You Now Here »

Yang Dibenci IDI Dari Dr Terawan Itu Pola Pikirnya Yang Merugikan!  (Read 58 times - 130 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 25,696
  • Poin: 25.775
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged




F545150:
Bener sekali tuch yg dikatakan dr terawan... masuk rs malah tambah sakit... makanya di+62 sini di namai rumah sakit... jd sebaiknya di ganti aja tuch namanya jd rumah sehat atau rumah penyembuhan...

Bagaz:
Atau jg Rumah Transit Surga.
Bila tdk membawa istri, bisa pakai tombol surganya pegawai cewek disana.
Bisa minta ke suster, dokter, ataupun yg bagian bersih2 ruangan.
(click to show)


F545150:
Luwar bihyahsyah... puasa sebulan penuh kalah kahsiatnya....

Bagaz:
Pahala puasa itu gak ada apa2nya.
Bisa nyentil 30 X aja dah berapa tahun  kahsiatnya ??? ??? ??? ??? ??? ?????

B-Over:
??? ??? ??? ???

B-Over:
Hanya dokter nakal, mafia medis dan obat yang akan tersinggung dengan pemikiran2 yang dituangkan dalam artikel ini. Jadi jika ada dokter yang baca artikel ini, kalau tidak nakal yah tidak akan tersinggung.

Tidak bermaksud menggeneralisir karena banyak sekali kok profesi2 lainnya yang mengalami hal yang sama, banyak yang nakal.

Bapake Maria:
Pola pikir dokter sejati: meringankan penderitaan pasien.
Pola pikir dokter gombal: sebisa mungkin memeras harta pasien.

Dokter sejati harusnya dijadikan pahlawan, bukan dipermalukan.
Dokter gombal harus dikritisi terus, gak boleh ambil kendali.

B-Over:
Dan dokter2 sejati juga berkewajiban meluruskan rekan2 seprofesinya para dokter2 gombal seperti yang dilakukan dr Terawan.

HARIARA:
Maaf, Seworders dan terutama saudara/i sebangsa dan setanah air dari keluarga dokter, perawat/bidan, dan paramedis lainnya yg bekerja di RS, PUSKESMAS, Klinik, atau dimanapun tempat perawatan dimungkinkan. Komentar saya ini murni dari 'keprihatinan' tidak ada maksud dan tendensi menyalahkan siapapun dan pihak manapun.

1. Lebih dari 3 dekade saya sdh 'mengharamkan' konsultasi atau berobat ke RS setelah mengalami penyakit tidak sembuh karena obat atau diagnosa dokter.

2. Bolak-balik ke RS, diperiksa dokter dan dikasih resep. Obat habis penyakit kambuh lagi. Begitu terus berulang. Hingga satu hari, saya bertemu teman yg sedang minum obat. Saya kaget ketika melihat dari 4 jenis obat yg diberikan dokter kepada dia, 3 jenis obat sama seperti obat yg diberikan dokter kepada saya. Saya tunjukkan obat itu dan dia membenarkan 3 jenis obat memang sama (kebetulan dia bekerja di RS). Saya berargumen: Pasti keluhanmu atau penyakitmu tidak sama dengan penyakit saya. Tapi kenapa hanya 1 jenis obat yang berbeda? Dia terdiam melongo. Saat itu juga obat itu saya buang.

Benarlah tulisan di buku yg pernah saya baca di akhir tahun 80-an bahwa dokter dan farmasi tidak menyembuhkan penyakit tapi HANYA MAMPU MENGURANGI RASA SAKIT.

Freez  ????:
Kalo setiap obat bisa menyembuhkan penyakit, para mafia ga dapat cuan donk.. ?????

Mahran Harahap:
Benarlah tulisan di buku yg pernah saya baca di akhir tahun 80-an bahwa dokter dan farmasi tidak menyembuhkan penyakit tapi HANYA MAMPU MENGURANGI RASA SAKIT.
Klo ini mmg bener adanya.
Sbb jawaban ini sy terima dr salah seorang yg  sangat dekat dgn sy, yg mn beliau itu bekerja di pt. Tempo

retcab:
membayangkan klo suatu saat, pelayanan medis seperti pemadam kebakaran, jadi , pasien yg didatangi petugas medis, dan bs dilayani kapanpun & dimanapun ...... orang sakit & rumah terbakar itu sama2 urusan nyawa, penting utk segera di atasi

analoginya sederhana :
klo ada rumah dokter kebakaran, damkar pasti buru2 datang, klo perlu jalan melawan arus lalin demi pemadaman tepat waktu .... tetapi, klo ada petugas damkar sakit pas hari minggu/hari besar, dia sendiri yg harus datang ke dokter, klo tdk ada jadwal praktek, yaa terpaksa nunggu, tp klo kondisi darurat bgmn ? belum lg klo jalanan macet dan tdk ada mobil, trus hujan deras , malah kerepotan keluarganya .....

lantas bagaimana dg org yg hidup sebatang kara, misalnya, pensiunan jompo yg tinggal sendirian dirumah krn anak2nya sdh merantau d luar kota ..... klo rumahnya terbakar, dia bs lsg telpun pemadam kebakaran, dan pasti ditangani secepatnya dg gratis , tapi,  klo dia mencret2 & muntah2 jam 11 malam, apakah bs telpun petugas medis dan mendapat penanganan sprti kebakaran? atau, misalkan dia ada keluhan penglihatan krn gejala katarak, apakah petugas medisnya yg datang kerumah dia? atau, saat dia kehabisan obat tertentu, apakah bisa melalui telpun kemudian obatnya diantar ke rumah dia jam 12 malam?

 
(click to show)


Erika:
Hahaha... beda dong pak... kebakaran itu sifatnya tdk diketahui, ujug terjadi. Kalau sakit kan berproses. Makanya ada pepatah lebh baik mencegah drpd mengobati. Masalah urgent dll itu sepenuhnya bagaimana si sakit bisa memenej P3Kesakitan. Krn sistem bahwa dokter spt itu sdh ada sebelum dia sakit, kondisi dinpasien yg sebatang kata sdh begitu sebelum sakit. Jd kondisi yg sdh ada ini hrs diantisipasi sebelumnya. Kalau kebaran diproses atau direncanakan itu namanya kejahatan bukan kebakaran.

Sy pikir masing2 pny jalannya sendiri2. Kita tdk bisa menuntut persamaan sikap. Itu menurut sy pribadi atau sy memandangnya spt itu dlm kehidupan ini. Yg pasti pendapat terawan spt di atas itu menyinggung telak para dokter dan TS.

anto.ickx:
walaahhh bu erika, emg harus dikomen dgn awalan "Hahaha" yaa?

A Fighting Citizen:
setuju lagi dgn penulis ...
Pengalaman dengan masuk RS nya almarhum ayah dulu juga menguatkan pemahaman ini.
Dari hari masuk RS hingga harus di ICU, tidak ada info (penjelasan atau kepastian) yg jelas, padahal biaya yg anak2nya harus tanggung itu puluhan juta per hari.
Yg kami persoalkan bukan soal biaya, kalau harus jual aset hartapun siap, asal papa sendiri bisa disembuhkan atau sampai sembuh (mendingan). Ini tidak. Tidak ada kejelasan. Tenggorokan papa harus dibor bikin outlet keluarin dahak. Pasti menderita sekali tuh papa. Kami yg gantian jaga beliau menyaksikan setiap hari tindakan2 kasar dari para perawat yg memandikan ayah. Udah dianggap kayak barang, bukan manusia. Sampai kepingin tulis di kontak pembaca Kompas waktu itu saking keselnya. Karena khawatir "pukulan balik" kayak kasus RS Omni ke mb Prita, kami urungkan.
Sampai suatu saat, tetangga kakak saya yg kebetulan dokter yg tahu papa kami dirawat di ICU RS, mengingatkan kakak saya agar beranikan diri tanya dokter kepala, peluang ayah utk sembuh total itu berapa %. Karena kami hanya tahunya merawat dan merawat ayah, dan bergantian jaga tidur malam di sana.
Ternyata jawabannya "hanya 5% the best", datar jawaban dokter kepala. Baru kami terbangun dari tidur. Biaya sudah habis ratusan juta, peluang papa sembuh hanya 5% the best? ngandalin alat2 pemacu jantung penunjang hidup terus bayarin puluhan juta tiap hari?
Dokter tetangga kakak itu bilang, "you orang jangan mau dibodohi ... RS profit center nya dari ICU. Kalau rawat biasa, "nggak menarik" buat RS". Dan saya yakin, RS akan membiarkan proses ICU jalan terus, selagi keluarga pasien kelihatan bisa terus membayar. Kan gila ini?
Singkat cerita, kami putuskan papa tidak perlu lagi mesin penunjang hidup segala macam. Karena praktis dia staying alive karena bantuan mesin. Akhirnya papa pulang ke rumah Bapa dengan damai setelah kami biarkan beliau bertahan secara alami.
Itulah pengalaman keluarga kami.

Tentang anti dokter atau anti RS. Saya pernah dengar dari rekan orang Jepun kantor, bahwa orang2 jepang skrg pun banyakan udah melek medis. Misal divonis kena kanker, sudah banyak orang jepang yg sudah tidak mau diterapi kemo kimia segala macam. Mending pilih bertahan alami sampai maut menjemput. Ada benernya juga. Terapi kemo itu menyiksa sekali (sekujur mulut bisa 20an titik sariawan), dan tidak ada jaminan sembuh.

B-Over:
Turut bersimpati dan terima kasih untuk share hal ini.
Hendaknya memang pihak yang mengurusi masalah medis memberikan hasil analisa serta penanganannya secara rinci termasuk segala konsekuensi yang muncul untuk pasien dan keluarga pasien.

A Fighting Citizen:
thanks bung B-Over...
betul sekali, kita harusnya deserved better explanation from "them". Udah habisin dana gede, tapi masih dalam total darkness sembuh tidaknya orang yg kita cintai.
Harusnya diberi masukan lah. Biar kita tahu harus ngapain dari sana.
Tambah satu cerita ttg perawatan alm papa saya...
Pas waktu saya giliran jaga malam, pagi2 jam 4 an, papa mengalami anfal dan tindakan dokter jaga waktu itu adalah inisiasi defibrilasi pake alat kejut listrik utk balikkan denyut jantung. Dokter jaga (masih muda dokternya) menghampiri saya dan bilang ini .."papa ni (pake bahasa chinese) ini sejujurnya kondisinya udah lemah, apa bener2 perlu defibrilasi?". Kira2 dokter itu bermaksud menganjurkan utk let go, karena kondisi papa emang udah payah. Semua indikatornya kan jelek.
Sejujurnya saya ingin mengiyakan juga (mau bilang tidak usah) pada saat itu mengingat papa udah lama gak sadar diri (hidup hanya mengandalkan life support machines). Tapi putusin telpon kakak2 karena sbg bungsu, gak berani putusin.
Benar saja, untung telpon dulu. Habis itu saya habis2an dimarahin. Mereka pokoke papa masih bisa hidup, masih bisa dipegang dan tubuhnya masih hangat. I totally understood. Pdhal, saya berandai2 ..mungkin papa ingin jalan kembali ke rumah Bapa, tapi "ditahan" mesin2.
Jika saja pihak RS jujur seperti dokter jaga itu, mungkin papa tidak perlu terlalu lama dirawat di ICU. Dia bisa pergi dengan damai lebih awal dan kembali ke rumah Bapa di surga. Amien.

Jay:
Turut bersimpati....

A Fighting Citizen:
terima kasih bung Jay.
Itu udah cerita lama sekitar tahun 2000an. Pengalaman pahit sih, apalagi sampai kehilangan orang tua tercinta.
Tidak ada niat utk jelek2in rumah sakit. Papa toh pernah sembuh juga waktu dirawat dokter kepala tsb di RS yg sama.
Soal perawat yg memandikan pasien dgn kasar (bagi kita yg melihat), saya melihat lebih ke rutinitas sehari2 dari pekerjaan para suster baju putih tsb. Sehingga simpati dan rasa humane itu drastis berkurang. Saking udah setiap hari ketemu beginian. Gitu kali ya.
Saya pribadipun mencoba seperti mb Erika, kalau bisa jangan sentuh obat kalau tidak terpaksa. Gak usah dikit2 ke dokter. Istri saya sampai komplen saya soal anti ke dokter ini.

Jay:
Saya jga bukan anti rumah sakit dan bukan jga anti covid. Tpi yg saya lihat semuanya sdh d luar batas kemanusiaan. Sama² kita menguatkan

B-Over:
Saya selalu sepakat dengan om jay untuk hal ini.

Jay:
TRIms...om. hee

B-Over:
Mengenai konsumsi obat, saya memakai logika sendiri yaitu memberikan kesempatan tubuh atau antibodi bekerja terlebih dahulu sampai pada titik saya menyerah.

Mau tidak mau, semasa gelombang pemberian vaksin selama pandemi, saya pribadi terheran-heran dengan pemberian obat2 yang diberikan setelah vaksin. Keheranan saya pada pemahaman yang muncul di tengah masyarakat, jika demam setelah vaksin, minumlah paracetamol yang diberikan.

Apakah para petugas sudah memberikan informasi yang lengkap dan rinci mengenai hal tersebut?

Grud:
Orang indonesia kebanyakan pola pikirnya salah.
Jadi dokter karena pengen kaya, salah kalau pengen kaya jadilah pengusaha.
akhirnya orang sakit dijadikan ladang bisnis.
sama juga untuk profesi lain seperti polisi, pns, anggota dpr dan lain-lain.

A Fighting Citizen:
soal Dr Terawan, makin menguatkan dukungan saya ke beliau.
Di era mulai pandemi Kopid 2 tahun lalu, temen2 di group banyak yg kritik beliau, saya minoritas di group yg membela, dgn segala kekurangan beliau menangani Kopid 19. Emang beliau banyak kelemahan di sisi birokratik, tapi kok saya suka dgn gayanya.
Mengamati muka dan mimik beliau, saya hanya bisa melihat ORANG BAIK yg bekerja tulus utk Indonesia tercinta ini. Di balik semua kekurangan2 beliau. Baik soal DSA vs IDI, vaknus dan selama tenor dia mengurus DEPKES di kabinet pakde Jokowi.

B-Over:
Seringkali kita yang tidak memiliki latar belakang medis diserang oleh mereka2 yang memiliki latar belakang medis dengan melulu hanya mempertanyakan protokolnya. Satu hal yang pasti, mereka2 itu tidak mau membicarakan NIAT-nya.

Mereka2 ini buat saya, selevel dengan praktisi2 IT yang ngomong dengan term2 ngejelimet buat bikin atasan, calon client atau orang awam bingung. Dan mulailah mengajukan sampai menerapkan environment yang overkill.

A Fighting Citizen:
bener bung B-Over....
kalau nurut saya lho ya, kayak kasus Vaknus itu kenapa dijegal di siang bolong? mbok dikasih akses dikit, dikasih support dikit kalo emang secara science dan medical nya belum cukup proven. IDI (dan bpom) itu kan cuma manfaatin privilese mereka utk jegal orang.
Kalau ikutin youtube prof Rhenald Kasali, juga banyak dibuka tabir hitamnya orang2 IDI. Walau prof RK tidak telanjangi terang2an.

Garuda Di Dada ku:

(click to show)
 
(click to show)
 
(click to show)
 
(click to show)
 
(click to show)
 
(click to show)
 
(click to show)


Johan Mulyadi T:
Pola pikir DOKTER JAMAN NOW memang agak janggal, ada keponakan yang masuk rumah sakit pada tg. 27 April karena harus operasi jantung. Setelah di endoskopi jantungnya ada kebocoran, para dokternya mengadakan konperensi  harus ditangani dengan cara lain. Namun karena tg 29 April cuti sampai Lebaran selesai. Para dokternya menunda tidakan operasi dan hanya memberi obat2 untuk meringankan gejalanya dan memperbolehkan pasien pulang. Sekarang tgl. 12 Mei, pihak rumah sakit mengadakan persiapan proses dan baru besok tg 13 Mei dilaksanakan tindakan operasinya. Cuti lebih penting dari tindakan dini untuk menyelamatkan nyawa? ???

SDR4:
Sehat itu mahal boss
Tetapi
Sakit jauh lebih mahal

Obat itu tidak untuk menyembuhkan tetapi hanya meringankan

Semua kembali kepada pola hidup,.

Mahran Harahap:
Klo aku sm jg: Kalau ke dokter itu hanya untuk mencari "sugestinya" dan sugesti itulah yang mahal, tapi obatnya sendiri tak pernah dimakan walaupun ditebus. Dan kembali lg mengkonsumsi obat "herball".
(He...He...He...)

Teha Sugiyo:
logikanya benar. dan kebenaran logika itu yg membakar jenggot idi... hihihi...

W1R⊙:
Kok dokter dari singapur ga ada komen...........

Galih Kunarso:
Hehe, saya kerja di Singapore, tidak pernah kerja sama sekali di Indonesia, jadi sebaiknya saya tidak komen bagaimana penanganan pasien di sana ya, dan bagaimana berbedanya dengan cara kami menangani pasien di sini.

W1R⊙:
Pemikiran ini ada benar juga.......seperti pasien bertanya penyakitnya kalo ditangani dirumah sakit pasti sembuh tidak......karena biaya yang akan dikeluarkan besar.....tapi jawaban rumah sakit selalu tidak pasti dan bersayap.....jadi bukan hanya pembalut bersayap.......
Yang pernah berurusan dengan rumah sakit dengan kondisi cukup berat saya yakin pernah alami ini.......
Seperti pengalaman saya ke bengkel motor........begitu saya masuk pemilik bengkel sudah sms teknisinya agar kerusakannya ditambahin macam macam.......apa bisa dirumah sakit juga bisa seperti ini.......ada jaminan ga.....?

Jay:
Pernyataan yg menusuk jantung dokter IDI....banyak dokter hanya bisnis obat.

Kampret212:
obat-obat pabrikan itu adalah racun yang merusak secara perlahan

Zhuge Liang:
"Tapi jawaban dokter, berdasarkan pengalaman saya, tidak jelas atau menggunakan bahasa yang tidak dimengerti walaupun si dokter bicara pakai bahasa Indonesia."

Coba baca novel Doctors by Erich Segal, ada sedikit gambaran disana

Wanda Bagus Sebastian:
Doctor addicted to

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Yang Dibenci IDI Dari Dr Terawan Itu Pola Pikirnya Yang Merugikan! Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/yang-dibenci-idi-dari-dr-terawan-itu-pola-pikirnya-26Q7FGIbmA

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: