You Now Here »

Mata Elang Jokowi Tidak Lockdown Indonesia… Singapura Contoh Nyata  (Read 156 times - 87 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,546
  • Poin: 23.624
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Han:
Menurut saya keputusan pemerintah Singapura untuk memberlakukan lockdown ketat adalah tepat meski mengorbankan ekonomi mereka.
Keuangan mereka dibandingkan dengan jumlah penduduk yang cuma 5 juta masih sangat kuat untuk menanggung biaya resesi ekonomi bahkan sampai setahun pun.

Sementara keputusan pemerintah Indonesia untuk tak memberlakukan lockdown juga tepat dengan mempertimbangkan karakteristik Indonesia.
 
Indonesia dan Singapura jelas tak bisa diperbandingkan.

mbahkung:
apapoen
atiku adem
negeri ini
ditangan Jokowi
~~~

DC:
Tentu saja....apalagi jika kita menjumlah semua aset yang sudah lari ke negara tsb beserta bunga investasinya sejak tahun 90an.

Han:
Bukan hanya sejak tahun 90 an tapi bahkan 70 an. Dan dana ga cuman dari Indonesia doang tapi dari negara2 lain juga. Lalu arus barang keluar masuk negara kita banyak yg transit di SG. Begitu juga perush2 MNC besar2. Meski kita punya market besar tapi regional HQ-nya di Singapur.

DC:
Tetap tahun 90an, karena sudah rahasia umum tahun 1989 adalah titik balik semuanya. Tahun 70an hanya sebanding dengan grain of sand dibandingkan berapa aset yang keluar pada tahun 90an.
Yang benar saja, investasi Perus MNC besar dan trading tidak bisa dibandingkan dengan arus aset Indonesia yang kemudian diinvestasikan dan "dimanfaatkan" oleh Sngp tanpa ada kontribusi balik yang seimbang. Dalam bahasa seninya, "What kind of f**kery is this?".

Han:
Ok, kalo kita bicara uangnya SG (awalnya khan ini topik pembahasan), mereka dapat duit selain dari Indonesia juga dari banyak negara2 lain terutama wilayah Asia Tenggara. Begitu pula perdagangan dan corporation, negara2 lain melihat SG sebagai tempat yang lebih business & investment friendly dibanding negara2 sekitarnya. 

Nah sekarang kalo kita bicara tentang duit kita yang lari keluar....
1989? Mungkin maksudnya 1998 ya. Karena memang saat itu terjadi kerusuhan yang bikin banyak orang2 berduit merasa ga aman di negerinya sendiri. Jujur aja.

Tapi sebenarnya fenomena simpan duit di luar negeri ini sudah marak terjadi sejak 70'an. Bahkan banyak juga pejabat2 kita yang naruh duit di luar. Hanya waktu itu tak ada (tak berani) yang menyorot saja. Sedangkan 1998 lebih diberitakan karena pers mulai terbuka sekaligus ada sasaran empuk kambing hitam. Memangnya uang hasil korupsi keluarga dan kroni2 Suharto itu disimpan di dalam negeri? Justru hasil investasi dan bunga selama 20-an tahun sebelum 1998 itu jumlahnya besar sekali.

Saya bukan membela SG tapi menurut saya mereka tak ada obligasi untuk memberi kontribusi balik ke kita selama orang2 kita dengan sukarela menginvestasikan uangnya disana dan pemerintah kita (sebelum era Jokowi) tak berbuat apa2 untuk mencegahnya. Istilah kasarnya, salah kita sendiri kok mau aja dibegoin orang lain terus-terusan.

Makanya saya mengapresiasi langkah Jokowi dan Sri Mulyani dengan tax amnesty sebagai langkah awal. Selanjutnya, perlu dipikirkan langkah efektif untuk makin banyak menarik kembali aset2 dari luar ke dalam negeri. Poin utamanya, kita harus membuat diri kita sendiri mampu (entah dengan memberikan insentif, jaminan, atau juga penegakan hukum tegas bagi pelanggarnya). Saat hal itu terjadi, biarlah SG yang teriak2 "What kind of f**kery is this?", bukan anda atau kita :D.

Semoga anda paham maksud saya.

DC:
" Indonesia juga dari banyak negara2 lain terutama wilayah Asia Tenggara."

We are talking about 90s Indonesia sebelum krisis moneter, negara Asia Tenggara yang lain? Lewat!!! Terutama Thailand dan Vietnam. Apakah anda sedang mengigau? Bahkan stereotype yang diberikan kepada middle class Indonesia oleh boomers dan millenials Sngp hingga saat ini adalah crazy rich asians karena kontribusi Indonesia yg sangat besar perannya dalam membangun Sngp. Prett, kalau mengatakan Sngp mendapatkan income utama dari bisnis, trading dan investasi karena income tsb lari ke luar negeri. Pendapatan utama Sngp diambil dari pariwisata, kesehatan, edukasi, jasa dan properti di mana semuanya dibangun melalui "kontribusi" Indonesia. Semua ada ledgernya, dibuka saja.

"Nah sekarang kalo kita bicara tentang duit kita yang lari keluar....
1989? Mungkin maksudnya 1998 ya. Karena memang saat itu terjadi kerusuhan yang bikin banyak orang2 berduit merasa ga aman di negerinya sendiri. Jujur aja."
1989. Kalau anda memiliki teman dekat, bisa ditanyakan mengapa 1989 menjadi point penting untuk Singapura terutama mengenai investasi masif dari Indonesia yang sudah menjadi pengetahuan umum di sana. 1998 adalah masalah lain.

"Istilah kasarnya, salah kita sendiri kok mau aja dibegoin orang lain terus-terusan."
Sama saja dengan mendukung kleptokrasi dan premanisme global. Memang semua itu fair di dalam bisnis, namun ingin sampai kapan hubungan yang toxic ini ingin berlanjut? Apakah menginginkan Batam direbut seperti Sipadan dan Ligitan? Bukankah kita semua tahu kalau semua taipan Singapura dari segala SARA sudah memulai kolonialisme jilid baru di Batam? Baik melalui agama maupun bisnis.

"Makanya saya mengapresiasi langkah Jokowi dan Sri Mulyani dengan tax amnesty sebagai langkah awal.'
Tidak cukup, Pakde harus bekerja lebih cepat lagi untuk bisa meraih competitive advantage lebih melalui resesi Singapura saat ini. Sudah dapat dipastikan Sngp sudah membentuk koalisi ekonomi baru dengan Malaysia, Brunei, Myanmar, Thailand, Vietnam dan Kamboja melalui dukungan Eropa yang pastinya akan menjadi ancaman masa depan untuk bisnis lokal.

Donny Aja:
Saya salah satu yg menolak lockdown,karna dampak ekonomi lebih besar daripada yg meninggal akibat "corona".

Wele Wele Machih Learn To Joke:
Untung aja sanak keluarga teman gue batal kerja di singapura. Entah gimana nasib pekerjaannya kalau tiba2 resesi. Pasti rugi besar tinggal di sana

TMP2020:
Singapura kasus covid pertama bulan Januari, angka pertumbuhan berturut-turut minus di kuartal I dan II, shg dianggap resesi.

Indonesia kasus covid pertama kali bulan Maret dimana angka pertumbuhan di kuartal I masih plus dan kuartal II sdh minus. Kita lihat saja angka pertumbuhan dikuartal III, dimana Menkeu memprediksikan masih tetap minus. Yg artinya nanti Indonesia bisa dianggap spt Singapura saat ini.

Setiap negara mempunyai karakteristik, pondasi/daya tahan, cara/kemampuan, sumber daya yg berbeda2 dlm menghadapi persoalan ekonominya, bisa cepat ato lambat pulihnya dan bahkan bisa semakin terperosok dan jungkir balik pinjam sana sini.

Spt kemampuan ekonomi orang kaya raya, kaya saja, biasa2 saja dan miskin, yg berbeda2 daya tahannya dlm menghadapi masalah ekonominya masing2. Amerika saja sdh berapa kali resesi ekonomi, masih tetap negara adi daya kok.

SEMOGA TERHINDARKAN !!

Rosita:
Setuju sob Mas! Tidak bisa dibandingkan demikian, juga cara pemimpinnya menghadapi krisis juga berbeda!

Wanda Bagus Sebastian:
????

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Mata Elang Jokowi Tidak Lockdown Indonesia… Singapura Contoh Nyata yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/mata-elang-jokowi-tidak-lockdown-indonesia-ZpiMsfp68O

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: