You Now Here »

Mewaspadai Intoleransi Pada Anak  (Read 89 times - 86 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 24,769
  • Poin: 24.848
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Mewaspadai Intoleransi Pada Anak
« on: June 27, 2021, 12:13:09 PM »




Lone Wolf? ???:
Dunia anak-anak adalah bermain bukan dijejali indoktrinasi paham agama radikal.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Setuju. Bukan masanya mereka di susupi hal-hal yang bertentangan dengan mental dan perkembangan fisik mereka. Masa mereka adalah bermain dan belajar. Bukan berarti belajar untuk mengetahui paham radikalisme atau sejenisnya.

Kampret212:
lebih penting sejak dini dijejali ajaran syurga, neraka dan bidadari, Om. Banyak main klu gak masuk syurga gak ada gunanya. Sudah saatnya anak-anak kecil diajari bahwa klu masuk surga bisa ngesek sepuasnya dengan bidadari. Si tungku yang sudah koit itu udah dapat ribuan bidadri lho

Popeye:
Kerjaannya si tungku sekarang  rebahan buka kedua paha lebar2.

Kampret212:
buka paha tapi gak diapa-apain, soalnya udah gak kuat dia

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Hahaha...doktrin yang dibuat untuk bisa ngeseks sama ribuan bidadari.

Kampret212:
ini lebih penting, klu di surga gak bisa ngesek lagi buat apa? di dunia udah hidup dengan ajaran muhram-muhrim, halal-haram (hantam: khusus untuk orang kafir), semua bagian tubuh dikarungi. Saatnya di surga semua terbuka dan dapat bidadari yang seteleh ngesek tetap perawan. entah itu bidadari atau boneka seks gak tahu lagi deh

Popeye:
Tumben lempeng om.

Snipersiantar:
Sesekali bolehlah..
??? ??? ??? ???

Snipersiantar:
Bermain intoleran..lah yang bermain dengan mereka siapa dulu.
??? ??? ??? ???

Mikael Ulido's Sirait:
SEJAK DINI MEREKA SUDAH DI JEJALI DOKTRIN OLEH ORTU NYA, ORTU NYA SAJA SUDAH RADIKAL, SAYA PERNAH MENDENGAR CERITA SEORANG IBU, KALAU DIA KEDATANGAN TAMU KEBETULAN MUSLIM, DIA BERTANYA DULU, SAYA NASRANI KALAU SAYA BUAT MINUM KALIAN MINUM GAK?, DIA CERITA KARENA SERING DIA BUAT MINUM, TAK DIMINUM, DISENTUH PUN TIDAK!

Popeye:
Coba sediakan yang berwarna dan bersoda dan masih terkemas.. pasti diminum dan sisanya dibawa. ??? ?????

ivan:
tumben sob.....wkwkwk

Popeye:
Habis minum obat dia Om jadi lempeng. ??? ?????

Bond Choz:
Dulu jaman kita anak-anak main kelereng, layangan, galah asin, biji karet, yoyo, ludo, monopoli, ular tangga dll adalah masa terindah yang tidak akan dirasakan oleh anak-anak yang ortunya kadrun.

Udah ngebayangin anak-anak mereka  selalu diajarkan gimana masuk syurga dan yang beda sama mereka auto neraka.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Yup, di doktrin sedini mungkin dan membiarkan masa kanak-kanak mereka habis di sekolah agama yang berpaham kaku karena ortu yakin kelak anaknya penyelamat mereka di akhirat.

Tony Gede:
Mati juga belum, udah ketakutan soal akhirat aja.  Konyol.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Makanya ciri² kaum mereka tidak jauh dari soal surga dan neraka.

ivan:
karena bisnis yg paling laku di dunia ini adalah bisnis "ketakutan"

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Bisa jadi

Popeye:
Namanya kadrun mikirnya seenak udhelnya.. diotak mereka hanya dan mengharap bidadari bidadara dan s3x

Sita W:
Top Oom Joe? ??? ????...anak...sebagaimana kita ketahui, seperti kertas kosong yang siap akan 'ditulisi' apa, atau akan 'dilukis' seperti apa. Bila hanya diperkenalkan bahwa warna hijau adalah yang paling indah, maka dia tidak akan pernah tau bahwa pelangi itu indah. Anak...dia akan terus belajar, sehingga siapa yang mengajar dan siapa yang 'melukis' akan menjadi hal penting untuk membentuk manusia yang berkepribadian 'utuh' saat dewasa nanti...

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Benar, kasihan mereka hanya diberikan satu warnanya, sementara warna itu banyak dan jika dikumpulkan menjadi pelangi.

Itulah makanya jika ada yang berbeda dengan mereka, akan menjadi aneh karena tidak pernah dibiarkan bersosialisasi d3ngan orang lain yang berbeda.

Sita W:
Ini memang masalah serius mas, sejak dini doktrin ekstrimnya sudah berjalan, bukan hanya di sekolah agama saja, tapi juga di sekolah negeri...lebih parah lagi kalo keluarga juga punya aliran yang sama, klop, tinggal menuai aja 10-15 tahun lagi...

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Memang dari hal terkecil dulu dari keluarga maka anak-anak akan selamat dari radikalisme. Kedua lingkungan sekitar, kalau mayoritas lingkungan radikal mau gak mau atau suka gak suka pasti anak terpengaruh.

Masalah radikal memang harus ada support antara pemerintah dan masyarakatasimgasing harus melengkapi.

Sita W:
Setuju Mas Joe? ??? ????

Caroline:
Thanks artikelnya...mewakili.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Sama-sama, sis.

Caroline:
Bisakah next artikel dikirim ke media cetak mainstream, karena bagaimana pun, tidak semua mau masuk dan membaca artikel di seword, karena alasan tidak sepaham. Justru artikel seperti ini hrs menjangkau lebih luas, khususnya yang tidak sepaham.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Kalau artikel sudah tayang di salah satu situs, biasanya harus mengganti format dan isi. Karena pernah saya mengirim ke salah satu situs terkenal lalu di blok karena katanya plagiat dari situs lain. Padahal itu tulisan saya juga yang sama.

Tantra:
Ya ga bisa Mas. Setiap media mintanya artikel yang belum pernah publish sama sekali. Ada beberapa yg mengijinkan tayang ulang dengan mencantumkan media yg dijadikan publis perdana.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Bener,makanya ganti format dan isi, tapi tema tetap sama

Caroline:
Tulis yang baru maksud saya...ke media cetak.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Yup, cari media yang yg lebih netral tentunya.

Mikael Ulido's Sirait:
yap betul, jangan seperti media tempe

Tantra:
Benar mba Caroline. Ini yang sedang aku coba. Memang awal2 sulit karena nama kita belum dikenal. Apalagi butuh saringan dari editor selama semingguan untuk tayang. Beda sama sistem langsung pubhlis seperti ini.

(*cuma secara kepuasan, sebenarnya enjoy di seword. yg bikin ketagihan adalah interaksi dng pembaca. artikel kita langsung disambar para komentator beberapa menit setelah publhis.)

Dah terkumpul 10 artikel yg masih aku koreksi dulu.Coba kirim ke beberapa media mainstream.
Dan alasan utama saat ini bagi saya (jujur) adalah honor. Mereka langsung berikan honor 250 an ribu (bisa lebih) bila lolos dari editor.

CarolineW:
Sukses yah. Pasti bisa. Sy jg punya alasan yg sama dgn T, tayang di seword komentatorx nggak jaim, kt bs tau langsung artikel diterima apa nggak. Kalo T klik ruang sastra atau lakon hidup, di sana tulisan yg sdh menembus media cetak semuanya miskin komen.

Tantra:
miskin komen dan miskin pembaca

Caroline:
Kalau sekarang intoleransi merantak dr dewasa sampai anak kecil, kalau jaman SD sy, kekerasan fisik dan verbal ( bahkan pelecehan seksual ) itu makanan sehari-hari. Dan itu biasa saja karena hampir semua korban adalah pelaku juga pada akhirnya. Entah lebih apes mana, sama sialnya. Bedanya dulu tdk ada medsos. Generasi sekarang mkn sedikit lebih beruntung, kesenggol dikit bisa ngadu en viral di medsos.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Betul, jaman dulu kekerasan fisik dan verbal bahkan pelecehan seksual lebih banyak di rasakan oleh generasi sebelumnya. Tapi jika murid berani mengungkapkan ke ortu, biasanya ortu akan bicara ke puhak sekolah mengenai hal-hal diatas. Tetapi saya lebih setuju dengan kekerasan yang bersifat mendidik seperti misalnya jika ada murid yang kuku nya panjang akan dipukul dengan penggaris kayu . Bagi saya itu sudah makanan sehari² waktu sekolah.

Dibanding dengan anak sekarang yang memang kekerasan oleh guru di kelas sudah ada payung hukumnya.

Caroline:
Waktu SD kelas 6, di ruang ganti perempuan di kolam renang hotel di kampung saya, waktu mau keluar dari pintu toilet, mungkin 4 atau 5 anak laki2 teman SD sy sudah menghadang dan berusaha merogohkan tangan2nya ke balik pintu yang baru saja terbuka sedikit. Mau memegang dada.

Mereka ternyata ikut ke ruang ganti itu dan nunggu sy di depan pintu toilet dalam ruang ganti itu, hanya untuk melecehkan saya. Selamatnya sy cepat menutup en mengunci pintu kembali dan berteriak2. Mereka akhirnya pergi krn memang niatannya hanya sampai sebatas di pintu itu saja, belakangan sy mengerti, itu atas suruhan anak laki2 yang jd bosnya mereka, anak laki2 anak orka kontraktor.

Mereka semua adalah teman SD saya, di sekolah baik2 saja, nakal2 anak kecil. Sampai apes sial bertemu mereka di kolam renang di luar sekolah. Selamat dua teman cewek yang lain juga keluar dr toilet pertama yg ada di situ, jd mereka benar2 pergi. Yang paling jahat adalah yang menyuruh, yang mungkin membayar dengan jajanan, tdk ikut menyentuhkan tangan, tapi jd master mind.

Popeye:
Kalau masa kecil saya beda lagi.. berani ada yang ngebuli teman2 minoritas saya malah saya  ajak gelut yang ngebuli sampai berdarah2 hingga tidak ada lagi yang berani membully.
Tapi sekarang... hemmm anak kecolek sedikit bapake dan se rt pada keluar.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Biasanya anak² yg melakukan itu ada mastermindnya. Karena pada dasarnya anak-anak itu cuma bermain, belajar, sama minta uang utk jajan. Jika ada hal² yg menjurus ke arah kelakuan dewasa, ya pasti ada yang menyuruh.

Caroline:
Master mind seumuran, haha.

Sama aja tantangan hidup di Indo sebagai minoritas, dari jaman dulu sampai sekarang. Tinggal kadar tekanannya aja yg naik turun setiap tahunnya. Tinggal lagi ada gorengan apa lagi. Terkadang menerima dan pasrah dan ikut mengalir bagaikan air adalah cara2 yang paling aman. Karena tanah air yang lain, itu sudah tdk mungkin. Taunya ya hanya Indonesia, tanah air dan tumpah darah.

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Yup, mengalir seperti air mengikuti flow kemana arah yang dituju pasti ke muara yaitu Indonesia.

Raden Masdjon:
Kalo ada masalah semacam ini KPAI dan lembaga Komnas HAM diem wae, nyungsep. Giliran 'rengekan' 75 Taliban anggota WP KPK yang tak lolos TWK, mereka sigap membela. ????

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
KPAI dan HAM lembaga yang gak ada gunanya.

purajp:
Efek pembiaran Dan selesai dgn Materai 6000

??? ?????乇 ᵃʲᵃ ✅:
Gak ada efek jera, makanya intoleransi akan berulang tanpa hukum yang tegas.

ivan:
kt sebagai orang tua memang berperan untuk menghindarkan anak2 kita dr phm intoleran, tp hanya sebatas lingkup keluarga aja, yg paling berperan adalah pemerintah yg nota bene sebagai pengatur regulasi yg berlaku, ketegasan pemerintah juga sangat dibutuhkan

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Mewaspadai Intoleransi Pada Anak Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/sosbud/mewaspadai-intoleransi-pada-anak-gccUrZKdbJ

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: