menjadi mereka. Entahlah mungkin ada kelompok orang yang merasakan kegembiraan itu hanya setahun sekali, sehingga seberapa beratpun tantangannya, bahkan nyawa sekalipun taruhannya ya tetap harus gembira. Itu realita. Ada yg memilih 'puasa' hari ini demi bisa pakai baju baru esok pagi. Absurd, tapi itulah realita, itulah letak kebahagiaannya...di baju baru, bukan di perut, dan setiap orang berhak bahagia! Bahagia dengan cara apa, hanya yg mengalami yg tau...sekalipun mencapai kebahagiaan itu dgn membahayakan diri sendiri dan orang lain. Ini bukan menyerah, bukan juga egepe....tapi di saat paling sulit, supaya tidak 'terserah' saya mencoba memahami yang paling sukar untuk dipahami...yaitu kehidupan....

Onta Punuk dua:
ya udah saya ngutip kata kata ini aja
"IT'S JUST A FLU" hahahaha

Syahrul Mufidho:
Sekarang terbukti cak.
Sekarang aja udah nambah hampir 25k infection.
Artinya sudah 10 populasi yang di test yang kena.
Tapi kalau spesimen yang diuji memang baru 1 per 1000 orang indonesia

Will Lim:
"Saya berharap dan meyakini tak akan ada lonjakan kasus. Tak akan ada penumpukan pasien dan sebagainya."
Iya kan menteri2 termasuk menkes tidak becus menangani masalah Corona kan, virus Corona di Indonesia beda dengan Italia toh?, Indonesia bisa 40 hari bebas Corona, Indonesia ajaib dan kebal, dan sudah ada TPK. jadi kenapa mesti takut, cak? Harus yakin dan beriman. It's just a flu. :)
Sensasi di media sosial dan media mainstream melebihi esensi.
Kita harusnya hidup normal atau new normal saja, tidak mematikan loh Corona, santai aja cak.
Semua aman dan terkendali!

Andy Wijaya:
New normal is the way out right now, no matter we like it or not,

Kay Kayleigh:
Ya kalo tak ada lonjakan kasus syukur. Kalo pun naek meledak ya sudah. Kan lebarannya juga dah lewat. Typikal orang indo gimana nanti saja, bukan nanti gimana....

Patrick Jahja:
Confirmation: ga cuma 14 hari lho.....

Aan Widjaya:
Lebaran merupakan TEST alami bukan rekayasa, kita lihat hasilnya saja 14 hari kemudian, kalau tambah parah berarti protokol kesehatan dari WHO betul demikian sebaliknya.

Patrick Jahja:
Ga cuma 14 ari kan, bisa ampe 28 hari.

Aan Widjaya:
Oh gitu, lama menunggu.

Wiroduasatudua:
Boss ini jadi kayak taruhan ya.....
Kalo menang ya sukur.....aman.
Tapi kalo kalah.....siap dikarantina
Kalo boss ikutan juga, siap tunggu 14 hari menang ato kalah.
Emang korona rada unik juga, didaerah saya ada yang suaminya positif, tapi ga nularin ke istri anak dan saudara lain. Tidak nularin ke seorangpun dan tidak merasa sakit apapun, padahal dia tidak sadar positif, hidup biasa, berkunjung kemana mana.

Rheza Rivana:
Gak unik juga. Itu berarti lagi beruntung aja gak kena. Atau udah tertular tapi gak ada gejala karena imunya kuat atau belum dites sama sekali.

Patrick Jahja:
Apapun hasilnya, opini mah bisa dibentuk sampe kesannya menang huehehe. Data aja bisa "bohong" kan?

Budi Aksana:
Soal data, jika ada yg kompeten di bidangnya, sbnrnya sangat menarik utk dibicarakan. Semua adik kandung saya adalah dokter, dan mereka sering curhat kondisi di lapangan__minimal di lokasi mereka bekerja.
Intinya : miris, kl bicara tentang pelaksanaan di lapangan (yg berujung pd data).

Budi Aksana:
Kalau saya memilih untuk tetap menggunakan hak saya untuk mengkritisi sesuatu yang tidak berjalan sesuai prosedur.
Sepintas permakluman itu seperti sebuah pelarian sikap yang memang sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi untuk memperbaiki keadaan__sebuah isyarat untuk "diam" dengan "dibalut kebijaksanaan" pemikiran, argumen & berkaca pada situasi yang ada.

Dan menurut saya, yang diem saja di rumah belum tentu banyak duit, yang di jalan2 juga belum tentu bener2 all-out cari duit. Tidak ada yang bisa tau 100%. Kita ga bisa tau persis kondisi orang lain selain kondisi kita sendiri. Kalau udah begini sih tinggal berusaha menjaga diri & keluarga masing-masing saja agar tetap sehat dan produktif dimanapun dan bagaimanapun caranya__terlepas dari aturan apapun yang ada.

Rheza Rivana:
Dari dulu cak alif emang udah anggap remeh covid19. Bilang indonesia gak bakal kena karena berkat doa kyai lah. Atau Allah gak bakal ngasih corona karena Allah gak bakal menambah kesulitan di atas bangsa yg mengalami kesulitan.

Budi Aksana:
Saya pribadi tidak bisa tau pasti pemikiran Cak Alif bagaimana.

Tapi yang jelas, kita memiliki peran sesuai porsi masing2. Saya & keluarga sangat taat aturan dr awal soal physical distancing dll, lalu ada PSBB dst, dengan harapan agar kasus Covid-19 menurun dan segera bs beraktivitas normal kembali DENGAN MINIMUM RISIKO tertular atau menulari, berharap PSBB dan segala aturan lainnya membawa hasil signifikan.
Itulah peran kami dan sedang kami lakukan hingga hari ini. Fyi, tidak sedikit juga yg hrs kami "korbankan" scr ekonomi demi menaati aturan2 itu.
Orang yg berusaha taat aturan itu bukan berarti ga butuh duit, atau duitnya ga berseri. Semua jg berusaha survive dg cara masing2.

Okelah, Covid ga akan hilang...tp at least risikonya harus bs dibuat minimal dg adanya program & aturan2 itu (kita blm bicara soal surveillance, kesiapan nakes & alkes dll) hingga vaksin ditemukan. Negara lain udh ada yg berhasil tuh....

Kita menjalankan peran sesuai kapasitas yg kita mampu. Saya hanya berharap utk orang lain yang mungkin memiliki kapasitas peran lebih besar (misal : regulator/pemegang kebijakan publik atau bahkan opinion leader) bisa melakukan sesuatu yg jauh lebih impactful.

Namun di saat kami yg berusaha taat ini berharap demikian, eh ada "permakluman" (??).
Permakluman bagi saya = menyemai risiko.
Lantas apa gunanya aturan2 kmrn itu? Yg suka tidak suka menghambat semuanya, tp wajib kita jalani? Atau mungkin sikap permakluman adalah "impact" yg ingin dicapai oleh penulis lewat artikel ini? Atau ini hanya sekedar pengen cerita2 ringan saja?

ErikaErika:
Pemakluman adalah perpaduan antara "Tahu dan Paham". Seperti yang Mas Alif tulis di atas, Mas Alif tahu bahwa corona berbahaya, tahu bahwa Madura termasuk zona merah ada beberapa orang yang positif corona, dan menghadapi lebaran, karena budaya dan kebiasaan, Mas Alif juga paham, mengapa sikap masyarakat Madura yang menengah bawah lebih mementingkan berlebaran ketibang mengedepankan keselamatan.

Jadi, ketika kita sudah bisa memaklumi satu keadaan, maka akan melahirkan kepasrahan atas resiko dari memaklumi sebuah keadaan. Dan betul, bagi kalangan yang "tahu tapi tidak paham", hanya bisa menonton dan mendo'akan, semoga warga Madura semua selamat dari permainan "Rollet Rusia".

Rheza Rivana:
Sudah dari dulu cak alif anggap remeh covid19. Jadi si pakar titik titik ini dulu bilang Indonesia gak bakal kena corona karena doa kyai atau Allah gak mungkin ngasih kesulitan ketika indonesia gak mampu mengatasi covid19. Dan akhirnya kita lihat character development-nya si cak alif, dulu koar koar optimisme yg berlebihan, sekarang pasrah karena provinsinya kini punya angka tingkat penularan yg tinggi.

FAUZi:
>> Saya berharap dan meyakini tak akan ada lonjakan kasus. Tak akan ada penumpukan pasien dan sebagainya. >>>

semoga harapannya terkabul

firman proindo:
Besok ada gak pasien yg positif di jatim ? Kira2 aja deh ?

Dinar Ayu Anindita:
Aamiin

yarafara:
mari sama2 kita menunggu 14 hari lagi........ biasanya tebakan/analisa cak alif selalu tokcer.

Rheza Rivana:
Percaya aja ama analisanya si pakar titik titik. Wkwkwkwkwk

ErikaErika:
kali ini mening ga tokcer... kasian warga soalnya

firman proindo:
Kan sudah dijamin dapet surga oleh ulama, biar gak takut kena covid 19 ????

Dinar Ayu Anindita:
Betul mbk Erika..
Sebagai emak emak was was ketika anak anak.kembali ke sekolah di tengah pandemi covid..
Karena bulan Juni Juli mulai masuk tahun ajaran baru..

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Bila Covid Seseram Yang Diberitakan, Ribuan Desa Bisa Lumpuh yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/bila-covid-seseram-yang-diberitakan-ribuan-desa-kfSET6UhzN

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: