You Now Here »

Pak Jokowi, Selamatkan Pak Terawan, Dia Dizalimi Kadrun Berbulu Jenggot!  (Read 86 times - 40 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 25,686
  • Poin: 25.765
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




irina breach:
usul : bubarkan idiiih... lembaga punya k-drone

Wanda Bagus Sebastian:
Ikatan Cinta Indonesia

HoleLOL:
udh trll bnyk menyusup emg kadrun dr kedokteran pendidikan aparatur sipil polri sampe TNI dah bingung dah gmn nasib bangsa ke depan kl begini

Aan Widjaya:
Dari dulu memang sudah jadi bagian dr mafia alkes dan obat obatan ya. kalau ada terawan maka ahli syaraf kagak laku serta terapi terapi juga. Apalagi obat obatan sudah nggak akan dipakai lagi, bisnis ambyar dong, tidak perduli kantong pasien habis dan tak kunjung sembuh, mestinya pemerintah harus sudah bisa membaca keanehan mereka ini, koq sampai skarang dibiarkan saja.

Galih Kunarso:
Masalahnya, tidak ada bukti ilmiah teknik “cuci otak” itu membantu pasien stroke ya. Kalau Dr Terawan bisa mempublikasikan data ilmiahnya dari ribuan pasien yang katanya sudah pernah dia terapi, sebagai bukti ilmiah yang valid bahwa teknik itu berhasil, nanti pasti akan diterima juga kok oleh khalayak science dan medis. Tapi sekarang yang ada cuma cerita testimoni saja, yang maaf saja tidak bisa dianggap bukti keberhasilan teknis medis ya karena akan banyak bias-nya.

Ini masalah ilmiah ya, gak ada hubungannya sama politik atau agama.

Aan Widjaya:
Kalau masalahnya tidak ada bukti ilmiah, sebaiknyaIDI jemput bola dong tungguin lalu hubungi pasien kenapa sembuh/tidak sembuh atau sembuh sebagian dan teliti DSA nya efektifitasnya brapa, karena sudah praktek 2005 dan sudah mencapai puluhan ribu pasien yg berobat, masa ini bukan bukti/fakta. Jadi kalau mau IDI demi Indonesia bukan yg lain, jangan minta laporan bukti ilmiah tapi jemput bola, lihat langsung. Kan enak jadinya, jangan kaku IDI, kalau saya sih berpendapat begitu dok!
 Sampai skarang masih antri dan mahal lho dok, 30jt.

Galih Kunarso:
Sebenarnya teknik “cuci otak” yg dipromosikan oleh Dr Terawan itu memang tidak ada bukti ilmiahnya. “Bukti” keberhasilan pun hanya berdasarkan testimoni belaka, yang dalam dunia kedokteran itu tidak akan dianggap sebagai suatu bukti valid bahwa teknik itu berhasil membantu pasien ya. Kan mungkin saja banyak yang tidak berhasil, hanya saja ceritanya gak dipublikasikan, atau “keberhasilan” itu sebenarnya hanya placebo effect saja. Kalau mau ke dunia internasional tapi buktinya hanya berdasarkan testimoni belaka, hal ini jelas-jelas tidak akan dianggap ya.

Kalau mau membuktikan teknik “cuci otak” itu berhasil, ya seharusnya dilakukan riset yang jelas dan hasilnya dipublikasikan dengan jelas di jurnal ilmiah, biar bisa dilihat oleh khalayak medis dan science lainnya.

Kalau dia menjual tekniknya dengan overclaim-nya bahwa itu teknik yang bisa membantu pasien, padahal sama sekali tidak ada bukti ilmiahnya, ya itu benar-benar menyalahi etika medis ya. Jadi wajar saja dia dipecat karena kelakuannya yang seperti itu.

Tapi ya sayangnya masyarakat awam tidak paham hal ini, dan hanya terbuai akan kata-kata manisnya. Sama seperti ketika dia menjual “Vaksin Nusantara” sebagai produk lokal, yang sebenernya adalah produk buatan perusahaan Amerika bernama AIVITA Biomedical, tapi diberi merk lokal nama “Vaksin Nusantara” saja, dan juga sama sekali belum ada bukti ilmiahnya.

Jadi wajar kalau orang awam dan tokoh-tokoh nasional yang tidak paham bisa salah semua dan menganggap dia berhasil. Tapi kalau orang-orang yang paham sama evidence-based medicine sih akan benar-benar tidak setuju dengan kelakuannya dia, yang sebenernya sama sekali tidak sesuai kaidah ilmiah. Inilah kenyataannya ya.

Lone Wolf? ???:
Setuju.

TUgiyo:
Sedikit RS yg mau melakukan terapi ini karena tidak ada duidnya karena tergolong terjangkau harganya

Galih Kunarso:
Gak sih. RS gak mau melakukan teknik itu karena tidak ada bukti ilmiahnya ya.

Simon Mariana:
Coba Terawan pindah agama, jadi agama itu. Pasti dipuja puja. Apa pun yang dilakukan akan dipuja setinggi langit. Intinya semua harus ikut agama mayo. Waktu dia mentri ,kan dibenci karena agama nya. Makanya dia selalu di pojokkan karena corona.

Anathema Dismorpheus:
Dokter maen muktamar2an juga. Dokter kntl..

Samiun:
Betul sekali, biarkan kami kami rakyat biasa bisa mendapatkan second opinion, jangan hanya mengandalkan diagnosa para kacung pedagang besar farmasi dan begundal para detailman

Lone Wolf? ???:
Dr. Terawan bisa atasi sendiri tidak perlu Pak Jokowi ikut campur. Selain itu masalahnya menyangkut profesi kedokteran dan IDI adalah organisasi yang punya hak penuh lakukan tindakan disiplin terhadap anggotanya. Kalau sudah diberi peringatan dan diberi kesempatan  lakukan pembelaan diri tapi diabaikan ya sudah pecat saja.

polisis:
ya jika ada metode baru, harus dibuktikan dengan penelitian dan jurnal2 ilmiah... setelah itu jika memang terbukti ada efeknya walau hanya meringankan, tetap harus fair dan jangan dijatuhkan..
penelitian emang ga cukup sekali, biasanya dilanjutkan oleh calon2 dokter baru yg akan meneliti jadi akan lebih terlihat bukti atau bohongnya metode itu..
jika terbukti ada efek meringankan, jangan dijatuhkan sama oknum dokter yg jadi sales obat..
jika ga setuju, ya buat penelitian/jurnal tandingan dong..

Indisen:
Therapy otak Dokter Terawan tidak lebih dari metode penyembuhan klinik tong fang

Rana didjaja:
kaya perang Rusia-Ukraina AS cuma mau ngambil konsumen minyak Rusia jg jualan senjata.kura kura begitu

firman proindo:
Diawali pada 2015, Terawan dan IDI berseteru karena terapi "cuci otak" (Brainwash) yang dilakukannya. 

Terapi cuci otak merupakan inovasi metode medis Terawan yang kala itu menjabat sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto serta Dokter Kepresidenan Republik Indonesia. Terawan mulai memperkenalkan inovasi itu sejak 2004 dan mulai banyak peminat tahun 2010.


Cuci otak adalah istilah lain flushing atau Digital Substraction Angiography (DSA) yang dilakukan Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala. Cara ini diklaim berhasil menangani berbagai pasien yang mengalami stroke. Terawan mengklaim 40 ribu pasien telah mencoba pengobatannya.

Yang menjadi persoalannya, IDI merasa terapi cuci otak menggunakan alat DSA yang dilakukan Terawan belum teruji secara ilmiah. Selain itu, Terawan juga melakukan publikasi dan promosi masif dengan klaim kesembuhan di media.

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI kemudian memanggil Terawan untuk dimintai keterangan. Namun, Terawan dianggap tidak kooperatif karena tidak memenuhi panggilan tersebut sejak diusut pada 2015. Terawan memilih absen dalam sidang pertama pada pada 5 Januari 2015.

Pada sidang berikutnya secara berturut-turut tanggal 30 Januari, 3 Maret, 30 April, dan 26 Mei 2015, Terawan tak bergeming. Dia kembali mengabaikan panggilan MKEK IDI.

Hampir tiga tahun kasus itu menggantung, MKEK IDI kembali memanggil Terawan pada 16 Januari 2018. Namun, lagi-lagi Terawan mangkir. Akhirnya, MKEK memutuskan untuk menggelar sidang secara inabsentia.

Terawan kemudian dinilai melakukan pelanggaran kode etik dengan sanksi pemecatan sementara dari MKEK IDI. Dalam surat putusan MKEK No.009320/PB/MKEK-Keputusan/02/2018, pelanggaran etik terpenting dalam kasus Terawan ada empat poin.

Pertama, mengiklankan diri secara berlebihan dengan klaim tindakan untuk pengobatan dan pencegahan. Kedua, tidak kooperatif pada sidang MKEK IDI. Ketiga, menarik bayaran dalam jumlah besar pada tindakan yang belum ada bukti medisnya. Keempat, menjanjikan kesembuhan pada pasien.

Meski suah mendapat sanksi pemecatan sementara, sanksi etik berupa pencabutan izin praktik terhadap Terawan ditunda. Terawan kembali melakukan terapi cuci otak dengan DSA, termasuk kepada sekitar 1.000 warga Vietnam sebagai upaya mempromosikan medical tourism.

Perseteruan Terawan dengan IDI tiak berakhir sampai di situ. Setahun berselang pada 23 Oktober 2019, Terawan yang menjabat Kepala RSPAD Gatot Soebroto ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri Kesehatan (Menkes).

Penunjukan Terawan tersebut pun menuai penolakan dari IDI. MKEK IDI melayangkan ke Jokowi rekomendasi penolakan Terawan menjadi Menkes. MKEK IDI mempersoalkan perihal pelanggaran kode etik terkait terapi cuci otak yang dilakukan Terawan

Galih Kunarso:
Ya, dr Terawan memang melanggar etika medis dengan menjual teknik itu dengan overclaim-nya, padahal tidak ada bukti ilmiah.

Kalau dia memberikan bukti ilmiah bahwa tekniknya benar-benar berhasil, pasti akan didukung kok oleh khalayak medis dan science.

Stevanes Ariffin:
Gampang, sebelum perawatan sang pasien disuruh teken persetujuan. So, aturan IDI tidak berlaku dan secara hukum dokter terlindungi. Temen ane beberapa hari lalu abis berobat ke Dr Terawan koq, buka pembuluh darah yg ke blok.

Galih Kunarso:
Seharusnya, kalau melakukan teknik yang masih belum terbukti seperti cuci otak ini, cuma boleh dilakukan kepada pasien dalam kapasitas riset dan uji klinis ya, yang harus jelas protokolnya dan sudah diapprove oleh komite etik sebelum dilakukan uji klinis itu.

Jadi pasien harus dijelaskan bahwa teknik ini masih dalam tahap experiment, bahwa belum ada bukti ilmiah, bahwa pasien melakukan itu sebagai subjek experiment, yang akan diambil datanya untuk riset uji klinis untuk menghasilkan bukti ilmiah, dan harus gratis kepada pasien ya. Kalau pasien memberikan consent setelah dijelaskan, nah baru boleh dilakukan.

Kalau dia menjelaskan kepada pasien sebagai terapi yang terbukti, dan pasien disuruh membayar, nah itu artinya dia telah menipu pasien ya.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Pak Jokowi, Selamatkan Pak Terawan, Dia Dizalimi Kadrun Berbulu Jenggot! Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/politik/pak-jokowi-selamatkan-pak-terawan-dia-dizalimi-P6sLCDfu3a

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: