You Now Here »

Doktor UGM Sebut Epidemiolog Jangan Ngomong Saja, Jubir Anies Ngamuk Di Twitter  (Read 121 times - 66 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 24,279
  • Poin: 24.358
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




»§«:
gw pribadi penasaran dgn cara kerja GeNose.
pengetahuan gw terbatas pada PCR.
tapi menurut gw, PCR bisa kurang efektif dan kurang akurat karena PCR hanya mendereksi asam nukleat (DNA/RNA) berukuran kecil yg diasumsikan sebagai virus covid padahal banyak asam nukleat yg berukuran kecil yang bukan virus dan juga tidak semuanya virus covid.

seharusnya test PCR dilengkapi dgn primer dan probe. perlu disertakan sequence lengkap dari asam nukleat virus covid sebagai probe utk melacak jika di sample terdapat materi genetik virus covid.
kenyataannya, test PCR hanya merupakan proses perbanyakan asam nukleat tanpa disertai probe pelacak.

lemonteh:
Ternyata sampeyan ahli asem2an ya sob..? ????

»§«:
yaa gw pernah mendalami microbiology

FAUZi:
Kalau Staphyloccous hominis khusus pada kelompok onta yaman dan gerombolannya apakah sama atau berbeda dengan kelompok lain ? dan apakah ada varian  Staphyloccous hominis yang luar biasa kuat pada pengguna jilbab ? soalnya uammbune iku lho kalau pas dibuka

lemonteh:
Wewww... ??? ?????

»§«:
inilah yg menyebabkan begitu banyaknya orang yg diklaim terkena covid walau setelah melalui test PCR, karena test PCR hanya melacak dan mengasumsikan asam nukleat berukuran kecil sebagai virus covid tanpa menyertakan probe pelacak dalam proses elektroforesis PCR.

GalihK:
Kalau orang hasil PCRnya positive, itu artinya memang dia terinfeksi COVID-19 ya, karena faktanya PCR itu adalah teknik dengan specificity yg tinggi dan False Positive rate yg rendah.

GalihK:
Maaf ya, PCR dari dulu itu pasti memakai primer dan probe, dalam hal ini yg spesifik untuk sequence-nya virus COVID-19.

Itulah cara kerjanya PCR yg merupakan gold standard untuk mendeteksi virus ini ya berdasarkan materi genetik, dan bukan hanya memperbanyak asam nukleat yg bukan COVID-19.

Jadi pemahaman anda soal PCR itu masih salah ya. PCR tidak pernah hanya mengasumsikan asam nukleat berukuran kecil sebagai virus COVID-19.

»§«:
seperti test elisa menggunakan enzim dan antibodi sbg primer dan probe, seharusnya pcr dilanjutkan dgn specific site dari genome covid sbg probe utk melacak keberadaan genone covid di samoke (jika ada).

yg gw tau, pcr adalah hanya sebatas teknik perbanyakan asam nukleat, yg bisa dinilai dari hasil pcr hanyalah ukuran base-pair dari asam nukleat yg diperbanyak tapi tidak bisa mengidentifikasi asam nukleat apa yg ada di sample.

gw pernah baca hasil pcr dari sample orang yg positif covid. dasar penilaiannya adalah CV (seberapa banyak siklus diperlukan utk mendapatkan asam nukleat berukuran kecil.
menurur gw, kelemahan interptetasi pcr adalah asumsi bahwa semua asam nukleat berukuran kecil dianggap pasti genome virus, lebih lanjut, dianggao genome virus covid.
padahal tidak semua asam nukleat berukuran kecil adalah genome virus apalagi virus covid.

utk akurasi lebih tinggi seharusnya pake probe pelacak.
ibaratnya melacak sidik jari sample sbg primer dgn menggunakan database fingerprint sbg probe.

GalihK:
Maaf ya, apakah anda pernah melakukan ELISA test dan PCR test sendiri, apakah pernah diskusi dengan orang yg berpengalaman melakukan tests tersebut, atau cuma dari baca-baca saja? Karena sayangnya pemahaman anda akan cara kerja test itu sangat salah ya. Saya pernah kerja di molecular biology lab selama bertahun-tahun dulu jadi sudah banyak banget melalukan PCR.

ELISA itu memakai antibody, dan tidak memakai primer dan probe sama sekali. Kalau Real-time PCR itu harus memakai primer untuk bekerja dan probe untuk mendeteksi proses amplifikasi.

Primer dan probe-nya telah di-design menggunakan genetic sequence dari target yg mau kita amplifikasi, dan itu sangat specific, jadi PCR tidak akan mengamplifikasi materi genetic lain, kecuali target yg kita mau (dan dalam hal ini ya materi genetic dari virus COVID-19 itu).

Yang anda maksud dengan PCR hanya mendeteksi berapa ukuran base pair dari genetic sample itu kalau menggunakan qualitative PCR technique ya. Jadi setelah amplifikasi hasilnya akan kita run di gel electrophoresis dengan menggunakan DNA ladder sebagai pembanding, terus diambil fotonya untuk mengetahui apakah samplenya itu mengandung genetic sequence yg kita mau atau tidak.

Nah ini technique yg sedikit beda daripada Real-time quantitative PCR yg kita gunakan sekarang, yg menghasilkan Ct value sebagai result akhirnya. Tapi qualitative PCR yg pakai gel electrophoresis itu juga harus memakai primer yg didesign secara specific untuk hanya mengamplifikasi materi genetic yg kita mau dan bukan hal-hal lain.

Saya sarankan anda membaca lebih banyak atau menonton video YouTube soal cara kerja ELISA, qualitative PCR dengan gel electrophoresis, dan Real-time quantitative PCR yg sekarang dipakai untuk mendeteksi COVID-19. Kalau bisa diskusi langsung dengan orang yg berpengalaman pernah kerja di lab itu akan lebih baik lagi, tapi saya gak tau anda ada kenal orang yg bisa ditanya-tanya atau tidak.

Frog in Boiled Water ™️ ✅:
Fingerprintnya pasti dipakai sob. Bagaimana mungkin mencari sesuatu yg spesifik tanpa tahu apa yg dicari ?

(click to show)

Di atas itu screenshoot pcr step 4. Di tahap sebelumnya spesimen sudah dimurnikan lbh dulu.

(click to show)

Itu menggunakan ciri genetik spesifik yg cuma ada di virus Covid. Jadi tidak mungkin bisa salah identifikasi...

(click to show)


(click to show)


Aku yakin kalau soal PCR... tp kalau soal genose, jujur aja logika satu itu amburadul parahnya. Andai ada mahasiswa mau buat skripsi topik genose, aku sih yakin baru tahap pengajuan sdh ditolak krn gak nyambung.

Manuel Mw:
saya gak paham 2-2nya secara detail, tapi yang sy bahas lebih ke arah nyinyiran epidemiolog yang nggak guna...

FAUZi:
nggak jelas artikelnya, siapa yang nyinyir ga disebut namanya

Affifa Noor Fatemma:
Saya apresiasi penemuan alat ini. Sgt membantu dlm suasana pandemic.
Orang orang mcm ini hrs di beri ruang YG luas shg mampu mengekplore kemampuan nya Dan beguna bg kemanusian

»§«:
semoga si prof berkenan menjelaskan cara kerja GeNose secara umum utk mengurangi keraguan dan mencegah munculnya mitos takhyul bahwa GeNose adalah barang keramat ajaib yg bisa mendeteksi segala macam penyakit.

GalihK:
Betul sekali, yg ditunggu adalah untuk mempublikasikan data specificity dan sensitivity GeNose setelah dibandingkan dengan hasil PCR di jurnal ilmiah, biar bisa dibaca oleh semua orang.

Kalau hanya cuma dari klaim seorang tanpa menunjukkan datanya, secara ilmiah itu belum bisa diterima.

Frog in Boiled Water ™️ ✅:
Gak usah ditunggu. Logikanya saja gak masuk dok :) Hal yg mission impossible tidak akan ada penjelasan ilmiahnya. Ini mah mirip mencium asap knalpot buat mendeteksi businya merek apa.

Kecuali virus ini masuk kategori zat gas, alat ini paling jauh cuma mungkin bisa deteksi abnormality di paru2. Mungkin bisa deteksi pneumonia, tp tdk akan bisa tahu pneumonia itu disebabkan bakteri, jamur, atau virus (berbagai macam termasuk covid). Itupun baru mungkin...

F545150:
Sudah jago ngebacot jubir wan anies masih pake jubir ngebacot ? Ah kalo kadrown ngga ada gunanya kasi penjelasan tentang alat yg beginian.. mau kasi penjelasan setahap demi setahap juga ngga ada gunanya...

Snipersiantar:
Dimaklumi..orang yang berteori (apalagi mengandalkan tata kata) akan nyinyir pada orang yang bekerja dari teori/mengaktualkan teori.
????☕☕☕

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Doktor UGM Sebut Epidemiolog Jangan Ngomong Saja, Jubir Anies Ngamuk Di Twitter Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/doktor-ugm-sebut-epidemiolog-jangan-ngomong-saja-cr9TTWeg9m

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: