You Now Here »

Mengupas Tentang Vaksin Nusantara (AV COVID 19) Berdasarkan Hasil Wawancara Dengan CEO AIV  (Read 83 times - 61 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 24,279
  • Poin: 24.358
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




????☢︎︎乇 ????꒻ል ✅:
Sebenarnya sebelum artikel ini di buat saya sudah membaca tentang AIVITA ini. Makanya saya mendukung langkah dr. Terawan dan tim melakukan penelitian dan uji klinis lebih lanjut. Namun sayangnya karena berita BPOM yang heboh itu menyebar kemana² dan dukungan lebih dari 100 tokoh yang menolak penelitian tsb, saya jadi pesimis VakNus akan berhenti dalam uji klinisnya.

Sebenarnya program ini sangat baik, mengingat monopoli perdagangan vaksin yang dipegang oleh beberapa perusahaan farmasi membuat ada banyak negara tidak mendapatkan vaksin. Terutama bagi negara miskin yang dana untuk alokasi pembelian vaksin sangat terbatas. Terlebih lagi ada negara yang meng-embargo vaksin karena negaranya perlu milyaran dosis.  Di sini rasa keadilan untuk mendapatkan vaksin di masa global pandemik dirasa perlu untuk mencukupi kebutuhan bagi seluruh masyarakat dunia.

Semoga polemik atas penelitian VakNus berhenti untuk tetap melanjutkan penelitian dan uji klinis berikutnya. Ini adalah lompatan besar bahwa negara kita sanggup memproduksi sendiri vaksin tanpa ketergantungan dari negara lain.  Sudah Saatnya semua rakyat mendukung terutama BPOM dan instansi yang terkait untuk bersama-sama melakukan terobosan besar ini.
Dan semoga juga penelitian ini akan terbuka dan transparan dalam hasil uji klinik sehingga masyarakat dapat mengakses efektifitas dan keamanan vaksin tsb, dan tidak terjadi perdebatan kembali.

GalihK:
Yup, betul sekali.

Keterbukaan dan transparansi data itulah yang akan menghasilkan kemajuan dalam bidang science dan medis.

Johan Mulyadi T:
Masalahnya karena adanya perasaan "dilangkahi" dan sifat manusia moh dikaceni.

Tony Gede:
Makasih buat infonya, pak dokter.

Saya rasa memang ada bagusnya agar data2 pembuatan vaksin ini segera diberikan oleh timnya Terawan ke BPOM.  Apalagi kalau memang alat pembuatannya sudah ada manual / keterangannya dari pabriknya di luar negeri.

Terus hasil vaksin yg dibuat bisa diuji sesuai standard BPOM dan dapat sertifikasi sesuai prosedur.

Kalau memang ini penemuan yg baik, tesnya sesuai prosedur standar BPOM, dan hasilnya memuaskan, saya rasa memang layak didukung.

Victor Drummond:
Kalau teknik ini ga dikenal dalam SOP BPOM gmn? Kita kan negara SOP, makanya ga berkembang penelitiannya.

Tony Gede:
Wah terus terang saya g tau jawabnya.

Dr. Galih, waktu dan tempat saya persilakan? ??? ??? ?????

Aan Widjaya:
BPOM nya di reform aja, atau dicuekin, kan milietr yg nanganinya skarang

Sumbang Saran:
Berkali2 saya bilang bhw sbg engineer yg memiliki ide di luar mainstream, saya memahami pola pikir Dr Terawan dg Vaknus nya. Tanpa perlu pelajari lebih lanjut, saya langsung support apa yg diupayakan Dr Terawan.

Dengan artikel ini, semakin jelas buat saya dimana posisi Vaknus di tengah "bisnis Vaksin" dunia.

Maju terus P Terawan

GalihK:
Ya Pak.

Kita semua perlu pelajari lebih lanjut data yang dihasilkan dari uji klinis ini.

Kalau nanti sudah terbukti secara ilmiah berguna memang harus di-support oleh semua.

Sumbang Saran:
Manusia pada dasarnya lucu. Jika engineer perlu bukti duluan, bakalan tidak ada tuh pesawat maupun rencana ke bulan. Karena ktk merancang pesawat apalagi wahana menuju Planet Mars, yg digunakan adalah vision dan keberanian.

Di dunia kedokteran juga sama, diperlukan sebuah vision dan keberanian untuk memperoleh sesuatu yg baru. Yang mungkin belum ada SOP nya. BPOM tidak memiliki kapasitas dlm visi dan pengetahuan.

Kajian ilmiah pasti akan disusun tim Vaknus, yg beredar seolah2 tim Vaknus tidak paham ttg kajian ilmiah. Termasuk penulis masih berkutat kepada kajian ilmiah. Proses sebelum mencapai bukti ilmiah ini sedang berlangsung, justru disinilah perlunya support kita semua. Kalau sdh terbukti secara ilmiah, tidak perlu lagi support kita. Wong sdh terbukti kog

Freez ????‍♂️:
Betul.. seperti membangun pesawat ulang-alik.. adakah SOP baku pembuatan sebelum pesawat itu jadi.. adanya trial dan error yang menjadi landasan untuk pembuatan generasi selanjutnya..

Muhammad Gandhi:
Sebaiknya kajiannya dilakukan secara ilmiah oleh para pakar yang kompeten bukan cuma komentator-komentator yang kurang menguasai bidang ini. Bagaimanapun proses pembuatan vaksin ini kan proses ilmiah, sedang jurnal ilmiah saja butuh peer-review oleh sejawat yang kompeten baru 'diakui' keilmiahannya, bukan asal publish saja.

Bila memang secara ilmiah dan teknis bisa dipertanggungjawabkan, apa susahnya memenuhi aturan dari BPOM yang merupakan garda terdepan pemerintah dalam melindungi masyarakat dari bahaya yang timbul dari produk obat dan makanan.

Dari berita-berita yang ada, proses yang kurang transparan dan upaya pembentukan opini melalui publik figur yang tidak memiliki kompetensi ilmiah dalam dunia vaksin justru menimbulkan tanda tanya. Bila memang bagus, aman dan bisa dipertanggungjawabkan, apa susahnya mengikuti aturan BPOM? Produksi tablet paracetamol saja perlu mematuhi protokol yang ditetapkan oleh BPOM masak vaksin yang kompleksitas dan resikonya lebih tinggi malah maunya kompromi?

Alexander David ™️ ✅:
Aku gak paham maksudnya tidak ikuti protokol bpom itu bagian mana. Jelas dia minta ijin persetujuan sebelum lakukan uji klinik. Jelas bpom juga ikut monitor prosesnya. Laporan hasil uji klinik juga diberikan ke bpom. Dipanggil komisi 9 hadir...

Semua itu indikasi itikad baik mengikuti prosedur. Kurangnya di mana ? Belum ada Jurnal ? Lha SEMUA vaksin di dunia, yg dibuat  di masa pandemi ini keluarkan jurnal 1-2 saat mereka sdh lakukan tahap 3.

Muhammad Gandhi:
Cuma gara-gara BPOM tidak OK, terus bermanuver dengan pembentukan opini publik dan memberikan tekanan tidak langsung ke BPOM. Yang demikian kan tidak perlu kalau memang niatannya mau patuh.
Perusahaan makanan saja ketika ijinnya tertunda karena BPOM menganggap masih ada beberapa persyaratan yang belum terpenuhi tidak ada yang jadi heboh. Yang harus dilakukan ya melengkapi yang belum lengkap dan mengajukan ulang.
Kenapa Terawan yang katanya pintar dan bergelar Doctor itu gagal membuat terobosan pengobatan 'cuci otak' nya diakui secara resmi dalam dunia medis bahkan hingga kini IDI pun masih tidak OK?
Kasus vaksin inipun kesannya kan ada yang tidak transparan.

Alexander David ™️ ✅:
Gak usah melebar & subyektif, aku gak tertarik "kesanmu". Itu tidak menjawab yg aku tanya : Prosedur sains mana yg tidak dilakukan tim VN ? Aku gak tahu, ini serius tanya !!!

Muhammad Gandhi:
Silahkan digoogle kronologi kenapa vaksin nusantara tidak disetujui BPOM, banyak beritanya.  Berikut sebagian kutipannya:

Pengajuan uji klinis itu tidak disertai dengan data pengujian praklinis. Atas dasar itu, BPOM kemudian meminta tim Vaksin Nusantara untuk menyerahkan laporan studi toksisitas, imunogenisitas, penggunaan adjuvan, dan studi lain yang mendukung pemilihan dosis dan rute pemberian. Sebab produk jadi mengandung Spike SARS-CoV-2 yang diperoleh terpisah dari sel dendritik.

Namun, permintaan tersebut tidak dipenuhi peneliti tim vaksin nusantara dan sponsornya.

Selanjutnya silahkan google sendiri.

Alexander David ™️ ✅:
Maaf, aku tdk perlakukan sains seperti agama yg bisa asal percaya.

Terawan dlm rapat di depan komisi 9, katakan praklinis sudah pernah dilakukan di usa, hasilnya juga sudah diberikan ke bpom. Di google juga bisa, spt dlm artikel dr Galih di Seword. Selain itu tidak ada logikanya, kalau sudah disuntik ke 28 relawan manusia, trus masih perlu lagi balik ke hewan.

Sisanya itu kata2 tanpa data, kamu mau terima 100% percaya begitu saja, tanpa bertanya kebenarannya spt kitab suci ? Bpom seperti Tuhan tidak mungkin salah ?? Spt saat bpom keluarkan izin "Obat Herbal Herbavit19" thn 2020 itu saintifik ???

Apa bpom mau bersedia terima "hasilnya bagus" tanpa ada data lengkap dari peneliti ? Kalau tidak mau... ya kenapa tidak bersedia lakukan hal yg sama terhadap klaimnya ? Yg professional donk... beban pembuktian itu ada pada yg mengklaim / menuduh !

Muhammad Gandhi:
Protocol BPOM itu terkait dengan keamanan dan resiko produk. Semakin tinggi resikonya semakin panjang prosedurnya.
Uji praklinis dikatakan dilakukan di USA itu dimana? Apakah protokolnya sama dengan protokol BPOM? Ini bukan perkara BPOM itu seperti Tuhan, tapi protokol BPOM itu tidak disusun begitu saja, untuk merubahpun tidak bisa seenak jidatnya Terawan. Bila BPOM meloloskan ijin suatu produk tanpa mengikuti protokol yang sudah ditentukan, BPOM bisa dituntut dan itu pidana bukan cuma administrasi.

Mengapa harus melalui BPOM, logikanya sama, dokter lulusan universitas terkenal di luar negeri sekalipun yang sudah praktek puluhan tahun disana kalau mau buka praktek di Indonesia tetap saja harus mengikuti ujian lagi sesuai dengan standard yang berlaku di Indonesia.

BPOM itu bagian dari pemerintah yang  bertanggungjawab terhadap KESELAMATAN orang se Indonesia. Sedangkan setelah memenuhi protokol BPOM pun hasilnya masih bisa tidak aman, kemungkinan ini selalu ada tergantung kompleksitas dari produk. Itu bukan cuma di Indonesia, di negara majupun demikian.

Di Denmark vaksin Astrazaneca dihentikan total setelah ada beberapa kasus penggumpalan darah, yang BELUM terbukti terkait langsung dengan vaksin Astrazaneca. 2.4 juta vaksin pun ditarik sampai batas yang tidak ditentukan. Apa vaksin Astrazaneca di sana digunakan tanpa ijin dari Danish Medicines Agency (BPOM-nya Denmark)? Atau ijinnya diberikan begitu saja tanpa memenuhi persyaratan dari DMA?

Senopati:
Betul, Yang sangat janggal, kenapa Indonesia yg membeli teknologi, justru lebih dulu menerapkan pada manusia. Sedangkan di Amerika sendiri baru dicoba pada tikus (Phase 1).
Begitu juga tahapan uji klinis pada manusia, kok malah politisi dan selebriti yang diuji. Padahal uji klinis ini juga ada metodenya, memilih relawan dengan dikelompokkan menurut kriteria pengamatn. Sementara politisi, sebagian malah sudah divaksinasi, artinya sebagai subyek uji, sudah tidak memenuhi syarat.
Sebaiknya bersabar mengikuti tahapan2, sehingga hasilnya dapat dipertanggung-jawabkan.

Alexander David ™️ ✅:
Dicoba pada binatang itu untuk menghindari kalau ada bahaya saat dicoba pada manusia. Tidak aneh.

Yang aneh itu kalau sudah disuntik pada manusia, trus diharuskan coba lagi ke hewan : logikanya gak masuk.

Senopati:
Memang siapa yg haruskan dicoba lagi pada hewan ? dan sejauh ini vaksin Nusantara dalam tahap mana ?
Yang disebut janggal itu perusahaan asal saja belum sampai ke uji klinis pada manusia.

Alexander David ™️ ✅:
Lain kali usaha cari tahu dulu baru beropini supaya gak terlihat parah2 banget sob. Tanya mbah guugle gratis kok...

Senopati:
Biasalah ga bisa jawab, trus bilang orang tanya mbah google. Padahal jelas pernyataan coba lagi ke hewan cuma asal mangap.
wk wk . . .

Alexander David ™️ ✅:
Kalau misal tidak ikuti berita,  tdk tahu, mbok ya jgn galak2 sob. Hal itu sudah ramai di publik, bukan rahasia. Pakai logika juga bisa tebak itu pasti bpom, gak mungkin fda amrik. Google "vaksin nusantara binatang", juga langsung banyak beritanya.

Komentmu itu dibaca banyak orang lho... yg baca nanti berpikir kamu itu agak ...

Senopati:
Pertanyaan simpel, bisa dijawab dg mudah. Antara menulis "tanya mbah guugel" dan "BPOM", ya lebih panjang mana.
Sejauh pemberitaan, BPOM hanya menanyakan bahwa VakNus belum dicobakan pada hewan. Artinya tinggal dilengkapi datanya kalau memang sudah dan lakukan pengujian kalau memang belum.
BAgaimanapun tetap saja situasinya tidak berubah, VakNus belum melakukan tahapan pengujian sampai layak diterapkan pada publik. Dan memang janggal AIVITA sebagai pemilik teknologi malah belum menguji pada manusia.
.
btw, orang bebas aja mo mikir apapun ttg saya, emang apa masalahnya.
.

Alexander David ™️ ✅:
Suka enggak suka, Vaknus sekarang  sudah resmi bisa jalan. Tidak bisa lagi bpom ikut campur.

Jadi buat apa trolling, tokh covidiot gak perlu vaksin.

Senopati:
Terakhir kesepakatan Menkes-KSAD-BPOM, Vaksin Nusantara tidak digolongkan vaksinasi, tetapi terapi imun dan tahap penelitian, dan harus patuh arahan BPOM.
Darimana "resmi bisa jalan" ?

Muhammad Gandhi:
Betul sekali padahal percobaannya sudah sejak 2010

Senopati:
Nah itu dia, Amerika dengan rekor kasus COVID dunia, jauh lebih mendesak solusi pandemi COVID. Angka kasus di Amerika 1 kasus utk 10 penduduk, bandingkan dg Indonesia 1 kasus per 162 penduduk. Lagipula vaksin COVID-19 adalah bisnis milyaran dollar kalau sukses. Menjadi aneh kalau pemilik teknologi malah tidak segera melakukan tahapan uji klinis, bahkan sekalipun idenya dari Indonesia.
Kalau omong soal harga, jelas VakNus bakal jauh lebih mahal, cukup dg bandingkan antara 1 vial vaksin umumnya dg harga kit VakNus.

proyek kebumen somalangu:
Taliban ?

Alex R.:
Terima kasih atas artikel yang memberikan penjelasan secara jernih tentang latar belakang dan tahapan proses yang sedang berlangsung atas pembuatan Vaksin Nusantara. Seharusnya BPOM dan Tim Dr. Terawan bekerja sama berdasarkan kaidah ilmiah dari pada melempar pro dan kontra di mass media yang hanya membingungkan masyarakat. Kalau sampai berhasil Vaksin Nusantara akan memberikan manfaat yang luar biasa terhadap kita semua,

GalihK:
Sama-sama Pak.

Kalau bicara science dan medis yang dipakai memang harus data. Kalau datanya belum keluar, ya semua pihak mesti sabar menunggu.

Debat kusir seperti sekarang itu gak ada gunanya.

Bintaro You:
Apakah Pak Terawan bodoh? tidak....apakah BPOM yg berisi ahli2 bodoh? tidak... apakah pendukung vaknus atau bpom bodoh? juga tidak..... yg jelas klo memang sains...publish saja datanya...jurnal ilmiahnya...peer review-nya....habis itu yg kompeten2 saja deh yg ngomong... ga usah apriori ga usah emosi....tp juga jgn semau-nya.... institusi negara semua yg terlibat...smp tentara juga...tp berantem semua...

Aji Soko Santoso:
Terima kasih atas tulisan yang mencerahkan dari dokter.
Kini polemik ini mulai terkuak.
Bila penelitian Vaksin Nusantara tetap berlanjut, saya yakin ini tidak akan kalah dengan vaksin buatan Chulangkorn University dari Thailand.
Salut kepada teman sejawat

proyek kebumen somalangu:
Sorry saya agak melenceng nih mau ndobos, alkisah jaman dahulu di temukan dan sdh melewati bnyk pembuktian nyata ditemukan salah satu jenis kandungan untuk mengatasi infeksi bakteri yaitu penisilin.
Ketika orang mau membeli maka yang ada di pasaran umum atau di  gunakan kedokteran ternyata merk nya macam macam.
Ada yang sama produsen dan ada yang dari produsen lain.
Kesemuanya menyatukan bbrp kandungan yang mana berdasar kemampuan mereka dan riset mereka lebih manjur ataupun lebih dapat efektif untuk salah satu akibat infrksi bakteri tertentu.
Ada yang merasa sangat cocok dengan obat suatu jenia dengan melihat kemampuan nyata suatu produsen, yang menyelamatkan nyawa nya dimana pada saat yang lain tdk sanggup.
Peracik/atau treatment itu adalah kemampyan nyata.
Dari kalimat pada saat semua tidak mampu, produsen ini mempunyai kemampuan, lalu mau pakai standard dr proses yang mana terbukti tidak bisa membuktikan nyata pernah menyelamatkan ?
Dari kalimat kalimat di atas banyak penjabarannya..

Maaf dan terima kasih.
Salam dari saya si orang bosoh.

bersama maju:
Betul
BPOM memakai metode, alat untuk menguji sesuatu yang jenis nya sudah ada.
Kalau oakai alat metode, alat tsb, tidak akan ada penemuan.

Alat uji itu dibuat setelah sesuatu ada, beserta metode nya.

Kalau mau detil masuk lah ke s3jarah para relawan tsb.
Mereka itu sdh terbukti selamat dengan metode dari seseorang atau sesuatu.
Dimana di tempat lain tdk bisa, bisa namun sifatnya hanya menghambat laju penyakit dan bukan menyembuhkan.

Kalau masalah ternyata ini adalah dr AS.
Itu adalah bahan kandungan yang kemudian di racik.
Sama kayak produsen obat seperti paracetamol.
Ada yg di racik bs digunakan sebelum makan.

Ya sebenarnya mudah aja.
G mau pakai ya udah pakai aja sana yang kamu yakini.
Ternyata yang mengandung babi lebih baik drpd yang tdk, bisa komit agar jgn memakai vaksin tsb ?
Apapun alasannya

Obat keoercayaan anda saat sakit kepala dengan orang lain ada kemungkinan berbeda.

Berdasar pengalaman mereka menggunakannya.

BPOM audah menyelamatkan orang ??
Tahu SOP nya g ?
Waktu uji bisa di beli..
Alasan antrian.
Sudah tahu dalamannya  ?

«§»foundUonly 2 letUgo again:
di mana tikus-tikus yang disuntik vaksin ini telah berhasil menghasilkan kekebalan.
dari yg pernah saya pelajari, virus itu sangat host-specific. tapi sepertinya corona virus itu sangat wide range ya.
penasaran host apa aja yg bisa diinfeksi oleh corona virus ini.

jadi, bukannya menyuntikkan antigen virus sbg vaksin ke dalam tubuh, tapi mengambil dentritic cells utk dihasilkan antibodi di dalam kit?
apakah bisa terjadi produksi antibodi di luar tubuh? seberapa lama dentritic cells itu bisa bertahan di luar jaringan tubuh?
seberapa besar nilai efikasi dan efektivitas produksi vaksin dgn cara ini dibandingkan dgn vaksin konvensional (menyuntikkan antigen "bodi" virus ke tubuh)?

last, dari sekian banyak jenis dan merek vaksin covid, apa sajakah features unique dari setiap jenis dan merek vaksin tsb?
dan jenis atau merek vaksin mana yg direkomendasikan ?

Alexander David ™️ ✅:
Asal punya reseptor ACE2, binatang bisa kena. Tikus, anjing, kucing, termasuk hewan yg bisa kena covid.

Effikasi itu tahap uji klinik selanjutnya sob. Nanti di tahap 2, mereka akan cari dosis yg paling sesuai, maksimal hasilnya & minim efek samping. Tahap 3 nanti baru akan kelihatan soal effikasinya, perlu banyak relawan.

Feature yg unik dari VN ini, dia lebih aman bagi mereka yg punya masalah immum / komorbid. Jadi ini harapan buat mereka yg kemarin tidak bisa vaksin pakai Sinovac / AZ, entah karena kadar gula yg ketinggian, tensi ketinggian, dll.

WeleWeleAntiJoker:
very interesting!
semoga alat pembuat vaksin nusantara ini lancar.. yg gak mau lancar mungkin cuma setan yg berharap gagal kaleee

Freez ????‍♂️:
Joss ??? ?????

Mblandyang:
matur nuwun artikelnya,.. apik

bersama maju:
G akan ada penemuan di dunia ini. Kalau memakai cara berpikir , metode, alat yang mengacu pada tekbologi yang ada. Lah namanya penemuan itu ya alat uji, metide dan teknologinya jelas beda, dan blm ada. Khan terbukti dgn alat dan metode yang ada ya sebatas pengetahuan yang sudah ada di situ. Kalau cara kayak gitu g akan ada perkembangan teknologi g akan ada penemuan.
Hadeeuuhhh pintar nya kepuntaran sih.
Jadi pikiran sederhana sampai dilewatkan.

Bestofgres:
Di Indonesia ini mungkin 50% penduduknya masih ngga percaya adanya covid. Bahkan beberapa penulis2 seword pun melecehkan kenyataan bahwa covid di Indonesia makin merajalela. Padahal sebagai penulis tentunya mereka2 ini berpendidikan. Masih juga ngga percaya data. Katanya bohong lah, exaggerating lah, ini lah itu lah.

Jadi untuk sekedar membuktikan dan menghargai temuan atau pembuatan vaksin rasa "lokal" yang belum kelihatan ya pasti setengahmati sulitnya. Lah wong yg udah pasti terbukti mematikan jutaan nyawa di dunia ini aja banyak yg ngga percaya.  Belum lagi orang2 yg merasa diri pinter, suci, religius, coba aja yakinkan. Selamat deh lu

Parganago Lumbannahor:
Anjing menggonggong kafilah berlalu.

C Jon:
#PecatPennyLukito

Aan Widjaya:
BPOM, IDI perlu di reform kah?

ANS:
Sebenarnya penelitian atas vaksin oleh ilmuan lokal bagus2 aja ttp tlh dipolitisasi, bawa sj ke forum ilmiah u mengujinya.

Semarsays:
Kabarnya vaknus resmi di hentikan, kl benar sgt disayangkan kl ada yg tahu info yg benar mkn bisa dishare info yg valid
Knp sepertinya bpom ini kok agak condong ke vakmerput? Dr pernyataan penny lukito cepat bgt dia bilang skrg bpom hny akan fokus ke vakmerput
Entah knp setiap ada gebrakan anak bangsa kok selalu mentok ya? Nurtanio, esemka, vaknus,

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Mengupas Tentang Vaksin Nusantara (AV COVID 19) Berdasarkan Hasil Wawancara Dengan CEO AIV Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/mengupas-tentang-vaksin-nusantara-av-covid-19-s3QciqjDpA

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: