You Now Here »

Ngustad Oh Ngustad  (Read 155 times - 105 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,084
  • Poin: 23.161
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Ngustad Oh Ngustad
« on: June 07, 2020, 08:49:46 PM »




Onta Punuk dua:
saya sangat setuju
SELURUH PEMUKA AGAMA menjadi OBJEK PAJAK dan HARUS DI AUDIT!
trmsk dr golongan kami KRISTEN
pendeta jg hrs DIAUDIT keuangan gerejanya dan pendeta jg dimasukkan OBJEK pajak!

Popeye:
Semua agama ujung2 uang tanpa uang apakah agama berjalan? Tanpa uang apakah ada pemimpin agama dan pengurus? Tidak terbantahkan... selama covid19 ini saja walau ibadah dan dakwah lewat virtual sumbangan diminta jalan terus sumbangan via transfer atau scan barcode.
Namun semua itu ada timbal balik bagi yg tetap berpegang.
Jika seseorang tanpa beragama tapi dia percaya akan adanya Allah dan selalu berbuat baik bahkan melebihi kebaikan orang yang beragama, apakah disebut kafir? Atau apapun sebutannya...?
Hanya Allah dan dirinya saja yg tahu.

Onta Punuk dua:
pemuka agama berhak menerima uang dr jemaat namun semua harus di audit dan dikenakan pajak! enk aj ngembat persembahan ampe perut buncit tp bayar pajak kagak

Han:
Banyak orang suka mengata2i orang lain kafir, tak beriman, sesat, dll karena sebetulnya mereka ini malas untuk berbuat kebaikan. Dengan menganut aliran agama tertentu, tanpa harus berbuat apa2 dianggapnya mereka sudah jauh lebih baik dibanding orang lain.

Santai Saja:
Bung daeng, anda beropini, saya juga beropini.

Jualan agama (apapun agamanya) yg paling utama adl: manusia tidak akan selamat tanpa beragama, manusia hanya bisa mengenal Tuhan hanya melalui Agama.

Ttp sejatinya, dengan menjadi pengikut ajaran agama Islam atau Kristen, manusia "dipaksa" berkenalan dg konsep dosa dg segala ceritanya, lalu konsep Surga dan Neraka. Dimana dosa dan pahala selama di dunia akan ditimbang untuk mengukur siapa yg masuk surga atau neraka.

Jadi, jika saya lahir di daerah yg tidak kenal agama Islam atau Kristen, maka saya tidak akan dipaksa sejak bayi untuk beragama Islam atau Kristen. Lalu saya pun tidak akan mengenal segala cerita ttg dosa, sorga dan neraka. Apakah saya tidak bisa hidup normal spt orang2 yg beragama? Jawabannya adl sangatlah bisa, dan saya akan menjadi orang yg bahagia krn tidak ditakut2i oleh konsep dosa, dan saya pun tidak akan khawatir jika masuk neraka krn saya tidak kenal konsep itu.

Han:
Saya ada kenalan orang bule yang tidak beragama bahkan tidak percaya adanya Tuhan. Namun perbuatannya sangat baik bahkan lebih baik dibanding banyak orang yang mengaku beragama. Menariknya, dia tak ada ikatan untuk membantu orang yang seagama seperti yang diajarkan di agama2 yang anda sebut diatas. Jadi dia punya kebebasan untuk membantu siapa saja yang paling membutuhkan terlepas apa agama orang tsb.

Indri Giber:
IMHO, berbuat baik harusnya memang bukan karena mengharapkan pahala/surga, tapi krn that's the right thing to do. Tidak berbuat jahat bukan karena takut dosa/neraka, tapi because it's wrong</I>. Kita terlahir dengan genetic predisposition untuk bertindak altruistic</I>, karena kita adalah social primate. Individual yg punya altruistic genetic predisposition lebih sukses dalam passing their genes.

So, IMHO, dalam pertumbuhannya tidak mencemari anak2 dengan fear of punishment (dosa/neraka) dan striving for reward (pahala/surga) instead of pure and genuine humanity, adalah sangat bijaksana dan sehat buat perkembangan mental anak. Biarkan (and guide) mereka dalam mencari kebenaran. Kelak kalau mereka sudah dewasa dan bertanggung jawab, mereka bisa mengambil keputusan. Don't make the decision for them.

Han:
Saya suka tersenyum dalam hati saat ada yang bilang ia melakukan hal tertentu karena takut akan tuhan.

"Don't make the decision for them."
I like this! Kalau kita selalu memutuskan segala sesuatunya untuk anak, jangan salahkan kalau nanti setelah mereka dewasa bahkan berkeluarga apa2 masih balik ke kita. Saya melihat banyak contoh seperti ini di lingkungan sekitar. Mirisnya ada yang dengan sadar melakukan itu supaya bisa mengendalikan anak.

Indri Giber:
Anak adalah manusia seutuhnya, yang kelak harus bertanggung jawab thd diri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Kita harusnya respek mereka seperti kita respek orang lain. Tanggung jawab ortu adalah membantu mereka mempersiapkan diri untuk 'tugas berat' itu, and LET GO.

Mereka bukan retirement plan, atau bahkan insurance policy.

Han:
Mereka bukan retirement plan, atau bahkan insurance policy.

Hahahaha I like that statement.

Santai Saja:
Benar, teman2 saya dr seluruh dunia campur aduk. Beragama maupun tidak, Yahudi maupun ras lain.
Tidak ada bukti mutlak bhw orang beragama lebih baik drpd orang tidak beragama. Ttp bukti mutlak nya justru orang beragama memiliki sekat dg orang yg berbeda agama.
Beragama belum tentu mengenal Tuhan, orang tidak beragama belum tentu tidak mengenal Tuhan.

Jika beragama menjadikan manusia mutlak lebih baik drpd manusia tidak beragama, buktikan saja. Kalau gak bisa membuktikan, jangan klaim bhw beragama membuat manusia menjadi lebih baik. Manusia menjadi baik atau tidak adl bawaan lahir, bukan krn agamanya

Han:
"Beragama belum tentu mengenal Tuhan, orang tidak beragama belum tentu tidak mengenal Tuhan."
Sepakat dengan ini sob.

Santai Saja:
Menjadikan seorang bayi beragama seperti orang tuanya adalah kejahatan HAM paling hakiki. Saya pun melakukan nya ke anak2 saya. Itu karena tuntutan sosial bhw seseorang harus beragama. Ttp ketika anak2 saya dewasa, akan saya bebaskan mereka untuk memilih apakah akan tetap beragama spt saya, pindah agama atau bahkan tidak beragama lagi. Itu hak mendasar manusia.

Sama spt ujaran agung Din Samsuddin bhw Tuhan memberi kebebasan manusia untuk beriman atau tidak (tp hanya kata2 di mulut belaka, tanpa mengenal makna nya).

Han:
Anak2 saya juga saya didik seperti itu. Yang kecil masih ikut agama keluarga kami karena dekat sama mamanya dan juga pengaruh tempat sekolahnya. Yang besar lebih independen dan free thinking bahkan pernah mencari tahu ttg agama lain.

Fsasosi:
Pantesan aja umat nya makin bodoh dan liar... pemuka agame nya cuma nyari pemasukan dan memasukan...

Santai Saja:
Karena di masa depan, konflik antar agama akan menjadi salah satu problem dunia yg paling sukar untuk dipecahkan. Terutama antara pemeluk agama2 Salawi.

Myanmar mulai ketakutan dg agama Islam mengambil contoh Majapahit dg Demak. Atau jatuhnya kerajaan2 Hindu Budha di Indonesia dan menjadi kerajaan Islam, shg Islam menjadi agama mayoritas. Di saat Kristenisasi sdh tidak ada, Hinduisasi, Budhaisasi atau apapun alasan nya mengubah suatu negara menjadi beragama tertentu dg menguasai negaranya sdh menjadi masa lalu, dimana saat ini semua orang bersaing di teknologi dan bisnis. Ttp Islamisasi masih menjadi jargon yg terus digaungkan, khilafah, negara Islam yg diwakili ISIS mau gak mau menjadi corong bhw satu2nya agama yg masih menganut paham lama adl agama Islam. Krn itu orang2 Budha Myanmar bertindak mengusir Rohingya yg beragama Islam. Dimana sebelum ISIS muncul, situasi Rohingnya tidak lah separah sekarang. Ditambah lagi setiap ada maslaah dg penduduk muslim di negara lain, contoh Uighur di China, berbondong2 umat Islam dr negara2 lain minimal akan demo demi persaudaraan Muslim. Hal ini tidak terjadi di komunitas agama lain.

Ditambah terorisme sebagian besar berasal dr negara2 Islam, dg bekal ajaran jihad yg masih diajarkan sampai saat ini. Plus ajaran mengkafirkan orang. Semua itu mau gak mau membuat Islamphobia meningkat. Siapa yg menjadi korban: umat muslim yg tidak terkait dg semua politik.

Han:
Kalau melihat sejarah, politisasi dalam dunia Islam sudah terjadi sejak kalifah pertama (Abu Bakar) berkuasa. dilanjut dengan First Fitna, Second Fitna, dst. Kalo liat sejarah lahirnya kelompok Hashashin (bisa dicari di Youtube) - asal mula kata assassin, agak puyeng ngikuti siapa mengkhianati siapa. Fenomena intrik politik seperti ini sebenarnya terjadi di mana2: China, Eropa, dll tak hanya di dunia Islam saja. Hanya perbedaannya disini agama digunakan sebagai alat legitimasi politik untuk menjatuhkan lawannya.

Han:
Masalah Rohingya ini mirip seperti Uighur, inti permasalahannya sebetulnya bukan karena pertentangan agama. Saya punya teman orang Myanmar dan pernah datang kesana. Mereka sebetulnya tidak anti Islam. Di Yangon, mesjid dan gereja ada berdekatan dengan kuil Buddha yang merupakan agama mayoritas disana. Mereka santai2 saja. Juga di kota lain (lupa namanya) ada perkampungan yang isinya banyak orang2 muslim. Mereka semua hidup berdampingan dengan damai.

Namun sikap mereka terhadap Rohingya berbeda karena menyangkut wilayah. Saat Inggris menguasai India (termasuk Bangladesh di dalamnya), mereka mendatangkan buruh2 dari Bangladesh ke wilayah Rohingya sekarang. Akibatnya jumlah mereka jadi meningkat drastis dari sebelumnya.

Sikap Myanmar yang tidak mau mengakui orang Rohingya sebagai warganya namun juga tak mau memberikan otonomi karena bersikukuh dengan masa lalu sebelum Inggris datang menurut saya tidak bijak juga. Demikian pula Ingris yang sekarang cuci tangan dan ikut menyalahkan Myanmar. Sementara keadaan disana diperparah dengan adanya campur tangan pihak2 luar (termasuk ISIS) yang memanas2i Rohingya (mirip seperti Uighur). Akibatnya keadaan jadi makin ruwet.

Santai Saja:
Pdhl ISIS dan kelompok Islam di Indonesia bukanlah membela Uighur maupun Rohingya. Mereka hanya menjual kasus itu demi kepentingan ISIS dan kelompoknya.

Persaudaraan Sesama Umat Islam hanya dimulut saja. Buktinya TKW dan TKI kita di Arab sana dijadikan budak. Atau lihatlah begitu banyak kemiskinan di Indonesia, umat Muslim Indonesia, apakah ada orang2 sesama Islam membantu.

Han:
Sama seperti Palestina. Negara2 Arab kaya menggunakannya sebagai alat saja tapi ga serius memperjuangkan kemerdekaannya. Sementara diam2 lebih milih berhubungan dengan Israel.

"Atau lihatlah begitu banyak kemiskinan di Indonesia, umat Muslim Indonesia, apakah ada orang2 sesama Islam membantu."
Ada banyak kok sob... dengan mempoligami anak gadisnya sehingga derajat keluarga mereka meningkat.

Santai Saja:
Saya rasa di Seword akan muncul forum agama. Suatu saat akan ada diskusi antara yg beragama dan tidak beragama, maupun antar agama. Apakah Seword mampu menjadi wadahnya

giri ikhsani:
sampeyan buka lapak tukang obat saja atau tukang ramal.

Santai Saja:
Hahahaha gak sanggup beropini

Han:
Bisnis bertopeng agama

Santai Saja:
Persis. Tepatnya: Agama adl bisnis

Popeye:
Punya mobil mewah seorang ustad koar2 kebenaran tapi pelanggar HUKUM. Nopol mobilnya saja sudah aalah penempatan... MUNAFIK jadinya.
Enak ya jadi ustad2 kadrun...kaya kaya dan mewah2 barangnya sedang dibawah..  umatnya sebagian hidup ngepas... oooh dunia... ??? ?????

Han:
Ga cuma ustad2 saja sebetulnya. Di agama2 lain juga banyak fenomena seperti itu.

Santai Saja:
Terutama Kristen yg beraliran Phrosperity Church. Bhw pengikut nya adl anak aja, krn Tuhan adl Raja Yg Maha Kuasa, jika pengikutnya anak raja, berarti haruslah kaya raya. Jika ada pengikut yg miskin berarti belum memperoleh berkat dr Tuhan. Spy semakin banyak berkat dr Tuhan maka pengikutnya harus rajin memberikan Perpuluhan shg Tuhan akan membalas nya berlipat2 shg menjadi kaya. Padahal uang Perpuluhan ya berhenti di tangan pendeta nya.

Kondisi Gereja Kristen hampir semua spt ini. Umat nya diwajibkan Perpuluhan (setiap bulan jika gajian), sementara agama Islam 2,5% tp setiap tahun, sedangkan Katholik terserah kepada umat nya. Siapa yg paling "mempermainkan materi" dlm ajaran agamanya, saya yakini itu bukanlah agama yg benar. Aturan yg bersifat materialistis spt perpuluhan adl berasal dr manusia.
Injil menceritakan Yesus berkata: berikan kepada Raja mu apa yg wajib diberikan kepada rajamu (uang koin, materi), dan berikan apa yg wajib kamu berikan kepada Tuhanmu. Tuhan tidak pernah membutuhkan materi. Ayat Perpuluhan itu sifatnya materialistik, itu yg dimodifikasi dan dimanipulasi sedemikian rupa oleh gereja Kristen. Sebuah bisnis yg omsetnya sangat besar

Han:
Dulu saya pernah masuk gereja seperti itu diajakin teman. Di depan saya semua uang yang ada di dalam dompet dikasih semua. Ada pula yang ngelepas gelang sambil menangis terharu. Saya sendiri karena duit di dompet ada 20 ribu ya saya kasih aja 2000 itung2 untuk biaya listrik AC dan tempat duduk.

Santai Saja:
Rasanya kita bisa temu darat suatu saat bung Han

Santai Saja:
Saya masih menghargai Pastor, Biksu, dan Pendeta Hindu, mereka semua sanggup meninggalkan materi dan kehidupan duniawi.

Dibanding pendeta Kristen maupun ustad yg kaya raya, punya mobil mewah, harta berlimpah, bhk ada yg menjadi politikus. Profesi yg paling mudah di dunia, jual ayat yg gak boleh dibantah oleh umatnya, yg jika membantah akan dianggap murtad.

Saya sendiri heran dg pengikut Kristen Protestan yg betapa mudahnya memberikan Perpuluhan pdhl itu murni materi. Krn itu setiap gereja kristen berlomba2 mencari pengikut dan agresif melakukan pelayanan (katanya demi kemuliaan Tuhan, pdhl Tuhan tetap mulia tanpa ada orang beragama sekalipun). Pdhl yg menikmati uang Perpuluhan adl Pendeta2 nya. Bukan pula orang yg melakukan pelayanan. Kasihan sekali melihat betapa orang bisa memanipulasi orang dg cara spt itu.
Pendeta GL jualan nya adl Iblis/Setan, seolah2 Tuhan memiliki musuh dan "takut"  kepada musuhnya. Dan ribuan tahun berlangsung, Tuhan tidak pernah menang melawan "musuhnya".

Han:
Memang. Padahal banyak diantara mereka kaya raya, berpendidikan tinggi bahkan sekolah di luar negeri. Tapi kalo udah nyangkut tentang agama, logika berpikirnya ga jalan sama sekali. Sama saja seperti kadrun.

Parlindungan Panggabean:
Lha wong ke arena sabung (maaf, olahraga) ayam aja dia lengkap berjubah dan bersorban, bertasbih serta ikut taruhan besar. Lawannya harus kalah kalau nggak mau diteriakin kafeer..

Wanda Bagus Sebastian:
Gak heran mau ngustadz gak gampang. Soalnya dia harus pelajari agama yang benar supaya tidak menyesatkan. Kalau beginian, siapa yang mau? ????

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Ngustad Oh Ngustad yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/ngustad-oh-ngustad-xiQgFXXSnh

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: