You Now Here »

Polemik Coldplay Dan Pertanyaan Apakah LGBTQ+ Salah?  (Read 39 times - 108 votes) 

must_know

  • More Share Forum Topic
  • [MS] kepala suku
  • ******
  • must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!must_know sangat terkenal!
  • Rep Power: 6
  • Join: March 15, 2013
  • Posts: 27,161
  • Poin: 27.240
  • About me: Segera Lapor Momod Jika Konten bermasalah!
  • IP member tracker Logged
Polemik Coldplay Dan Pertanyaan Apakah LGBTQ+ Salah?
« on: May 14, 2023, 04:03:13 PM »




HARIARA:
Ah...mas sob!
Sudah tradisi kaum kadrun sejak zaman nabi mereka ... mereka MENYANGKAL keberadaan LGBT+ aka LGBT (di zaman nabi mereka, ++ nya belum ada) di komunitas islam. Bahkan seorang Mahmud Ahmadinejad (sewaktu menjabat Presiden Iran 'bersaksi' tidak ada seorang 'pengidap' LGBT+ di Iran).

Tapi itu USAHA untuk menutupi akhlak nabi mereka yang sesungguhnya.

Terus kaum kadrun percaya dan terus membuat propaganda bahwa orang-orang KRISTEN mempromosikan LGBT+.

Tapi itu TUDUHAN untuk menutupi akhlak nabi mereka yang sesungguhnya.

WeleWeleAntiJoker:
oh ya... bisa saja beneran gak ada LGBT di sana... karena mereka semua yg LGBT udah digenosida sob... wkwkwk joke

HARIARA:
Mereka kaum munafik.
Sejatinya banyak juga dari mereka yang benar-benar LGBT++ atau berpotensi menjadi LGBT++, tapi mudah bagi "pengidap" LGBT++ ini berubah sok islami hanya dengan memakai atribut islam.

Laurent si Kucing Barbar:
Apa kita mempromosikan? Buat gue sih enggak.

Kita cuma menghadapinya dengan cara yang lebih elegan.

Kalau soal LGBTQ+ di tempat mereka, pesantren banyak. Penelitian juga banyak yang menyorot itu.

Mukidi Jaenudin Michiro ????:
di sumbar malah banyak yg g4y padahal sarang ????
mungkin kelainan gara2 cewek disana banyak yg dibungkus

harriz salim:
Satu kata lgbtq+ tidak boleh berkembang diindonesia ..... Titiiik, .,..harus berani dari semua pihak dan golongan menolak lgbtq+ , jangan kasih celah , diamerika bebas silahkan pindak kesana dan jangan samakan Indonesia dengan Amerika

WeleWeleAntiJoker:
tapi LGBTQ+ nya berkembang juga di indonesia tapi pakai sembunyi2...
suka2 kaum mayo terhadap kaum mino... kalau perlu, main penggal aja kayak genosida hahaha sarkas

Laurent si Kucing Barbar:
Tanda kemunduran ya gini ini wkwkwkwk

Tapi gw tau ni sarkas

Bener sih jangan samain amerika sm indonesia. Nilai IDR sama USD dah jelas beda, soal kemajuan teknologi beda juga. Soal penghargaan terhadap research dan inovasi beda juga.

F545150:
Tolak atau terima konser disini tergantung ganjar dan koster aja... kalo mrk nolak ya ngga jadi konser...

WeleWeleAntiJoker:
hahaha... masih pakai jas merah ya... jangan sekali2 melupakan sejarah ya

Laurent si Kucing Barbar:
Kuasa keduanya benar-benar besar wkwkwkwk

Greg X:
Jujur gue merasa aneh ketika ada orang jaman sekarang yang menolak LGBTQ+.





Apa yang dimaksud dengan menolak LGBTQ+ ?  Menolak fakta bahwa ada manusia yang berorientasi seksual LGB dan yang telah mengubah instrumen penanda gender ? Atau menolak pemikiran, agenda dan budaya yang disorongkan oleh pendukung LGBTQ+ ? Itu adalah 2 hal yang berbeda. Yang aneh itu yang mana? Anehnya dimana?


Hilangkan pemikiran bahwa kaum LGBTQ+ adalah kaum tertindas seperti zaman dulu. Gerakan pendukung LGBTQ+ punya "pride month" sementara perempuan hanya punya "women's day".  Gerakan pendukung LGBTQ+ bahkan cukup berkuasa untuk membuat Alkitab versi mereka sendiri dan membuat gereja-gereja di Amerika Serikat terpecah. Gerakan pendukung LGBTQ+ sanggup mendorongkan kebijakan yang membolehkan anak-anak untuk membuat keputusan perubahan kelamin bahkan ketika mereka belum dibolehkan untuk membeli minuman keras. Gerakan pendukung LGBTQ+ sanggup memasukkan buku-buku seks ke perpustakaan sekolah dasar.  Gerakan pendukung LGBTQ+ sanggup memecat guru-guru yang mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Gerakan LGBTQ+ sanggup  meng"cancel" orang-orang yang tak sepaham dengan mereka.


 
Gak ada hitam di atas putih, yang menyatakan Tuhan memberikan hakNya untuk menghakimi.


Ah, kata siapa?
Tuhan memberikan hak pada manusia untuk menghakimi dengan adil.

Laurent si Kucing Barbar:
Buat saya, soal yang seperti itu adalah konsekuensi dari liberalisme. Setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya. Dan buat saya, itu harus diperjuangkan. Suara keduanya harus diterima, tapi kalau saya pribadi punya pertimbangan sendiri soal siapa yang lebih kuat justifikasinya : LGBTQ+ atau laki-perempuan.

Soal buku seks, saya kurang paham isinya apa. Tapi saya termasuk orang yang berpendapat kalau yang namanya seks harus diperkenalkan sejak dini (s3x ed), tentu sesuai usianya.

Tuhan menciptakan genetik laki-laki dan perempuan, itu benar. Tapi buat saya, s3x dan gender itu cukup berbeda, walaupun bisa mixed up satu sama lain. Ini term nya harus diperjelas kembali.

Soal cancel, buat saya kenapa? Buat saya, itu pemberontakan mereka pada nilai-nilai yang buat mereka, sudah lama memenjarakan mereka. Mereka dulu terkekang, dan sekarang mereka berontak (walaupun memang cenderung seenaknya). Salahnya siapa? Tentunya salah kita yang gak memanusiakan mereka di waktu lampau. Renaissance di abad pertengahan, mengikuti pola yang kurleb mirip. Intinya, pemberontakan terhadap nilai lama yang dinilai mengekang. Mau counter pemberontakan tersebut? Siapkan argumen yang lebih kuat daripada yang si pemberontak buat. Ini beda dengan fans Madrid disini, argumen mereka gak cukup kuat, jadi biasanya gampang patah.

Kemungkinan besar nilai-nilai akan terus mengalami perombakan dan gak akan pernah stagnan di satu moral. Dari sini, Gereja (apapun) harus terus bereformasi.

Contoh kecil : Indonesia komunal itu bagus buat saya di zaman dulu, tapi gak bagus lagi di zaman sekarang. Karena di zaman sekarang, komunalisme sering dipakai untuk hal destruktif, seperti korupsi berjamaah. Komunalisme di Indonesia sudah identik dengan itu, sementara yang berusaha membongkar praktik itu malah dipecat.

Tuhan ngasih manusia hak untuk menghakimi? Wah, sepertinya saya gak dikasih untuk itu hehe. Tapi ya pendapat masing-masing sih.

Greg X:
Setiap orang bebas mengeluarkan pendapatnya.


Ini bukan soal mengeluarkan pendapat. Ini soal memaksakan kehendak. Jordan Peterson di"cancel" karena menolak undang-undang yang memaksa penggunaan "pronoun" versi kaum LGBTQ+. 

Atas nama "kebebasan", kaum LGBTQ+ berhasil menjadikan laki-laki yang mengaku diri perempuan menjadi pemenang di dalam perlombaan renang untuk wanita.  Mereka juga berhasil memaksa para perempuan untuk menerima manusia berpenis tapi mengaku diri wanita untuk masuk ke ruang ganti perempuan. Mereka membuat negara membolehkan manusia berpenis tapi mengaku diri wanita untuk dimasukkan dalam satu sel dengan napi wanita.

Pendidikan seks itu perlu sejak usia dini. Tapi, mempromosikan literatur seks untuk anak SD itu tidak wajar.  Silakan orang mau tonton pertunjukan drag queen di ruang tertutup, tetapi kaum LGBTQ+ mempromosikan pameran celana dalam dan kata-kata vulgar di depan anak-anak di bawah umur.

Saya sih percaya kaum LGBTQ+ akan semakin berjaya di dunia, karena memang dunia ingin memberontak terhadap nilai-nilai lama. Setelah memberontak mau ke mana, siapa yang peduli ?

Laurent si Kucing Barbar:
Sebenarnya inti utamanya iti tadi : pemberontakan.

Tugas kita apa? Jadi manusia yang menengahi semua, selagi usia masih hidup. Semoga kita diberi hidup panjang untuk bisa meredam apapun yang berlebihan, yang terjadi saat ini.

Soal Jordan, saya mengakui ada beberapa argumen beliau yang cukup make sense.

Soal argumen yang memaksakan kehendak, kita dah biasa lihat. Di Amrik begitu, di Indonesia pun begitu. Di Indonesia, ya cebs vs kads, di Amrik ada Red Pill vs LGBTQ+ dsb.

Maka dari itu, sebenarnya saya kurang suka dengan political argument, karena sangat subjektif orang per orang. Saya sekarang lebih suka scientific argument yang lebih fixed. Untuk 2024 ada kemungkinan golput juga karena ini. Gak ada calon yang worth it buat saya hehe. Udah give up sama indonesian politics.

Oh iya, it is an honor to discussed things with you di beberapa tulisan saya.

Lone Wolf? ???:
Mau bagaimana lagi kalo pemahaman ajaran agamanya memang masih begitu.

Laurent si Kucing Barbar:
gak bisa direformasi kah?

HARIARA:
Ngak mungkin lah....
Kalau islam direfomasi ....para ulama kehilangan lahan dan umat.
Reformasi islam berarti membuang HIYAL yang menjadi andalan penyebaran islam selama +14 abad sebelum era INTERNET.

Kalau INTERNET membuat perubahan memandang islam yang sesungguhnya, itu bukan reformasi.

Mukidi Jaenudin Michiro ????:
herman, di era internet & globalisasi yang kian terbuka malah pemahaman kolot & kaku terus dilestarikan
sampe kapan terus disembunyikan?

WeleWeleAntiJoker:
sampai "take deer" yg membongkarnya

Greg X:
Pemahaman mana yang kolot ?
Apakah di muka bumi ini semua paham harus diubah dan tak perlu ada yang lestari ?

WeleWeleAntiJoker:
sesulit mereformasi serigala kesepian yg cinta an*s itu menjadi manusia normal wkwkw joke

Lone Wolf? ???:
Sulit kayaknya.

Debrodjo:
Jika LGBT dimaklumi dan dikasihi, trus diajak ngomong, apakah bisa kembali waras atau makin eksis? Setahuku orang2 (penderita atau penyandang atau penikmat?) LGBT susah sembuh; apalagi sudah masuk ranah profesional. Maunya membalik keadaan agar eksistensinya diterima, paling tidak dimaklumi.

Laurent si Kucing Barbar:
Saya gak nganggep itu sebagai penyakit. Makanya di bagian akhir tulisan saya bilang... mnurut Anda benar, itupun kalau dianggap penyakit.

Saya sih berpendapat, siapa saya yang bisa nganggep LGBT itu dosa, penyakit, dsb?

WeleWeleAntiJoker:
lebih tepatnya: dapat stigma negatif.

apalagi kalau LGBTQ+ juga ngotot minta diperlakukan seperti manusia normal lainnya (padahal kita juga tahu ada ke-tidak-normal-an juga)

maunya mereka apa? new normal?

kita kan super bingung, ujung2 nya ada juga orang2 yg cari gampang, yaitu bully LGBTQ+ ...
tapi kasihan juga...
saya tidak setuju dengan bully bully an...
tidak berperikemanusiaan...

kita tidak dapat memberikan solusi karena ini seperti dalam catur ada istilah "Stale mate" nya... bukan "check mate" atau skak mat...

Mukidi Jaenudin Michiro ????:
yaelah, kenapa sih ????️‍? ??? dipermasalahkan?
padahal itu hak mereka, dunia sdh maju tapi indonistan masih kolot & kaku
laki mau jadi cewek ya itu hak mereka, vice versa
paling saia aja yg agak risih lihat G sama B nya, kalo pelakunya laki agak jijik ngelihatnya meskipun gak anti

Laurent si Kucing Barbar:
Bukannya G itu pelakunya laki ya? Huehehe.

WeleWeleAntiJoker:
akibat terlalu laku kalau jualan agama demi kepentingan politik atau cuma sekedar meningkatkan harga diri belaka, hahaha

kita mau bikin u20 atau nonton konser kok batal2... sesak nih...

*------------NOTE:
Demikian Kumpulan nyinyiran netizen terkait artikel Polemik Coldplay Dan Pertanyaan Apakah LGBTQ+ Salah? Seword Indonesia Maju yang dituangkan dalam bentuk Komentar. Semua komentar diatas bukanlah rekayasa dan memang benar apa adanya hasil cuitan keluh kesah yang kita kutip dari sumber resminya. Kami tidak bertanggung jawab atas isi komentar tersebut! Hanya sekedar memberi informasi yang sedang viral diperbincangkan! jika ingin membaca dan ingin mengetahui sumber resmi berita aslinya, silakan langsung ke sumber resminya. Terimakasih.


Code: (Sumber Resmi) [Select]
https://seword.com/umum/polemik-coldplay-dan-pertanyaan-apakah-lgbtq-1Vwh4fckR3

:beer: :beer: :beer:


View Mobile Web Short URL: