You Now Here »

Kompak! Dr. Samuel Simon Dan Dr. Indro Bongkar Propaganda Mafia Ogrok Hidung  (Read 101 times - 100 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 24,769
  • Poin: 24.848
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Galih Kunarso:
Penulis jangan menyebarkan hoax bahwa orang yang positif PCR setelah swab rongga hidung itu tidak menularkan ya. Orang yang swab PCR positif itu ya terkonfirmasi terinfeksi. Walaupun dia OTG pun tetap bisa menulari dan harus diisolasi. Terserah Penulis mau teriak-teriak sekeras apapun, tapi narasi anda itu tetap saja salah dan gak patut didengarkan.

Mencuci hidung itu juga tidak ada bukti ilmiahnya membantu mengatasi infeksi ini ya. Gak ada efeknya kepada seseorang yang sudah terinfeksi. Kalau Penulis masih menyebar hoax-hoax seperti ini dalam artikel-artikelnya, artinya Penulis sama sekali tidak membantu dalam mengatasi pandemi ini.

Semoga para pembaca lain tahu untuk meng-ignore saja pendapat-pendapat ngawur seperti ini. Dan semoga Penulis tobat dari membuat artikel-artikel tidak bertanggung jawab. Jangan berusaha menulis soal science dan medis kalau tidak punya kapabilitas, karena hasilnya bisa jadi malah salah semua.

Gs:
Penulis type pinpinbo (pintar pintar tapi bodoh). Tidak berani atau tidak mampu mencantumkan sumber yang menjadi tulisannya.
Kalau mau dibahas, bisa2 bahasannya akan lebih panjang dari pada tulisan domba gurun ini.

Kalau nanti penulis check sar-cov2 dengan PCR, bilang ke yang ngambil sampelnya, jangan dari rongga hidung (padahal selama ini diambil dari phayrnx nasal/oral) tapi ambil dari paru2 saja langsung tempat kuman bereplikasi.
Ingat2 sampel di ambil dari nasi phayrnx bukan rongga hidung.
Suruh dokter andalannya belajar anatomi lg.

Test antibody???
Pernah tau, ada yg test antibody (+) tapi PCR (-) atau sebaliknya test antibody (-) tapi PCR (+)?

Ini saja sudah panjang, gimana kalau tulisannya dibahas lagi satu per satu, pasti sangat panjang keb**** yg bisa dikoreksi. ??? ??? ??? ???

Teras Samping:
Pelan2 mas dokter. Saya baca berulang2, penulis tidak bilang orang yg positif PCR tidak menularkan. Dia cuma bilang, PCR hanya menunjukkan paparan virus di (area) hidung, padahal virus bereplikasi hanya di paru2. Implisit, dia ingin mengatakan, org positif PCR blm tentu terinfeksi, karena infeksi hanya terjadi di paru2. Ini lepas dari bahwa asumsi penulis benar atau tidak ya, saya ga tahu.
Hanya saja, penulis memang ga membahas soal si positif PCR bisa menularkan atau tidak, karena keduanya memang ga berhubungan.

Anggap penulis benar misalnya. Si positif PCR tidak terinfeksi. Tetap saja dia bisa menularkan, kalau dia bersin, batuk atau ngomong, karena virus yg ada d hidung ato mulut akan ikut droplet yg keluar.

Galih Kunarso:
Oh, anda sudah baca artikel-artikelnya Penulis sebelum ini juga? Dia sudah pernah menulis “kalau sehat alias OTG, lalu hasil PCR positif dan tidak menularkan, masak harus dikarantina”. Ini asumsi dia yang salah besar ya.

Kalau PCR lewat rongga hidung sudah positif, itu pasien sudah terkonfirmasi terinfeksi. Artinya orang yang PCR positif itu sudah pasti bisa menularkan, walaupun dia OTG.

Kecuali kalau ini hanyalah PCR ulang yang dilakukan setelah pasien sudah bisa dinyatakan sembuh oleh Dokter. Nah kalau dalam kasus seperti ini, PCR ulang itu barulah tidak ada artinya, karena hanya mendeteksi bangkai-bangkai virus yang tersisa yang sudah tidak bisa menulari, dan virusnya sebenernya sudah berhasil dibunuh oleh tubuh. Tapi Penulis juga tidak pernah menyebutkan dalam artikelnya bahwa PCR yang dia maksud hanyalah untuk kasus PCR ulang saja ya.

Untuk penyintas yang PCR ulangnya tetap positif, ini juga tidak perlu cuci hidung, karena tidak ada teknik yang terbukti secara
ilmiah membantu PCR ulang jadi cepet negatif, karena secara medis memang tidak diperlukan. Penyintas yang sudah sembuh itu bisa tetap positif PCR-nya sampai berminggu-minggu setelah sembuh, dan tetap tidak ada artinya. Tidak peduli berapa pun Ct value-nya, hasil PCR ulang itu bisa di-ignore saja.

Teras Samping:
Belum kalo yg itu dok. Penulis ini memang sering terlalu antusias, hingga logika dan kesimpulannya melompat2, kadang lompatannya terlalu jauh dari premisnya. Tp karena dokter komen di artikel ini, maka artikel inilah yg saya jadikan rujukan.

Oke, lps dari itu, gimana pendapat dokter tentang asumsi itu? Asumsi bahwa PCR hanya mendeteksi keberadaan virus di area hidung (dan mulut?), dan tidak selalu berarti orang tsb positif, karena virus corona baru menginfeksi dan bereplikasi setelah sampai paru2 ?
Masuk akalnya, karena memang sampel yg diambil dari hidung bukan paru2 kan. Tapi logikanya, kalo virus dah ada di hidung, masak ga ada yg lanjut ke paru2, mengingat tiap saat kita bernapas, udara keluar masuk dlm lorong sesempit itu.... Logika awam ini dok hehe...

Galih Kunarso:
PCR memang mendeteksi keberadaan virus di rongga hidung/mulut ya. Kalau sudah bisa terdeteksi pakai PCR yang positif, ya artinya virus itu sudah sempat menginfeksi dan bereplikasi di dalam tubuh di rongga hidung ya. Lalu memang berangsur-berangsur akan menyebar ke bagian lain dari saluran pernapasan.

Misalkan kalau cuma satu atau beberapa virus saja yg masuk, lalu immune system kita sudah berhasil melawan dan membunuhnya sebelum dia sempat berkembang biak, ya tes PCR tidak akan sempat positif.

Makanya ada False Negative kalau melakukan PCR terlalu awal, karena virusnya walaupun sudah mulai menginfeksi, tapi belum bereplikasi cukup banyak untuk dideteksi PCR. Setelah beberapa hari kemudian, barulah PCR yang dilakukan pada pasien tersebut akan positif.

septian rc:
PCR memang mendeteksi virus,, tapi itu untuk ribuan virus-virus yang ada di tubuh kita. bukan spesifik virus tertentu... lalu maksud anda ini valid mendeteksi virus apa?
jika ada yang mengatakan : oh positif nih... iya betul positif ada virus ditubuh dengan jumlah sekian... tapi positif nama virus apa itu yg perlu dicek lebih mendalam lagi dengan cek lain2nya

septian rc:
intinya tes PCR untuk mengetahui terpapar covid itu sesat dan berotak mafia. Orang yang pro sama tes PCR utk menentukan dia covid atau tidak, hanya 2 tipe : BODOH atau sama-sama MAFIA.

Heulang Dugul:
bisa kasih argumen yang MENGGUNAKAN OTAK kah yang bisa menunjukkan bahwa yang pro sama tes PCR itu orang bodoh atau mafia? Mari, jangan cuma cuap saja, mari berikan buktinya. Penelitian di mana? Hasil test di mana?



BTW, itu kalau memang anda masih punya otak sih.

septian rc:
sumbernya tidak banyak karena ditutupi : yang mengatakan metode PCR itu tidak serta merta menjudge anda kena covid. Detail perlu pengecekan lebih mendalam.
Angka hasil itu dibuat oleh tim ahli dan mereka menyebarkan ke masyarakat yang percaya sama si ahli tsb, tanpa tau infonya sesat, cuma percaya saja karena dia ahli

sang penciptanya saja mengatakan bahwa metode ini tidak untuk mendeteksi virus melainkan nucleic acid. Jadi hanya karena hasil test-nya positif bukan berarti kamu terkena virus tersebut, dan Bukan berarti tidak ada virusnya.

tonton video youtube Kary Mullis

Ima Bunny ❤:
Terima kasih dok. Semoga Polri bisa sempatkan waktu menertibkan oknum2 macam mereka ini...

TMP2020:
Sebenarnya melihat indikator dari kewarasan seseorang mudah saja.


Supaya para pembaca bisa menilai kewarasan bung penulis, sudikah kiranya bung penulis utk beradu argumen dg Dokter Galih Kunarso, dikolom komentar ini....

Brani waras ??

Ima Bunny ❤:
Kalau dia berani, aku kasih wortel !!!

Yosef Kurniawan:
Kalau setau saya dari tahun lalu ngecek antibodi kan buat screening doang, kalau udah positif baru lanjut PCR. Jadi ya dari logika ini PCR lebih akurat dong ya. Lalu gunanya mencuci hidung agar tidak positif PCR itu bagaimana logikanya ya. Kalaupun ternyata cuci pakai garam berhasil membuat pcr negatif, toh virus yang terhirup sudah masuk paru-paru lah? Yakali kita tau kapan dan dimana ada paparan virus masuk hidung kita, lalu dengan sigap mencuci hidung saat virus itu baru sampai di hidung.

Another artikel jegar-jeger tapi minim informasi yang benar. Selain itu, kok cuma 2 dokter ini yang dibelain? Ke mana Dr. Lois yang dulu juga dibela? Apakah ada kesadaran bahwa Dr.Lois memang salah mengklaim? Lalu kalau Dr. Lois salah, bukannya ada kemungkinan juga dua dokter ini keliru berargumen? Kenapa tetap dibela mati-matian?

septian rc:
sudah tau kalo sang penemu alat PCR nya sendiri mengatakan : SANGAT SESAT jika ada dokter mengatakan dapat mendeteksi virus covid dari alat PCR. si Penemu itu meninggal 5 bulan sebelum covid "disebarkan mendunia".. entah kebetulan atau sengaja dibungkam biar ga berisik.. karena agenda mafia adalah menetapkan alat tsb sebagai GOLDEN RULE SOP

Yosef Kurniawan:
Oh gitu, lalu gimana dong cara deteksi yang bener? Pakai antibodi jelas lebih ga akurat, wong antibodi bisa bergerak kalo ada virus, belum tentu virusnya covid. PCR memakai metode genetika dengan mengidentifikasi RNA, tentunya bisa lebih spesifik. Anda bisa tahu dong virus itu apa via RNA yang didapat, kalau gak tau gimana caranya namain virus itu adalah virus covid 19 varian Alpha,Beta, atau Delta. Apa lagi yang bisa dipakai untuk mendeteksi? Genose? Genose memakai gas yang dikeluarkan dari mulut kita, tapi bisakah genose melakukan identifikasi senyawa secepat itu? Senyawa yang dideteksi apa? Kalau ada senyawa itu memang udah pasti kena covid? Ini belum jelas. Dari ketiga metode tadi jelas paling better ya PCR, kita tau si virus ini bereaksi dengan reagen apa, dan dari sampelnya bisa kita cek RNAnya, bentuknya seperti apa.

Kalau bilang PCR ga bisa deteksi covid, ya sini kasih data berapa % yang false negative atau positive. Genose sih berlawanan ya, ada yang PCR positif genosenya negatif dan sebaliknya. Kalau ada datanya dan memang akurasinya memang jelek, ya PCR gak akan dipakai.

septian rc:
anda tau data angka itu dari standard mana? katanya kata dokter kan, katanya kata ahli kan? sedangkan ahli2 itu coba anda tanya, mana jurnalnya mana penelitiannya yg menentukan angka segini itu fix covid.... beda dengan penelitian (let say) virus demam berdarah, malaria , yg sudah divalidasi dan disetujui oleh para dokter2 mengenai standard regulasi penentuannya...

septian rc:
PCR itu mendeteksi ribuan jenis virus di dalam tubuh, baik virus yang masih aktif atau bangkai virus (virus mati). PCR memang mendeteksi virus,, tapi itu untuk ribuan virus-virus yang ada di tubuh kita. bukan spesifik virus tertentu...

jika ada yang mengatakan : oh positif nih... , iya betul positif ada virus ditubuh dengan jumlah sekian... tapi positif dengan jenis virus apa itu yg perlu dicek lebih mendalam lagi dengan cek lain2nya..

untuk detail salah satunya bisa dengan pemeriksaan CRP (sampel darah) atau rontgen (melihat bercak paru2), tes ini lebih mahal dan lebih ribet, tapi ini lebih valid dengan pakai PCR yang katanya ujug2 tau "oh ini positif covid".. WTF HELL NO! be smart

Yosef Kurniawan:
Saya masih agak kurang sreg, kalau pakai rontgen jelas tidak mungkin karena pengetesan harus dilakukan secara masif dan cepat. Yang saya baca dari PCR, dia mampu mengklon sequence DNA/RNA yang kita inginkan, jadi bukankah cara kerjanya kita ambil sampel, lalu kita klon sequence RNA yang merupakan sequence covid (kl ada), lalu direaksikan dengan reagen. Dari sini masalahnya hanya di virus yang masih bisa menginfeksi atau tidak bisa menginfeksi, tapi saya rasa PCR bisa mendeteksi adanya virus covid, atau setidaknya sars-cov (karena covid berasal dari SARS dulu) saya rasa valid-valid saja. Saya belum tahu soal crp, tapi apakah hal itu bisa dilakukan dengan cepat dan masif?

septian rc:
mau valid itu cara yang ribet. tapi valid.
cepat atau tidak , selama ada orang yang mengcollet resultnya, yah hasilnya juga cepat.

pengecekan yang anda maksud itu namanya "Sok Tau".. hanya karena melihat ada virus covid ditubuh lalu di positifkan. Jangan lupakan ditubuh ada virus influenza juga, salmonela juga, tubercolosis (TBC) juga.. kenapa ga sekalian aja disebut positif kena penyakit itu semua?

karena yang mau dijual yah covid ini boss

Ima Bunny ❤:
Kamu MAU kalau hari raya dikirimi sekotak nastar isinya 100 tapi 2 buah diantaranya mengandung racun mematikan ??? Kamu MAU coba makan beberapa nastar di kotak itu ??? Kamu rela seluruh keluargamu (dan saudara2mu di Indonesia) mencoba isi kotak nastar beracun itu ?

Manuel kalau mau bego sendiri aja, jgn ajak2 orang lain... Waspada itu beda dgn takut2in. Kalau tidak punya hati, ya minimal otakmu itu dipakai ! Jangan ntar giliran dicyduk ke polda baru mewek !

TMP2020:
Kalo tdk punya hati dan otak, pake apa dong ??

Pendiam:
Ampela

Jay:
Dokter yg lain takut sama IDI...makanya diam.

Ima Bunny ❤:
99,9999% dokter didunia semua bego dan takut bicara. Cuma 2 ekor ini saja dokter yg waras, pinter dan punya hati nurani !

Heulang Dugul:
mau mengangkat seseorang sih wajar-wajar saja, baik bahkan bila memang ke-2 dokter itu adalah dokter yang memang berusaha memberikan pengertian dan pemahaman yang benar tentang covid-19 kepada masyarakat, tapi ya tidak bombastis juga lah.


Banyak klaim di dalam opini, tapi tidak ada satupun link atau referensi ke sumber yang menjadi dasar penulis melakukan klaim. Jadi ya apa bedanya dengan 'ngocol doangan'?

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Kompak! Dr. Samuel Simon Dan Dr. Indro Bongkar Propaganda Mafia Ogrok Hidung Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/kompak-dr-samuel-simon-dan-dr-indro-bongkar-2l1wu7GgTD

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: