You Now Here »

Nasib Kaum Pekerja Di Indonesia Selamanya Jadi Onderdil?  (Read 183 times - 116 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,546
  • Poin: 23.624
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Nasib Kaum Pekerja Di Indonesia Selamanya Jadi Onderdil?
« on: July 03, 2020, 04:33:19 PM »




Deedee:
Stand strong stand proud as a working class? ??? ????

Tony Gede:
Dan dengan koperasi pekerja, para pekerja bisa jadi pemilik perusahaan juga.

Dan koperasi pekerja bisa menggaji tenaga pemasaran, manajer, dan bahkan CEO.

Kalau mereka2 ini ga bagus kerjanya, bisa dipecat oleh para pekerja.

Bahkan termasuk CEOnya, bsa dipecat sama pekerja? ??? ??? ?????

Simon Kwan:
ya memang begitu. Di semua negara juga begitu.

Bocah Kantor:
Mungkin kekurangannya ada pada masalah kejujuran dan kepandaian mungkin bung. Orang Indo kan agak gimana gitu ya kalau soal kejujuran dan kepandaian. Permulaan sih mungkin OK sama-sama punya hati dan pikiran lurus untuk menaikkan taraf hidup bersama. Tapi mungkin orang-orang yang bergabung di koperasi sering kekurangan dalam merekrut tenaga ahli. Lah tenaga ahli pun jelas pilih peluang yang lebih baik di perusahaan yang bisa kasih gaji besar daripada ikut koperasi. Itu kalau orang-orang yang bergabung di koperasi tergolong orang-orang yang punya niat tapi kurang keahlian.


Kedua kalau koperasinya membesar, pasti ada satu dua orang yang mulai berpikir bahwa koperasi milik pribadi. Mulai pakai uang koperasi kayak uang pribadi, atau mulai berpolitisasi agar koperasi jadi milik pribadi. Ujung-ujungnya pecah kongsi dan tamat. Kalau di Jepang atau negara-negara maju mungkin cara berpikirnya agak beda kali ya. Makanya bisa seperti Zen-Noh dll. Dengan sadar mereka bersatu karena tidak mampu melawan perusahaan-perusahaan besar. Jadi koperasi terus dipertahankan oleh anggotanya dengan segenap hati. Ini hanya sekedar opini pribadi. Tidak bermaksud menyinggung siapapun.

TR Kurniawan:
Kalau pekerjanya Mau bisa saja buat sendiri ... yang penting modal pekerja cukup untuk buat perusahaan

Tony Gede:
Masalahnya, untuk perusahaan perseroan biasa, ada batas jumlah pemegang saham, pak.  Kecuali masuk bursa sebagai perusahaan terbuka.

Kalau koperasi pekerja, jumlah pemilik bisa berapa pun juga.

Tapi kalau memang jumlah pekerjanya masih lebih sedikit dari batas jumlah pemegang saham, ya bisa saja bikin perseroan sendiri.  Masing2 pekerja memegang jumlah saham yang sama.

Lantas dijalankan dengan cara yang demokratis.  Satu orang dihitung satu hak suara (karena jumlah sahamnya equal).

Yang begini juga sudah mirip koperasi pekerja.  Hanya saja bentuk badan usahanya bukan koperasi.  Dan juga, ga bisa nambah jumlah pekerja yang jg jadi pemilik.  Pekerja yang masuk belakangan, kalo nggak dikasih saham, ya jadi karyawan saja.

si memble:
Se7, idenya bagus, tapi rasanya sulit dilakukan di sini.
Sy kasih 2 alasan:
1. Walau tdk diakui namun masih banyak mental feodal di negri ini, contohnya investor di perlakukan bak tuan tanah belanda di zaman kolonial, asal dikasih sedikit kemewahan rela jadi centeng menindas kaumnya sendiri.
Yg di kuatirkan koperasi hanya jadi perpanjangan tangan pemilik modal.
2. Nepotisme.
Berapa orang yg rela berbagi kenikmatan kepada orang yg diluar kelompoknya?

Saran sy, benahi dulu mentalitasnya spt program revolusi mentalnya Jokowi (btw, apa masih ada programnya?)
Seperti di jepang yg mayoritas pekerjanya bekerja di perusahaan yg sama sampe pensiun, atau di china, ada pekerja yg rela dikurangi upahnya agar perusahaan dimana dia bekerja bisa melewati krisis dan berkibar lagi. Loyalitas dan sense of belonging hanya merupakan sebagian dari syarat2 untuk mensejahterakan sebuah perusahaan sekaligus pekerjanya tanpa di paksa dgn uu yg njlimet.
Cuma berharap masih blom terlambat buat kita semua untuk berubah apalagi belakangan banyak yg mengkotak2-an berdasarkan identitas.

Tony Gede:
Koperasi hanya jadi perpanjangan tangan pemilik modal? Gmana caranya???

si memble:
Dgn menempatkan orang sendiri di koperasi atau dgn menyuap petinggi di koperasi dsb.
Seperti centeng zaman kolonial yg lebih belain tuan tanah daripada kaumnya.

Tony Gede:
Hahahaha...

Memang pasti ada skenario seperti itu.

Tapi dalam koperasi, satu orang hanya punya satu hak suara.  Jadi kalaupun ada orang susupan, selama dia tidak berhasil mempengaruhi mayoritas anggota koperasi, tetap saja nggak akan bisa menyetir2 jalannya koperasi.

si memble:
One man one vote memang begitu harusnya, tapi kenapa ada anomali spt pilkada dki? Menentukan pilihan berdasarkan identitas bukannya kualitas dan integritas.
Intinya se7 dgn ide koperasi ini hanya ingin nunjukkan bbrp poin yg menghambat.

Tony Gede:
Hahaha... Setuju2x... Memang banyak hambatan utk perkoperasian kt utk maju.

Dri sisi UU, dan jg dri sisi org2nya? ???

si memble:
Pemerintah sudah on the track dgn BUMDes nya, besar kemungkinannya sistim koperasi ini bisa dimulai dari sana karena lingkupnya relatif kecil dan melibatkan orang yg bertetangga dan saling kenal, tinggal cari investor yg  berminat.
Sy bayangkan misalnya jika ada industri pertanian yg dipasok dr desa, diolah oleh desa, dipasarkan sendiri dan uangnya kembali ke desa. Makin banyak yg berhasil makin banyak desa jadi makmur, terjadi de-urbanisasi, penduduk dan ekonomi terdistribusi lebih rata, serta pastinya ekonomi negara tambah kuat.
Hambatan pasti banyak, tapi jika tdk dimulai dari sekarang, kapan lagi?
Moga2 ini bukan hanya jadi mimpi basah. ????

Tony Gede:
Dan soal investor, yg saya usulkan adalah di mana Bumdes jdi semacam pendana / pemberi pinjaman bagi koperasi desa utk mulai.

Krn salah satu fungsi dana desa adalah utk dijadikan pinjaman utk modal memulai usaha di desa.

Coba lihat tulisan2 saya berikut ini:
- Tiga PR Besar Kita Kalau Mau Memajukan Industri Agro Indonesia...

- Kolaborasi Koperasi dan Korporasi demi Kesejahteraan Rakyat...

- Memberi Pilihan bagi Rakyat Jelata dengan Memajukan Perkoperasian Indonesia

Tony Gede:
Soal bumdes dan koperasi tani desa, sudah sering saya tulis, sob.

Coba lihat artikel2 saya seblumnya mengenai koperasi? ???

Aan Widjaya:
Kasih saham, semua memiliki saham perusahaan.

Tony Gede:
Bisa juga pak.

Ada perusahaan2 di Amrik, saat yg punya udh mau pensiun, melakukan hal yg sama.

Para karyawannya diberikan saham.

Lantas jg walaupun bukan koperasi, tpi perusahaan tsb lanras menerapkan gaya manajemen yg demokratis.  Jdi perseroan rada koperasi.

Hanya memang ini bsa jalan klo jumlah karyawan sedikit.

Kalau jumlah karyawan ratusan, mrk konversi jdi koperasi.

Karena kalau bukan perusahaan perseroan terbuka, ada batas jumlah pemegang saham.

Sedangkan utk koperasi pekerja, jumlah anggota tidak ada batasan maksimal.

Aan Widjaya:
Setuju bingit denganmu mas. Dan menurut sy nggak perlu listing, kalau ada investor mau masuk tinggal dikonversikan saja dapat saham sekian gitu (bisa nggak ya).
Sehingga ke depannya nggak ada lagi yg namanya bursa saham (rada ektrim juga ya) hehe...
Oh ya bagaimana kalau saham perusahaan dibagi tiga, pemilik+Manajemen+Karyawan bawah, dimana "karyawan klas bawah" dalam naungan Koperasi. Dengan demikian tidak diperlukan lagi akan adanya serikat buruh dan dengan sendirinya tidak ada lagi kementrian tenaga kerja ( mengirit apbn) pemerintah makin ramping dan gesit.

Roedy Siswanto:
Ide idenya om Toni soal koperasi selalu mantul ...belum pernah ada orang dari kementrian termasuk mentrinya yang punya ide segila dan se jenius om Toni ...Proud of you om ... ??? ??? ??? ??? ??? ??? ??? ???

Tony Gede:
Ahahahaha... Bsa aja.

Tapi memang koperasi pekerja itu harusnya dari dulu ada di Indonesia

Kenapa ga ada?

Ya alasannya kalau dlm dugaan saya, ya seperti yg sy sebut di tulisan saya ini.

Roedy Siswanto:
Setuju om ...menurut aku memang seperti itu dan kemudian kementrian koperasi hanya pencitraan saja . Sampai sekarang nggak ada satupun menteri yg sadar koperasi .

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Nasib Kaum Pekerja Di Indonesia Selamanya Jadi Onderdil? yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/ekonomi/nasib-kaum-pekerja-di-indonesia-selamanya-jadi-cjeekYAZnK

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: