You Now Here »

Elit Pesta Triliunan, Rakyat Masih Diminta ‘Sumbangan’  (Read 144 times - 77 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,402
  • Poin: 23.479
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Elit Pesta Triliunan, Rakyat Masih Diminta ‘Sumbangan’
« on: June 24, 2020, 04:15:05 PM »




Yosef Kurniawan:
Nah kalau artikel ini saya setuju. Elit-elit negara kita memang sudah terlatih untuk hidup demi diri mereka sendiri. Sekecil apapun peluang, akan dipakai untuk memperkaya diri mereka. Herankah kita kenapa sangat sedikit orang yang ingin menjadi pengusaha dan memilih menjadi PNS? Ketika sudah masuk pemerintahan, menghasilkan uang itu mudah sekali, jauh dibanding pengusaha yang masih harus memikirkan iuran-iuran ghoib yang diminta. Negara ini memang sangat tidak berpihak kepada pengusaha. Negara hanya bisa maju jika pemerintahannya benar atau sangat mendukung kegiatan pengusaha. Jika elit tetap bertindak masa bodoh, negara kita tetap akan menjadi negara lemah yang hanya bisa mengonsumsi, tidak bisa memproduksi. Dan jangan salah, para pengusaha yang muak berbisnis di Indonesia, bisa saja pindah ke negara tetangga. Jangan salahkan mereka jika mereka membawa uang keluar dari Indonesia ke negara lain yang lebih kondusif dan bersahabat bagi mereka.

Indri Giber:
Gak hanya di negara berkembang kaum elit berkuasa. Di negara maju sama aja kok. Mengapa? Karena sistemnya kadang memang di-desain untuk menguntungkan yg 'kuat'. Mungkin bedanya di negara2 maju para elit ini tidak terlihat berkecimpung 'langsung' di pemerintahan atau politik, mereka hanya bergerak dibelakang layar, dibalik 'pintu tertutup'. Di negara kita para elit di pemerintahan étau politik lebih 'buka-bukaan' kalo punya 'bisnis sampingan', misalnya sawit, minerba (batubara, migas, dkk), konsesi hutan, dll.

IMHO, sistemnya yg harus diperbaiki. Tapi setiap ada upaya perbaikan UU pasti banyak yang 'ngerecoki', karena banyak pihak yg mau mempertahankan status quo.

jeremy edy d:
Sabar pak..
Minum air putih dulu biar tenang.
Yg memiliki jutaan hektar hph
Yg memiliki ratusan tambang
Yg sekarang berada disimpul simpul kekuasaan.
Kalau nggak salah itu Pengusaha semua.

Han:
Pengusaha yang dekat dengan penguasa. Bukan pengusaha yang biasa2 saja.

firman proindo:
Apakah itu termasuk Wowo,sandi uno,jusuf kalla,tommy Suharto?

Barkah Adi:
Nggak jauh² dari mereka!

andre:
brgkali yg menyampaikan sblm cak sdh byk deh.. hanya di sini mnjadi bias.. kritikan seolah2 jebakan dr oposisi kadrun dls.. di semua bencana akan ada bancakan.. smua sdh paham itu cak. nah sleanjutnya mau gmn?? cak dekat dg ring 1, tolong bantu kami.

Budi Aksana:
Setuju. Banyak sebenarnya hal2 yang patut dikritisi dari kebijakan pemerintah selama masa pandemi.
Namun acapkali oleh sebagian orang para pengkritik itu langsung dicap kadrun.

Dar:
Gas... Yang harga masker medis menjulang tinggi saja belum.ada tindakan, apalagi rapid Test yg dikomersilkan.pemerinrah pusat, pemerintah daerah mestinya berani mengambil tindakan tegas. Agar praktek2 seperti ini tidak terjadi lagi. Mesti buat payung hukum tentang kenaikan harga yang tidak masuk akal. Yang terlibat diciduk. Apa masalahnya ada benang ruwet disana?

Marzel:
Mau ambil tindakan gimana, justru mereka2 sendiri yg turut bermain ... Maka jangan sampe kena Covid19...karena klo kena, bukan hanyaengancam nyawa, tapi udah jelas ente bakalan kena peras berkali-kali mulai dari rapid test, swab test, biaya RS

doodleramen:
Nah ini tulisan yg mantap...berani menyorot langsung ke pokok masalahnya. Ngga muter2 keliling kota dulu. Keep it up, buddy! Yg kerjanya gak beres itu harus digampar lewat tulisan seperti ini.

harriz salim:
Kalo perlu gampsr beneran...itupun kalo ada yg berani

Ruddy Kurniawan Gymkhana:
Coba di share tulisan ini, boleh kah? rasanya kok sama dengan pemikiran saya selama ini jika covid-19 sudah jadi ajang bancakan para pembuat kebijakan.
Sementara kami rakyat kecil tetap disuruh bayar ini itu tanpa tujuan jelas hanya sekedar untuk bepergian, asu tenan.

Nawadi Zheng:
Negeriku tercinta ??? ??? ??? ???

Dedi Setiadi:
Mengapa harus rapid test dulu?
Katakanlah misalkan (A) harga rapid test Rp 2, (B) harga PCR Rp 5, (C) jumlah subyek test 1000, (D) prosentase reaktif 10%.

1. Jika rapid test dulu baru PCR
(E) Cost Rapid Test = (A) X (C) = 2 X 1000 = 2000
(F) Cost PCR setelah Rapid Test = (C) X (D) X (B) = 1000 X 10% X 5 = 500
(G) Total Biaya = (E) + (F) = 2000 + 500 = 2500

2. Jika langsung PCR
(H) Total Biaya = (B) X (C) = 5 X 1000 = 5000

Andy Wijaya:
Cerita beginian tdk akan.ada habisnya, tdk akan ada ujungnya  selagi tidak ada Hukuman Mati utk para Koruptor, apakah negeri ini tidak ada lagi orang yg lebih pintar dari para penjarah penjarah jahanam itu? 900 Triliun , luar biasa nilainya

Barbarian King:
Klo ga kuat liat duit sekoper jgn jdi pejabatt..!!! Disini mental/iman yg bermain.  Bukan org pinter atau profesional thok. Pinter plus plus plus anti sogokan. Jdi seberapa tebel iman mu wahai pejabat...?? Trus niat, niatnya mo ngabdi bwt rakyat ato mo ngegarong duit rakyat..? Wkkk...

jancuk:
stlh baca ini saya jd pingin tahu solusi dan implementasinya seperti apa..
mksdnya, bgmn menciduk mafia covid ini, sdgkan mrk sepertinya gak takut sanksi hukum yg berat itu?
soliditas dan keberanian pemerintah sdg diuji..

Han:
Mereka gak takut karena ga pernah ada yang kena sanksi.

HARIARA:
Negeri ini kan bukan negeri dengan orientasi uang untuk kesejahteraan bersama. "Uang negara ini, kok, kalau bisa buat saya, ngapain dikasih orang", begitu kira-kira slogannya yang diperparah dengan politik identitas.

TMP2020:
Ohh...indahnya negri tercinta ini, sangat cocok sekali sbg habitat utk berkembang biak dg nyaman dan aman bagi para Pemburu Rente dan Pencoleng Politik Kekuasaan serta Kaum Pengguna dan Penikmat SARA...

Jay:
Mafia bergentayangan....tanpa bayangan

Kampret212:
mumpung ada kesempatan. kapan lagi.

Kolik2000:
Ayo kawan, kita lawan
Ayo sobat, kita sikat
.......

jeremy edy d:
Jangan lah.. kawan.
Kasihan lho presiden aja nggak tahu kok.

Opini Tadeus:
Sebelum ngelu duluan...

Roedy Siswanto:
Mantaaap cak ...

Taulada Wiku:
Duit...duitt...duitt gak jauh2 dari itu

Hendra Sulindra:
apakah negara2 lain jg melakukan hal yg sama tiap penumpang KA dan pesawat diwajibkan melakukan  rapid tes dengan biaya Rp. 400.000.- $ 25-30 klu tidak ini sangat memalukan

C Jon:
Dari pemerintahan Sukarno sampai Jokowi, elite di Jakarta ini yg selalu menghisap kekayaan negeri ini. Makanya mereka berisik tiap kali Pakde bikin kebijakan yg membatasi tingkah mereka. Mudah2an nyali pakde tidak menciut menghadapi mereka. Juga pak LBP harus kencang menghadapi ulah kaum elite yg segelintir tapi bikin susah rakyat.

Abdi Nuswantoro:
Kesimpulannya "pemerintah dikalahkan mafia"

Josh:
Saya bsk ada perjalanan ke luar kota dengan trasnportasi udara, dan hari ini sy mengikuti aturan yang berlaku yaitu  rapid test (berlaku hanya 3 hari), dan biaya yang saya keluarkan Rp 400.000,- (tanpa kwitansi) Check RT  tidak sampai 5 menit. Cukup sedih memang melihat begitu besar biaya, dan alangkah teganya juga orang 2 yang bermain dengan peristiwa ini. Business is business, tapi ada etika bisnislah.

firman proindo:
masa cuma rapid aja? bukannya ada aturan harus ada hasil negatif dari tes pcr selain rapid tes?

Leo Nardo:
Ini bukan alkisah baru. Biar kata jaman semakin maju kata orang tapi mentalitas ya gitu gitu aja. Tidak ada perubahan, tidak ada pembaharuan. Sudah takdir Indonesia memang harus begitu. Unik kan?

Donny Rahardian:
Sebenarnya wajib rapid test untuk transportasi orang berlaku hanya saat pelarangan mudik, di saat new normal sudah bebas kecuali daerah yg msh PSBB.


Bantuan untuk UMKM simplenya " Hanya " diberikan untuk UMKM yang mempunyai pinjaman modal di Bank, dari keringanan bunga tunggakan, bebas PPH dsb,



Bantuan untuk  sektor Pariwisata " Ditunda " dikucurkan pada masa recovery new normal.


Anggaran Covid bukan hanya untuk para Medis tetapi juga untuk biaya operasional semua elemen instansi pemerintah yg terkait terutama aparat,



untuk pengamanan demo 411 dan 212 yg lalu saja butuh 300 milyar, apalagi untuk covid19 berapa personel dan instansi yg diturunkan selama 3 bln berturut turut, itulah foto mahalnya biaya operasional pemerintah Indonesia.


Pada akhirnya semua anggaran dan bantuan itu mungkin tidak akan turun seluruhnya, Pusat sepertinya lebih memilih " New Normal " atau Normalisasi secepat mungkin.


Dan bantuan untuk sektor Usaha dikucurkan pada saat Revovery di masa New Normal.

ivanhoo:
para pembantu jokowi org2 terbaik, tp kok loyo

Mochamad Edy:
Kalo sudah begini wewenang siapa u merubahnya....apa harus ada DPR on the Street lagi?

Han:
Ada kenalan yang menutup pabriknya karena kesal dengan pungli dari oknum pejabat serta teror preman yang terus menggerogoti keuangan. Belum lagi dengan ulah buruh2 yang non produktif. Akibatnya seringkali deadline produksi terlambat lalu kena denda dari pembelinya. Belakangan dia buka pabrik di China dan lalu nambah di Vietnam.

Abyudaya Dakara:
Permainan nya mirip sandiwara jg nih,,,,,
dgn perasaan iba dan berempati,,, sepertinya utk rakyat banyak,,,
Tujuan akan dicapai setelah rakyat banyak itu dibohongi dgn alasan birokrasi.
Kong kalikong antara suplayer dan oknum pemerintah pasti bukan dibawah meja lagi.
Sementaara pemerintah yg nanggung kebocoran demi kebocoran .
Nyata sudah,,,, boborok nian,,,,  orang yg menari nari di penderitaan Rakyat.

Leo Nardo:
Coba tanyakan pada dia yang pandai bicara "bocor bocor bocor". Pasti dia paling paham soal itu.

Anti Prakerja:
Setelah owner seword membuka sendiri realita yg ada, mungkin ada baiknya buka buku Siti Fadilah Supari. Agar kita bisa belajar dari masa lalu. Agar kita tahu makna sebenarnya dari perkataan beliau,"Selesaikan masalah pandemi dengan politik".

Tony Gede:
Bakat penggede2 Indonesia... Kebijakan baik apapun selalu bisa diselewengkan bt proyek bancakan berjamaah.

KPK sama Kejaksaan musti nguber bajingan2 ini.  Lantas tuntut hukuman mati karena korupsi di tengah bencana.

Indri Giber:
UU Covid-19 berpotensi 'melindungi' pejabat dalam mengambil kebijakan, btw ;-)

Tony Gede:
Yg awalnya dimaksudkan sbg prosedur kedaruratan, ujung2nya berpotensi jdi bemper, supaya bsa korupsi tanpa takut disalahin.  Dngn alasan kedaruratam? ???

John arthur:
Perlu ketegasan dlm reformasi mental. Harusnya diaplikasikan saja sprrti  metode penanganan wabah. Klo tidak bisa diselamatkan (merubah mental korup), dieliminasi saja

Arumanis:
wah?alat rapid 50k?tp kudu bayar 400k?wah..untung gede...

firman proindo:
Masa 50 ribuan ? Ada screenshot buktinya?

Tony Gede:
Klo mau tau harga beginian, tanya om Roedy Siswanto.  Dia pebisnis alkes juga, jdi tau harga pasaran.

Tuh orgnya ikutan komentar dsini.  Jg penulis Seword pula? ???

.:M:.:
Pertanyaannya, apakah elit di Indonesia ini terafiliasi dengan club 1% dunia itu, mendulang kekayaan di tengah pandemi 2020?

Hehehe...su'udzon sih, tapi dulu itu salah satu alasan pilih 01..

Dar:
Menurutku masalahnya bukan 01 atau 02.. ada sekelompok orang yg akan memakai siapapun yg jadi pemimpin untuk melanggengkan model bisnis seperti itu.
Toh kalau misalkan kita beli barang dengan harga yang tidak masuk akal tidak bisa menuntut penjual. Sepertinya tidak ada UU yang mengcover tersebut. Hukum pasar (hukum rimba/ capital) jadinya yang berlaku.
Tantangan buat pemangku kebijakan termasuk yg mulia para anggota dewan yang mewakili masyarakat. ????

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Elit Pesta Triliunan, Rakyat Masih Diminta ‘Sumbangan’ yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/elit-pesta-triliunan-rakyat-masih-diminta-T9CrxSCVaA

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: