You Now Here »

Belajar Toleransi Dari NTT Seword #1 Opini Indonesia  (Read 68 times - 95 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,533
  • Poin: 23.611
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Belajar Toleransi Dari NTT Seword #1 Opini Indonesia
« on: October 01, 2020, 05:54:35 AM »




Chuck Longthong:
Toleransi yang tulus, saling menghormati, saling menghargai, saling membantu, memang selalu indah, di manapun itu.

Kalau intoleransi yang marak terjadi di berbagai daerah, pandangan saya adalah: para pelaku intoleransi bukan merasa imannya terganggu karena aktivitas/atau segala simbol keagamaan dari agama lain.

Kalau yang minoritas saja tidak merasa terganggu imannya dengan segala aktivitas kegiatan keagamaan mayoritas, terlebih lagi yang mayoritas.

Maraknya aksi intoleransi lebih merupakan keinginan menunjukkan power dan eksistensi sebagai mayoritas. Jadi ada faktor psikologinya, yang bisa pula merupakan salah satu metode penyebaran agama (by threat).

Saya punya pengalaman bekerja pada seorang atasan yang atheis (bule). Orangnya sangat perhatian kepada bawahan dan sangat fair dalam mengambil keputusan, sangat bertolak belakang dengan orang2 sejawatnya yang sering memperlihatkan kehidupan yang sangat religius. Jadi ingat lagu John Lenon: Imagine.

Roedy Siswanto:
Setuju sekali dengan pendapat anda bung.. ??? ??? ??? ??? ????

Parlindungan Panggabean:
Saya punya pengalaman menyaksikan dan merasakan betapa hidup bertoleransi itu sangatlah membahagiakan.
Ketika itu saat mengikuti ibadah pemberkatan nikah anggota keluarga yang kebetulan sesama alumni sekolah tinggi pelayaran dan seagama (Kristen). Yang membuat saya terharu dan bangga adalah, ditengah acara ibadah didalam gereja, rekan mahasiswa sekampus dari pengantin melantunkan lagu paduan suara yang bernafaskan doa untuk kedua mempelai. Perlu diketahui bahwasanya acara pemberkatan dilakukan di Jakarta, sedangkan rekan mahasiswa yang melantunkan paduan suara datang dari Semarang, dan sebagiannya adalah muslim serta berjilbab. Luar biasahh..

Jauh sebelumnya.. dalam rangka perayaan isra mi'raj dilingkungan tempat saya tinggal, saya ditunjuk sebagai wakil ketua panitia perayaan. Meskipun tentu saja mengurusi hal-hal yang tidak terkait dengan tata ibadah. Bangga luar biasa. Dan sebelum itu, ketika pendirian mushalla ditempat itu, saya adalah orang pertama dari kalangan non muslim yang dimintain ijin. Jujur, saya ketika itu juga memberikan sedikit sumbangan dengan prinsip membantu sesama untuk lebih nyaman dalam beribadah.

Sebelumnya lagi.. pada saat saya masih bujangan pun saya sudah "memiliki anak angkat" 3 orang muslim. Mulai dari mereka TK sampai mereka menikah pun saya jadi walinya, lalu mempunyai putra/i lanjut sampai sekarang, hubungan kami tetap terjaga sebagaimana lazimnya hubungan keluarga. Pernah seorang teman bertanya, mengapa mereka tidak dikristenkan saja.. saya jawab.. kalau Tuhan berkenan jadilah kehendakNya. Saya tidak akan berusaha untuk menarik dan merubah agama mereka. Memang mereka tetap beragama Islam, tetapi bukan yang beraliran kadrun. Dan yang membuat saya semakin bangga adalah kalau mereka bertemu dan berteman dengan yang sesuku dengan saya, mereka mengaku semarga dengan saya.

Saya berbagi cerita dan pengalaman ini, tidak ada maksud lain selain men-declare bahwasanya hidup bertoleransi itu sangatlah indah. Dan saya adalah salah seorang yang paling berbahagia dengan hidup bertoleransi.

Oma Acel:
Luar biasa kisah anda. ??? ?????
Toleransi itu membahagiakan .

Joe aja:
Sangat kontradiktif keberadaan umat non muslim di beberapa daerah khususnya beberapa propinsi yg luas daerahnya lebih besar dari NTT diperlakukan seperti musuh bagi agama mayoritas. Mereka khawatir terjadi ""kristenisasi" di kalangan mereka.

Mengaku sangat beriman dan taqwa tetapi hanya melihat gedung ibadah lain  atau mendengar kidung pujian di rumah orang, serasa iman mereka goyah. Mereka tentunya khawatir penyebaran akan terjadi didaerah tsb. Dan juga mereka khawatir ajaran lain akan tumbuh dan berkembang cepat. Dengan cara pandang ini tentunya mereka menggunakan self defensive dengan menggunakan kekuatan jati diri sbg mayoritas seperti persekusi, perusakan, bahkan pelarangan..

Orang2 seperti inilah yang tidak pernah keluar jauh dari rumah melihat luasnya dunia. Andai saja mereka sering traveling ke tempat daerah "kafir" niscaya mereka akan merasakan indahnya perbedaan itu dan membuka mind set mereka bahwa agama bukan utk diperdebatkan tetapi utk pedoman hidup. Dan saya bisa katakan bahwa banyak kaum mayoritas mempunyai "number 1 (one) mentality" atau mental yg superior atau secara gamblang bisa dikatakan kamilah yang utama, kalian yang terakhir.

Roedy Siswanto:
Sebenarnya dulu hal hal seperti cukup banyak terlihat Di Jawa. Saya teringat waktu kami menikah, Karena terbatasnya anggaran, kami hanya melakukan pemberkatan dan pests sangat sederhana Di auditorium gereja. Saat itu Banyak teman teman yang muslim ikut menyaksikan pemberkatan kami dan mereka ada didalam ruang kebaktian .

Joe aja:
Itu juga saya rasakan ketika kakak pertama saya  menikah di Magelang. Kerukunan warga sekitar yg beragama muslim membantu kami untuk perayaan midodareni dgn memasang umbul2, janur kuning, serta pernak pernik yg berkaitan dgn acara tsb tanpa pamrih atau dibayar sepeser pun. Waktu pemberkatan juga mereka hadir dalam misa di gereja.

Di jaman saya nikah di Jakarta, boro2 seperti itu...

Love The Truth:
Mas...sudah biasa kalo daerah mayoritas selain muslim membantu yg minoritas....sudah banyak kita baca di berita. Tetapi sebaliknya Daerah mayoritas muslim kok sulit sekali bertoleransi terhadap minoritas ?? Maaf kalo saya salah, dan saya berharap semoga semuanya meningkatkan Toleransi antar umat beragama, antar suku , antar Ras , jadilah kebaikkan buat sesama.

Martabak Sweet:
Betapa tipisnya Iman mereka dan parahnya hal tersebut juga disuarakan oleh yang terdaftar sebagai petinggi MUI.


Saya murtad dari islam, bukan karena melihat salib, bukan karena mendengar umat Agama lain beribadah, bukan karena bansos atau hal hal lain yang sering dituduhkan dan difitnahkan oleh umat dan petinggi islam kepada Agama lainnya yang beribadah atau berkarya.

Saya murtad dari islam, justru karena islam itu sendiri dan karena tingkah islamiah dari umat dan petinggi islam itu sendiri.

Ironis ya.

Roedy Siswanto:
Ya mbak ...

FAUZi:
apa yang diharapkan dari warga dengan otak dan kelas seperti ini ?

hanya contoh
 



(click to show)


Hendry Zacharias:
Makasih mas buat tulisannya salam dari NTT

Roedy Siswanto:
Sama sama , salam balik untuk semua Saudara di NTT.

sumsumMerahPutih:
(ikut)
salam untuk semua Saudara di NTT...

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Belajar Toleransi Dari NTT Seword #1 Opini Indonesia yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/belajar-toleransi-dari-ntt-vCDjlG9nZ4

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: