You Now Here »

Darurat Nasional Covid Dicabut, Atau Demo Dan Kerusuhan Yang Lebih Besar?  (Read 124 times - 77 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 23,881
  • Poin: 23.960
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




??? ??? ??? ?????? ??? ??? ???:
Secara yang saya tangkap, tidak ada  kematian murni yg disebabkan karena C19. Bila kita melihat angka kesembuhan, ternyata penularan virus ini secara fakta di data tidaklah seganas yg diberitakan oleh media. Didalam tubuh kita ada beragam bakteri dan virus yang sudah masuk jauh sebelum virus Corona. Apabila ada banyak orang yg meninggal karena C19, berarti sudah ada banyak virus yg menyerang mereka sebelum Corona datang. Sehingga ketika corona datang dan berkembang di sel tubuh, antibodi di tubuh mereka sudah tidak bisa mengantisipasi lagi.
 
Sepertinya pembatasan sosial perlu di longgarkan sedikit supaya ada keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi. Kita tidak bisa hanya melakukan aktifitas di dalam rumah karena akan membuat kejenuhan yg membuat kita depresi. Kita juga perlu pendapatan utk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun perlu di ingat, selama pemerintah menganjurkan untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak kita harus mematuhi anjuran tersebut. Karena penularan masih banyak terjadi dan resiko kematian juga ada walau sedikit. Dan resiko kematian terbesar adalah orang2 yg mempunyai penyakit bawaan spt diabetes, hipertensi, jantung, ginjal, dan paru2. Jadi apabila ada keluarga, teman, ataupun kerabat yg mempunyai resiko kematian krn penyakit diatas, sayangilah mereka utk tetap mematuhi protokol kesehatan supaya tidak menulari mereka.

Panda:
Ada Betul nya.
Tapi kalo ga kena covid ya tidak secepat itu matinya.

??? ??? ??? ?????? ??? ??? ???:
Yup, krn imun tubuh bisa mengantisipasi

Awam Wahono:
Banyak contohnya  , Kena covid juga bisa sembuh kalau tidak punya penyakit bawaan yg kronis

Robin:
Pertanyaannya, kurang longgar apa PSBB saat ini? Ini udah langkah cukup moderat dibanding lockdown dan konservatif dibanding membebaskan sebebas bebasnya

??? ??? ??? ?????? ??? ??? ???:
kurang longgar buaf kelompok pendemo nasbung supaya bebas berteriak dijalan, bakar2, lempar2, dll tanpa protokol kesehatan

Alexander David ™️ ✅:
Aku setuju dgn mas Alif dgn asumsi semua orang punya pemahaman spt mas alif.

Logika yg sama : Naik motor jg ada risikonya, semua tahu ngebut bisa mati. Kesadaran sendiri saja pakai helm dan stop di persimpangan. Gak perlu ada lampu merah, nanti orang2 jenuh ketiduran. Gak perlu ada rambu batas kecepatan, dilarang masuk, dll. Angka kematiannya juga tidak banyak2 banget.

Pemerintah punya tugas melundungi segenap rakyat semaksimal mungkin. Ikhtiar. Sama seperti orang tua  / guru berkewajiban mendidik & mengatur anak2. Ada anak yang pandai dan bisa mengurus diri sendiri, tp ada yg malah sebaliknya. Coba bayangkan kalau anaknya 10 mau diajak ke ragunan. Coba kalau 100, coba kalau 250 juta. Ada yg sudah bisa lari, jalan, baru belajar jalan... Pemimpin dlm "team" pasti tahu "Kekuatan sebuah rantai = mata rantai terlemahnya".

IFR hampir 1% itu dengan catatan ada dokter dan fasilitas kesehatan yg cukup. Kelihatan kecil karena pembandingnya 100. Kalau 1 persen dari 250.000.000 berapa ? Katakanlah keluarga besar kita kalau lagi nikahan  lebih dari 100 org. Itu artinya kalau beruntung  cm relakan 1 orang dari keluarga (entah suami, istri, ponakan, paman, bibi, mertua, bahkan anak kita).

Bgm seandainya ada 250.000.000 orang sakit bersamaan, lalu dokter tidak cukup, semua rumah sakit penuh, maka angka IFR 1% itu jelas tidak berlaku !! Entah akan jadi berapa. Dan jgn lupa bahwa yg akan membutuhkan fasilitas kesehatan itu  sekitar 20%. (Berapa jumlah dokter kita ?) Jadi kalau 100 orang positif, 80 bisa sembuh sendiri isilasi di rumah, 20 harus dibantu oleh dokter. Dari 20 yg dibantu ini, 5 akan perlu ICU. (Berapa bed ICU kita ?) Dari 5 ini, satu diantaranya... mungkin keluarga besar kita. Berapa hektar tanah yg harus kita siapkan ? (Berapa harga 1 nyawa ?)

PR, coba lihat negara2 yg "relatif" lebih dulu sukses tangani corona. Misal Singapura, New Zealand, Jepang... apa karena mereka berhasil lalu ekonominya baik2 saja ? Berapa persen resesinya ? Sepertinya tidak akan ada 1 negara yg bisa hidup sendiri sob... Bahkan korut yg terisolir, tetap butuh minyak dr negara lain.

Sepertinya satu2nya cara cm doa, sabar dan tetap semangat. Ini ujian bagi semua negara, semua manusia. Bantulah mereka yg kesulitan, sebisa kita bantu, kita tdk bisa hidup sendiri. Ayo dukung pemerintah...

Itu yg aku tahu. Tolong di periksa lagi jgn main percaya pd siapapun. Mohon maaf kalau ada yg salah... have a nice weekend all...

Robin:
Anda terlihat konyol..
1. Dari judul saja kesannya sudah memprovokasi, anda penulis atau provokator sih?
2. Anda contohkan mobil motor di mana kecelakaannya lebih besar, bukan berarti mobil motor dilarang, memang benar. Tapi ingat di mobil dan motor pun ada pembatasan yg namanya aturan berlalu lintas, pake seat belt, pake helm.. nah kalo di pembatasan sosial, ya pake masker, jaga jarak
3. Baru pembatasan sosial aja udah ribut setengah mati, apalagi lockdown, bisa bisa judul tulisan Anda "Cabut Lockdown Atau Akan Terjadi Bunuh Diri Massal"

Supreme Leader:
Namanya opini mah sah2 aja sepanjang argumennya kuat apalagi berdasar fakta, kenapa engga?

Anda berbicara seperti g ada masalah dengan pembatasan sosial, pake maskerlah jaga jaraklah, kyknya anda kurang mengerti kesusahan org2 yg kehilangan mata pencaharian setelah covid alias anda tipe org2 yg terima gaji perbulan. Beda nya jauh boss, org2 yg g terima gaji bulanan resah setengah mampus, belom bayar kontrakan, utang bank, keluarga ada yg sakit, kebtuhan anak2, listrik air gas.

Alih2 bilang provokator ke penulis, kenapa ga anda bantah argumennya penulis pake dasar2 seperti fakta dan data d lapangan, pasti lebih menarik.

Robin:
Tentu karena mengertilah makanya saya bilang konyol. Sekarang siapa yg tdk susah di masa pandemi ini? Hampir semuanya susah, jgnkan pekerja, sob sob aja byk yg terkena dampaknya, usahanya byk yg tutup, atau kalau masih jalan pun penghasilan ngedrop. Dan itu fakta di lapangan.. pemerintah memberlakukan PSBB juga karena terpaksa melihat situasi di lapangan juga, nah yg nulis cabut PSBB itu yg gak melihat situasi di lapangan, apalagi memprovokasi akan ada demo dan kerusuhan segala

Alex R.:
"Tapi masalahnya, di Indonesia ini ada banyak kubu yang sedang mengintai kekuasaan. Semuanya saling memanfaatkan dan berkolaborasi masuk untuk satu tujuan: pelengseran." Setuju banget dengan statement Cak Alif diatas. Berbagai kubu tersebut tidak sabar menunggu 2024 dan mau mengambil jalan pintas untuk merebut kekuasaan. Ada yang merasa tidak mungkin bisa menang di tahun 2024 jadi bernafsu ikut bergabung sekarang supaya bisa kebagian jatah kekuasaan (yang sekaligus berarti duit dan harta). Ada yang ketakutan hasil korupsinya disita negara. Ada yang mau mengganti dasar negara, dst., dst.  Mereka mencoba mengedepankan alasan moral, menyelamatkan bangsa, entah apa lagi yang indah-indah tapi semua itu cuma dalih untuk menjustifikasi gerakan mereka.

Anti Prakerja:
Setuju sob Seword (kalimat pembuka agar komentar saya gak dihapus moderator). Tapi tidak semua sebagian saja.

Darurat nasional memang sebaiknya dicabut saja. Argumen anda tidak berkorelasi pencabutan status darurat dengan demo. Bahkan cenderung malah bertolak belakang antar argumentasinya. Dikatakan demo karena jenuh dirumah saja tapi dikatakan juga demo untuk pelengseran. Mana yg benar? Turunkan saja status darurat nasional jadi darurat daerah. Kasihan anggaran pusat disedot padahal pelaksanannya di daerah malah joget-joget dangdutan. Darurat daerah tanggung jawab daerah, pusat hanya support saja.

Sudah 7 bulan berlalu, seperti tak ada pergerakan keluar dari beban. Saya membaca justru presiden yg bergerak maju sedangkan daerah diam, malah ada yg maju mundur cantik. Memilih PSBB lalu segera dilanjutkan new normal, Pilkada jalan terus, UU ciptakerja lanjut. Itu gerak maju. Diam tidak akan pernah memenangkan peperangan.

Tidak juga harus frontal! Masker perlu pakai, jaga jarak perlu, tunda kunjungan tidak penting terutama pada kelompok rentan. Tidak memulu masalah.kesehatan, ada sisi sosial politik yg jadi beban. Itu yang saya baca dari Jokowi soal vaksin.

Vaksin itu penting dari sisi politis. Uji klinis sinovac pasti berhasil. Walaupun harus membayar mahal, dengan demikian tidak ada tekanan politis lagi bagi presiden untuk bergerak maju. Kita semua harus maju tidak ada alasan lagi untuk diam.

Pelonggaran pembatasan sosial ya harus direvisi terutama di daerah. Satu kecamatan tidak ada kasus postif, pasar ramai, masjid ramai, ko ya sekolah masih tutup. Sampai ada guyonan, corona itu tidak ada di pasar, di mesjid, di lapangan, di rumah, adanya di sekolah.

Protokol jenazah covid pun layak di revisi. Bolehlah yg terkonfirmasi sebelum meninggal. Bagi yg masih suspect, harus ada pelonggaran. Budaya kita sangat menghormati jenazah. Ketika viral foto pasien di-wrapping plastik di ranjang RS, bagaimana tidak terjadi perebutan pasien. Foto dari discovery cannel itu sangat mengerikan bagi budaya kita. Sebagai penghormatan, masa tidak bisa jika diisolasi dulu 8 jam toh katanya dalam 4 jam virus mati dalam jasad mati. Kemudian diizinkan dimandikan oleh keluarganya dengan tetap menjaga protokol kesehatan, dikafani, dan disolatkan 3 shaf bagi muslim.

Saya setuju covid ini kebanyakan dramanya, banyak propagandanya. Tapi tak perlu frontal untuk bergerak maju dan menang.

Di:
Terima kasih Om pemaparannya...

BENZ GUN:
Meskipun Darurat Covid dicabut menurut  saya Demo dan rusuh tempo  hari tetap saja terjadi...
Tujuan mereka cuma satu Lengserkan Jokowi tak peduli ada atau tidaknya Darurat Covid...

focalaria:
Mungkin yang ingin disampaikan adalah, protokol yang berlebihan yang kurang masuk akal sehat dan sangat memberatkan masyarakat seharusnya dikoreksi atau jelasnya dihapus. Kalau hanya sekedar pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak sih tidak terlalu bermasalah dan masih dapat terjangkau biayanya. Akan tetapi contoh pemborosan rapid test yang mahal sebelum naik pesawat dapat segera di hapus, cukup pakai masker. Udara dalam pesawat walaupun ruangannya relatif kecil tapi penyaringan udara didalam kabin terjadi sangat effisien, berganti setiap 2-4 menit dan filter dan sirkulasi udaranya mengikuti standard HEPA (yang dapat menangkap 99,97% partikel yang berukuran 0,1- 0,3 mikron), yang menyaring dan membunuh virus dan bakteri melalui proses filter dan pemanasan. Kalau naik pesawat saja harus rapid test, apalagi kendaraan umum lainnya seperti KRL, MRT, Bus dan lain2. Kendaraan umumtersebut tidak memiliki sirkulasi udara standard HEPA.

Buaya2009:
Kalau naik pesawat saja harus rapid test, apalagi kendaraan umum lainnya seperti KRL, MRT, Bus dan lain2. Kendaraan umumtersebut tidak memiliki sirkulasi udara standard HEPA.

Tapi kendaraan2 umum tersebut memiliki standard TEPA / NEPA .

[ TEPA / NEPA (bhs SUNDA) -----> Menular / Tertular  ]  ????

welly kamal:
Status darurat nasional memang mesti dicabut mengingat berlarutnya pengintai kekuasaan dan anggaran yang tergerus oleh oknum-lembaga yang tidak bertanggung jawab. Jalankan saja protokol kesehatan dan bersahabat dengan C.19

prasetyonegoro:
Beropini ttg Covid saat berada di JKT sebagai pusat pandemi dibanding di luar Jakarta berbeda daya empatinya. Sama halnya mengendarai mobil di jalan tol dan di jalan biasa berbeda resikonya. Pencabutan pembatasan aktifitas tetap harus berdasarkan argumentasi medis, sebagaimana  secara medis virus itu terdefinisikan.

Siapapun pasti jenuh dan menginginkan pembatasan aktifitas segera dicabut, tetapi bukan karena alasan demo atau pemberontakan sipil.

Panda:
Bung Alif lupa satu hal,
Yaitu protokol kesehatan
Kalo ga ada itu entah sdh berapa juta yg kena.
Contoh ya USA n India.
Jadi relatif warga 62 masih lebih baik patuh sama protokol kesehatan.
Yg membedakan covid dgn virus lain
Ya spreading nya sangat Cepat.

Banyak Contoh negara Di Eropa yg sdh mau balik ke normal Di Hajar lagi tuh gelombang dua.

The choice is yours.

agung widodo:
Begitu juga dengan virus HIV. Yang ganas, mematikan dan juga menular. Apakah lantas prostitusi jadi ditutup? Tidak. Masih banyak hotel dan spa yang menyediakan layanan ini. Apakah mereka tidak sadar resikonya? Sadar.

Ya kalau ga mau kena HIV / AIDS ya jangan main2 dengan yang begituan !
Yang kefefet, carilah cara yang lebih bersih dan beresiko kecil,... EHM ...

TUgiyo:
Faktanya hiv lebih banyak yg lewat jarum suntik daripada yang esek2 tapi kalo di negara ini selalu aja yg diangkat yg esek2...wkwk

Indisen:
Poligami adalah solusi

Panda:
Hmhm biaya nya yg gede ya
Hahaha

Wele Wele Machih Learn To Joke:
kan "sehat itu mahal"

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Darurat Nasional Covid Dicabut, Atau Demo Dan Kerusuhan Yang Lebih Besar? Seword #1 Opini Indonesia yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/darurat-nasional-covid-dicabut-atau-demo-dan-aWK5OFnfVp

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: