You Now Here »

Lonceng Gereja, Masihkah Relevan?  (Read 72 times - 36 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 25,024
  • Poin: 25.103
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Lonceng Gereja, Masihkah Relevan?
« on: October 17, 2021, 04:10:26 PM »




Panda:
Lonceng gereja jaman sekarang tidak digunakan utk me manggil umat Kristiani.
Sekarang lebih banyak digunakan kalo ada perayaan hari besar misal Natal Dan Paskah yg Di bunyikan waktu nyanyi Gloria.
Sehari hari sdh jarang digunakan.
Kadang dibunyikan sebelum misa,
Tapi ga Semua gereja.
Bukan berarti harus Di hilang kan.

Martabak Sweet:
Tapi yang hendak diulas lebih dalam di sini adalah soal lonceng gereja. Apakah masih relevan di masa kini? Lonceng gereja pada masa lalu berfungsi untuk memanggil jemaat supaya datang ke gereja untuk beribadah. Petugas gereja akan membunyikan lonceng besar yang terbuat dari besi itu sehingga berdentang dengan sangat kencang, bisa mencapai jarak kilometer. Tentu berisik, terutama pada orang-orang yang berada di dekat gereja itu.


Lonceng Gereja dari sisi fungsionalitas tidak relevan sama sekali untuk jaman ini. Umat Kristen cukup dewasa untuk beribadah atas kemauan dan effort diri sendiri. Umat Kristen tahu kapan dan dimana untuk beribadah.

Tidak perlu ada TOA atau lonceng Gereja untuk mengingatkan, membangunkan. Karena Umat Kristen bukan seperti anak manja yang bangun sekolah harus dibangunkan orang-tua, dimandikan, dicebokin, kalau perlu hidungnya dicokok seperti sapi ke sekolah.

Tidak pernah ada masalah untuk menggunakan atau tidak menggunakan sebuah Lonceng. Apalagi jika sekitarnya adalah perumahan yang didiami manula 60-80 tahun atau balita yang lagi menyusui, atau rumah sakit yang isinya pasien yang perlu istirahat.

Martabak Sweet:
Dulu, ada seorang tokoh yang mengutarakan betapa perlunya pendeta masa kini membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan. Apabila misalnya suatu saat dia berkhotbah di sebuah gereja yang jemaatnya banyak pebisnis, maka dia harus bisa menyinggung tentang situasi terkini di pasar modal. Atau perkembangan politik mutakhir. Agak lucu jika di hadapan jemaat yang mayoritas intelek itu, pendeta masih mengulik soal Musa yang membelah laut dengan tongkatnya.


1. Tokoh ini sepertinya justru yang error. Cerita 1000 tahun lalu maupun cerita 1 tahun lalu pasti ada pesan moral atau nilai yang ingin diutarakan. Dan nilai tersebut tidak semerta-merta akan tergerus oleh waktu.

Jika pesan moral atau pesan kebaikan bisa tergerus jaman, mungkin ada yang salah dengan pesannya atau ajarannya.

2. Setahu saya latar belakang pendeta dan pastor itu banyak sekali dari kalangan akademia dan profesional, setidaknya secara relatif dibandingkan dengan instrumen Agama-Agama lainnya. Apalagi instrumen yang tidak punya sertifikasi dan bisa jadi tokoh agama hanya bermodal jenggot dan komat kamit listerin menyemburkan lolongan arab.

Agak aneh kalau bicara pasar modal atau hal hal lain yang sangat teknis. Mau bahasa apa? Cara hitung IRR? Value of money? Jadi kaya berkah? Jadi miskin cobaan?

Martabak Sweet:
Misalnya, alangkah lebih mengena jika misalnya pengkhotbah mengangkat kasus Baim Wong yang belum lama ini jadi berita yang kontroversi? Bisa saja misalnya pendeta menghimbau jemaat yang memiliki uang lebih atau harta melimpah agar meniru Baim Wong yang rajin dan rutin membagikannya kepada sesama yang kekurangan. Ini lebih meresap ketimbang mengisahkan secara bulat-bulat peristiwa ribuan tahun silam, tanpa ilustrasi kekinian.


Lebih mudah seorang pelacur masuk dalam kerajaan Surga dari pada orang kaya yang jauh lebih sulit dari pada memasukkan jerami ke lubang jarum.

Pernah dengar?

Martabak Sweet:
Beribadah itu perlu. Tetapi kalau ada yang merasa terzalimi oleh sesuatu yang sebenarnya bisa ditoleransi, mengapa tidak berbesar hati? Ngotot untuk sesuatu yang tidak prinsip, Tuhan tidak suka.


Sangat dihargai keinginan penulis untuk supaya situasi keagamaan dan keragaman di Indonesia. Tujuannya sangat baik. Cuma sayang caranya atau anglenya atau obatnya tidak tepat.

Ada 1 hal yang menarik yang ditulis penulis di bagian penutup. Dan ini salah satu yang perlu direnungkan.

1. Supaya ada perbaikan TOLERANSI harus diposisikan sebagai BAGIAN ATAU AJARAN AGAMA ITU SENDIRI.

2. Selama ini narasi yang beredar adalah "TOLERANSI itu perlu KARENA KEBERAGAMAAN. Karena MENGHORMATI ORANG LAIN." Ya mana efektif.

Kenapa orang yang kecanduan "agama" perlu peduli dengan "keberagaman" atau "menghormati orang lain"?

Persetan dengan toleransi dan menghormati orang lain. Karena bukan syarat masuk Surga dan bukan syarat menjadi umat (islam) yang baik. Mana ada motifasi yang kuat???

Persetan dengan toleransi kalau saya sampai harus tidak melakukan ajaran agama (islam).


3. Coba cerna baik baik. Dalam Kekristenan ada "mengasihi orang lain seperti kamu mengasihiKu" yang esensinya adalah TOLERANSI dan MENGHORMATI ORANG LAIN.

HIR HODOK:
Ajaran agama damai justru mengajarkan pengikutnya tidak boleh berteman sama kafir (khususnya Yahudi dan Kristen).

........:
gereja kotemporer dah ga pk lonceng!

HIR HODOK:
Kali ini om Panjath H berada antara terlalu jadul dan terlalu maju.
Soal lonceng gereja, hampir tidak menimbulkan keluhan karena tidak dibunyikan tiap hari (sore dan petang). Kalau lonceng ditiadakan pun, saya percaya tidak akan menjadi sumber pro kontra.
Kalau memang fokus bahas lonceng, mengapa "paragraf pendahuluan" hingga 6-7 paragraf? Paragraf2 itu tidak membahas asal usul, bentuk, fungsi, dan bahan lonceng misalnya.

Keahlian seorang pendeta terletak pada membuat kisah dalam BIBLE ke konteks kekinian. Tidak masalah mengutip kisah2 jadul itu. Menjadi membosankan kalau Pendeta hanya membacakan kisah2 itu tanpa memaknainya dengan kehidupan dan kebutuhan jemaatnya. Kisah2 aktual di berbagai bidang perlu dipelajari dan diketahui oleh para Pendeta (seperti yg disebut penulis, BAIM WONG) dan membuatnya sebagai PROPOSISI dalam khotbahnya. Segala peristiwa kontemporer tidak menjadi 'roh' khotbah seorang pendeta.

firman proindo:
Ganti pakai kulkul biar lebih tradisional.

Arif Soetanto:
Lonceng gereja mana yg dibunyikan jam 12 malam? Jam 3 pagi?

iam hêylêl:
Lonceng gereja menimbulkan keluhan? wong cuma rutin dibunyikan pada hari minggu, diluar hal special, bandingkan dg TOA dengan desibel diatas peraturan pemerintah dan 5x sehari..  soal relevan, masih mending kami pakai Lonceng asli daripada pakai yg kekinian spt TOA dgn bunyi bell dari lagu "for whom the bell tools-Metallica. Cmon.. ahaha

Martabak Sweet:
Bunyinya di jam tertentu, siang atau sore hari dan cuma 1-2 menit pula.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Lonceng Gereja, Masihkah Relevan? Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/lonceng-gereja-masihkah-relevan-5KSbw9pY8y

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: