You Now Here »

Kepala BPOM Kembali Blunder Fatal, Ini Penjelasan Hukumnya!  (Read 456 times - 93 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 26,427
  • Poin: 26.506
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Kepala BPOM Kembali Blunder Fatal, Ini Penjelasan Hukumnya!
« on: October 29, 2022, 04:36:08 PM »




iam hêylêl:
Apa Produsen obat sirop sebaiknya meneliti ulang  kandungan bahan yang dibeli untuk pencegahan ?  Repot lagi deh.. ahaha

Wanda Bagus Sebastian:
Banyak waktu mau teliti, harus iq-nya sama atau lebih dari Einstein

Barkah Adi:
Bener banget, pabrik farmasi pasti punya SOP dalam memeriksa bahan baku, ada QAQC yang nangani itu. Bahan baku datang, cek, nggak sesuai ya retur, sesuai ya lanjut produksi.

Anton Setiyono:
Yang saya pakai dalam penjelasan dibawah adalah logika hukum. Logika hukum beda sama logika awam.

Setuju. Karena pemahaman dalam hukum beda dengan pemahaman awam.

Erick 73:
Tapi setiap produsen obat pun kan wajib/sdh pasti punya laboratorium yang menguji setiap produk obat yang dihasilkan dalam sekali produksi sehingga kandungan bahan yg berbahaya ini segera dapat ditemukan dan masyarakat tidak harus menjadi korban.

Barkah Adi:
Termasuk produsen juga memeriksa bahan baku yang dia beli buat racikan. Kalau sesuai lanjut produksi, kalau nggak ya retur. Ada bagian yang ngurusin itu, QAQC

Martabak Sweet:
Pun terkait pernyataan Kepala BPOM kemarin yang mengatakan diduga sejak 2020 produsen obat sirop ganti penyuplai dan produsen bahan baku obat jelas tuduhan yang menggelikan, karena banyak anak anak yang mulai kolaps kena gagal ginjal akut terhitung Agustus 2022 sesuai keterangan Menteri Kesehatan.


Tidak menggelikan. Yang mengerti management production dan management industri tahu.
Hal ini berhubungan dengan batch supply dan inventory management serta rantai pasok.

Product hasil pabrik atau obat batuk yang diproduksi tahun 2020 bisa saja masih dietalase retailer tahun 2022. Produksi tahun 2021 bisa saja baru masuk ke etalasi di tahun 2023.

Memang harus ada pembuktian dan investigasi, tidak boleh asal lompat logika dan berasumsi.

Dari sisi konsumen sendiri, kalau 1 orang atau 1 keluarga membeli obat batuk atau perban, memang segera setelah membeli dihabiskan? Bukankah kalau ada sisa, kebiasaan umum (atau kutip "logikanya") disimpan, lalu kalau batuk tahun depan, diminum lagi sisanya?

The fact that produsen ganti supplier 2020 dan kasus terjadi 2022, doesn't proof or dissaprove anything.

Anton Setiyono:
Logikanya ga akan serempak mas.. kalau diproduksi misal 2020..kan diminum obatnya... kan pasti dampaknya ada di 2020 atau 2021 kalau memang ada mengandung racun. Tapi sejak Agustus 2022 kan mulai tiba tiba gagal ginjal akut ditambah lagi fakta anak anak yang tak minum obat pun gagal ginjal akut. Yang tidak ditemukan kristal pun juga gagal ginjal akut. Memang misterius. Jadi sudah logis yang RV bahas menurutku. Karena kacamata awam beda dengan dia yang pake kacamata hukum.

Martabak Sweet:
Tidak selalu, sekali lagi

Yang mengerti management production dan management industri tahu.
Hal ini berhubungan dengan batch supply dan inventory management serta rantai pasok.


Pahami rantai suplai dan management produksi dan inventori. Saya tambah lagi, consumption cycle dari suatu produk!

Anton Setiyono:
Justru mas yang tak nyambung.. seandainya diproduksi 2020 kan diminum lalu pastibada dampaknya kelihatan . Ini aneh 2022 agustus muncul sekaligus dadakan kayak tahu goreng dadakan

Martabak Sweet:
Loh sampean koar koar hukum pembuktian. Ya situ buktikan kalau diproduksi 2020 PASTI diminum saat itu juga atau dalam 2020 dan tidak diperjual belikan sama sekali dan tidak akan ada di etalase diluar 2020. Jangan enaknya saja minta orang lain melakukan pembuktian tapi argumentasi situ ngawur bodoh dan tidak mau membuktikan.

Jangan munafik.

Anton Setiyono:
The fact that produsen ganti supplier 2020 dan kasus terjadi 2022, doesn't proof or dissaprove anything.

Soal itu ya tergantung sebagus apa kualitas lawyernya karena banyak yang harus disanggah dan itu tak mudah.

Martabak Sweet:
ARTINYA PRODUSEN OBAT SIROP DALAM KASUS INI ADALAH KORBAN. KORBAN DARI PRODUSEN BAHAN BAKU.


Belum tentu! Sekali lagi, lompat logika.

Martabak Sweet:
Karena tidak mungkin produsen obat sirop bertanya kepada produsen penyuplai bahan baku obat sirop, apa aja isi kandungannya? Kamu tidak campur racun yang bisa membunuh kan? Semua aman kan tak ada zat mematikan?


Kali ini Bang Ricky blunder besar.
Yang namanya produksi, pabrik pula, produsen HARUS bertanya kepada pensupli bahan baku apa isi kandungannya. HARUS. HARUS titik.

Pabrik permen coklat saat membeli coklat, pasti ada komposisi coklatnya, misalnya:
1. kadar cacao
2. kadar lemak dll

Pabrik obat batuk, tidak membeli "bahan baku obat batuk". Yang mereka beli adalah bahan kimia A, B, C, D yang mereka pakai menjadi resep obat batuk khas merek tersebut. Misalnya:
1. HCL 0.01 ml/vol
2. H2SO4 0.0001 ppm (nama komponen kimina hanya untuk ilustrasi).

Pembangkit listrik membeli batu bara dengan:
1. kadar kalori 5000
2. komponen ash < 0.001

Jika ada deviasi dalam bahan baku, efeknya adalah resepnya salah, end product salah. Tanggung jawab siapa quality controlnya?? PRODUSEN.

Ada 2 kemungkinan. Produsen TAHU ada substitusi yang terefleksi dari penurunan cost bahan baku. Atau Produsen memang ditipu supplier bahan baku, yang efeknya kelalaikan produsen untuk menjaga kualitas produk, apalagi yang sifatnya ditelan konsumen. Gali lubant tutup lubang namanya. Ingin selamat dari kasus hukum A, tapi dengan mengekspose hal-hal yang malah dapat menjerat di kasus B lainnya.

Tidak bisa lompat logika.

Kampret212:
apa sih sebenarnya beda logika awam dan logika hukum? klu logika berjalan sendiri-sendiri, ya bukan logika lagi. Klu sst logis di satu pihak tapi tidak di pihak lain, ya itu namanya tetap aja gak logis. Klu kita bicara logika ya harus apa yang benar-benar logis untuk semua pihak. 1+1 = 2 itu logis utk semua pihak, tp krn ada intervensi politis lalu 1+1 = ~, itu udah bukan logika lagi tp udah masuk ke pengaplikasiannya sesuai kebutuhan masing-masing. Dalam dunia farmasi apakah benar bahwa produsen obat sirup tidak punya hak bertanya pada supplier bahan apa yang kamu jual? atau mereka percaya begitu saja bahwa supplier akan memberikan dengan kualitas dan kuantitas yang mereka persyaratkan? Kan jadi aneh klu perusahaan farmasi sampai gak mengecek kualitas bahan kimia campuran obat yang mereka produksi, hanya krn percaya "logika hukum" bahwa mrk gak boleh/bisa nanya. dibandingkan dengan penjual buah ya gak apple to apple lah kasusnya gak selevel.

Martabak Sweet:
"Dalam dunia farmasi apakah benar bahwa produsen obat sirup tidak punya hak bertanya pada supplier bahan apa yang kamu jual?"

Bukan cuma berhak, malah HARUS! Kalau hasil produksi mencelakakan yang dikejar pabriknya dan atau dua duanya. Tapi pabriknya pasti kena, apalagi kalau lalai melakukan sampling dan pengecekan.
Apakah lab-lab, sucufindo, badan hukum (bahkan milik negara) yang melakukan kalibrasi, pengecekan, evaluasi tahunan buat pajangan?

Martabak Sweet:
Kalau logika hukum boleh saja mengacu pada disiplin kesehatan, mengapa menolak referensi disiplin produksi atau engineering?
Kok cherry picking?
Premis hukum kan bergantung pada disiplin-disiplin lainnya?

Lagi pula yang namanya produsen ada yang namanya Good Manufacturing Practice. Kalau sampai tidak dilakukan itu saja sudah bermasalah, bahkan kalau kasus glikol glikolan ini tidak ada. Kasus ini mengekspose pelanggaran di banyak hal. Dan justru makin terkuat dilihat dari argumentasi kedua pihak yang mengekspose kotak pandora tersebut.

Martabak Sweet:
Memang tidak berbeda, logika ya logika, harus sound dan "masuk".
Kalau mau bicara dokter jantung, dokter ini itu, memangnya itu disiplin hukum/logika hukum dan bukan "logika kesehatan". If there is such thing.
Aneh makanya kalau defend argumen dengan bersembunyi dibalik "logika hukum" maka "logika lain salah".
Absurd.

Pemahaman bahan baku saja sudah salah. Mereka pikir, maklon? Beli "bahan baku YANG SUDAH JADI" lalu cuma dibotolkan, sampai berargumentasi kalau PRODUSEN TIDAK TAHU KONTEN KIMIA "BAHAN BAKU" tersebut.

Anton Setiyono:
Itu RV menjelaskan dia bahas pakai logika hukum. Beda katanya logika awam dengan hukum ..  aku udah baca semua sih memang logis yang dia jelaskan. Intinya dia menekankan investigasi mendalam dan harus otopsi

Martabak Sweet:
Tunggu dulu. Logika awam dan logika hukum memiliki fondasi yang sama, LOGIKA HARUS SOUND! Dan ada basis.

Lagi pula logika hukum memiliki kerangka dan sisi ilmiah yang berkaitan dengan logika "awam" (apa pula ini) dan logika TEKNIS DISIPLIN LAINNYA!

Setuju harus ada investigasi yang mendalam. Tapi harus PAHAM PULA investigasinya DIMANA DAN APA. Otopsi maybe. Tapi jelas sekali harus dalam hal hal lainnya.

Anton Setiyono:
Otopsi maybe.
Nah artinya mas yang tidak paham hukum pembuktian.

Anton Setiyono:
Beda lah mas logika awam sama logika hukum. Kalau pemahaman awam sama dengan pemahaman hukum maka semua orang awam bisa memberikan keterangan  di sidang pengadilan menurut pemahaman dan logika awam masing masing kenyataannya kan tidak begitu. Harus sesuai backgroundnya ketika bicara kasus. Aneh kalau mendadak jadi pakar hukum.

Barkah Adi:
Setuju, pabrik farmasi kan pasti akan selalu cek bahan baku yang dibeli buat racikan obatnya. Kan tiap pabrik farmasi pasti punya QAQC. ??? ?????

Martabak Sweet:
Betul, kecuali pabriknya MAKLON, ya sama saja, pabrik asal maklon tersebut, pasti harus tahu konten kimia "bahan bakunya".
Memang KFC produsen bumbunya mereka tidak tahu isinya apa? Ya tahu, kecuali kalau beli bumbu/bahan baku sachetan atau cabang yang terima jadi.

Barkah Adi:
??? ?????

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Kepala BPOM Kembali Blunder Fatal, Ini Penjelasan Hukumnya! Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/kepala-bpom-kembali-blunder-fatal-ini-penjelasan-zDIsIfBlDX

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: