You Now Here »

Rumah Sakit Bebankan Biaya APD Rp1.5 Juta Ke Pasien  (Read 85 times - 126 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 24,052
  • Poin: 24.131
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Rumah Sakit Bebankan Biaya APD Rp1.5 Juta Ke Pasien
« on: February 07, 2021, 08:19:14 PM »




??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Kalau fakta di lapangan banyak terjadi dengan membebankan pasien utk membayar APD adalah tindakan tidak fair dan diluar kewajaran. Harga yang ditentukan sebesar 1,5 juta benar² keterlaluan. Gue cek harga APD paling murah 70 ribu di salah satu situs belanja online. Kita ambil harga APD lengkap pun tak lebih dari 250 rb. Ini namanya mencari keuntungan ditengah penderitaan. Tuhan tidak suka dengan cara ini. Perlu di kudeta RS yang memberikan kebijakan seperti itu.


Apalagi pembebanan biaya APD bagi pasien menengah kebawah sangatlah memberatkan. Bagaimana imun tubuh meningkat dan cepat sembuh,  sementara pasien mendengar harus bayar yang bukan obat...? Akhirnya ada banyak pasien memilih keluar dari RS dan memilih istirahat di rumah daripada membayar hal² diluar dugaan. Padahal mereka harus di isolasi dan ditangani lebih lanjut agar tidak menulari keluarga maupun orang lain. Sebenarnya APD tsb tidak dipakai untuk pasien itu sendiri melainkan untuk dokter maupun suster yang merawat. Gue dengarnya miris dan prihatin dimana banyak RS mendapatkan bantuan APD dari masyarakat dan pemerintah tetapi mengambil keuntungan dari "penjualan" alat pelindung diri tsb.

Gue pribadi menilai kebijakan rumah sakit menambahkan tagihan APD tidak masuk akal dan mengada². Alasannya karena kebijakan tsb sangat membebani pasien yang kemungkinan banyak dari mereka adalah peserta BPJS. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga damkar. Sudah sakit lalu ekonomi sulit karena kehilangan pekerjaan, eh.. di palak suruh bayar APD. Susah bener hidup di masa pandemi....

Begitulah stupid kopid...

Bond Choz:
Bayar test PCR, APD, dan biaya tak terduga lainnya membuat oknum mendapat keuntungan berlipat di masa pandemi dibanding tanpa ada pandemi. Hebatnya warga +62 mencari peluang untuk dapur supaya ngebul.

??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Betul bang... kasihan aja sama.mereka yang ekonominya bukan lagi pas-pas²an tapi bener² udah gak mampu lagi alias cekak. Padahal pemerintah udah kasih insentif ke RS tapi yang namanya oknum dimana² pasti ada.

Tong kosong:
Miris ????

??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Pasti lagi miris-miris bawang merah terus mata kepedesan jadi nangis. ????

Tong kosong:
Kok tau,sob? ???

??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Tau lah, pas buka komen loe aroma bawang tercium ??? ?????

Tong kosong:
??? ??? ??? ??? aku mundur aja nti perutku mules lg? ???

??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Ok deh selamat malam dan jangan lupa obat batuk utk perut mulesnya ????

Tong kosong:
Sdh kuminum? ???,met tidur✋

»§«:
ini karena ada mafia obat, mafia rumahsakit, mafia askes sehingga harga obat dan biaya rumahsakit melonjak, akibatnya bpjs jadi tekor dan masy jadi tambah miskin.

phuensum:
Terkenal dengan istilah: DETAILER (mengumpulkan data jumlah dan jenis obat yg sudah diresepkan pabrikan lalu diakumulasikan jadi bonus). Rahasia umum lah ini sob.

??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Terus oknum dokter sama apotik dikasih uang dibawah meja.

phuensum:
Dah makin fulgar kayanya, sekarang diatas meja ga dibawah lagi. Ujung2nya malak langsung spt APD?. :D

??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Ada mafia dokter, mafia sales obat, mafia sales alkes, mafia RS semuanya dalam satu lingkaran.

»§«:
awalnya terawan dikhususkan utk membasi mafia di dunia kesehatan ....
sekarang gimana kabarnya terawan yaaa

??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Kembali jadi dokter di RSPAD lebih tenang gak ada yg ganggu pake kursi kosong.

phuensum:
Apakah masa pakai APD yg mahal itu  cuma mampu terpakai sekali  kunjungan pasien lalu dibenani seperti tu?

??? ??? ??? ??? ᵃʲᵃ  ✅:
Kemungkinan iya

doodleramen:
Pertanyaannya, apakah RS kita mampu menangani jumlah pasien sebanyak itu? Sangat mampu.
Dari sini saja sudah kelihatan level penulis ini cukup rendah. Sudah banyak kejadian penderita covid yang dibawa ke RS tapi tetap tidak tertolong karena minimnya fasilitas di banyak RS. Tabung oksigen yang relatif murah saja langka, apalagi ventilator yang harganya bisa ratusan juta rupiah.

Kalau sekedar apakah mampu menangani, mungkin iya. Menangani kan bisa saja cuma dikasih rebahan di bed RS dan dikasih infus. Tapi kalau pertanyaannya apakah RS kita bisa banyak menyelamatkan nyawa mereka yang berada dalam kondisi kritis. Jawabannya jelas tidak.

Heran, kalau mau kritik mafia APD atau orang yang aji mumpung memanfaatkan situasi ya silahkan saja. Malah baik. Sedangkan berulang kali menyepelekan covid malah membuat penulis kelihatan bodoh kronis.

GalihK:
Seharusnya Penulis bertanya ke RS dan Dokter2, apakah benar opini dia bahwa RS kita mampu menangangi jumlah pasien yg bertambah?

Seharusnya Penulis juga membaca berita2 dunia di negara2 lain dan mencari data dan fakta. Bukan hanya berdasarkan pemikirannya sendiri.

Mau mengutip kata2 Penulis sendiri di artikelnya dulu, “Pesan saya kepada para penulis Seword, lihatlah sesuatu dengan jelas dan detail. Agar kita bisa menjadi tim penulis yang bisa menyimpulkan segala isu dengan benar, di tengah derasnya informasi media dan media sosial.”

Stefanus Chandra:
Semoga pihak yang berwenang mengaudit RS tersebut, apakah hal itu benar terjadi. Jika memang benar terjadi, sepertinya termasuk korupsi. Dan perbuatan korupsi saat penanganan pandemi Covid-19, bisa dituntut sesuai dengan Hukum yang berlaku, bahkan bisa dituntut hukuman mati.

Jay:
Ad gula ad semut....ad pandemi ad anggarannya. Selama anggarannya ad wabah pandeminya terus ad. Rata² smua org yg meninggal karena covid (katanya) datanya . Aneh bin ajaib

Ari:
gw rawat saluran akar gigi di satu klinik gigi harus bayar APD ( yg ternyata berupa jas hujan yg 10ribuan dan cap rambut) dengan harga 50 ribu . Sekali buang tentu saja. perawatan saluran akar gigi kan bisa  5 kali visit. 5x 50 ribu = 250 ribu cuma buat jas hujan itu yg langsung dibuang ke tong sampah.

Makmur Jayakarta:
Melihat rekam jejak video di mana banyak sumbangan APD² ke RS secara GRATIS. Bahkan kelompok disabilitas
pun  ikut menyumbang APD.


(click to show)


Saya membayangkan jika orang² yang menyumbangkan APD baik secara langsung maupun tidak langsung saat ini akan menjalani pengobatan di RS. Akankah dipalaki oleh RS juga?

MIRISSSSS!!!

Tenaga medis zaman sekarang tidak sedikit yang money-orriented. Yang berhati nurani bisa dihitung ????

Dulu Saya punya langganan dokter senior yang setiap hari kliniknya selalu antri dengan pasien². Beliau tidak mematok tarif berobat pasien dan biaya obat (tergantung ketersediaan obat di klinik beliau). Seikhlasnya saja. Bahkan jika ada pasien yang kurang mampu pun DIGRATISKAN. Sayangnya beliau sudah meninggal 2 tahun lalu. ????

Saya berharap calon² dokter yang masih muda², yang masih menjadi mahasiswa kedokteran. Utamakan sikap empati kepada pasien.

Debrodjo:
Kopid ... kesempatan besar jadi kaya raya, bagi mereka yang nggak punya hati dan nurani. Tidak lupa mereka2 itu berdoa dulu sebelum berangkat kerja untuk mengambil untung dari kopid.

Tong kosong:
Kpn Indonesia ini merdeka dr penjajahan seperti ini,miris? ??? ??? ?????

»§«:
penjajahan di atas dunia akan selalu ada karena sesuai dengan peri-kapitalisme dan peri-imperialisme

Tong kosong:
Yup

Jasmine:
Sebaiknya Menkes & tim bisa blusukan ke RS di seluruh Indonesia, jadi praktek seperti ini bisa diminimalkan, jangan dikit-dikit WFH akhirnya cul-culan di lapangan, terserah RS nya dan pasien tidak punya pilihan selain menelan ludah kena todong.
Kalau RS bisa 'sungkan' atas sumbangan gotong royong masyarakat yah gak mungkin terjadi hal ini, masalahnya kan nanti disudutkan dengan kata-kata: kan kamu yang sumbang, bukan kita yang minta

Jasmine:
Sebaiknya Menkes & tim bisa blusukan ke RS di seluruh Indonesia, jadi praktek seperti ini bisa diminimalkan, jangan dikit-dikit WFH akhirnya cul-culan di lapangan, terserah RS nya dan pasien tidak punya pilihan selain menelan ludah kena todong.
Kalau RS bisa 'sungkan' atas sumbangan gotong royong masyarakat yah gak mungkin terjadi hal ini, masalahnya kan nanti disudutkan dengan kata-kata: kan kamu yang sumbang, bukan kita yang minta

Supreme Leader:
Jadi efek g pake TPK adalah rs sedikit  pasien, ribet sendiri oleh aturan swab dan apd, org2 pada takut ke rs, jadi tiap ada yg ke rs akan di bebani biaya dr hal2 yg g perlu, good job ???? IDI!!!
Pasti kalian g mikir sampe sejauh ini

GalihK:
TPK belum terbukti secara ilmiah sukses ya untuk mengobati COVID-19, kecuali kalau diberikan plasma yg kadar antibody-nya tinggi dan harus diberikan pada masa awal terinfeksi.

FDA sendiri baru saja mengubah Emergency Use Authorisation mereka sesuai dengan hal di atas. TPK gak boleh dipakai kalau pasien sudah dalam keadaan parah karena terbukti tidak berguna untuk membantu pasien pada saat itu.

Gunakanlah TPK sesuai dengan bukti ilmiah yg ada dan jangan dibuang2 untuk pemakaian pada pasien yg tidak sesuai indikasinya.

Supreme Leader:
Lucu banged, emangnya seberapa banyak pasien yg sdh dlm keadaan parah d banding yg tdk parah? Wong sedari awal TPK g d pakai krn g ada untungnya secara financial.

Jd secara ilmiah mana yg bilang TPK g terbukti, bawa sini jurnalnya....

Daaan, yg paling penting jgn lupa, apa yg lebih ampuh dr TPK? Klo bilang tpk g ampuh, sy juga bisa.

GalihK:
Ada beberapa Randomised Controlled Trials yg sudah membuktikan bahwa TPK tidak berhasil.

Silakan baca “A Randomized Trial of Convalescent Plasma in Covid-19 Severe Pneumonia” dari jurnal NEJM, dan “Convalescent plasma in the management of moderate covid-19 in adults in India: open label phase II multicentre randomised controlled trial (PLACID Trial)” yg dipublikasikan di jurnal BMJ.

Bisa juga baca berita-berita dari RECOVERY Trial dan REMAP-CAP Trial tentang TPK ini yg hasilnya juga negatif.

Satu-satunya Randomised Controlled Trial yg hasilnya positif untuk TPK adalah artikel di NEJM juga yg judulnya Early High-Titer Plasma Therapy to Prevent Severe Covid-19 in Older Adults.

Terapi yg sudah ada buktinya secara ilmiah adalah Remdesivir untuk pasien yg diopname dan Dexamethasone untuk yg parah. Tapi memang untungnya sebagian besar pasien itu bisa sembuh sendiri ya tanpa obat, karena memang tubuh kita itu bisa melawan infeksi virus.

Sayangnya inilah fakta medis yg ada sampai sekarang ya dan kita semua masih menunggu bukti-bukti ilmiah lain yg akan dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional nanti.

WelehMachihLearn2Joke:
jadi rupanya ada yg belajar jadi mafia askes kecil2an nih.. biar cepat naik haji, kata penulis..

F545150:
Semoga owner, doktor, staf RS nya kena kopit semua biar nyaho biar tao rasa...

Samiun:
asal tahu saja, Covid itu berkah bagi pejabat, proyek bancakan bagi penguasa dan pengusaha, Covid hanya bencana bagi rakyat jelata yang di peras dengan alasan razia prokes, beli vaksin, bansos......

semakin lama covid masih ada akan semakin sejahtera para pemimpin bangsa...........MERDEKA !!!!!!!

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Rumah Sakit Bebankan Biaya APD Rp1.5 Juta Ke Pasien Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/rumah-sakit-bebankan-biaya-apd-rp15-juta-ke-g6H3Mby6nd

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: