You Now Here »

Pecat Terawan, IDI Akan Bernasib Sama Seperti MUI! Dasar LSM!  (Read 71 times - 41 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 25,694
  • Poin: 25.773
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




Sumbang Saran:
Kalau ada pembaca yg punya keluarga yg sekolah di Fakultas Kedokteran, akan mengalami apa yg terjadi kepada dr Terawan sejak masa kuliah. Jika melawan IDI, gak bakalan bisa menjadi dokter spesialis. Apalagi jika terkuat dg agama. Bakalan susah.

Mereka para mahasiswa yg mencari spesialisasi, bakalan tidak berani bicara kepada siapapun krn akan mengancam kehidupan mereka dan keinginan untuk menjadi spesialis. Memang musti diberangus spy menjadi spt MUI

Lae omicron:
Indonesia disandera oleh Kadrun sehingga tetap terbelakang.

Abdul Kahar:
di iDI banyak jidat hitam..

Wanda Bagus Sebastian:
Tambah jenggot, celana cingkrang, sorban, jubah rasa gamis, apa lagi?

F545150:
Konti nya bertasbih

Paijo:
Sampai tempo hari ada yg didor densus

agung widodo:
IDI mulai berubah menjadi Ikatan Dukun Indonesia !
Setuju bikin asosiasi tandingan untuk dokter nusantara,
katakan TIDAK untuk kadrun !!!

Galih Kunarso:
Kalau teknik terapi medis dibilang berhasil hanya berdasarkan testimoni saja seperti yang dilakukan oleh Dr Terawan sekarang, tanpa bukti ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan dan dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah, ya itu memang gak ada bedanya dengan perdukunan ya.

Makanya wajar kalau Dr Terawan dipecat karena dia menyuruh pasien membayar dia untuk melakukan sesuatu yang tidak ada bukti ilmiahnya dan cuma overclaim saja.

3 Lintang Hapsari:
Situ prestasinya apa sih sbg seorg dokter juga?

Galih Kunarso:
Oh, sebagai dokter yang praktek di Singapore sini saya tiap hari menangani berbagai macam pasien ya, jadi saya juga banyak menangani pasien yg pernah stroke sebelumnya. Saya juga punya pengalaman di bidang riset, pernah menulis jurnal dan paham soal evidence-based medicine. Juga karena lokasi saya yang di Singapore saya paham soal standard medis yang dipakai dunia internasional ya.

Jadi saya di sini berusaha melakukan edukasi publik, karena kebanyakan penulis, pembaca dan orang-orang yang komen di sini kan khalayak awam yang masih belum paham bahwa pendapat pribadinya ternyata salah. Semoga dengan penjelasan yang saya berikan, para pembaca bisa lebih paham apa fakta yang sebenarnya terjadi. Dan belajar dari pengalaman ini, semoga dunia medis dan science Indonesia ke depannya bisa lebih baik lagi.

Bukan A*eX:
IDI Perjuangan...

Galih Kunarso:
Untuk para pembaca dari masyarakat awam, ini murni masalah medis dan science ya, bukan keputusan politik atau agama.

Teknik “cuci otak” tidak ada bukti ilmiahnya membantu pasien. Sama saja, “Vaksin Nusantara” juga tidak ada bukti ilmiahnya, dan sebenarnya sama sekali bukan produk lokal ya tetapi produk buatan perusahaan Amerika bernama AIVITA Biomedical yang diberi cap merk lokal saja sebagai “Vaksin Nusantara”.

Kalau berbicara soal science dan medis, seharusnya Dr Terawan menggunakan bukti-bukti dari data ilmiah dalam presentasinya, dan publikasikan artikel di jurnal ilmiah agar bisa dibaca oleh khalayak medis dan science internasional. Kalau dia cuma berbicara di forum-forum politik kepada orang-orang awam saja yang gampang dikelabui oleh kata-kata manisnya saja, itu artinya dia hanya melakukan pembohongan publik saja ya.

Ini fakta yang sebenarnya, yang sayangnya tidak diketahui oleh orang-orang awam, yang tidak paham soal evidence-based medicine dan gampang tertipu oleh tata kata saja.

WeleWeleAntiJoker:
ooo
makasih buat infonya

bagus ini, ayo penyelidikan lebih dalam lagi

Yosef Kurniawan:
Saya sih hanya lihat hasilnya dari jadi Menkes ya, sudah dibuka kan kalau banyak anggaran untuk pandemi yang gak dipakai. Saat dia menjabat juga penyaluran vaksin agak terlambat makanya ada puncak kematian saat varian delta. Tambah lagi setelah selesai menjabat dia menawarkan vaksin Nusantara tapi gak mau diuji dahulu. Dokter, apalagi bikin metode baru itu harus bisa membukukan metodenya, kalo gak bisa , tujuannya apa? Biar eksklusif cuma dia yg melakukan? Kalo dia sudah sepuh dan tidak bisa praktek, metode penyembuhannya hilang dong? Makanya beda antara dokter dan pengobatan tradisional, pengobatan tradisional sih dengan testimoni saja cukup, tapi dokter harus bisa membuktikan segala hal secara ilmiah, supaya bisa juga dipraktekkan di tempat lain. Kalau cuma bisa dilakukan 1 orang saja, buat apa? Apa bedanya dengan tukang urut, gak bisa ngasih penjelasan gimana pijatannya bekerja, tapi banyak pasien yang sembuh? Apa seperti itu masih oke disebut sebagai "dokter"?

Lone Wolf? ???:
IDI sebagai organisasi profesi harus tegas tegakkan disiplin tidak peduli yang terkena tindakan tersebut mantan Menkes dan Letjen purnawirawan. Keliru kalau kaitkan dengan isu kadrun segala macam karena keputusan diambil murni berdasarkan pertimbangan ilmiah kedokteran.

WeleWeleAntiJoker:
yeah!
diaminken aja deh wkwkwk

ikatan profesional tapi rasa Lembaga Suruhan Mamarika wkkwkwk (karena tempo hari berpolitik praktis)

Rana didjaja:
yg harusnya menjadi keheranan adalah;kanapa banyak Rumah Sakit dibangun jg makin banyak ddokter dng macem macem spesialis justru org yg sakit tambah banyak?ya,memang harus banyak yg sakit.klo ngga gitu RS nya bangkrut trus dokternya jg pada nganggur iya kan,..seperti pabrik vaksin,harus ada wabah penyakit.supaya pabrik vaksinnya tetep eksis soalnya kan investasi gede masa mau ditutup, karna ngga ada wabah,hehehe,...

Yosef Kurniawan:
Salah. Perbedaan terbesar karena hidup manusia sudah jauh lebih enak. Sekarang banyak banget kan orang yang obesitas, lalu sangat banyak anak kecil yang sudah pakai kacamata? Itu karena hidup mereka sudah sangat nyaman, bangun pagi nonton YouTube, main game, ke minimarket jarak 200 m saja pakai motor. Makan 3 kali tapi porsi raksasa, tanpa bekerja.

Itulah kenapa untuk sekarang banyak yang gampang sakit, hidup terlalu nyaman, jarang olahraga, imun lemah. Ini kenapa lebih banyak orang sakit. Tambah lagi tekanan kerja yang begitu besar, akan banyak ditemukan orang-orang sakit karena over stress atau kurang tidur. Terlalu ekstrim kehidupan sekarang, antara yang terlalu nyantai dan terlalu overwork.

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Pecat Terawan, IDI Akan Bernasib Sama Seperti MUI! Dasar LSM! Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/pecat-terawan-idi-akan-bernasib-sama-seperti-mui-sCl39Zft7s

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: