You Now Here »

Mayoritas Kita Sedang Bergejala, Tapi Ogah Tes Lagi  (Read 93 times - 106 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 25,694
  • Poin: 25.773
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Mayoritas Kita Sedang Bergejala, Tapi Ogah Tes Lagi
« on: February 21, 2022, 08:16:16 PM »




doodleramen:
Sehingga yang kepo dan takutan, atau penasaran kena virus atau ngga, sudah tidak sebanyak dulu di tahun 2020 dan 2021. Sehingga angka kenaikan kasus dan bed rumah sakit tidak lagi penuh seperti sebelumnya.
Bahahaha... penulis ini menggambarkan seolah-olah angka kematian itu berkurang karena kekepoan dan ketakutan masyarakat yang berkurang... ????

Kasihan si vaksin. Si vaksin kerja keras tapi tak sekali pun namanya disebut oleh penulis. Padahal jelas semuanya adalah hasil dari ratusan juta dosis vaksin yang disuntikkan. (Bukan TPK ya ????). Bukannya berterima kasih, penulis ini malah mengambil kredit atas kerja keras si vaksin. Emang tidak tahu terima kasih...

Galih Kunarso:
Setuju sekali.

Hal ini bisa tercapai karena vaksinasi ya. Kalau gak ada vaksin sudah pasti ceritanya akan berbeda. Bisa lihat keadaan di negara-negara bagian di US yang cakupan vaksinasinya kurang karena anti-vaxxers di sana.

Bagi yang sudah vaksin dan booster, silakan beraktivitas di luar rumah dalam batas yg wajar, sambil terus taat prokes ya. Kalau sakit ya tinggal isoman sampai sembuh sendiri.

Tapi kalau yang belum vaksin, nah itu yang masih tetap ditakutkan bisa berisiko parah kalau sampai terinfeksi.

Rosita:
Setuju!

Yulius Aldo:
saya rasa, saya setuju sama penulis.
Papa saya kena Stroke 2010, lumpuh separoh, ga bisa ngomong jelas jg.
Pertengahan juli 2021 positif Covid. serumah kena. paniklah kita. bawa ke rumah sakit juga penuh. kepikiran juga kl di rumah sakit bisa tambah stress. akhirnya perawatan di rumah dengan jaga makan, minum obat2an+vit. SEMBUH. sekeluarga besar sembuh, termasuk anak2 kecil juga. Puji Tuhan. padahal juga papa ga ada ikut vaksin2. tp sekeluarga semua vaksin ya.kita ga anti kok. cuma merasa terlalu lebay menanggapi covid aja ini semua orang.

COVID ga semenakutkan itu. walaupun tetap harus waspada.

Aneh juga kl harga SWAP dulu sampai 900rb-1.5 jt an. nunggu 1 hari. sekarang 250rb an dan bisa cepat. Waktu gila2 nya kenapa ga bisa di permudah ya. kenapa nunggu di minta. apa karena sudah merasa cuan jadi gt? aneh ga sih kl mikir dari logika. semoga yg ambil untung dari pandemi bisa kena balasan setimpal di dunia. Anehnya juga, baru minta harga murah setelah berlangsung lama.... aneh.

pernah komen begini di bilang buzzer. padahal kejadian nyata. aneh memang orang2 ini. mau menggiring isu ini supaya besar terus. padahal semua itu ada di tangan TUHAN. tugas kita ya berjaga-jaga dan waspada tanpa pakai bohong manipulasi segala.

Salam

Endang Diwangkara:
Penulis ini emg dari sebelum-sebelumnya juga sangat anti sama covid dan LBP, dia sama keluarganya mungkin lom ngalamin sih terkena sampai koit kayak keluarga gw, malah terkesan meremehkan dan cengengesan dia, ??? ??? ??? ???

firman proindo:
Ya ini semua karena vaksin. Bukan tpk apalagi musim pancaroba

Knight:
Standar Ganda

Saat awal pandemi dulu, banyak ahli atau yg mengaku ahli pandemi menjadikan cara penanganan ala luar negeri sebagai acuan domestik.

Kini, sebulan terakhir banyak negara² barat mencabut status pandemi dan segala protokolnya walaupun kasus positif sedang tinggi2nya.

Tapi kita di sini mendadak merasa menjadi lebih ahli dari dunia barat, tetap yakin dengan proyeksi dan penanganan ala domestik padahal kasus sedang rendah; dan jika terakhir ini menunjukkan angka positif tinggi, ya karena tes masif dilakukan lagi.

Positif belum tentu sakit.
Kalaupun bergejala belum tentu akan mematikan. Apalagi sebagian besar sudah memiliki imun dari vaksin buatan atau penyintas dari infeksi alami.

Padahal secara statistik resmi dunia, ± 98% sembuh, sebagian besar tanpa penanganan insitusi kesehatan. ±2% sisanya pun menyisakan tanda tanya besar, apakah karena komorbid atau lainnya.

Dua tahun terakhir ini, kita sepertinya hanya mengenal covid sebagai musuh (penyakit) utama yang mengerikan. Padahal banyak penyakit dengan angka kematian tinggi yg sejak dulu sampai sekarang masih tetap ada.

Meninggal DENGAN covid itu sama sekali berbeda meninggal karena covid.

Sama sekali tidak bermaksud menyepelekan kemampuan ahli dari negeri sendiri. Banyak ahli dan dokter yang pintar dan lurus namun hanya sedikit yang berani bersuara melawan pembodohan masif, karena jika berani bersuara berbeda ancaman sangsi dari organisasi medis menanti.

Edukasi lateral oleh 'minoritas' ahli sudah dilakukan namun gaungnya tidak semasif media.

Obat2an yang dipakai di medio 2021 dalam menangani pasien covid sudah mendapat tentangan dari segelintir dokter karena tidak sesuai dan memiliki efek samping berbahaya. Betapa tidak, satu hari harus menenggak dosis ±15 butir obat yang belum teruji utk covid dan sebagian memang bukan obat yang sesuai utk melawan virus. Azithromycin misalnya.
Namun sekali lagi mereka dianggap angin lalu dan cenderung diremehkan.
Kemudian, awal tahun ini, satgas mencabut aturan penggunaan obat2an tsb karena alasan yg nyaris sama (beda pemilihan kata) dengan yg dikemukakan oleh suara 'minoritas' tahun lalu, yaitu tidak bermanfaat dan memiliki efek samping serius.

Sudah dua tahun, melihat situasi sekitar, sangat mungkin herd immunity sudah tercapai.

New Air 1:
Jernih dan jujur.

Barkah Adi:
Sama kaya sekekuargaku nih, ya cuek bebek aja, meriang, idung mampet, batuk, pilek, suara parau, kulit ruam² (kayanya iya nih yak?), Tiap anggota keluarga punya gejala flu (?) beda semua, 3 hari mereda. Kemungkinan besar Karena udah komplit vaksinasi primer, jadi bergejala ringan. Cukup parasetamol, obat batuk, wedang jahe, peresan lemon, makan cukup, dan, nggak keluar rumah selama bergejala, kuatir nularin tetangga. ????

«§» ┏(‘▀_▀’)ノ♬♪? ??? ????:
asalkan jaga diri jangan sampe ada komorbid.

Barkah Adi:
Siap!

Yosef Kurniawan:
Gak ada lonjakan kasus? Sekedar info rekor kasus positif per hari saat varian delta sudah terpecahkan oleh omicron, lonjakan kasus ada. Yang keliatan gak gawat-gawat amat kan hanya dari kematian dan keharusan dirawat di RS, jadi keliatan adem ayem aja, gak se-mencekam delta. Lagian gak bisa dipungkiri, keberadaan vaksin lah yang bikin negara ini bertahan lebih baik dibanding saat delta kemarin. Hal ini yang gak bisa dipungkiri oleh penulis, dan mestinya dia akuin itu. Btw metode TPK yang dia agung-agungkan itu gak masuk kok jadi metode utama buat penyembuhan covid, dan seperti yang saya bilang. lebih baik menjaga diri gak kena penyakit, daripada sengaja kena biar dapet "herd immunity" yang biaya pengobatannya lebih mahal dan ribet.

Tapi tetep waspada sih, omicron ini puncak kematian dan kasusnya bisa selisih lumayan jauh, jangan heran kalau 2-3 minggu lagi tiba-tiba kematian harian paling tinggi, jadi stay safe dan tetep jaga prokes.

firman proindo:
Vaksin berhasil mengurangi keparahan, bukan karena efek musim pancaroba

Mr. Anonimus:
Vaksin terus dikebut Pemerintah, hidup berdampingan dengan Covid makna terdalamnya adalah kita bisa menjinakkan dampak buruk dari Covid... vaksin ini adalah maksudnya... Tapi tetap perlu kesadaran masyarakat, kalau mau berbagi rezeki silahkan, tapi kalau mau berbagi penyakit... MAMPUS AJA LO sob...

Ronaldmen Sitanggang:
Kayanya kakak pembina masih ada dendam yang belum terselesaikan dengan opung LBP, entah ada salah apa opung terhadap kakak pembina ??? ??? ??? ??? ????
Kalo bukan bagian korban emang enak, tapi coba ngomong dengan keluarga yang mengalami kedukaan akibat covid ini, apakah masih bisa sama?
Sersan aja.... serius tapi santai aja...

«§» ┏(‘▀_▀’)ノ♬♪? ??? ????:
beye
grace natalie
sekarang luhut

ada apa dgn alif?

JippyMan:
Betul sob, saya dan kakak ipar saya bulan Juli 2021 yang lalu sama-sama teriveksi virus covid-19. Saat itu saya sudah vaksin 2 kali per posisi 20 Maret 2021. Bersyukur saya bisa pulih, namun di sisi lain keluarga kami berduka; kakak ipar kami berpulang. Kebetulan kakak ipar kami belum vaksin, karena tensi alm tinggi.
Jadi poin saya, upaya vaksinasi yang dilakukan pemerintah sangat membantu.
Demikian juga untuk perkembangan terkini, seorang teman saya kemarin (19/02/2022) dimakamkan, karena terpapar covid, memang alm. sudah comorbid, namun serangan virus ini mempercepat proses untuk berpulang.
Seharusnya kakak pembina lebih bijaklah untuk membangun opini terkait covid-19 ini, karena di samping yang dia saksikan di keluarganya dan atau di lingkungannya, ada banyak kejadian yang berbeda dari apa yang dia saksikan dan lihat sendiri oleh kakak pembina.

Yosef Kurniawan:
Yah anggap aja artikelnya angin lalu, setidaknya penulis konsisten tetap anti vaksin dan menganggap covid ini hanya permainan mafia semata. Banyak pembaca yang sudah mengingatkan betapa besar efek yang bisa diakibatkan dari artikelnya, dan kurang validnya lokasi yang dia pakai sebagai referensi (desanya vs kota besar). Tapi ya dia tetap begitu.  Bersyukur saja meskipun dekat ke pemerintahan, beberapa usulan nyelenehnya gak dikabulin sama presiden, jadi penanganan sekarang better dibanding saat delta.

si memble:
Si kakak pembina kalo urusan kopit emang rada bengkok logikanya. ????

bayu:
Betul sekali bung Alif, sekarang ini kalau di cek mungkin sudah banyak banget, namun karena dampaknya tidak sedahsyat dulu, mungkin juga efek vaksin. semoga penyakit ini menjadi seperti flu biasa mulai dari sekarang

Rais Manwuoy:
Saya tambahkan juga, saya malah curiga karena stress/ketakutan pasien dan penanganan yang salah dari dokter-dokter atau perawat RS yang salah maka kemungkinan jatuhnya banyak korban yang sia2. So Sad , ironi sebuah keyakinan semu dari para orang sok pimtar dan para pencari keuntungan.

Jay:
Dari zaman batu sampai sekarang....demam flu dan filek itu sdh ad. Jadi apakah gejala yg d atas sdh terindikasi virus covad cavid..?

Galih Kunarso:
Ya, bisa saja karena memang gejalanya sama. Jadi kalau mau tahu silakan tes (bisa Antigen saja). Kalau gak mau tahu ya paling tidak isoman deh, biar tidak menulari masyarakat sekitar.

«§» ┏(‘▀_▀’)ノ♬♪? ??? ????:
seperti monyet yg ber-evolusi menjadi manusia, kenapa masih ada monyet?
begitu juga virus flu yg bermutasi menjadi virus covid, kenapa masih ada virus flu?

berarti, manusia tidak sepenuhnya imun terhadap virus terbukti dari masih seringnya flu muncul.
suka²nya si virus yg dalam fase lisogenik sbg DNA virus yg terintegrasi dgn kromosom.

btw, pengen tanya nih.
DBD itu kan karena virus ya.
kenapa tidak ada vaksin DBD?
virus polio ada vaksinnya.

juga virus rabies kenapa tidak ada vaksin tapi malah anjing yg divaksin?

Yuda Lugas Gunawan:
Ada kok vaksin DBD & Rabies untuk manusia.

«§» ┏(‘▀_▀’)ノ♬♪? ??? ????:
apakah ada imunisasi wajib utk dbd dan rabies?

Galih Kunarso:
Gak diwajibkan, karena cara menularkan kedua penyakit itu berbeda ya. Dan kedua penyakit itu tidak menjadi pandemi yang menyusahkan seluruh dunia ya.

Untuk menangani suatu penyakit caranya harus sesuai dengan karakter penyakit tersebut ya. Tidak bisa menyamakan semua virus harus caranya sama. Semoga anda bisa paham ya.

Galih Kunarso:
Monyet berevolusi jadi manusia? Salah ya. Yg berevolusi itu nenek moyangnya monyet dan manusia, lalu terpecah. Makanya monyet dan manusia tetap sama-sama ada.

Virus flu bermutasi jadi virus Covid-19? Sekali lagi anda salah besar ya. Virus flu itu jenisnya influenza, sementara kalau Covid-19 itu dari coronavirus. Ini benar-benar 2 jenis berbeda ya. Lagipula virus influenza dan Covid-19 juga merupakan RNA virus, bukan DNA virus, dan tidak akan terintegrasi dengan kromosom ya.

Virus Demam Berdarah Dengue itu ada vaksinnya kok, dan sudah lama ada. Kalau anda baca artikel yang pernah saya tulis di Seword di bulan September 2020 lalu waktu vaksin Covid-19 baru muncul, pernah kok saya sebut. Untuk virus rabies juga ada kok vaksin untuk manusia ya, dan dipakai sejak lama ya.

Sepertinya pengetahuan science anda masih kurang ya. Jadi sebaiknya anda lebih banyak membaca lagi sebelum menulis komen tentang science dan medis yang berdasarkan fakta dan bukan opini saja.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Mayoritas Kita Sedang Bergejala, Tapi Ogah Tes Lagi Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/mayoritas-kita-sedang-bergejala-tapi-ogah-tes-3eF6B5rPMk

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: