You Now Here »

Kementerian Paling Gak Guna Di Indonesia  (Read 148 times - 118 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 26,430
  • Poin: 26.509
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Kementerian Paling Gak Guna Di Indonesia
« on: July 29, 2022, 04:24:17 PM »




StreetHole:
dari zaman bekatul sepiring lalu mister pemangkas rambut dan mister jonny
emg ga guna semua kok

bekatul sepiring it internet lemot ga ad kemajuan, tp kita bebas akses apa aja hanya mengakali DNS
rudiantara pemblokiran meluas dan menambah pusing dgn harus memakai VPN
skrg mister jonny blokir makin luas tp hal esensi tidak pernah diperhatikan sbg cnth wkt pandemi awal awal, ketika propaganda bersliweran, kominfo sgt tak berguna, krn CUMAN DIEM aja, it di medsos bnyk sekali hoax dr Tukang jual obat, jual vaksin, sampe anti vaksin ad tp KOMINFO hanya mengkategorikan sebagai hoax, tanpa ad kelanjutan spt membuat "propaganda" yg lbh massive utk melawan arus hoax!

makanya saya blg KOMINFO cmn jago blokir situs b0k3p! ???? kl zaman bekatul terkenal dengan semboyan internet cepat buat apa? kl zaman mr jonny it slogannya yg penting kenceng, sisanya bodo amat

Grud:
biaya keluar miliaran buat blokir situs p0rn0.
kalau yang ngerti googling bentar bisa ngakses lagi.
dengan usaha yang sebesar-besarnya mendapatkan hasil yang sekecil-kecilnya.

WhatTheWhat:
Padahal kalo dananya sampai 1 triliun itu lebih baik mengurusi keamanan dan pemerataan internet di daerah jauh lebih baik daripada mengurusi pemblokiran situs p0rn0 yang akan selalu ada walaupun sudah diblokir sana sini.

WeleWeleAntiJoker:
wah jangan2 mulai mirip dengan an**s yg suka "lebih bayar" bikin proyek yg mahakarya(katanya) multitriyunan tapi hasilnya: prettt... juelekkk buangetttt

Roy Wijaya:
si bekatul ini memblokir konten p0rn0 tapi bininya tiga....hahahahaha! gilink lah...politikus pks...hobi koleksi daging mentah

Laurent si Kucing Barbar:
Padahal itu sebenernya yang seharusnya dilakukan oleh pihak Kominfo, yaitu mempromosikan kecerdasan digital pada masyarakat, terutama bagi yang literasi digitalnya masih minim. Percuma melabeli sesuatu sebagai hoax tanpa mempromosikan kecerdasan digital pada masyarakat.

Lina:
Saya pribadi sih setuju dengan PSE ya. Sebagai orang yg background IT, untuk bisa mulai tracking sesuatu, kita harus mulai dr data yg bersih. Generally, ini langkah awal yg baik untuk mulai mendata semua player, terutama yg besar. Di masa mendatang, data adalah salah satu currency dunia, karena itu negara berhak dan wajib meregulasi data yg beredar di negaranya. Terutama apabila entiti tersebut milik asing, karena data sensitive mungkin mengalir keluar. Kementrian infokom juga mesti membangun infrastruktur fisikal dan digital dalam negri, telpon, fibre network, satelit, 3G-4G-5G (intinya seluruh daerah harus tercover, walau speed lebih lambat, paling nggak ada), cloud computing untuk gov dan public (harus dibedakan), digital security, etc etc. Juga yg tidak bisa dipungkiri adalah tracking entity untuk pajak. PSE adalah awal dari semua kemungkinan itu. Kita perlu planning strategis dan tindak lanjut untuk mengeksekusi. Walau tidak sempurna, kominfo udah lumayan lah.. Dengan ledakan populasi Indo, mass upgrade to mass-affluence, mobile ownership, internet penetration, etc etc, somehow kementrian ini bisa handle, Indonesia nggak stuck atau kelelepan. Many to be wished for, but udah jauh lebih baik dan merata dibanding terdahulu.

aven jaman:
Makasih Mba, udah bantu mencerahkan teman2 yg tdk paham esensi maksud dan tujuan dari PSE. Lagian semua udah pada daftar kok, pada tunduk karena paham maksud pemerintah. Penulisnya aja yg gagal paham.

TUgiyo:
Itu UU banyak pasal karet yg multi tafsir boss...bisa berbahaya dimasa depan itu, mestinya perlu revisi dulu untuk menghindari pasal-pasal karet tersebut

Yosef Kurniawan:
Posisi kominfo ini sudah semestinya gak boleh buat jatah partai lagi, soalnya pemikirannya jarang sebagai teknokrat. Sekarang mainnya di pemblokiran doang. Padahal keberadaan internet itu penting. Dulu anda gak punya ilmu, gak ada duit buat beli buku impor, gak bisa tau kemajuan ilmu pengetahuan. Sekarang ada internet, anda bisa cari berbagai macam, bahkan bisa membuka lapangan kerja baru.

Kominfo seperti Kemensos, keliatannya banyak banget yang diributin, padahal job descnya sederhana, kalo untuk kemensos data penerima bansos yang akurat dan update, untuk kominfo adalah pemerataan akses internet. Saya masih penasaran apa setiap menteri mengerti visi utama kementrian tsb apa, atau hanya latah saja bikin kebijakan sesuai tren yang berlangsung. Karena jika boleh jujur, janji yang disampaikan elit politik biasanya terlalu jauh dan tidak realistis, itu belum ditambah kemungkinan hanya mengucap janji saja, tanpa planning dan roadmap yang jelas.

Laurent si Kucing Barbar:
kalau saya sih, idealnya kominfo ini dikasih ke orang yang memang memiliki visi ke depan, terutama visi mengenai perkembangan teknologi di Indonesia. Kalau dipegang sama tetua terus, yang dengan pemikiran kuno, kolot, kapan Indonesia mau maju?
Selama ini saya melihat yang dapat jatah Kominfo adalah orang-orang yang kurang (atau bahkan tidak) memiliki visi terkait teknologi di Indonesia

Yosef Kurniawan:
Yah sama dengan pendapat saya, karena kalau jatah parpol, yang dimajukan kan politisi senior, lalu politisi senior jarang yang mendalami soal teknologi, apa sinergi yang bisa dilakukan. Yang masuk akal baru pak Rudiantara sewaktu taun 2014 lalu, tapi itu juga belum maksimal.

Kerjaan kominfo sebenernya banyak. Misalnya cara bikin aplikasi pemerintah yang multifungsi, misalnya bisa untuk bikin janji dengan imigrasi, dengan kantor pajak, bahkan bisa sampai daftar vaksin covid.

Lalu kebijakan soal perlindungan data pribadi. Ini yang sangat penting tapi gak pernah dibahas. Silahkan bikin PSE, minta data tapi pastikan juga data kita tidak disalahgunakan. Bahkan di Amerika dan Eropa pun yang namanya privasi data, hanya bisa diberikan kalau ada perintah dari pengadilan, bukan dari suatu kementrian.

Lalu soal keamanan server situs pemerintah. Berapa kali sih kita dengar soal berita mudahnya situs pemerintah dihack? Apa ini bukan jadi tanggung jawab kominfo?

Hal-hal tadi adalah hal mendasar yang harusnya jadi fokus utama, bukan hal macam PSE atau main blokir-blokir. PSE boleh saja, tapi ya bikin dulu lah UU perlindungan data pribadi, masa kita daftar ke aplikasi pemerintah pakai nomor ktp, terus datanya kehack dan dipakai orang lain, tapi pemerintah tidak ada tanggung jawab? Kenapa kebijakannya bisa lompat sampai sejauh itu? Apakah planningnya kurang matang, atau hanya ikut tren saja?

Yah ini hanya uneg-uneg saja sih, karena memang agak aneh kebijakannya,tambah lagi kita belum punya platform alternatif. Misalnya google WA dan youtube gak daftar, trus kominfo konsekuen blok layanannya, bahkan hanya untuk sehari saja, bisa menimbulkan amuk massa.

Laurent si Kucing Barbar:
Wah sebenarnya itu ide bagus, seandainya Indonesia memiliki semacam "super-app" kependudukan. Menurut saya sih, itu akan memiliki dampak positif banget; misalnya administrasi kependudukan yang tidak perlu ribet lagi. Semua data bisa disinkronisasi secara mudah.

Biar tidak ada lagi pertanyaan, "Ini KTP saya udah e-KTP, tapi kok ngurus berkas masih perlu fotocopy?"

B-Over:
Hal ini sudah sering dan sejak lama saya komentari di artikel2 puja puji 5G.
Integrasi data kependudukan dulu dan 4G dulu dibikin merata, baru ngomong puja puji 5G

Laurent si Kucing Barbar:
tambahan : udah gitu kalau di fotocopy biasanya tidak dimusnahkan, dan jadi bungkus gorengan sehingga rawan disalahgunakan.

B-Over:
Belum lama ambil stnk di kejaksaan, halaaaah fotocopy ktp lagi

WeleWeleAntiJoker:
biar bisnis fotokopi di koperasi jadi gak mati wkwkwk joke

WeleWeleAntiJoker:
kayaknya departemen ini salah fokus... kurang skala prioritas gitu... yg penting-penting diabaikan sedangkan yg kurang penting (tapi mahal) yg dibikin...

TUgiyo:
Setuju banget...emang ga guna juga ini

WeleWeleAntiJoker:
siapa dulu dong? partainya?

Laurent si Kucing Barbar:
Yang jelas warna biru tapi bukan mercy wkwkwkwk

WeleWeleAntiJoker:
ooo partai "panci" tapi gak pakai "ci"...

Laurent si Kucing Barbar:
bukan yang ituu... yang gambarnya bulat biru ada kuningnya (atau jingga?)

WeleWeleAntiJoker:
aduh salah ingat... baru aja gue browsing ternyata gue dapet juga..

ternyata di balik "panci" ketemu ada "nasi adem yg sudah basi" wkwkwk

aven jaman:
Begini nih kalau minim wawasan tapi ngerasa sudah paling tau.

sob, tolong dijawab ya!
1. Kecelakaan di jalan raya masih ada, apakah itu berarti Polisi Lalulintas tidak berguna? PSE itu tak ubahnya sebuah payung kebijakan utk menertibkan semua penyelenggara sistem aplikasi di dunia maya yang melayani publik Indonesia.

Bukankah kalau sudah payung begitu, maka jadi mudah untuk tertibkan yang tidak tunduk? Diajak berdaulat secara digital kok tidak mau ya situ?
2. Apa kamu bilang? Google drive tempat simpan file pentingnya Kominfo. So, apakah kalau begitu google berhak seenaknya tak mau diatur yang empunya wilayah operasi?

Atau maksudmu Polantas tak boleh tuntut pengguna jalan utk taat UU Lalin ya, karena pasti akan menyulitkan si polantas juga sebab dia pun harus tunduk di bawah UU Lalin saat berkendara. Begitu ya logika dari manusia yang merasa paling berguna seIndonesia? Wahai penulis, mohon dijawab!

Laurent si Kucing Barbar:
Sepertinya pertanyaan itu malah menunjukkan ketidakpahaman Anda mengenai bagaimana konten dibuat dan terbit di media sosial. Hampir semua medsos, ataupun search engine (misalnya google), hasil pencariannya adalah konten yang berasal dari pengguna (user generated content). Konten tsb sama sekali bukan dari Google, Facebook, atau Instagram. Semua konten ya berasal dari penggunanya. Itu belum termasuk orang yang membuat blog, dll.

Di internet, yang bisa jadi pembuat konten adalah : Semua orang yang punya akses internet. Kalau pakai logika ini, malah jatuhnya lebih berat lagi malah. Yang harus di PSE-in adalah semua orang yang punya akses internet, termasuk saya dan anda.

Dengan analogi tersebut, harusnya yang ditindak adalah si pembuat konten. Saya kasih contoh.

Roy Suryo bikin konten yang menjelekkan umat Buddha dan Pak Jokowi di Twitter. Apakah dengan itu Twitter yang diblokir di Indonesia, kan tidak. Yang dihukum Roy Suryo-nya. Twitter hanya menjadi tempat baginya untuk menyediakan konten, bukan pihak yang mengeluarkan konten tersebut.

Internet adalah dunia yang bisa kita bilang tanpa batas. Kita tidak bisa selalu mengharapkan pemerintah dapat melakukan moderasi atas konten yang ada di dalamnya. Sama seperti kita tidak dapat berharap sepenuhnya pada platform-platform tersebut untuk dapat melakukan moderasi kontennya. Yang bisa kita harapkan, ya diri kita sendiri sebagai manusia yang berbudi, yang bisa membedakan mana yang baik ataupun buruk.

Itu ya terjadi karena, ketika satu konten diblokir, ada jutaan konten lain yang dapat diakses dengan mudah selama kita memiliki kata kunci pencarian yang sesuai.

Archie VD:
Saya lagi tunggu analogi yang pas dari aven, malah dikasih bocoran, hahaha

Laurent si Kucing Barbar:
ya saya mohon maap wkwkwk

WeleWeleAntiJoker:
wah jadi gagal usaha ngetest dong... keburu kucing pintar yg jawab duluan... wkwkw

aven jaman:
saya tidak setiap saat pantau di sini ya....

Archie VD:
iya dong, analogi pengguna jalan itu kan end-user dalam hal ini masyarakat indonesia, terus kaitannya dengan pse jadi bias. lalu aven menyebut wilayah operasi google, ketauan ngga paham kalau yg namanya jaringan itu seperti apa

WeleWeleAntiJoker:
sob.. iseng2 gue tanya... buat nambah wawasan pribadi...
apakah PSE ini kira2 nantinya bisa disalahgunakan di tahun 2024 waktu pilpres, atau gak?

aven jaman:
Nah, kalau berasal dari pengguna.  Jadi kenapa bila itu semua diatur di bawah payung regulasi PSE? Esensi regulasi PSE itu kan hendak menertibkan output/product/content dari (si)apapun yang hendak menyelenggarakan sistem elektroniknya di wilayah kedaulatan RI.

Makanya saya tanya, diajak berdaulat di bidang digital kok tidak mau? Malah menilai Kementerian yang bertanggung jawab akan hal  itu sebagai kementerian tak ada guna hanya karena membuat regulasi demi penertiban.

Itu kan sama saja anda bilang Polantas gak ada guna hanya karena dia menunut UU Lalin  ditaati pengguna jalan. Hanya bedanya UU Lalin dibuat DPR, Polantas tinggal tegakkan. Regulasi PSE dibuat utk ditegakkan sendiri oleh Kominfo selaku kepanjangan tangan Negara REepublik Idnonesia. Esensinya sama saja, menuntut ketertiban berlalu lintas. Satu di jalan raya, satu di dunia maya.

Semoga Archie VD ikut membaca ini....

Archie VD:
saya baca dan buat saya tetap, anda yg sebenarnya kurang wawasan tapi sok tau.
artikel ini memiliki beberapa poin dan menurut saya poin utamanya bukan di pse tetapi poin2 lain yg lebih penting dari pse untuk didahulukan.



tapi tengok komentar anda, nuansa cocokmologi untuk analogi yang masih tetap keliru

Archie VD:
Analoginya justru memperlihatkan kurang wawasan tapi ngerasa paling tau... Saya juga akan tunggu analogi yang pas dan komprehensif atas tulisan artikel diatas dan poin2 yang dibahas

Erika:
Penulis coba nonton film dokementer di Netflix yg judulnya "The most hated man in the world". Biar luas dikit wawasan. Prinsipnya sebuah kementerian tidak akan dipertahankan hingga puluhan tahun jika tdk berguna. Kemenkominfo itu dulunya Department Penerangan. Bukan krn menterinya telah mengecewakan penulis lalu kementeriannya dianggap tdk berguna.

Laurent si Kucing Barbar:
Kita katakan Kemenkominfo itu dulunya Departemen Penerangan. Sepertinya dulu peranan departemen itu adalah "mengurangi informasi yang meresahkan di masyarakat, termasuk katanya yang jelek2 tentang pemerintah saat itu"
Tetapi kementerian itu sekarang namanya menjadi "Kementerian Komunikasi dan Informatika". Dengan berganti nama menjadi seperti itu, saya punya pemikiran kalau nama itu menunjukkan visinya yang melihat masa depan, seperti contoh yang saya berikan, ya pemerataan 4G dan 5G sehingga dapat dinikmati masyarakat.

Jangan terlalu fokus pada blokir memblokir, yang menurut saya "masa lalu" banget. Katakanlah 1 konten diblokir, tetapi jangan lupa ada jutaan konten negatif lain yang bisa masuk di internet dan dapat dicari dengan keyword yang sesuai. Menurut saya, yang mampu memblokade dampak dari konten negatif, ya individu itu sendiri.

Tambahan : Saya sudah baca sinopsisnya sedikit, tentang revenge p0rn lah intinya. Kalau saya sih solusinya satu, RUU Perlindungan Data Pribadi. Pemerintah harus memberi keyakinan pada masyarakat dulu, kalau data-datanya aman dan jika terjadi kebocoran, pemerintah akan benar-benar bertindak. Jangan begini, belum ada payung hukumnya, eh udah PSE aja. Kalau gini, PSE hanya akan menjadi "tong kosong nyaring bunyinya" dan tidak memberi dampak positif pada masyarakat.

StreetHole:
mrk cmn fokus ngurusin selangkangaaan doang dr dl! otaknya cmn di situ!

Roy Wijaya:
kok situ nyuruh-nyuruh sih, mbak....sendirinya udah nambah wawasan belum? anda sendiri kalau buat artikel itu ngaco dan miskin literasi kok...

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Kementerian Paling Gak Guna Di Indonesia Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/kementerian-paling-gak-guna-di-indonesia-EWsasnj84U

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: