You Now Here »

Membasmi Radikalisme Itu Gampang, Cuma Banyak Yang Tidak Tahu  (Read 78 times - 98 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,537
  • Poin: 23.615
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Membasmi Radikalisme Itu Gampang, Cuma Banyak Yang Tidak Tahu
« on: October 01, 2020, 04:10:49 PM »




Givern Miricle:
menurut yang saya baca
sebagai negara hukum artinya negara diberikan tanggungjawab untuk mengawal jalannya peraturan baik berupa undang2 maupun konstitusi dengan diberikan seperangkat alat negara yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum sekaligus bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara
terorisme adalah anak kandung dari radikalisme
apakah negara menunggu aduan dan laporan atas aksi terorisme
atau pro aktif membentuk badan berupa bin untuk melacak dan densus sebagai satuan khusus untuk penindakan
intoleransi juga adalah bentuk lain dari radikalisme
negara yang diberi amanat konstitusi jika gagal menjaga hak kebebasan beragama kepada rakyat dan terus melakukan pembiaran berarti negara tidak bisa menciptakan rasa aman kepada masyarakat. artinya ini merupakan pelanggaran ham dan tidak menaati pembukaan uud 1945 ri serta pengabaian terhadap pasal 28 dan 29 uud 1945 yang sudah diamandemen
ini adalah kejahatan serius terhadap konstitusi.

«§»:
betol.
radikalisme kadrun sama dengan menghadapi terorisme, tidak perlu delik aduan

FAUZi:
berputar putar membela yang TAKUT



Intinya sederhana, mau dibasmi atau tidak pengganggu negara, pengacau negara,

Penulis merasa idealisme bisa membuat keadaan lebih baik... sungguh utopis





Sudah kukatakan di komen sebelumnya analogi pohon di film Lord of The Ring itu ngawur, yang bener Pak Jokowi seperti Raja Theoden saat dikuasai saruman


(di screenshot ah... ingin lihat hilang lagi nggak)

«§»:
seperti Raja Theoden saat dikuasai saruman
lebih tepatnya : memang sudah ada grand conspiration menjajah indonesia dgn melalui agama tapi takut dgn ancaman negara2 lain makanya para minoritas kafir hanya sedikit2 "digebukin".
jika negara2 lain tidak peduli, sudah dari dulu minoritas kafir dibasmi di indo ini.

Eva Rahma Sabila:
mksd penulis mgkn itu yg disebut strategi.. pemerintah tdk mau menimbulkan mslh baru saat menuntaskan masalah.. gesekan jaman skrg beda panasnya bs lgsg nyala..

sy kira penting melibatkan dua ormas besar NU dan Muhammadiyah bersinergi dgn aparat lbh intens lagi.. slh satunya sosialisasi.. utk tindakan, di NU kan ada Banser yg paham dgn rambu hukum dlm melibas radikalisme dan ajarannya..

Glent Lim:
Kalau pemerintah lembek terus lama2 rakyat yang nasionalis harus bergerak unk melakukan purge thd pengkhianat2 antinasionalisme. Im waiting for that time... i want to impale all traitors!

Froditus:

"langkah Jokowi terhadap radikalisme seperti memagari sebuah pohon agar tidak bisa didekati, tidak disirami dan tidak diberi sinar matahari agar lama-lama pohon itu mati."


Ini tidak efisien kalau tidak mau dikatakan konyol kalau berharap lama-lama pohon itu mati.
Lha... kan sudah dipagari agar tidak bisa didekati artinya sudah ada langkah pencegahan awal untuk menghindari kekacauan akibat tanah bolong bergerak jika dicabut akarnya.
Sebab pagar tersebut adalah sebagai peringatan bahwa tanah disekitar pohon tersebut dalam radius tertentu dapat mengakibatkan kekacauan. Jadi jangan mendekat alias menyingkirlah tidak menyingkir resiko tanggung sendiri.
Sudah dipagari ya tinggal cabut akarnya timbun tanahnya dan tanam pohon baru atau bangun sesuatu diatas nya. Selesai.


Mengapa saya menganalogikan seperti itu? Karena Indonesia menganut ke-4 prinsip yang saya tulis di atas tadi. Jokowi sekalipun, tak bisa bertindak dan berbuat TANPA ADANYA DASAR / LANDASAN / PIJAKAN HUKUM YANG JELAS


Jika Negara menganggap itu sebagai sebuah gangguan yang membahayakan atau berpotensi besar membahayakan ya tinggal bikin dasar/landasan/pijakan hukum nya.
Trus akan ada suara-suara yang berkata "aaaaah... emang semudah itu bikin dasar/landasan/pijakan hukum ????"
Ya... tidak semudah itu, tapi mustahil kah ? NO. Hanya soal kemauan saja.
Jika hal tersebut tidak dianggap atau belum dianggap sebagai sebuah gangguan maka tidak akan pernah ada dasar/landasan/pijakan hukumnya.
Yang terjadi adalah pembiaran karena dianggap "Kecil itu" atau sekalian dijadikan "peliharaan"


pemerintah melalui kementerian terkait bisa menciptakan aplikasi khusus untuk pelaporan kejadian radikalisme dan intoleran, dimana setiap laporan akan langsung dihubungkan dengan aparat kepolisian


Mau seribu aplikasi dengan jutaan laporan perharinya pun sepanjang poin kedua diatas tidak terpenuhi maka tidak akan ada artinya.

«§»:
betol.
memagari pohon agar mati sendiri ... tapi sesekali menyiramkan air ke pohon itu, gimana pohon itu bisa mati?
kenapa tidak tebang langsung?

Aan Widjaya:
Pohonnya diberi racun, beres

FAUZi:
Bagaimana mau melaksanakan isi laporan kalau kepala pemerintahannya saja sudah ketakutan begitu om

Froditus:
Kalau ketakutan menurut saya tidak. Walaupun terlihatnya seperti ketakutan.
Lambatnya soal penanganan hal ini menurut saya lebih kepada kalkulasi untung rugi buat siapa yang bermain dalam masalah ini. Siapa-siapa yang bermain publik bisa baca kok. Bahkan sampai produser dan rumah produksinya pun publik tau.

FAUZi:
Kalau lambat sih masih mending, soal radikalisme kan sama sekali tak ada kemajuan apapun juga

«§»:
mengharapkan hukum? HALAHHH
utk urusan ecek ecek aja hukum bisa dipermainkan, apalagi utk menghadapi kadrun.
 
mengandalkan polisi? emangnya polisi bisa apa? banyak laporan tapi polisi tetap diam bahkan ikut menjaga aksi persekusi oleh kadrun (baca : polisi membekin aksi persekusi oleh kadrun)

Mereka itu manusia bisa seperti kita, yang membedakan hanya seragamnya.
kalo gitu, lepas seragamnya agar jadi manusia biasa benaran.
karena justru dgn seragam itu bikin polisi jadi "manusia tidak biasa" dgn kewenangannya memberantas kadrun.

merajalelanya kadrun di indonesia karena konspirasi dari penganut agama onta di indonesia dgn peranan masing2 yaitu :
1. sebagai eksekutor --> melakukan aksi persekusi kekerasan. pelaku : fpi, pa212
2. sbg penghasut dan menanamkan doktrin melalui lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan : hti
3. sbg penyangkal --> menyangkal keterkaitan aksi2 dari pihak eksekutor yg melakukan persekusi sbg bagian dari ajaran agama onta
4. sbg pelindung --> terutama di bidang pemerintahan dan politik utk melindungi gerakan kadrun di indonesia. pelaku : pemerintah kadrun, pks
5. sbg pendukung, mendukung dalam hal ekonomi (pelaku: zombie pengusaha syariah)
6. sbg zombie grassroot yg sengaja berpura2 oon atau memang oon tidak tahu menahu aksi2 kadrun.
kelompok inilah yg menjadi pasukan zombie yg direkrut oleh kelompok eksekutor

Parlindungan Panggabean:
Konteks : peristiwa intoleransi dan perlakuan yang dirasa tidak adil oleh warga minoritas dalam sistem hukum yang menganut kesetaraan bagi seluruh warga.

Pertanyaannya :
1. Bagaimana dan seperti apa sebenarnya pemaknaan kata "adil" menurut masing2 versi.
2. Adakah wilayah (negara) yang benar2 bebas dari ketidakadilan (diskriminasi).?

Fakta : Universal human right  pun ternyata tidak sepenuhnya applicated di negara yang telah meratifikasinya.

Jadi menurut pendapat saya pemaknaan adil itu sendiri bias makna atau subjektif relatif. Jadi kalau persoalan intoleransi dan diskriminasi yang menyebabkan pihak minoritas merasa diperlakukan tidak adil, tanpa bermaksud bersikap fatalistik, ya sudahlah.. adalah lebih baik bersikap realistis dengan membangun benteng menyikapi dan mensiasati keadaan yang tidak bisa dihindarkan. Toh yang namanya perilaku intoleran serta rasa diperlakukan tidak adil itu senantiasa ada disepanjang peradaban dengan banyak motif yang melatarinya.

«§»:
keadilan hanya utk manusia, bukan utk setan.
justru setan memperalat keadilan utk bertahan hidup.

Budi Armansyah:
Ini buat sob-sob yg kecewa dg diamnya Jokowi dan menganggap Jokowi takut dg gerombolan kadrun (mungkin khusus buat sob @Fauzi hehe..).
Saya punya pemikiran begini...
Negara kita ini kan negara demokrasi. Slogannya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Jd ceritanya Jokowi memerintah negara ini kekuasaanya bukan sebuah Sabdo Pandito Ratu atau segala keinginan dan perintahnya bakal langsung ditaati.
Ketika Jokowi dilantik sebagai presiden Indonesia, maka ia akan mengelola negara ini atas dasar mandat yg diberikan rakyat melalui pemilu (dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat). Apa mandat rakyat itu..? Ya.. Segala tugas dia sebagai presiden. Membangun ekonomi, Mensejahterakan rakyat, mengentaskan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pelayanan & fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, bangun infrastruktur, dan lain sebagainya.
Hal2 diatas itu adalah tugas kepala negara/kepala pemerintahan yg normal/standard dimanapun negara di dunia ini.
Jadi Ketika Jokowi dilantik... secara psikologis dia merasa tugas2 itulah yg akan dijalankannya (yg normal, standard, reguler, umum.. Whatever word that have same meaning lah)
Nah.. Sekarang Bagaimana dg masalah intoleranisme, radikalisme serta gerombolan yg melakukan tindakan tsb...? Apakah mengatasi masalah kadrun & ideologinya termasuk tugas kepala negara/pemerintahan yg normal/standard...?
Untuk mencari jawaban pertanyaan diatas bagaimana kalau kita melihat kembali perolehan suara antara Jokowi vs Prabowo pd pilpres lalu.
Pilpres 2019 lalu hasilnya adalah Pasangan 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin memperoleh 85.607.362 suara atau 55,50%. Sedangkan pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 68.650.239 suara atau 44,50%.
Sekarang mari kita kembali lagi ke pembicaraan mandat rakyat kpd kepala negara/pemerintahan terpilih. Mandat berupa tugas yg harus dijalankan kepala negara/pemerintahan, sebagaimana yg sudah saya paparkan diatas mengenai tugas normal/standard kepala negara/pemerintahan dimanapun negara di dunia ini (membangun ekonomi... bla...bla...bla..).
Pertanyaannya apakah tugas standard tersebut hanya dimandatkan oleh 55,50% pemilih yg merupakan pemilih Jokowi..? Tentu tidak. 44,50% pemilih yg merupakan pemilih Prabowo juga pasti memandatkan tugas yg sama. Pemilih Prabowo tentu juga menuntut presiden terpilih utk melaksanakan tugas2 standard tsb (membangun ekonomi, pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, infrastruktur dll). Perlu dipahami pernyataan-pernyataan ini memang bersifat teoretis ya...(disclaimer nih..hehe)
Nah.. Bagaimana dg tugas mengatasi gerombolan kadrun beserta ideologinya...?
Apakah tugas ini termasuk tugas standard/normal kepala negara/pemerintahan...?
Sebelum menjawab pertanyaan ini... Kita jawab pertanyaan ini dulu...
Apakah tugas mengatasi kadrun & ideologinya ini mandat dari seluruh pemilih, tidak hanya mandat dari 55,50% pemilih Jokowi tapi juga dari 44,50% pemilih Prabowo...?
Saya kira pasti tidak ya..
Tugas mengatasi masalah gerombolan kadrun & ideologinya ini hanya dimandatkan oleh 55,50% pemilih yg merupakan pemilih Jokowi. Saya adalah pemilih Jokowi dan tentu saja saya memandatkan Jokowi untuk memberantas radikalisme.
Tapi sisanya 44,50% pemilih Prabowo dipastikan nyaris tidak memandatkan itu kan.. (Ya.. Iyalah lha wong merekalah kadrunnya.. Hahaha)
Nah.. Disinilah masalahnya...
Sekarang kita coba jawab pertanyaan tadi yaitu apakah tugas mengatasi masalah kadrun & ideologinya termasuk tugas normal/standard kepala negara/pemerintahan..?
Kalau dari paparan2 saya diatas bisa saya katakan kalau bagi Jokowi tugas mengatasi kadrun & ideologinya ini bukanlah tugas yg normal/standard, ini adalah tugas ekstra kurikuler, ekstra ordinary. Karena bagi Jokowi tugas ini hanya dimandatkan oleh 55,50% pemilih.
Apakah karena tugas ini hanya dimandatkan 55,50% pemilih lantas Jokowi bisa mengabaikan tugas ini..? Saya pribadi mengatakan tidak bisa juga begitu. Saya protes kalau itu terjadi. Tapi saya pribadi juga memandang itu memang tugas yg ekstra ordinary bagi Jokowi.
Jadi apa yg dibutuhkan Jokowi untuk keluar dari hambatan ini...?
Nah... Ayo sob.. Sis.. Semua pendukung Jokowi, mari kita semua cari solusinya.

«§»:
apakah rakyat memberikan mandat utk memelihara kadrun?

Budi Armansyah:
Kayaknya memelihara kadrun itu mandat dari yg 44,50% deh. mungkin itu yg ada dipikiran Jokowi.
Jadi saya hanya ingin membagi pemikiran saya aja sob. Masalahnya kan bukan di saya sbg pemberi mandat. Tapi masalah pd penerima mandat. Nah pd tulisan diatas saya memaparkan kemungkinan hambatan psikologis yg ada pd diri Jokowi selaku penerima mandat.
Ini hanya salah satu kemungkinan lho dari bermacam sebab mengapa Jokowi terkesan diam atau "takut"

«§»:
makin lama makin besar persentase jumlah kadrun makanya jokowi gak berani tegas

Bobo Djowang:
Karena kadrun punya prinsip seperti, biar miskin yang penting kawin, banyak anak banyak rejeki, punya istri 4, kalo dari setiap istrinya masing-masing punya anak 5, dan semuanya diindoktrinasi sejak dini, maka mereka bisa menghasilkan 20 kadrun, karena itulah cara mengisolasi (memagari) gak bakalan efektif.

Froditus:

Nah.. Bagaimana dg tugas mengatasi gerombolan kadrun beserta ideologinya...?
Apakah tugas ini termasuk tugas standard/normal kepala negara/pemerintahan...?


YA.. 1000% YA..!!!

Negara ini bukan baru berdiri ketika Jokowi terpilih jadi presiden.
Jadi menurut saya bung salah kaprah soal mandat dari 55% pemilih Jokowi seperti yang bung sampaikan.
Sejatinya mandat tersebut adalah mandat untuk melaksanakan/menjalankan Pancasila sebagai Dasar Negara
yang mana tata cara pelaksanaan nya sudah termuat dalam Undang-undang Dasar 1945 serta turunan nya dalam bentuk aturan dan perundangan yang ada dan berlaku.

Dengan demikian jelas bahwa Radikalisme yang terkait Ideologi kadrun adalah sesuatu yang menyimpang.


Jadi apa yg dibutuhkan Jokowi untuk keluar dari hambatan ini...?
Nah... Ayo sob.. Sis.. Semua pendukung Jokowi, mari kita semua cari solusinya.


Solusi sudah tergelar banyak di meja-meja sampai stok di gudang pun menumpuk.
Tinggal ambil satu dan jalankan.
Jika semangatnya adalah membasmi kanker/tumor otak maka solusi nya hanya satu yaitu Meja Operasi.
Namun jika semangatnya adalah sekedar meredam rasa sakit maka cukup minum paracetamol atau yang sejenisnya.

Aan Widjaya:
Membasmi sesuatu, perlu strategy, pilihan strategy yg sesuai dengan kondisi bangsa ini, dilihat dari segi kemapuan anggaran, keamanan sosial, dll. Pilihlah yang berdampak paling sedikit. Diberi Racun Pohonnya, biaya sedikit, dampak sosialnya tdk besar. Sadis ya?

«§»:
diberi racun tapi sekaligus diberi obat dan air, gimana itu pohon bisa mati?

Han:
Hmm kalau yang dimaksud salah mengartikan tulisan sebelumnya dengan "harapan" itu adalah komentar saya, maka sebenarnya penulislah yang salah nangkap maksud saya. Seperti dijelaskan kembali pada komentar di tulisan sebelumnya, bagian "harapan" itu ditujukan kepada mereka2 yang selama ini punya ekspektasi tinggi kepada Pak Jokowi. Lebih spesifiknya mereka yang berharap Pak Jokowi akan mampu menuntaskan masalah radikalisme dan intoleransi yang marak terjadi di banyak tempat. Janganlah berharap terlalu tinggi karena itu hanya akan menimbulkan kekecewaan.
disq us/p/2c77fwe

Tapi baguslah kalau kemudian menghasilkan tulisan baru ini. Dan saya sepakat dalam hal bahwa kita semua harus berperan serta untuk menanggulangi masalah radikalisme dan intoleransi ini. Karena Jokowi bukanlah superman dan presiden jaman sekarang beda dengan jaman Pak Harto. Bahkan Pak Harto di jaman otoriter dulu pun tak sanggup melakukan itu (atau tak mau). Bahkan benih2 intoleransi dan radikalisme telah tumbuh secara diam2 di jaman tersebut.

«§»:
dari awal kita berharap pada jokowi ketika jokowi mendengungkan jargon REVOLUSI MENTAL  ... tapi sampe sekarang gak jelas juntrungannya revolusi mental itu.
berharap dgn revolusi mental ini jokowi akan membasmi gerakan kadrun.
tapi malahan kadrun yg makin mengganas dan jokowi tidak bisa berbuat apapun melawan kadrun.

Eva Rahma Sabila:
susah amat. laporin BANSER aja!

«§»:
suka banget
biar zombie kanan hajar zombie kiri.

Jay:
Dan kembali ke pada niat aparat penegak hukum.....mau ap tdk....berani ap TDK.

Mr.BIG:
Kantuk banget analisanya

hoetomo:
Terlalu kompleks untuk dapat dikomentari.

Martabak Sweet:
Semoga, kawan-kawan pembaca yang masih berpikiran bar-bar, dalam artian memaksa negara untuk menindak radikalisme dan intoleran tanpa pijakan, bisa paham bahwa inilah dampak dari tinggal di SEBUAH NEGARA HUKUM.


Sebenarnya ini juga alasan yang 100% sama kenapa masalah kesehatan tidak sembarangan jerat jerit TERAPKAN TERAPI KOPALIEN SENASIONAL. Atau maksa minta ini itu kepada pemerintah dan sembarangan memainkan narasi konspirasi dan demonisasi IDI.

Harusnya kan sudah tahu. Agak aneh saja standar gandanya.

Bossi Thian:
Asiiikkk ada martabak lagi

Martabak Sweet:
Halo. Apa kabar?

Bossi Thian:
Kabar baik,pa lagi bc komenanmu ❤️

Erika:
Kalau tentang TPK ranahnya lain, memang bukan dan tidak berhubungan dgn hukum tetapi tetap ada prosedur dan mekanisme....

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Membasmi Radikalisme Itu Gampang, Cuma Banyak Yang Tidak Tahu yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/membasmi-radikalisme-itu-gampang-cuma-banyak-yang-fjjJU5Y2Jw

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: