You Now Here »

Penulisan TPK Sebaiknya Diserahkan Kepada Ahlinya Seword #1 Opini Indonesia  (Read 139 times - 67 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,701
  • Poin: 23.779
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Patrick Jahja:
Tulisan yang diperlukan sebelon TPK nama baiknya rusak gara gara beberapa(atau bahkan mayoritas) penulis seword dan banyak pembela2nya uda promosinya lantang keras sampe ke minimum satu dari titik2 di bawah ini:
1. Uda TPK pasti selamanya gak bakal kena corona lagi
2. Uda ada TPK uda gak perlu vaksin
3. Uda TPK sudah pasti gak perlu lagi takut sama corona, biarin aja kita kenain dan sebarin ke mana mana tu corona.
4. Uda TPK 100% pasti sembuh dari corona.
5. TPK is 100% totally free tanpa embel2 dan uda disubsidi penuh ama pemerintah. Tinggal dateng ke RS minta, arusnya uda dapet bahkan langsung di dalam jem itu juga, kecuali dimafiain
6. TPK itu gampang cepet dan tinggal sedot sedot terus suntikkin ke pasien corona mana aja.
7.  dan masih banyak lagi, boleh nanya tuh ke yang uda sampe sembah TPK ampe kayak kadrun sembah rizieq.

Kayaknya sih....TPK gak populer penyebabnya bukan karna di "mafiain" doang nih, bisa bisa 95%+ penyebabnya karena "salah promosi", jadinya belon apa apa uda keliatan "gak bener ini TPK". Moga moga gak telat, sayang banget TPK harus sampe jadi kayak gini namanya kan?

Hermanto Purba:
Tulisannya keren sob Allen. Saya suka dan saya setuju. Intinya, menulislah sesuai dengan "porsi" masing-masing.

Salam Seword!

ronin_indo:
Kalau dapat info lgs dr Dok ketika kongkow berjam2 masih valid kan? Apalagi dpt info dr Mas Alif langsung plus ada video lengkap pemaparannya soal lika liku TPK ini.

aln:
Terimakasih sob, anda sudah jarang nulis? Koq jarang kelihatan atau saya yang kelewatan artikelnya . haha. Anyway, salam juga.

doodleramen:
Nah ini tulisan yg ditunggu. Saya juga sudah lumayan lama gerah dengan euforia TPK ini. TPK selama ini digambarkan sebagai obat mujarab yg bisa bikin semua masalah hilang, TPK itu gratis seperti oksigen yg kita hirup, dll. Padahal biaya TPK itu akan jauh lebih besar daripada biaya memberi vaksin. Saya juga tidak anti TPK, hanya agak geli melihat bagaimana penulis2 di sini memperjuangkan TPK dengan sangat religius, seolah-olah TPK itu agamanya.

Roedy Siswanto:
??? ?????  sob , sampeyan itu orang yg sangat rasional tapi kok membandingkan biaya TPK dng vaksin ? lha fungsinya juga beda sob ...TPK itu penyembuhan , vaksin pencegahan ....salam sob ??? ??? ??? ???

doodleramen:
Tanyalah dulu ke penulis2 Seword yg duluan membandingkan TPK dan vaksin, bahkan menganggap vaksin tidak perlu ada karena plasma itu gratis pemberian Tuhan yg harus dimanfaatkan. Kalau sudah dapat jawabannya baru saya jawab sob. ????

aln:
Bung Doodleramen benar, rata-rata penulis Seword rancu antara TPK dan vaksin. Semua jurnal dalam dan luar negeri tidak pernah memasukkan TPK sebagai vaksin. Kalau itu vaksin, ya untuk apa dunia berlomba-lomba mencari vaksin lagi.

Roedy Siswanto:
sob , maaf , aku nggak pernah ketemu tulisan di Seword yg menganggap vaksin nggak perlu ada lho .

doodleramen:
Berarti situ kurang nyimak. Apalagi ini saya kutip dari tulisan pimpinan. Masa tulisan pimpinan dilewatkan? ??? ?????


Selanjutnya instruksi agar semua pasien kondisi buruk langsung diberi plasma. Kalau plasmanya tidak tersedia, bisa hubungi pasien-pasien yang sudah sembuh.


 
Dengan begitu, urusan covid ini sudah selesai. Tidak perlu dibahas lagi, tidak perlu sibuk menganggarkan vaksin.



https://seword .com/umum/vaksin-covid-china-tiba-di-indonesia-masih-d0acdxFpI3

Roedy Siswanto:
Sorry penulis , kayaknya anda yg salah memahami teman teman penulis. Tidak ada satupun penulis Seword yg membandingkan TPK dengan Ventilator, tetapi sebagaimana Protap yg dibuat dok Mo dan tim , TPK akan maksimal efeknya kalau diberikan sebelum pasien harus di ventilator . Mengenai gratis yg dimaksudkan adalah gratis plasmanya karena sumbangan. mengenai biaya di PMI misalnya disebutkan di awal awal penulisan TPK ....semoga bisa meluruskan.

doodleramen:
Kan sob orang dunia medis. Coba dong bikin tulisan yg memaparkan biaya2 yg diperlukan untuk prosedur TPK ini. Jangan cuma melihat plasmanya yg gratis. Coba berikan pemaparan lengkap dari A sampai Z. Dihitung mulai dari alat dan tes yg diperlukan sampai biaya bed di RS. Ane yakin biayanya itu minimal 10 juta rupiah ke atas. Perkiraan ane sih biayanya bisa mendekati 20-30 juta per prosedur tanpa subsidi.

Roedy Siswanto:
Kalau tanpa subsidi pastinya ada disekitar 10 juta sob ...nanti aku coba bikin rinciannya .

doodleramen:
Jangan cuma dihitung ongkos bersih/produksinya sob, dimasukin juga profitnya. Soalnya kecil kemungkinan RS (apalagi yg swasta) mau ngerjai ini semua walaupun ongkos bersihnya (seperti biaya staff, alkes, obat, sewa, dll) sudah ditanggung. Pokoknya yg real-world gitu deh, bukan yg di awang2.

Roedy Siswanto:
Siaaap sob

aln:
Halo bung Roedy, terimakasih masukannya. Dia awal-awal TPK jadi heboh, saya ingat persis ada 2 atau tiga tulisan membandingkan TPK dan ventilator, mengingat sudah agak lama, saya harus melacak di archivenya Seword log. Disebutkan di artikel tsb biaya TPK lebih murah dari Ventilator. Benar jika head-to-head , tapi tidak relevan mengingat fungsinya yang berbeda. Kemudian tentang free of charge, penulis artikel menyebukan plasma nya free, bukan pelayanannya. Setuju , karena itu aturan resminya, realitasnya di lapangan , apa benar plasmanya juga free?   Siapapun tahu, birokrasi dunia kesehatan kita sudah dikuasai oleh tangan-tangan kotor, saya tidak yakin plasmanya sendiri bersih dari biaya siluman.
Salam Seword

Roedy Siswanto:
Hallo bung Allen, mengenai plasma yg gratis , saya salah satu saksi hidupnya tetapi kemudian ada perubahan kebijakan seperti yg dituliskan oleh bung Ronindo di artikel terbarunya yang kemudian merubah bahkan menghambat pelaksanaan TPK .

ronin_indo:
Thanks Om Roedy untuk klarifikasinya

Roedy Siswanto:
Sama sama om .

doodleramen:
Setuju. Gampang kalau mau mengambil untung dari plasma. Merka bisa tinggal bilang  plasma itu walaupun disumbangkan gratis, tapi tetap harus melalui berbagai proses tes dan seleksi yg membutuhkan biaya besar. Dan kenyataanya memang begitu, harus melewati proses tes dan seleksi.

doodleramen:
Mengenai gratis yg dimaksudkan adalah gratis plasmanya karena sumbangan.
Trus kalau gratis plasmanya, berarti biaya TPK itu juga gratis? Ngga kan? Ya berarti statement sob ini ngga relevan. Sama saja bilang sebiji tabung oksigen itu harus gratis karena ngambil oksigen dari udara tidak perlu bayar ke Tuhan.

Roedy Siswanto:
sob , gratis untuk pasien karena untuk yg terkena covid, pemerintah yg nanggung.

doodleramen:
Bukan soal siapa yg bayarnya. Ini soal besarnya biaya. Masa kalau pemerintah yg nanggung, anda jadi gak peduli sama sekali? Padahal pemerintah mesti ngutang banyak untuk memerangi covid ini. Duit pemerintah ya duit rakyat ya duit ente juga.

ronin_indo:
Nah

Arumanis:
setuju...biarkan tim TPK yang menjelaskan di seword...ceritain dah kendala bangke baik dipusat..di daerah atau di ikatan ikatan apalah itu ntah...atau kesulitan di rumah rumah sakit ampe di rumah rumah sehat...atau coba terangkan kenapa TPK di jalan kan di AD?pasti ada alasan nya ya

ronin_indo:
Mas Allen, dikondisikan? Anda keliru!!! Penulis sudah kenal lama dgn Dok Mo, bukan karena dikondisikan atau atas arahan beliau atau pimpinan Seword.

Penulis berinisiatif, nggak ada arahan, bisa dicek dgn bukti digital. Untuk penulis pribadi, semua 'pure' untuk menunjukkan bahwa Indonesia punya anak bangsa yang berkarya, berprestasi. Lantas dalam konteks ini kalau TPK itu sangat bermanfaat untuk korban pandemi, ini ibarat 'good news' yang harus diekspos dong.

kKlau lantas mengklaim bahwa, diserahkan ke ahlinya. Hm, penulis dapat sumber langsung dan valid karena kongkow dengan Dok Mo bersama rekan-rekan minggu lalu sampai berjam2. jadi bukan via ZOOM ya!

Plus denger kesaksian LANGSUNG keluarga korban Covid yan pulih. terus liat sendiri videonya! Ditambah penulis liat dan pantengin zoom beberapa kali saat dia webinar. Dari Mas Alif juga dapat cukilan2 info baik di grup WA atau video terbarunya juga dibongkar habis-habisan dan itu jadi rujukan. penulis karena klop dengan testimony Dok Mo.

Kalau mungkin kurang Anda kurang puas dan merasa penulis kurang ahli, toh bisa tinggal merujuk ke video Dok Mo dan Mas Alif yang ada di tulisan di Seword. .

So, bukan dikondisikan seperti asumsi atau opini Anda ya.

aln:
bung Ronin_do, saya boleh tanya selain dari Dr Mo dan tim apakah anda juga melakukan cross check ke sumber yang lain tentang TPK? Tulisan saya bukan anti TPK, tapi saya mengharap berita yang berimbang tentang TPK, baik manfaatnya ataupun kerugiannya. Sampai saat ini tidak ada satupun obat yang 100% aman tanpa efek samping. Terus bagaimana lembaga-lembaga lain yang kredibel yang terpercaya puluhan tahun mengurusi pandemi seperti WHO, haruskah kita menutup telinga dan menjadikan dr Mo satu-satunya mahkluk pilihan Tuhan yang membawa kebenaran tentang TPK?

Barbarian King:
Kita doain kualat aja mereka yg membuat rakyat susah .. biar kepala di bawah kakinya di atas. Kan susah jalan jadinya mereka, kita tinggal nyukurin. Kapokmu kapan kwe kualat .. gitu kira''

Johan Mulyadi T:
Kadang kadang penulis seword, karena sering membaca artikel dari situs abal abal, secara tidak sadar terpengaruh juga, lalu berasumsi tanpa bukti atau crosscheck. Lalu berhamburanlah tulisan tulisan yang mendiskreditkan Pemerintah. Barulah tulisan bung allen ini yang dapat mencerahkan pandangan pembaca.

ronin_indo:
Penulis dapat info dr Dok Mo langsung dan Mas Alif.

Penulis artikel di atas yang nggak update aja

Roedy Siswanto:
Nggak bung, banyak penulis termasuk kakak pembina yg crosschek kiri kanan termasuk pernah ke aku yg kebetulan artikel yg akan ditulis kakak pembina menyangkut pekerjaanku sehari hari. Jadi dengan berbagai latar belakang penulis seword, kami memberi masukan sesuai dng kompetensi masing masing.

Johan Mulyadi T:
Saya tidak menyama ratakan penulis seword, tapi ada dua atau tiga orang yang tulisannya seperti yang saya maksud.

Joe aja:
Kadang pusing aja baca tulisan dr para penulis yg bukan ahli medis. Apa mereka gk cross check ke dr. Mo dan team tentang selain effektif apakah ada adverse event-nya...? At least, kl gak ada waktu utk tanya kan bisa buka ke google (banyak bgt info tentang TPK dalam jurnal berbahasa inggris) Dari situ kita bisa liat RISK and BENEFIT dlm pemakaian plasma sebagai vaksin pasif.

Tapi yg paling penting kita harus dpt info dari dr. Mo dan team utk memberikan pencerahan ke pembaca tentang apa BENEFIT yg didapat dari TPK dan apa RESIKO dlm pemakaian TPK itu sendiri.

Givern Miricle:

(click to show)


Dnapiet:
Wise... ttp kurang setuju untuk point #2 dalam hal mengomparasikan biaya OH kedalam biaya penggunaan TPK dg solusi lainnya. Adapun yg disampaikan bukanlah gratis, ttpi lebih murah investasinya krn untuk penanganan korona semua ditanggung pmrnth, isn't it?

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Penulisan TPK Sebaiknya Diserahkan Kepada Ahlinya Seword #1 Opini Indonesia yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/sosbud/penulisan-tpk-sebaiknya-diserahkan-kepada-ahlinya-hU62xMfAbE

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: