You Now Here »

Ketika Orang Positif Copid Diikat, Diseret Dan Dipukuli  (Read 87 times - 105 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 24,769
  • Poin: 24.848
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Ketika Orang Positif Copid Diikat, Diseret Dan Dipukuli
« on: July 25, 2021, 04:32:38 PM »




TIANGONG:
Jika penulis artikel beranggapan tidak perlu pakai  full APD saat membawa korban yg mati karena covid, kenapa penulis artikel tidak mempraktekkan langsung, dengan menjadi sukarelawan penuh selama 3 bulan, tanpa pakai APD. Jadi,  jangan hanya ngomong seenak udel tanpa fakta.

Isolasi mandiri seperti tahanan? Pasien lah yg harus berusaha sendiri untuk tetap gembira. Jadi maksud penulis artikel, harus dilayanin dengan hiburan,  dikasih pelawak, dikasih pendamping untuk ngobrol? Gak sekalian dikasih conjugal visit?.

OTG tidak perlu ditest? Penulis artikel lagi halusinasi kali. Justru harus diperbanyak testing untuk mengetahui seberapa banyak yang OTG. Karena justru OTG ini paling berbahaya, bisa menularkan ke orang lain tanpa disadarin yang OTG. Entah logika apa yang dipakai penulis artikel untuk membenarkan hipotesa ini. Dari siratan tulisan ini, saya duga, penulis artikel beranggapan OTG tidak menular? Oh my God. Mudah mudahan dugaan saya salah.

Penulis artikel menyarankan untuk mempelajari bagaimana virus covid bekerja dan apa kelemahannya, tapi saran penulis artikel justru bertolak belakang, yg bisa mengakibatkan virus covid semakin mudah menular ke orang lain.

Diawal awal pandemi covid, tulisan penulis artikel ini sangat positif. Dan setiap tulisan selalu memberikan pencerahan bagi saya yang membaca nya. Tapi belakangan ini, tulisan nya sudah tidak mencerahkan saya,  malahan menggelapkan cakrawala pikiran saya. Saya tidak tahu, apakah mungkin karena seperti gubernur DKI Jakarta, yang tidak bisa melakukan sesuatu yang positif agar bisa tetap jadi topik berita, sehingga melakukan tindakan negatif agar tetap jadi pusat topik berita. Because Bad news is Good news. Sebegitu rendah kah perubahaan seseorang?  Entah lah. Mungkin kita perlu tanya pada rumput yang bergoyang.....

Dan, tindakan penulis artikel yang paling buruk, tidak terpuji, very low, sangat jahat, dan tidak bisa dimaafkan, adalah menyebarkan HOAX. Yaitu penulis artikel menyatakan, bahwa, menurut WHO, tidak diperlukan test kepada orang sehat dan OTG. Saya tidak menyangka penulis artikel ini tega dan sanggup menyebarkan HOAX sejahat ini, murahan dan tidak bermutu. Dari HOAX yg disebarkan ini, sudah tahu kwalitas cara pikir dan kwalitas tulisan penulis artikel ini.

Leonidas:
emang swab pcr dapat mendeteksi virus covid? kata pembuatnya saja tidak .. ngarang aja kamu

Galih Kunarso:
Bisa ya, dan sudah terbukti. Ini faktanya yang benar. Kalau anda masih berkutat bilang gak bisa, itu anda yang mengarang bebas tanpa data.

Orang seperti ini yang tidak patut untuk didengerin, narasi hoax saja yang tidak membantu apa-apa untuk mengatasi pandemi.

doodleramen:
Kayanya penulis ini tidak paham bahwa mengatakan sesuatu yang walaupun benar tapi tidak semuanya dipaparkan itu sama saja dengan berbohong. Pernah dengar kalimat: I promise before Almighty God that the evidence which I shall give shall be the truth, the whole truth, and nothing but the truth.?

Ini sumpah yang harus dibacakan ketika bersaksi di pengadilan. Kalau ente menceritakan setengah2, itu sama saja dengan berbohong. Ada beberapa pernyataan penulis ini yang setengah2 yang cenderung misleading.

Ane sudah cape mengkoreksi penulis yang satu ini. Biarlah hukum alam yang berlaku. Buat yang cukup bodoh yang berbadan lemah dan percaya dengan tulisannya memang mungkin sudah sepantasnya diseleksi oleh alam supaya tidak menghasilkan keturunan yang bodoh dan penyakitan.

haris:
Faktanya: warga marah karena korban yang bernama Salamat itu bertingkah tidak selayaknya orang yang isoman. selain keluyuran dia juga memeluk orang yang ditemui agar ikut terpapar juga.. tidak akan ada aksi kalau tidak ada reaksi..

Galih Kunarso:
Tes kepada orang sehat dan tidak bergejala itu juga diperlukan ya. Penulis telah salah dengan menyatakan bahwa WHO bilang hal ini tidak diperlukan.

Perlu menambah jumlah tes untuk mengidentifikasi kasus-kasus yang tanpa gejala atau belum bergejala juga, apalagi kalau orang-orang tersebut merupakan kontak erat. Ini gunanya agar mereka bisa cepat ketahuan, cepat diisolasi, dan tidak menyebarkan virus lagi.

Ini cara mengatasi pandemi ya, dan sudah terbukti dilakukan di banyak negara. India juga berhasil menurunkan kasus itu salah satunya karena menggenjot jumlah tes yang dilakukan.

Kalau kepada mereka yang memukuli pasien Positif itu, katanya gara-gara pasien malah memeluk orang padahal tahu dia sendiri Positif. Jadi semua pihak sama-sama salah juga dalam kasus ini. Gak tahu deh apa yang ada di pikiran mereka masing-masing sampai terjadinya kasus ini. Yang jelas sudah sangat susah mengedukasi masyarakat karena mereka terlanjur percaya kepada hoax-hoax yang beredar, tapi kita tetap tidak boleh menyerah kalau mau membantu Indonesia mengatasi pandemi ini.

Debrodjo:
Intinya: ketakutan yang berlebihan menghilangkan akal sehat dan kemanusiaan. Mati/kematian itu pasti, caranya apakah manusia bisa memilih? (kecuali bunuh diri lho ya).

rcc bali:
isolasi mandiri seperti di tahanan? saya gagal paham dengan opini ini, atau penulis terilhami dengan isolasi mandiri yang dialami oleh artis NM di sebuah hotel?

Titiek:
Mungkin perlu definisi baru ttg org indonesia. Yg katanya ramah, tamah & berbudaya adi luhung ????
Ternyata suka teriak bunuh bunuh..


Atau definisi baru ttg kebodohan. Yg tdk disebabkan oleh latar belakang pendidikan, agama, tingkat sosial etc
Begitulah bunuh bunuh.

Teguh Sulaiman:
mantab ini tulisan Mas Alan, biasanya pro pemerintah, tapi akhirnya sekarang menyuarakan kebenaran...
Salut Mas Alan

Yadi Tang:
Alan Walker ?

iam hêylêl:
Pantes byk yg gk ngaku covid19 krn takut dipersekusi..

anggi032 2:
Inilah contoh org bodoh yg menerima informasi tanpa cek. Itu org dianiaya oleh warga krn mencoba menularkan warga dengan meludahi tangan nya sendiri kemudian bersalaman berpelukan dgn warga yang lain. Kalo ada org covid. Trus lu diludahin ama yg covid itu marah ga lu? Apa lu seneng?

Leonidas:
kenapa sih flu diributin dari dulu juga ada .. sembuh sendiri .. yg meninggal karena penyakit berat aja dikasi obat2 keras yg ga ada hubunganya dg penyakit beratnya itu. plandemic bodoh

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Ketika Orang Positif Copid Diikat, Diseret Dan Dipukuli Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/ketika-orang-positif-copid-diikat-diseret-dan-OiAkznFtgP

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: