You Now Here »

Tentang Radikalisme : Saya Ga Menyembah Jokowi, Saya Mendukung Langkah Jokowi Seword #1 Opini Indone  (Read 78 times - 90 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,549
  • Poin: 23.627
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




toto Mulya:
Saya dan keluarga pendukung militan jokowi, kami yang minoritas saat ini agak ketar ketir, begitu masif dan terang2an intoleransi.... Meski kami yakin langkah jokowi yang Unpredictable.

C Jon:
Selama fokus Pakde di pembangunan infrastruktur, ngga bisa diharapkan adanya perubahan drastis dari mentalitas kaum mayoritas utk menyesuaikan dgn Nawa Cita. Hanya ada satu pilihan, lenyapkan ulama-ulama sundal yg menerjemahkan ayat-ayat suci seenak udelnya demi kepentingan perut dan selangkangan.

Han:
"Apa yang Jokowi lakukan sekarang adalah memagari agar tak didekati, dengan peraturan atau Perrpu."
Peraturan2 dan perpu2 manakah yang telah dikeluarkan untuk memagari dan membuat "elemen2 buruk pada pohon" tersebut akan mati secara perlahan seperti yang penulis maksudkan?

Sepakat dengan penulis bahwa masalah radikalisme dan intoleransi ini telah mengakar kuat di negara kita. Tidak hanya di jaman SBY, tapi juga sudah ada di jaman Pak Harto. Saya pribadi pun pernah merasakannya walau tak secara langsung. Bahkan mungkin benih2 ekstremisme telah timbul sejak dari awal munculnya agama itu sendiri.

Karena itu, apakah tidak lebih baik kalau kita mengakui saja bahwa ini adalah masalah luar biasa besar yang bahkan jauh lebih besar daripada seorang presiden sekalipun? Sehingga kita tak perlu memberikan harapan yang terlalu berlebih kepada Jokowi dan di saat yang sama juga tak perlu membela mati2an apalagi memberi harapan kosong dengan istilah2 "main catur", "melakukan langkah senyap", dll.

Erika:
Dari 1200 kata lebih tulisan saya diatas,  TAK ADA SATU KALIMATPUN yg menyampaikan harapan.  Silahkan disimak dan dibaca lagi...

Unggul Sudarmo:
Memberantas intoleransi adalah mustahil bila kondisi masyarakat dan orang2 yg ditokohkan seperti saat ini. Intoleransi yg terjadi saat ini akibat dari beberapa orang/politikus yang berfikir pendek/instan untuk mendapat dukungan publik. Cara paling mudah adalah menggunkan isue2 sektarian (agama, suku, ras) karena secara naluriah manusia merupakan makhluk sosial yg terikat kuat pada koloninya.
Dengan memanfaatkan sentimen2 sektarian seseorang akan mudah mendapat simpati dan celakanya juga cara yg paling mudah adalah menindas minoritas entah suku atau agama. Maka siapapun presidennya bila masyarakatnya masih bodoh/malas mikir, maka intoleransi masih akan terus terjadi. Salah satu cara yg paling mungkin untuk mengurangi adalah menghimpun tokoh2 kharismatik yg masih peduli dengan keutuhan negara (cuma jumlahnya sekarang makin berkurang karena hedonisme lebih berpengaruh). Bila tokoh2 kharismatik tersebut bersatu maka pengikutnya juga bersatu. Sayangnya kadang2 tokoh/yg ditokohkan itu nafsu duniawinya masih besar(pengin dianggap paling berpengaruh, psling banyak pengikutnya) lalu tidak mau duduk sejajar dg tokoh lain. Dan nafsu berkuasa ini yg membuat mereka melakukan apa saja walau itu bisa merusak kehidupan masyarakat. Maka satu2nya cara adalah mrlalui pendidikan.
Lha celakanya lagi di dunia pendidikan (sekolah) sudah diracuni intoleransi. Oleh karena itu bersihkan racun2 intoleransi di dunia pendifikan (sekolah/pesantren).
Mbak Erika mungkin benar pak Jokowi mengangkat Nadim Makarim sbg mendikbud, ada pesan tersembunyi didalamnya (mbak erika tshu ndak yo)
Terima kasih.

Han:
Saya setuju bahwa ini masalah besar yang jauh lebih besar dari seorang presiden sekalipun. Jangankan Jokowi di alam demokrasi (dan democrazy) seperti ini. Pak Harto saja ga sanggup / ga mau mengatasinya / memang justru sengaja memeliharanya. Jaman saya kuliah thn 90'an dulu di PTN terkenal, memilih ketua mahasiswa yang non muslim pun sudah dianggap haram!

Lebih baik kita bersikap realistis baik dalam hal ekspektasi kepada Presiden juga kita tak perlu terlalu membelanya dengan hanya berdasar "iman" seperti bermain dalam senyap, main catur dll.

Donny Rahardian:
Sepertinya PDIP belajar dari kesalahan Soekarno yg menindak Radikalisme dan Disintergrasi dengan Peperangan, tetapi apa yg didapat rakyat kebanyakan saat itu ? Ekonomi hancur, Inflasi Tinggi, Harga meroket dan kelaparan.


Senjata andalan Jokowi dalam menindak Radikalisme dan Disintergrasi ya Pembangunan dan Kesejahteraan, minimal hilang 1 alasan mengapa mereka melakukan itu.


Sekarang silahkan pilih Peperangan dengan Pembangunan yg lambat, Ekonomi merosot, atau Pembangunan dengan meningkatnya Kestabilan dan Jaminan Kesejahteraan ?

Han:
Mohon maaf, menurut saya kehancuran ekonomi jaman Soekarno bukan karena beliau menindak radikalisme. Tapi kesalahan Soekarno menurut hemat saya (terlepas dari segala kelebihannya):
1. Terlalu memusuhi barat terutama Amerika (meski mungkin beliau punya alasan kuat untuk itu tapi secara de facto menghancurkan ekonomi kita)
2. Mengabaikan pembangunan ekonomi dalam negeri
3. Belakangan bersikap otoriter dengan predikat presiden seumur hidup, dll

Namun saya setuju kalau radikalisme ini memang sulit untuk diberantas apalagi di jaman demokrasi (dan democrazy) seperti sekarang. Belum ditambah dengan faktor2 eksternal yang begitu mudah mengobok2 negara kita.

.:M:.:
Aku mencoba memahami, maksud posisi duduk Jokowi ketika bertemu Prabowo dibelakangnya ada ilustrasi Togog dan Semar.

Pak Jojowi ibarat Togog, yang diamanahkan momong penguasa2 jahat. Indonesia, zamrud khatulistiwa dengan cincin apinya, tapi ko banyak kemiskinan? Ya karena banyak penguasa jahatnya...nah ini lagi bersih2...detoksifikasi, racun kudu dibuang dulu...segitu kelamnya latar belakang politik negri ini berakar pada keserakahan..

Posisi Pak Jokowi ya sangat sulit, orientasi pada kepentingan rakyat...tapi pemangku regulasinya banyak yang ngakal2in demi perut karetnya sendiri, harus benar2 ngukur segala pertimbangan memanfaatkan peluang untuk memperbaiki kebijakan yang telah lama meninggalkan rakyatnya.

Kata Bung Karno, masa kini lebih sulit karena harus melawan Bangsa (yang curang) sendiri.

3 Lintang Hapsari:
Ralat. Jokowi ibarat semar bukan togog. Togog itu  representasi ksatria kurawa. Sementara semar  representasi satria pandawa

.:M:.:
Betul, setuju.

Tapi faktanya beliau duduk di depan ilustrasi Togog. Makanya tafsirku kaya diatas, untuk saat ini untuk "magerin" penguasa2 jahat, yang faktanya berterbaran di Indonesia. Makanya banyak yg macam kaya cacing kepanasan di bawah pemerintahan Jokowi.

Givern Miricle:
presiden sama diam nya di kasus jiwasraya entahlah perhitungan politik apa yang lebih dititik beratkan pada kepentingan rakyat banyak. lucu rasanya jika apbn tahun depan ada pos pmn
pohon tidak mesti ditebang atau dicabut akarnya, bolehlah pohon yang merusak pemandangan itu disuntik mati ... biayanya lebih murah dan hanya sekali action saja dan tetap bisa dijadikan simbol
mata yang kusut melihat bahwa yang terlihat sekarang adalah menyimpan kotoran di bawah karpet

Parlindungan Panggabean:
Nah itu dia sis.. meskipun Jokowi adalah seorang presiden, kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, tetap saja ada batasan dan keterbatasan, baik itu yang diatur oleh konstitusi dan UU, maupun karena personalitinya.
Perihal ketidakadilan yang dirasakan lalu disuarakan oleh warga minoritas, mestinya pihak yang dirugikan tidak serta merta menuntut dan menggugat langsung ke Jokowi. Saya yang juga warga minoritas mencoba memahami realitas yang ada, bukan hanya dalam kesetaraan sebagai warganegara, tetapi faktanya dalam konteks mencari pemimpin pun hal2 yang bersifat sara sudah diangkat ke permukaan. Baik itu yang berskala lokal, terlebih nasional. Dus, ketika suatu saat muncul tindakan ketidakadilan yang dialami oleh kelompok minoritas, kita tidak perlu kaget, karena memang sudah diprediksi sebelumnya. Nah, kejadian yang sebetulnya terjadi di daerah semestinya kan usaha penyelesaiannya juga harus dimulai dari perangkat yang ada di daerah dong.. Tidak bisa juga hanya karena kecanggihan teknologi yang mempercepat arus informasi secara global, lalu peristiwa didaerah dituntut pertanggungjawaban penyelesaiannya langsung oleh presiden.
Menurut saya, Jokowi juga pastilah tahu apa yang terjadi. Dan ketika beliau masih belum bersuara saya pikir bukan berarti tidak bersikap. Marilah kita yang minoritas mencoba lebih terlatih menerima kesulitan, dan itu akan membuat kita lebih tahan banting. Jangan seperti gerombolan kadrun, yang meskipun dari kelompok mayoritas tetapi bisanya cuma teriak2 cengeng se-olah2 hidup kehilangan harapan. Karena ketidakadilan yang diterima oleh minoritas, itu juga terjadi di seluruh dunia dan sepanjang peradaban.

Erika:
yang saya perhatikan dari kaum minoritas adalah karena keminoritasan itulah maka kualitas yang diutamakan. hukum ini berlaku untuk semua. Ibarat limited edition harganya pasti lebih mahal ketibang barang umum manapun. So berbanggalah jadi kaum minoritas. Karena di tengah tekanan dan gempuran, kalian sanggup bertahan dengan segala cara, sikap dan kedewasaan...

Parlindungan Panggabean:
Ya, karena lahir ke dunia juga bukan pilihan tho.?
Sepakat dengan sis.. hukum alam memberi kesempatan dan paksaan kepada pihak minoritas membangun kualitas untuk survive. Itulah sebabnya etnis China diaspora relatif lebih berhasil meraih sukses ekonomi. Mereka lebih terlatih untuk sabar, ulet dan bekerja keras. Sementara dari pihak kita yang mayoritas dan mengaku "pribumi", sebagian bersikap cengeng lalu mengekspresikan kegalauannya dengan teriak2 melalui demonstrasi bertemakan sara. Makanya Jokowi bilang : kerja kerja dan kerja. Kerja keras dan kerja cerdas.

Han:
Kalau ini saya 100% setuju. Dari kecil saya maupun kakak dan adik perempuan saya dididik untuk tekun, sabar dan tidak cengeng terhadap perlakuan diskiriminasi termasuk pelecehan verbal untuk mereka berdua. Karena kita sadar, sebagai minoritas ganda (atau bahkan triple dan quadruple) hal2 seperti itu sama sekali tak terhindarkan.

Ivan Budiutama:
wow wow, tenang bu. Sebelumnya terimakasih udah menyediakan waktu me-respon dengan tulisan lain.

Sebelum gw masuk statement pribadi gw, biar gw ralat dl beberapa statementnya. Inget ini opini vs opini ya, silakan balik ke personal masing2. Jaman SBY, sebetulnya gak bisa dibilang damai/toleran, penulis bkn dari agama minoritas, jadi bisa dimaklumi. Dl kejadian penyerangan ibadah itu banyak, mgkn gak sebrutal skrg yg sampe lempar bom molotov atau kamikaze 1 keluarga. Tapi Intoleran itu ada dan udah marak. Bedanya. med-sos blm seganas skrg jg. Wong yg bisa punya Smart Device pun cuma orang2 menengah. Beda dengan skrg. Dokumentasi candid hal yg lumrah. Jadi kalo dibilang gw (secara personal) bilang SBY lbh baik ya salah besar. Justru masalah utamanya karena di jaman SBY, hal ini dibiarkan, bahkan dicurigai didanai lgsg oleh klan Cikeas. Jadi komparasi antara SBY vs JKW yg tau2 muncul ini gw gak setuju. dan gak relevan jg dengan statement gw dari awal.

Menurut gw ada garis jelas antara skeptis dengan marah. Gw di sisi skeptis. Gw gak merendahkan Jokowi/Pemerintah, toh gw rendahin pun emang bakal ngerubah apa? gak ngerubah apa2. Energi dan waktu habis. Seperti semua skeptis, pertanyaan-nya selalu dimulai dengan "benarkah?". Benarkah Jokowi peduli dengan Intoleransi? seperti post gw sebelumnya, dua statement Jokowi soal ini gak meyakinkan gw kalo dia punya "posisi" yg menentang intoleransi atau menjunjung toleransi. Statement pertama: soal mau menamakan terowongan penghubung Katedral ke Istiqlal dengan nama terowongan toleransi or whatever. Ini claim, tanpa ada hasil nyata. Kalo Jokowi udah sukses menjamin kebebasan beribadah, harusnya ini gak menuai kritik. Statement kedua: "Bentrokan dalam demokrasi itu biasa", ini statement yg sedikit men-trigger gw. Kenapa? Karena kondisinya menurut gw udah sangat ironis. Sini gw kasih bayangan "HTI ormas terlarang, tapi semua dedengkot-nya, dan aktifitas-nya msh bisa berjalan tanpa ada masalah", "Kristen (Katolik maupun Protestan), itu agama resmi diakui sejak awal merdeka, dan skrg opressing dan penyerangan ibadah marak, bahkan sekedar beribadah (yg sebenernya itu HAM), gak bisa dilakukan dengan tenang". Udah paham ironisnya dimana? Gw gak mempermasalahkan gubernurnya diem, aparatnya diem. Tapi gw mempermasalahkan posisi Jokowi dalam isu ini. Gak ada statement yang menyatakan bahwa Jokowi memahami isu ini atau meng-iya-kan masalah ini ada, toh itu cuma bentrokan biasa. Kalo kepalanya merasa itu bukan isu apa bawahannya perlu ambil tindakan? Kalo emang ada statement Jokowi yg meng-acknowledge intoleransi sebagai isu, silakan dicounter. Menurut gw fair. Siapa tau gw salah baca.

Ini gak menapik, bahwa Jokowi maybe the best President so far. Gw hampir gak meragukan itu, tapi seperti statement banyak orang, buat apa susah2 dibangun kalo fondasi dasarnya berantakan? dikasih gempa kecil jg pasti rubuh. Just my 2 cents. Sebenernya gak niat nulis panjang2, but oh well.

Erika:
sebenarnya yg say amble dr komentarmu cuma kalimat terakhirmu bahwa pada akhirnya yang ejek kalau terlihat melakukan sesuatu dipuji2 juga. selebihnya hanya pengembangan opini. dan tentang SBY, setuju bahwa teknologi belum secanggih sekarang harga gadget masih dipandang untuk kalangan menengah ke atas, tapi tetap saja, keterbukaan informasi digaungkan juga oleh SBY. in any case, kita harus bijak dalam menyikapi politik, karena saya yakin, misi dan visi dari intoleransi di jaman SBY dan Jokowi jauh berbeda. Saya meyakini, intoleransi di jaman SBY murni sebuah kejadian intoleransi, tetapi di jaman jokowi, intoleransi sengaja di ada-adakan untuk mendiskreditkan Jokowi.

and brow... menulis itu ibarat air mengalir... tiba2 kita sudah sampai di laut tanpa sadar sebearapa panjang sungai sudah kau lalui... hahahhaa... so, relax and keep writing... okey?

MasErik Bhe:
....sekali ini agak sulit bagiku untuk membantah mbak Erika Ebener... bagiku, politik itu adalah seni, dan hanya yang punya hati bening serta akal yang sehatlah yang layak untuk didukung. Dan aku setuju bahwa esbeye adalah "seorang jago jaim" yang telah GAGAL dalam menghasilkan karya seni yang agung dan abadi untuk Indonesia Maju !

Jay:
Seharusnya klo kepala daerah mandul menghadapi intoleransi ya wajar dong klo pemerintah pusat turun tangan.

Erika:
tetap ada mekanismenya... dan itu yang harus dipahami sebelum apa-apa lari ke pusat. Toh yang milih pemimpin daerah adalah warga dari daerah itu sendiri...

Bocah Sakti:
Jadi, apa gunanya "otonomi daerah", mas ???

Jay:
Terus mau sampai kapan NKRI ini bisa damai klo terusĀ²an bgeini

Erika:
Damai itu ada ditangN rakyat....

Chuck Longthong:
Mhmmmm. Berarti saya termasuk pendukung Jokowi yang 'pendek pemikirannya'.

Sementara Jokowi berusaha memagari si "pohon" supaya tidak dapat sinar matahari dan tidak bisa disirami, ada banyak pihak yang juga berusaha curi masuk pagar untuk menyirami dan membolongi penutup supaya matahari bisa tembus masuk. Nah, yang pihak2 yang curi masuk itu dibiarkan, akhirnya si "pohon itu tumbuh terus dengan suburnya.

Saya tidak mau menyalahkan Jokowi untuk segala hal yang terjadi sekarang. Toh penulis sendiri mengatakan bahwa benih-benih 'islam ekstrim sudah ada sejak dulu kala' dan itu tidak salah. Saya yang berumur hampir kepala 6 sdh merasakan bahwa sejak kecil yang namanya minoritas selalu harus hati2 berbicara mengenai agama, sedang yang mayoritas bisa jauh lebih leluasa berbicara. Jadi berharap Jokowi bisa membuat perubahan berarti dalam 2 periode adalah mustahil. Jadi bagi saya, yang penting adalah cara menyiasati hidup, seberapapun tidak menyenangkannya hidup ini.

Mengenai keluhan dan protes yang seharusnya disampaikan kepada kepala daerah (gubernur). Yang jadi masalah adalah kalau si kepala daerah (gubernurnya) condong ke arah radikal, sedangkan presiden harusnya adalah atasannya si gubernur tidak merasa bertanggungjawab, terus rakyat harus mengadu ke siapa???

Hidup ini kadang memang penuh dengan ironi. Tidak bersuara, salah, karena dianggap pasif dan tidak mau bersuara dan terima nasib saja. Bersuara, dianggap punya pemikiran yang pendek.

Erika:
yang kurang diuraikan adalah di indonesia ini tidak hanya ada satu pohon seperti pada film Lord of the ring, tetapi ada 34 pohon di daerah masing-masing. kalau ada pencurian pagar di daerah A misalnya, perangkat daerah yang menangani. Jokowi sendiri punya pohon dalam skala yang lebih besar yaitu menjaga Indonesia dari rongrongan internasional. so, tetap saya by the end, kita harus mengacu pada porsinya masing-masing.

3 Lintang Hapsari:
Inilah akibat pilkada langsung. Seharusnya gub bupati walikota dipilih pres spt era orba. Dg demikian pres lebih mudah menindak mrk. Dlm kondisi skrg yg bisa dilakukan adl menuntut ke dprd setempat utk mengajukan hak interpelasi

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Tentang Radikalisme : Saya Ga Menyembah Jokowi, Saya Mendukung Langkah Jokowi Seword #1 Opini Indonesia yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/tentang-radikalisme-saya-ga-menyembah-jokowi-IjU21212gv

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: