You Now Here »

Testing Di Indonesia Masih Rendah, Kalau Begini Kapan Gelombang Ini Selesai?  (Read 116 times - 123 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 24,726
  • Poin: 24.805
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Yosef Kurniawan:
Kembali lagi hadir mas Batman!

Yoi benar sekali testing itu dari awal lucu-lucuan aja. Ingat target 40 ribu testing per hari? Cuma 1 hari aja pas diomongin pak presiden, kemudian bbrp minggu 20-30 ribu saja, sampai ada lonjakan positivity rate baru digalakkan lagi. Saya selalu protes dengan artikel penulis seword lain yang mencoba "menenangkan" saat awal pandemi dengan argumen kasus kita sedikit. Pertanyaannya: sedikit karena memang sedikit, atau sedikit krn banyak yg tidak dites?

Mengenai perubahan sistem zonasi ini, saya dukung. Tapi... lihat-lihat di feed twitter, kearifan lokal warga indonesia sudah nampak untuk mengakali sistem baru zonasi ini. Isunya ada kemungkinan pengetesan akan dilakukan berulang-ulang pada orang yang sama, tujuannya ya supaya tidak usah repot" buat action plan untuk menurunkan positivity rate. Wow sekali kan, mental denial dan tidak mau berusahanya itu besar sekali. Seperti yang pernah diutarakan pak Presiden, sense of urgencynya ini tidak ada. Mental pejabat ini mirip anak-anak. Ada yang susah, bukannya dikerjain, malah main dulu, nonton dulu, makan dulu. Siapa tau sesudah ngaso, masalahnya hilang. Sayangnya itu salah besar. Virus ya bukan manusia yang kompromi, bakal terus menginfeksi dan menyebar. Mungkin semua orang harus sadar, tidak ada cara untuk mengakali virus ini. Manipulasi data dengan testing sedikit hanya menimbun bom waktu ledakan covid suatu saat nanti, seperti yang kita hadapi sekarang. Kadang tindakan preventif walaupun berlebihan diperlukan daripada reaksi reaktif yang ternyata terlambat.

Gusti Yusuf:
Wah makasih informasinya, saya coba teruskan ke teman-teman kawalcovid19.

Yosef Kurniawan:
Hahaha saya malah dapet dari twitnya kawal covid dan mas ainun najib.

Cuma berbagi info saja di sini

Gusti Yusuf:
Oh gitu, saya di kawalcovid di grup media monitoring soalnya. Beda grup dengan mas ainun najib

Donny Rahardian:
You should write some articles, we need what you know.

Donny Rahardian:
Yang jadi masalah itu PEMETAAN TESTING nya, itu kepala daerah quick count Pilkada aja bener, tapi testing Covid super random.

Seharusnya testing nya di setiap kecamatan daerah perumahan per 1000 orang dalam satu provinsi dalam waktu yg sama dengan jumlah yg sama.

Dari situ bisa dilihat positivity rate per kecamatan wilayah tempat tinggal, bikin benchmark misal 15%, kecamatan yg positivity rate nya diatas 15% langsung PPKM Mikro dan di boost jumlah testing nya.

Lha ini testing nya di tempat umum, di pasar, di pinggir jalan, suspect nya balik ke rumah masing2 di puluhan bahkan ratusan wilayah yg berbeda, pasar nya yg di lockdown, positivity rate nya wilayah pasar,  gmn mau menilai dan tracing ?

Gusti Yusuf:
Nah betul, tepat sekali

Martabak Sweet:
Orang yang terinfeksi virus corona bisa memiliki beberapa kemungkinan. Tanpa gejala, atau yang disebut OTG, gejala ringan, sedang, hingga berat. Nah yang membuat repot itu yang tidak bergejala, karena meskipun tidak bergejala, virus ini dapat menular ke orang lain


INI yang jadi masalah.
Penulis alif yang sering membuat dan menyebarkah hoax seputar covid, beserta monyet monyetnya, Rana dan Jay, itu beranggapan dan sengaja menutupi kalau:

OTG itu sebenarnya carrier virus, dan MAMPU MENULARKAN ke orang lain.
1 OTG dapat menularkan ke 4, 5, 6 orang lainnya. 4, 5, 6 ini ada yang OTG yang menularkan ke 4,5,6 orang berikutnya, ada yang bergejala.

Kebandelan mereka (termasuk orang Madura keparat tersebut), tidak mau dites, sangat membahayakan.

Lalu cebong212 seperti Jay, berkata "gejala pilek kok di tes covid"
Jelas sekali idiot satu ini tidak mengerti science dan tidak mengereti diagnosa sebuah penyakit itu (tidak harus covid) ada proses dan ada step step dan deduksinya.

Gusti Yusuf:
Hahaha....sabar....languange nya. Hahaha.

Martabak Sweet:
"Kita enggak akan melihat lagi merah, kuning, hijaunya berdasarkan kasus konfirmasi (Covid-19). Tapi berbasiskan positivity rate," katanya dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI melalui virtual, Senin (5/7). Budi mengungkapkan, perubahan itu dilakukan karena daerah tidak melakukan testing yang seharusnya. Kata dia, daerah-daerah ingin terlihat kasus Covid-19 nya rendah dengan melakukan testing yang sedikit.

1. dari awal memang harusnya positivity rate yang dijadikan acuan.
Memang dari awal pemerintah pusat dan daerah sudah salah langkah kok dan tidak mengerti. That is also a fact. Tapi better late dari pada never.

2. dari awal juga kita tahu, angka-angkat tersebut adalah understatement, bertolak belakang dari klaim covidiot yang selalu melontarkan narasi "kalau angkanya dibesar-besarkan".

Angkanya dari day 1, sudah understatement dan lebih kecil dari realita!

Gusti Yusuf:
betul banget, yang ada emang dikecilkan, saya curiganya supaya gak dianggep jelek

Teras Samping:
Di sisi lain, kalau positifity rate mau dijadikan acuan, testingnya harus random sempurna. Sekarang ini yg menjalani testing adalah mereka yg potensi positifnya tinggi: yg merasakan gejala, yang sering berkerumun, yang pernah kontak erat dengan penderita. Secara logika, positivity ratenya cenderung lebih tinggi dari yg sebenarnya dlm populasi. Ibaratnya, survey elektabilitas AHY untuk pilpres 2024, tapi respondennya kader Demokrat non KLB. Ya jelas saja elektabilitasnya tinggi.

Yosef Kurniawan:
Iya, dan sekarang butuh effort lebih karena masyarakat ga segampang itu mau dites. Kembali lagi, mental denial. Daripada ketauan positif, tolak aja kl ad petugas yang mau testing. Effort yang dibutuhkam pemerintah lbh besar karena terlalu banyak hoax yang beredar.

Teras Samping:
Tidak ada asap kalau tidak ada api. Mental denial terbentuk karena stigma, yg secara tdk sadar disematkan pada kaum terpapar. Sekarang ini, kalau seseorang terkonfirmasi positif, kerepotan yg dialami dan stigma lingkungan mungkin seperti yg dialami penderita kusta di zaman Alkitab. Bagi terpapar yg gejala ringan ato tanpa gejala, penderitaan akibat kerepotan dan stigma itu jauh lebih berat drpd penyakitnya sendiri: harus tes sana sini, kadang keluar biaya sendiri, harus isoman, ga bisa kerja, dijauhi tetangga, sudah sembuh pun pandangan orang tetap agak lain.

Jadi, kalau sikap denial mau dihilangkan, pola pikir yg menimbulkan stigma itu hrs dihilangkan, kerepotan2 yg dialami harus diminimalisir dan disederhanakan.

Karena, ini tdk terjadi pada penyakit lain. Jarang orang denial jika divonis DB, diabetes, jantung, bahkan TBC yg sangat menular.

Gusti Yusuf:
Iya, perambatan kesalahan sejak dulu

Gusti Yusuf:
Betul, dan itu masalahnya selama ini, hanya yang bergejala saja. Padahal banyak banget yg otg. Ini perlu dicari, juga contact tracing, di Australia kata teman saya, kalau ada 1 yang positif mereka akan tracing sampai ke kalau gak salah, 20 orang.

Teras Samping:
Mungkin terkendala biaya dan anggaran? Seingat saya, di awal pandemi ada masa2 ketika tracing dan testing dilakukan dg cermat. Testing juga dilakukan masif. Seiring bertambahnya kasus, kayaknya terus testing malah diarahkan untuk yg bergejala atau berpotensi positif saja.

Gusti Yusuf:
Iya betul pernah begitu. Entah krn anggaran atau yg laennya. Tapi efek downplaying seperti itu kenanya sekarang. Si Virusnya udah meng-upgrade diri, kita masih disitu-situ aja. Kayak maen AoE, lawan udah ke jaman besi kita masih di jaman batu.

Rana didjaja:
Kenapa kita selalu mengaca pada negara lain.padahal setiap negara memiliki plus minus dibandig negara lain.kita mesti berdaulat spt yg dilakukan msnkes era SBY ibu Siti Fadilah Supai, yg menolak mengirimkan sampel flu burug ke WHO karna ingin membuat vaksin versi indonesia umtuk sekuen dan genom yg ada di indonesia secara politik dan WHO keleh.                                               
                                                           lalu apakah ini jg bukan urusan politik seperti perang dagang atau senjata biolog. cina sudah berhasil menerapkan teknologi teleportasi di luar laboratoriumnya di tibet dgn mengirimkan partikel 1.100 foton sejauh 86 km dan keangkasa sejauh 500 km th 2017 dan pendapat saintis diluar grup WHO mengatakan belum ada/dtemukan virus corona di alam yg kecepatan penularannya seperti sars cov2 ini

Teras Samping:
Menarik infonya sob. Apakah ini mengarah ke kemungkinan negara itu menyebarkan virus dg teknologi teleportasi? Tapi kok mereka repot2 lockdown ya? Apakah untuk kamuflase?

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Testing Di Indonesia Masih Rendah, Kalau Begini Kapan Gelombang Ini Selesai? Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/testing-di-indonesia-masih-rendah-kalau-begini-9xnPchbkBg

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: