You Now Here »

Pak Jokowi, Jangan Terus Abai Dan Bungkam Soal Penindasan Atas Nama Agama.  (Read 85 times - 109 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 25,694
  • Poin: 25.773
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




B-Over:
Dan dalam hal ini, saya mengkritik kepolisian Indonesia, Kapolri, pak Menteri Agama, dan juga pak Jokowi.
Mantap om toge, eh om gede. Walaupun seringkali kritik disalah artikan oleh rakyat yang mendukung membabi buta sebagai nyinyir atau dicap tukang obral salawi... Hahaha

Dan terutama buat pak Jokowi, permintaan saya adalah: Bertindaklah. Jangan bungkam dan abai. Waktunya cuma tinggal 3 tahun lagi buat periode pak Jokowi. Sudah bukan waktunya main aman dan malah ninggalin sampah buat diberesin rezim berikutnya.
Naaaah... Ini yang belum dipikirkan oleh para pendukung fanatik.

Sisanya yang tidak saya quote, ngga kalah lugas-lah dan tepat serta tetap dalam koridor kritik mendukung.

Tony Gede:
Ya makasih2x? ???

Saya berikan kritik ini karena hal ini masih menjadi kelemahan besar pemerintahan Jokowi.

Saya usahakan tulisan2 saya masih dalam koridor kritis, tanpa perlu jadi berprasangka buruk, menuduh, atau nyinyir.

Yang baik saya puji, yg perlu ditingkatkan atau masih salah saya kritisi.

Dan tentu saja saya kasih saran.

Karena tanpa saran, artikel saya cuma bakal jadi tulisan nyinyir, pertanda malas berpikir.  Ntar saya malah turun kelas jadi esjewe. ????

B-Over:
Beda dikit lah, karena saya pikir menjadi kelemahan terbesar. ????

Tony Gede:
Buat saya, masih ada masalah politik dagang sapi dan politik balas budi, yg terutama mencolok di periode 2 ini.

Dan saya sendiri belum melakukan perbandingan kuantitas dan kualitas, jadi belum bisa menetapkan mana kelemahan terbesar? ??? ??? ?????

Han:
Kalau begini terus pada akhirnya kaum agama mayoritas juga akan terkena dampaknya. Karena kalau ditelaah lebih dalam, sebenarnya ini bukan tentang mayoritas minoritas tapi masalah adanya pemaksaan kehendak oleh segelintir orang dengan menggunakan alasan agama yang terus menerus dibiar2kan. Well, in fact hal itu sebenarnya sudah terjadi. Dalam hal2 tertentu kaum agama mayoritas yang berbeda pandangan dengan mereka justru lebih ditekan dibanding kelompok minoritas. Contoh gamblangnya mereka yang mendukung Ahok dulu yang keluarganya diancam untuk tidak di-sholat-kan atau bahkan dilarang masuk ke mesjid. Atau mereka yang dikafir2kan meskipun agamanya sama hanya karena punya perbedaan pandangan dalam hal agama atau bahkan politik.

Atau contoh nyata lain, wanita muslim yang tidak ingin memakai jilbab akan direndahkan bahkan dianggap "murahan". Sementara yang non muslim lebih dapat ditoleransi. Anak saya yang tak pernah jilbaban tak pernah dikata2i oleh teman2nya. Statusnya yang jelas non muslim membuat penampilannya dapat diterima. Justru malah ia cukup populer diantara teman2nya. Tapi ada teman perempuannya yang muslim tapi tak memakai jilbab mengalami hal yang kurang menyenangkan. Mulai dari "diingatkan" sampai bahkan dipandang rendah.

Pembantu saya kalau naik kendaraan umum apalagi perjalanan agak jauh selalu memakai jilbab lebar. Padahal di dalam rumah dia bebas memakai pakaian normal dengan rambut terurai. Dia sama sekali tak merasa terganggu dengan adanya saya, seorang pria bukan muhrim yang kafir di dalam rumah. Sebaliknya justru dia merasa terganggu dan tak nyaman dengan orang2 yang seagama dengannya di ruang publik. Mulai dari ibu2 nyinyir sampai cowok2 iseng yang bahkan sudah jilbaban juga masih digodain.

si memble:
Dampaknya sudah mulai terasa walau masih terselubung, eksodus diam2 yg kabarnya cukup besar.

Han:
Pada dasarnya tiap orang khan tak ingin dipaksa karena punya kebebasan individu dan pemahaman yang berbeda2. Kalo semuanya ingin diseragamkan, lalu apa bedanya dengan komunis. Seperti jaman Mao di China dulu yang bahkan pakaiannya juga seragam. Ini juga sama hanya beda jubah luar saja.

si memble:
Emang sama jeroannya, makanya generasi z yg melek gadget mulai berpikir kritis.

B-Over:
Kalau kata pak wapres, hanya letupan kecil itu
Tipikal manusia yang menggampangkan persoalan penting

si memble:
Tunggu saatnya... ????

Tony Gede:
Nah... Itu dia.

Ajaran intoleran kalau terus didiamkan, semua yg lain akan kena pada akhirnya.

Ga ada yg akan aman.

Han:
Betul sekali. Di Jawa Timur misalnya, banyak yang agamanya abangan. Mereka jelas akan menolak kalau disuruh melakukan hal yang sama seperti kaum celana cingkrang.

Love The Truth:
Thanks atas tulisannya, Banyak mewakili suara minoritas...Masih banyak sekali ketidak adilan dalam Hal agama...Dan saya rasa , Hal ini tidak akan pernah bisa berubah...(ini feel saya saja)

si memble:
Itulah problemnya dari dulu, hukumnya jelas, tapi penegakannya yg kadang jelas kadang ga jelas, tergantung 'wani piro', 'koncone sopo', 'anake sopo', 'agamane opo', dsb.

Tony Gede:
Seratus.

Dan saya jg ga bisa terima kalau pak Jokowi bilang ga akan intervensi hukum, lantas bungkam soal begini.

Kepolisian itu di bawah Presiden.

Dan memerintahkan kepolisian utk menegakkan hukum tanpa tebang pilih itu nggak mengintervensi.

Maka ini alasannya saya mengkritik dia di sini.

B-Over:
Yang paling gemes yah saat pilkada dki 2017. Dalih presiden tidak mau intervensi hukum mungkin masih dimengerti dan diterima saat putusan pengadilan belum final. Saat itu memang presiden tidak boleh intervensi, tetapi pembiaran akan tindakan2 intoleran selama masa pilkada kenapa dilakukan juga oleh "para wasit"?

Saya bukan pendukung fanatik BTP, tapi semenjak pengalaman peristiwa priok 84, saya paling benci dengan ceramah2 radikal yang dilakukan rutin di rumah2 ibadah saat pilkada dki itu. Hampir setiap hari dari subuh loh...

si memble:
Itukan zaman orba, bukannya sudah disikat sama pangkopkamtib?

Han:
Sebenarnya kalo dibilang jaman orba tegas terhadap hal2 spt itu, itu adalah statement yg ambigu. Orba akan bersikap tegas kalau peristiwanya sudah besar apalagi yang potensial mengancam kekuasaan Pakde, seperti misalnya kasus Priok. Tapi Orba seperti sengaja membiarkan pengajaran paham radikalisme di akar rumput selama tak ada insiden yang muncul ke permukaan. Saya dulu kuliah di PTN terkenal awal tahun 90'an. Saat itu pun fenomena haram memilih pemimpin sudah marak terjadi di organisasi2 mahasiswa. Jadi kalau sekarang haram memilih pemimpin daerah saya tak heran karena bahkan jadi ketua himpunan mahasiswa saja sudah haram kok.

Fenomena pembiaran ini bahkan mungkin memang disengaja untuk kemudian sesekali dibenturkan dengan kaum minoritas Tionghoa. Seperti beberapa kasus kerusuhan rasial yang sporadis terjadi di jaman Orba. Modus operandinya selalu sama, ada pertentangan kecil yang seketika merebak jadi kerusuhan masal. Setelah itu tentara turun dan semuanya jadi terkendali.

si memble:
Yup, emang gitu caranya, terkendali dibawah injakan sepatu boot tentara.

B-Over:
Maksud saya, ceramah2 ke arah radikal juga diadakan hampir setiap hari dari subuh di beberapa masjid2 dekat rumah saat pilkada dki 2017, om. Bagaimana di daerah lain? Itu yang bikin keinget lagi peristiwa priok 84, om

si memble:
Oook, salah ngerti rupanya.

Tony Gede:
Ya sudah sih.

Tapi yg diingat sama media2 sekarang cuma soal pelanggaran HAM krn pembunuhan massalnya.

Tapi sebab2nya yang diawali radikalisme ga pernah dibahas sama sekali.

Dibilangnya cuma bentrok gara2 awalnya ada orang dari ABRI yg coba menghapus stiker di masjid, tapi pake air got.

Isi stikernya apaan, ga pernah dibahas jelas.

B-Over:
Ada personil kodim jakarta utara yang masuk ke masjid al-mukkaromah (sekarang sudah jadi wilayah pelabuhan) di seberang rsud koja untuk menghentikan ceramah. Yang pada akhirnya bikin mereka rame2 protes ke kodim jakut di sunter karena personil tersebut katanya pakai lars masuk dalam masjid.

Itu yang mati ya perusuh, om. Wong bersorban dengan senjata api rakitan, senapan angin sampai sajam. Maju merangsek barikade ABRI di jalan deli. Saya liat mereka maju sambil takbir walau sudah diberi tembakan peringatan beberapa kali. Mati konyol lah ditembaki aparat. Banyak mayat bergelimpangan sampai jatuh ke kali sindang belakang depo pertamina. Pagi2nya setelah ABRI menghentikan pengejaran dan penyusuran, mayat2 di jalan2 dan di kali sindang diangkut oleh truk2 untuk dikuburkan massal di wilayah semper cakung.

Tapi sebelum puncak bentroknya di jalan deli, banyak penjarahan dan pemerkosaan dilakukan gerombolan bersorban ini di wilayah jalan muncang (bioskop muncang) karena banyak ruko2 sampai toko2 material di jalan mindi.

Om gede, bisa cek di google sampai google maps untuk mendapatkan gambaran lebih jauh lagi bagaimana pergerakan dan kejadiannya.

Pelanggaran HAM? Yah itu sih para pelaku kerusuhannya, om

Han:
Wah kalo sampai perkosaan saya baru dengar ini. Yang diperkosa dari kaum minoritas juga spt 98 atau random asal ada cewek yang kebetulan ada disitu?

B-Over:
Om han, saya sudah berapa kali sih ceritakan ini di kolom komentar. Seluruh target penyerangan pastinya tionghoa. Di perempatan jalan mengkudu dan mindi ada toko material (sekarang gedung golkar dan hanya berjarak 100 meter dari rumah orang tua). Yang saya tahu walaupun saya hanya dari luar ya, pemerkosaan dialami oleh seluruh perempuan yang ada disitu dan salah satunya adalah kakak kelas saya di sekolah.

Karena saya juga khawatir akan kondisi ibu saya yang mobilnya tertahan di pos polisi pocis, saya dengan sepeda bmx ambil arah ke jalan deli, tapi ngga bisa tembus karena massa bersorban sangat banyak disitu dan barikade polisi dan abri ada di jalan deli mulai dari depo pertamina sampai rumah sakit koja.

Memang yang paling masuk berita adalah seluruh keluarga dan karyawan di apotik tanjung yang tewas terbakar habis di dekat pos polisi pocis.

Han:
Ya memang sih ya, jaman orba dulu setiap ada kerusuhan yang disasar selalu kita orang tionghoa. Dulu jaman SD dan SMP pernah beberapa kali sekolah dilibuarkan karena adanya kerusuhan di Surabaya. Jadi make sense juga kalo terjadi kekerasan brutal saat ada kerusuhan besar seperti tanjung priok. Cuman tidak diberitakan saja.

Dan memang sih, isu kekerasan rasial termasuk perkosaan ini sebenarnya di kalangan keluarga saya sudah aware dari sejak kita kecil dan remaja. Tak hanya saat terjadinya kerusuhan besar seperti itu. Tapi juga di hari-hari biasa apabila kita apes "bertemu dengan orang2 yang salah pada saat dan tempat yang salah". Makanya saya dan terutama kakak cewek saya selalu hati2 kalo di luar. Itupun masih beberapa kali saya  kena gampar atau dipalak cowok2 yang lebih besar gara-gara saya cina :D. Tapi untungnya kakak saya ga pernah mengalami gangguan fisik.

Tony Gede:
Gileee? ??? ??? ?????

Btw peristiwa Priok 84 itu ada hubungannya dngn ceramah radikal ya?

B-Over:
Waduh, om. Kalau dibandingin, ceramahnya bibib jijiq dan bibib bahar sih masih mendingan sebetulnya. Hampir setiap malam diadakan dengan lokasi berpindah-pindah sampai tutup2 jalan karena bikin tenda2 begitu

Tony Gede:
Oh ya?

Saya ga di Jkt sih, jdi g tau cerita awalnya gimana.

Belakangan cuma baca2 dri tulisan2 di Tirto dan Historia.

Tpi rasanya media2 tsbut ga akan berani nyebut soal radikalisme.

B-Over:
Saya masih kelas 5 SD saat itu dan lokasi rumah orang tua saya di daerah rawa badak dekat jalan muncang dan tidak jauh dari jalan deli. Bahasa bangsat, babi, anjing, monyet, cina, kristen, tiang jemuran, kolor selalu ada itu... Sorry ngga disensor biar apa adanya aja lah... Hahaha

Han:
Saya tak heran. Dulu di Bandung setiap Jumat selalu mendengar ceramah2 yang bikin kuping panas bahkan agak menakutkan. Setelah mereka bubaran, banyak yang memandang dengan pandangan marah ke kita yang minoritas.

B-Over:
Kalau saya biasanya otomatis kasih mata melotot sampai mereka salah tingkah sendiri. Entah karena saya atau karena liat pitbull saya di rumah. Hahahaha

Han:
Yang ngeri mereka pasti maen keroyok. Kalo satu lawan satu mereka biasanya ga berani. Tapi kalo ada gukguk mgkn meski banyak mereka ngeper juga apalagi pitbull hahaha. Ga ada yang mau kena gigit duluan wkwkwk.

B-Over:
Di foto profil saya, pitbull saya disitu masih usia 4 bulan. Pada dasarnya, pitbull dikembangkan harus membawa gen friendly dan loveable khususnya terhadap anak2 dan owner tapi harus juga memiliki naluri proteksi yang kuat.

Nah, pitbull saya juga seperti itu, sangat2 friendly dan suka becanda dengan tamu walaupun becanda tenaganya diatas rata2 anjing ras lain yah. Tapi gesturnya sikap berdirinya langsung berubah jika ada yang memandang sinis atau punya niat ngga bener...

Tony Gede:
Baguslah kalo mereka disikat dulu...

si memble:
Bravo bung, tapi hemat sy, dgn menunjuk kapolri dari mino, presiden sudah sedikit intervensi walau impactnya blom terasa dibawah.

Tony Gede:
Penunjukan Kapolri kan emang hak Presiden.  Gimana mau dibilang intervensi? ???

Tapi kalopun intervensi, ya biar aja deh.

si memble:
Wkwkwk, makanya sy bilangnya cuma sedikit.

Jagardo Situmorang:
Sebenarnya ini berawal dr ketdk jelasan pancasila itu sendiri,,,apa mw negara sekuler ato negara agamis mngingat agama mayo mnyuruh umatnya ikut apa kata quran mulai dr brojol smpe mokad wlau brtentangan dgn dasar negara sekalipun,,,hehehe,,,,

Tony Gede:
Sepenilaian saya, sbnrnya prinsipnya cukup jelas, dan pernah saya jelaskan dalam tulisan lain.

Pancasila menginginkan nilai2 yg disetujui bersama oleh semua agama sbg pedoman dalam kehidupan Publik dan Bernegara.

Artinya ga akan mengurusi soal2nyg sifatnya personal.

Artinya juga, ga akan memenangkan aturan satu agama manapun.

Toh di negara sekuler yg menjamin kebebasan beragama, semua penganut berhak percaya apapun walau bertentangan aturan negara.

Tapi kalau coba2 melanggar aturan, ya kena sikat.

Di Indonesia jg prinsipnya sbnrnya sama.

Cuman aja penegak hukumnya takut2 kena cap anti agama.

Padahal sbnrnya kalau mengacu pada prinsip yg digariskan para pendiri negara, ga perlu takut.

Kadal Gunung:
pancasila sebenernya cukup jelas, negara sekuler beragama,

B-Over:
Kalau menurut saya sih, persoalan aturan agama yang om angkat itu ditempatkan dalam lingkup privasi. Begitu diluar lingkup privasi harus ada dasarnya seperti kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan sampai pada keadilan sosial.

Jadi selagi lagi menurut saya, ketidak jelasannya itu ada pada pengelola negara sampai pada aparat hukumnya dalam menegakkan aturan main sesuai Pancasila itu sendiri

Tony Gede:
Scr garis besar sama dngn penjelasan saya di bawah? ???

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Pak Jokowi, Jangan Terus Abai Dan Bungkam Soal Penindasan Atas Nama Agama. Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/sosbud/pak-jokowi-jangan-terus-abai-dan-bungkam-soal-JoHfaJSx2r

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: